
Keempat pasang mata anggota tim Ecila lantas menatap pria cantik itu seolah tidak percaya akan kekalahannya.
Setahu mereka, di antara sesama anggota tim mereka saja yang bisa dikatakan memiliki talenta yang sangat luar biasa itu, Ecila adalah yang terbaik di antara yang terbaik.
Tiada anggota timnya yang pernah sekali saja mengalahkan Ecila dalam berduel, sekali pun Ecila hanya bertarung dengan menggunakan karate-nya tanpa men-summon the twin dragon-nya.
Dan orang yang sangat bertalenta seperti itu baru saja kalah dengan seorang pemuda antah-berantah yang secara acak mereka temui di jalan. Bagaimana mereka semua tidak bisa shok akan hal itu.
“Ecila? Apa kamu benar-benar kalah dari bocah itu?” Goruth dengan wajah yang penuh keringat berusaha mengonfirmasi kebenarannya.
“Senior bisa lihat sendiri skor pertandingannya kan? Aku kalah.”
“Tapi bagaimana bisa? Seseorang sehebat kamu… Trik licik apa yang bocah itu telah lakukan padamu?”
“Ya ampun, Senior. Tidak ada trik licik sama sekali. Aku murni kalah karena kemampuan Luca memang di atasku. Senior tentunya sudah paham setelah bertarung dan kalah darinya sebanyak 20 kali tadi.”
“Glup.”
Mendengar angka kekalahan sebanyak 20 itu, Goruth hanya dapat menelan ludah dan tak sanggup lagi berkomentar apa-apa. Kondisinya lebih mengenaskan dari Ecila sehingga tidak layak mencemooh juniornya itu.
“Tapi Ecila, apa yang sebenarnya terjadi di dalam? Kami tidak bisa menyaksikan akhir pertandingan tadi karena layar komputer tiba-tiba buram.” Silua-lah yang kali ini bertanya setelah Goruth kehilangan semangatnya lagi untuk bertanya.
“Tidak ada yang spesial. Gerakan Luca terlalu cepat sehingga aku tidak bisa mengikutinya lantas aku kalah.”
“Begitukah?” Silua masih tampak setengah percaya terhadap apa yang dikatakan oleh Ecila.
“Teman-teman, sudahlah. Mari kita bicarakan ini nanti saja. Situasinya tidak enak di sini.”
Aghena-lah yang akhirnya menyadarkan para anggota Tim Lost Child yang masih shok itu bahwa diri mereka saat ini telah menjadi pusat perhatian penonton di sekitar lobi. Mereka pun akhirnya berniat untuk meninggalkan lokasi itu.
Akan tetapi sebelum pergi, Ecila berucap sesuatu kepada Luca.
“Oh iya, Luca. Kalau kemampuanmu sehebat itu, mengapa nama kamu tidak terdaftar sebagai salah satu peserta lomba di sini?”
Luca hanya memiringkan matanya dengan keringat di dahinya, menghindari pandangan Ecila yang penasaran itu. Silua-lah yang justru bersuara,
“Aku kurang lebih bisa paham. Itu pasti karena pemuda ini tidak punya rekan tim yang hebat. Untuk bisa tembus di ajang bergengsi ini, kita kan butuh kemenangan tim di negara kita masing-masing.”
“Ya, kurang lebih begitulah. Hahahahahaha.”
Luca hanya menjawab ambigu. Dia tidak bisa bilang kalau dirinya baru saja datang ke dunia ini setelah babak kualifikasi kompetisi e-sport vrmmorpg itu dimulai perihal dirinya adalah seorang NPC yang awalnya berasal dari dunia dalam game. Serta hal yang paling mendasar bahwa dirinya bukanlah pemain profesional melainkan benar-benar seorang newbie.
__ADS_1
“Yah, kalau begitu apa boleh buat. Luca, kuharap kamu bisa segera menemukan tim-mu sendiri lantas kita bisa bertarung secara resmi di ajang bergengsi ini tahun depan.”
Ecila mengumumkan keinginannya itu kepada Luca lantas segera memberi salam singkat lalu berbalik arah meninggalkan lokasi tersebut bersama keempat rekan timnya yang lain.
Namun sebelum Ecila jauh, Luca bertanya,
“Ecila, bolehkah aku tahu siapa nama aslimu?”
Ecila yang sudah akan hendak pergi itu pun kembali berbalik sembari memiringkan kepalanya keheranan.
“Hmm? Ecila adalah nama asliku lho, Luca.”
“Jadi itu bukan nama karena kamu penggemar legenda Alice and the twin dragon ya? Apa itu juga kebetulan nama kedua nagamu Am dan Xerad? Soalnya kalau dibalik, namanya menjadi Ma dan Darex, nama kedua naga kembar milik Alice. Namamu pun demikian, jika dibalik menjadi Alice. Kukira awalnya itu semata-mata karena kamu penggemar Alice sang legenda.”
“Penggemar Alice kah. Hahahahaha. Sungguh suatu premis yang menarik. Mari kapan-kapan kita bertemu lagi, Luca. Saat itu, mari kita mengobrol lebih banyak lagi.”
Dengan mengatakan itu, Ecila pun meninggalkan Luca.
***
“Hmm. Gae bolg adalah tombak legenda asal Irlandia yang dibuat dari tulang monster laut yang bernama Curruid di mana tombak itu masih bisa menggunakan kemampuan sang monster untuk menyebarkan durinya yang tajam ke sekitar di mana pun ada celah yang mutlak akan mengejar mangsanya dengan mengoyak kulit mangsanya itu hingga tidak bersisa…”
“Nona sedang apa?”
“Bukan hal yang penting. Aku hanya mencari tahu soal jurus legenda Gae Bolg.”
“Ah, Eros, lawan Nona yang selanjutnya ya.” Tampak ekspresi murung yang mengisyaratkan kekhawatiran di wajah Andra.
“Kenapa kamu yang justru berekspresi seperti itu? Seharusnya akulah yang panik karena akan menghadapi lawan yang seberbahaya itu.”
Andra pun menatap Lia dengan senyum tulus di wajahnya, “Nona, apa pun hasil pertandingannya nanti, Nona sudah melakukan yang terbaik sejauh ini bahkan melebihi ekspektasi dari para anggota tim manajemen kita itu. Nona bisa cukup berbangga dengannya. Aduh…”
Lia secara tiba-tiba membenturkan buku yang dipegangnya ke kepala Andra yang sampai membuat Andra meringis dengan air mata.
“Apa yang kamu katakan? Tentu saja, aku akan berusaha mendaki lebih tinggi lagi. Aku tidak akan puas hanya sampai di 16 besar.”
“Trilililililing.”
Bunyi pesan chat di smartphone Lia lantas menghentikan sejenak obrolan mereka.
Itu dari Luca.
__ADS_1
Lia pun tiba-tiba tersenyum semringah. Melihat hal itu, Andra bisa segera menebak siapa gerangan pengirim chat itu.
[Lia, untuk mengalahkan Eros, kamu harus bisa mengalahkannya dengan cepat sebelum dia bisa menggunakan jurus Gae Bolg andalannya. Kuncinya adalah jangan biarkan dia bergerak mundur menjauhimu sehingga dia bisa mengaktifkan serangan andalannya itu. Dan jika dia pada akhirnya berhasil mengeluarkan jurus itu, kamu tidak boleh menghindarinya, tetapi harus menahannya dengan perisai terkuatmu sebab…]
Melihat chat dari Luca itu pun, Lia semakin termotivasi.
“Kalau sampai pacarku saja sesemangat ini, mana mungkin aku akan puas hanya sampai di babak 16 besar saja karena selangkah lagi peserta the big eight akan segera ditentukan.” Lia terlihat tersenyum penuh arti sembari mengucapkan kalimat itu.
***
Lalu keesokan harinya pun tiba dan babak pertandingan 16 besar individu dimulai.
Sebagai peserta pertandingan pertama, ada Lia di sudut kiri dan Eros di sudut kanan.
...\=\=\= ...
...Lia – Silver Hero – Indonesia – The Last Gardenia...
...vs...
...Eros – Goliath – Prussia Atlantic – Evernight...
...\=\=\= ...
Begitu aba-aba pertandingan dimulai, Eros dengan gesit menyerang dengan menusukkan tombaknya ke arah Lia.
Lia menepis dengan baik serangan tombak itu dari arah samping tombak sembari berupaya menjangkau Eros dengan ilmu silat-nya.
Akan tetapi jarak jangkau serangan tombak yang cukup jauh menyebabkan Eros berada pada posisi yang cukup sulit untuk dijangkau oleh tinjuannya dan itu membuat Lia cukup kesulitan untuk maju menyerang sembari menghindari goresan tombak.
Entah mengapa pada saat itu, Lia hanya berfokus bertarung melawan Eros melalui tinjunya yang diperkuat oleh lapisan mana seminimal mungkin dan tidak terlihat punya niat untuk menggunakan pistol sihirnya sama sekali.
Lia hanya terus berfokus mengalahkan Eros dengan jurus silatnya dengan sama sekali tidak membiarkan Eros untuk membentuk jarak darinya.
Akan tetapi, Eros yang lincah pada akhirnya bisa lepas dari penjagaan Lia.
Eros pun tersenyum sinis dan sesuai dugaan, begitu membentuk jarak, dia segera mengaktifkan skill Gae Bolg-nya.
“Skill: gae bolg!”
“Skill: eternal holy seven feathers protection.”
__ADS_1
Terjawablah sudah mengapa Lia selama ini berusaha menghemat mana-nya. Itu karena dia menyimpannya sebagai jaga-jaga ketika perlu mengaktifkan ultimate skill proteksi-nya itu.