
“Eh, apa yang terjadi?”
“O wah, tanahnya bergetar.”
Kak Nina dan Kak Raia panik, sementara Paman Visgore segera menghampiri wanita pingsan yang ada di tengah. Begitu kami tersadar, rupanya kami telah kembali ke tempat semula, lantai tiga dungeon pemula.
Bahkan sebelum kami sempat mencerna situasi lagi, kami tiba-tiba ditarik keluar paksa dari dalam game meninggalkan Paman Visgore dan para NPC lainnya itu di sana.
“Luca! Luca! Hei, Luca, bangun! Kamu tidak apa-apa kan?”
Perlahan demi perlahan, kesadaranku kembali pulih oleh teriakan Kak Nina. Begitu aku tersadar, rupanya aku telah keluar dari dalam game. Begitu aku melirik ke jam tangan yang aku gunakan, aku tidak dapat menutupi keterkejutanku.
“Apa ini? Sudah jam 2 pagi? Mengapa waktunya sampai lewat dari larangan sistem anak di bawah umur?”
“Itu kami juga kurang mengerti, Luca. Sebaiknya kita kembali ke kamar kita dulu saja.”
Aku pun menuruti nasihat Kak Nina itu. Kami bertiga pun menuju ke kamar Kak Raia untuk merembukkan apa yang sebenarnya terjadi barusan.
Ini pertama kalinya terjadi bahwa papan status game error dan pemain tidak bisa log out. Bahkan larangan sistem bermain game bagi anak di bawah umur tidak terterapkan. Tapi syukurlah bahwa mereka berdua baik-baik saja. Karena diriku, aku hampir saja membuat mereka ikut dalam bahaya.
***
Hari itu pun berakhir di mana mereka berhasil terhindarkan dari kemungkinan yang terburuk.
“Aku harus menemui Kak Kaisar lagi secepatnya untuk menanyakan perihal kancing ini. Karena kancing ini, Kak Nina dan Kak Raia hampir saja dalam bahaya.”
Luca bergumam dengan nada penyesalan. Walaupun semuanya berakhir dengan baik, dia tetap tak bisa memaafkan dirinya sendiri yang telah membawa Nina dan Raia ke dalam bahaya.
Pagi hari pukul 9.00 waktu setempat, acara pembukaan e-sport tingkat internasional itu pun dimulai. Acara disuguhi dengan berbagai atraksi yang menarik, tetapi tak ada satu pun dari mereka yang dapat mengembalikan mood pemuda yang tenggelam ke dalam rasa bersalah itu.
Melihat itu, Nina segera mengerti apa yang dipikirkan oleh Luca. Nina pun berujar,
“Tidak selamanya sesuatu akan berjalan sesuai rencana kita. Apalagi yang kemarin itu terjadi di luar kehendak siapa-siapa jadi apa boleh buat. Kamu tahu kan, itu artinya kejadian kemarin bukan salah siapa-siapa.”
__ADS_1
“Tapi, karena keputusanku, kalian terjebak…”
“Huh, dasar adik bodoh! Pada akhirnya semuanya kembali dalam keadaan baik-baik saja. Tidak perlu lagi memikirkan yang sudah terjadi. Yang lebih penting, adalah mencegah hal yang sama terulang kedua kalinya. Bukankah begitu?”
Sebelum pemuda itu lebih lanjut menyalahkan dirinya sendiri, Nina segera menghentikan ucapannya dan membawa kembali pemuda itu kepada realita sudut pandang yang seharusnya.
“Maaf, Kak Nina.”
“Huh, dasar adik bodoh! Tidak perlu meminta maaf di antara sesama keluarga.” Nina pun berujar sembari merangkul bahu Luca dan membelai pundaknya.
“Hmm.” Luca hanya menjawab dengan berdehem sembari mengangguk pelan.
Wajahnya masih terlihat penuh penyesalan, tetapi kini ekspresinya sudah menjadi lebih baik. Luca lega ketika mendengar kata ‘keluarga’ dari mulut Nina.
Tiada yang membuat hati Luca lebih bahagia selain mengetahui bahwa dirinya masihlah mempunyai keluarga yang sangat menyayanginya.
Pukul 13.00, pertandingan pun dimulai. Ada 64 pertandingan yang dibagi ke dalam 4 lokasi arena. Pada masing-masing arena, akan diadakan pertandingan sebanyak 16 kali, enam akan diadakan hari ini, sementara sepuluh sisanya akan diadakan besok.
Lia dan timnya kebagian pada pertandingan ketujuh di ruang virtual C, alias pertandingan pertama yang akan dilaksanakan besok pagi. Oleh karena itu, untuk hari ini, Luca dan kawan-kawan memfokuskan perhatian mereka di ruang virtual B, tempat Krimson dan timnya akan bertarung di giliran kedua.
Berbeda dengan pertandingan vrmmorpg di Indonesia yang hanya berlandaskan vrmmorpg The Last Gardenia saja, ada bermacam-macam genre vrmmorpg yang digunakan di berbagai belahan dunia sebagai landasannya.
Termasuk hari ini. Ketiga tim yang akan dilawan Tim Shadow Park, perwakilan dua dari Indonesia itu, terlihat berasal dari berbagai jenis genre.
Ada Tim Max Squeeze yang tampak berasal dari genre game pistol dan perang di mana anggota mereka ada yang menggunakan senjata snipe, jarak menengah, sampai pada senjata pistol jarak dekat.
Ada Tim Bougha yang tampak berasal dari genre game petualangan dengan anggotanya yang tampak seperti para petarung Viking yang berbadan besar-besar semuanya.
Terakhir, ada Tim Almbolescence yang tampak berasal dari genre fantasi barat dengan anggotanya yang terlihat ada yang seperti vampire, Frankenstein, dan sebagainya.
Walaupun dalam suasana hati yang masih muram, begitu Luca menyaksikan pertandingan tersebut akan dimulai, perasaannya kembali menggebu-gebu dengan semangat. Luca tampak sangat mendukung Krimson dan timnya.
Pertarungan dilaksanakan dengan format sederhana, yakni keempat tim yang masing-masing terdiri dari 5 peserta akan melaksanakan battle royal hingga hanya ada satu tim yang bertahan. Ada dua tim yang akan bisa melaju ke babak selanjutnya, yakni tim yang bertahan paling akhir, serta tim dengan rekor paling banyak mengalahkan lawan di luar dari tim yang terakhir bertahan tersebut.
__ADS_1
Masing-masing anggota setiap tim pun mulai dikirimkan ke lokasi acak di mana masing-masing dari mereka diberikan peta arena pertarungan. Jika diperhatikan dengan seksama, arena pertarungannya mirip dengan bentuk Pulau Sulawesi, tetapi dengan ukuran yang jauh lebih kecil.
Ada arena hutan, padang rumput, gunung, bukit, danau, dataran luas, bahkan sampai rawa di mana masing-masing peserta tergantung keberuntungan mereka dikirimkan ke berbagai lokasi itu.
Dan dengan aba-aba dari wasit, pertandingan e-sport vrmmorpg di ruang virtual B yang kedua itu pun dimulai.
Ada 16 monitor di tengah panggung yang dapat disaksikan oleh para penonton yang mempertunjukkan pergerakan masing-masing peserta.
Luca pun menatap ke arah monitor keempat yang mempertontonkan area di mana Krimson berada.
Tampak Krimson berlari liar dengan gila sambil menggunakan dahan pohon sebagai pijakannya, bergerak dari satu pohon ke pohon lainnya dengan cepat ke arah dua pemain dari Tim Almbolescence yang baru saja saling bertemu. Tanpa berlama-lama, Krimson pun melemparkan ramuan poison-nya kepada kedua pemain itu.
Pemain yang belum siap akan serangan dadakan itu pun terpaksa menjadi korban pertama dan kedua yang gugur dalam battle royal tersebut setelah menghirup racun mematikan dari Krimson. Dengan tawa menggelegar, Krimson pun merayakan kemenangan pertamanya.
“Ck.”
Dari luar bangku penonton, Luca mendecakkan lidahnya.
Meihat hal itu, Nina pun bertanya, “Ada apa, Luca? Apa kamu tidak suka dengan alchemist dari Tim Shadow Park itu?”
“Hah.” Luca mendesahkan nafasnya.
“Tidak, Kak. Justru sebaliknya. Aku mendukung Kakak itu soalnya dia Kakak yang baik yang pernah menolongku secara sukarela dalam salah satu petualanganku di dalam game.”
Nina tampak kaget disertai kekaguman mendengar Luca mengenal salah satu di antara para pemain hebat yang ada di sini. Namun, sesaat kemudian di berpikir itu tentu wajar saja karena walau masih newbie, tiada lagi yang meragukannya bahwa Luca juga adalah pemain yang hebat, bahkan dia bisa berpacaran dengan Lia, salah satu pemain pula dalam ajang bergengsi ini.
Nina lantas lanjut bertanya, “Terus kenapa kamu kelihatan tidak senang, Luca?”
“Karena Kak Krimson akan segera kalah.”
“Eh, kok bisa? Padahal dia hebat begitu?”
“Itu karena Kak Krimson tidak mengerti sama sekali mengenai konsep battle royal. Dalam battle royal, kita tidak hanya harus waspada dengan musuh di hadapan kita, tetapi juga musuh yang bersembunyi di belakang. Dan dalam pertarungan yang seperti itu, Kak Krimson malah menonjolkan dirinya. Kuyakin sebentar lagi pasti ada penyerang jarak jauh yang menargetkan dirinya.”
__ADS_1
Dan seperti apa yang diprediksikan oleh Luca, tidak lama setelah itu, salah seorang pemain sniper dari Tim Max Squeeze menembakkan pelurunya ke arah Krimson dan langsung melubangi kepalanya itu. Krimson pun ikut gugur dalam pertarungan.