The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
58. Zombie dan Tanah Kematian (2)


__ADS_3

Pemuda itu terdiam. Dia hanya dapat tertunduk dan meringis. Kata-kata peringatannya hanya dianggap oleh para penjaga itu sebagai debu kosong yang tak berarti. Padahal pada dasarnya, hal itu tentu saja akan terjadi perihal tiada satu pun bukti yang dapat mengklaim kebenaran ucapannya itu.


Desa Kaukau selama ini telah hidup damai walaupun tepat bersebelahan dengan tanah kematian tanpa pernah sekalipun mengalami serbuan zombie yang berasal dari tanah kematian itu.


Tidak lama berselang, Heisel mendatangi Luca yang tampak berdebat dengan para penjaga itu. Luca pun menceritakan hasil penemuan salah satu rekan wanderrnya itu kepada Heisel.


Serbuan Zombie.


Dalam waktu dekat, tempat itu akan menjadi lahan penuh zombie jika para penjaga tidak segera mengaktifkan sihir pelindung bentengnya.


Mendengar hal itu, berbeda dari para penjaga, Heisel benar-benar mempercayai Luca. Tidak hanya karena Luca telah dianggapnya sebagai keponakan sendiri, tetapi juga karena dia tahu betul sifat Luca yang takkan mungkin pernah berbohong, terlebih jika itu menyangkut keselamatan nyawa orang-orang.


Kali ini, Heisel-lah yang maju memperingatkan para penjaga. Para penjaga tetap saja tidak percaya dengan klaim sepihak orang luar. Heisel pun terpaksa membongkar identitasnya sebagai salah satu dari sepuluh dewan pemerintah di daerah netral Gardenia sekaligus pemilik guild utama assassin tersebut.


Barulah para penjaga itu bergidik. Itu pun, mereka tetap kekeh untuk tak dapat mengaktifkan sihir pelindung benteng begitu saja tanpa adanya perintah dari penguasa desa secara langsung sekalipun orang yang memerintahnya adalah Heisel Trakatov, salah satu orang yang termahsyur namanya di benua.


Salah seorang penjaga pun bergegas untuk mengklarifikasi hal tersebut ke penguasa desa setempat. Akan tetapi, semuanya telah terlambat. Dengan cepat, para zombie itu muncul dari dalam tanah lalu salah satu dari mereka dengan sigap memanjat benteng lantas menggigit leher salah satu penjaga.


Tidak butuh waktu lama bagi sang penjaga yang tergigit itu untuk berubah pula menjadi zombie. Dua dari rekan penjaga yang lain langsung jatuh terduduk ketakutan begitu melihat pemandangan yang menyeramkan itu di mana dengan mata kepala mereka sendiri, mereka melihat temannya turut berubah menjadi zombie.


Namun, para penjaga yang ada di atas benteng itu hanya duduk gemetaran tanpa melakukan apa-apa. Heisel-lah yang kemudian dengan sigap menggorok leher sang zombie dan seorang penjaga yang telah tertular oleh virus zombie itu sebelum mengancam penduduk kota yang lain.


Tanpa menunggu aba-aba, walau dengan gerak perlahan, para zombie melangkah dengan pasti demi mengincar aroma daging lezat dari para penduduk desa yang berada di dalam benteng.


Zombie. Itulah nama mereka, yakni monster yang terpanggil oleh teknik necromancy terlarang dari seorang dark mage yang lazim disebut sebagai necromancer. Keberadaan yang telah lama menghilang, atau tepatnya sengaja dihilangkan eksistensinya dari benua itu.

__ADS_1


Berbeda dengan para undead yang dibangkitkan oleh para lich, zombie yang dibangkitkan oleh necromancer tetap memiliki sekitar 50 % statistik kekuatan para mayat sewaktu mereka masih hidup. Terlebih, yang membuat keberadaan para zombie lebih mengancam dari para undead adalah mereka mampu menginfeksi para NPC untuk turut berubah menjadi seperti mereka dengan menggigit para NPC itu.


Alarm keamanan pun berbunyi dan para warga desa mulai dalam keadaan panik. Di saat itulah sistem baru mengeluarkan misinya,


...Para pemain yang terhormat, akhirnya event yang ditunggu-tunggu telah tiba!...


...Kita akan memasuki tahap pertama dalam main story The Last Gardenia...


...Para zombie dari tanah kematian terbangkitkan oleh ulah seorang necromancer bernama Philtory...


...Serbuan zombie akan segera memasuki wilayah terdekat dari Kekaisaran Lalania yang berbatasan dengan Tanah Kematian, yakni Desa Kaukau...


...Misi: Kalahkan zombie sebanyak mungkin dan pastikan keselamatan penguasa desa setempat...


“Ck.” Anak yang polos itu pun mendecakkan lidahnya dengan marah.


***


“Ck.” Tanpa sadar, aku mendecakkan lidahku, padahal ibuku dahulu telah memberitahuku bahwa itu adalah kebiasaan yang buruk.


Pikiranku kosong. Aku kesal persoalan seharusnya bencana ini bisa dicegah lebih baik jika saja para penjaga itu bersedia mendengarkan ucapanku lalu segera mengaktifkan sihir pelindungnya. Tetapi tiada gunanya menyesali sesuatu yang telah terjadi. Para zombie itu harus segera ditangani sebelum memasuki desa dan mengubah seluruh penduduk desa menjadi zombie.


Aku melirik kepada rekan-rekan party-ku yang lain. Ini bukan kesalahan mereka, tetapi melihat mereka justru tersenyum dengan begitu antusias di kala nyawa para penduduk di sini terancam, membuat hatiku terasa sakit. Bagi para pemain, keberadaan para penduduk di sini tidak lain hanyalah seorang NPC di mana NPC bagi mereka bukanlah makhluk hidup, melainkan tidak lebih dari sekadar program komputer semata.


Lantas, bagaimana kiranya jika mereka mengetahui bahwa identitasku yang sebenarnya tidak ubahnya seperti mereka? Akankah mereka serta-merta juga memperlakukanku dengan dingin? Lantas jika itu Lia, akankah dia juga melakukan hal yang sama?

__ADS_1


Aku tak tahan dengan perasaan yang mengganjal di dadaku itu. Tetapi bukan saatnya untuk memikirkan itu saat ini. Yang harus aku lakukan sekarang adalah membasmi para zombie yang ada di depan mata.


Aku pun segera melompat dari atas benteng, kemudian berlari menerjang para zombie itu.


Akan tetapi, tiba-tiba sesuatu menarik badanku yang mencegah aku melangkah lebih jauh.


Rupanya itu pamanku, Paman Heisel.


“Luca, tenanglah! Ingat apa yang selalu kuajarkan untuk selalu bersikap tenang dalam menghadapi lawan!”


“Dasar! Bahkan sampai-sampai seorang NPC perlu menasihatimu untuk dapat tenang. Kalau kamu sampai game over di sini, itu akan langsung merusak citraku sebagai orang yang pernah kau hajar sampai babak-belur dalam duel. Aku tak dapat membiarkannya.”


Menyusul suara Paman Heisel, kudengarkanlah suara lain. Suara seseorang yang juga telah aku kenal baik selama seminggu aku berada di dunia nyata. Dialah Senior Areka.


Tanpa aku sadari, rekan-rekan separty-ku yang lain telah membentuk formasi mengelilingi aku untuk bersiap menghadapi serbuan para zombie.


“Aku tak tahu mengapa kamu sentimental begini, Luca. Tetapi percayalah pada kami juga sebagai rekanmu. Kita pasti akan menjalankan misi dari sistem yang diberikan padamu untuk naik level dengan sukses.”


Ujar Kak Raia kala itu langsung menyadarkan aku bahwa betapa egoisnya diriku. Tentu pandangan mereka akan lain sebab mereka adalah para player yang berasal dari dunia luar. Namun di luar itu, mereka semua juga peduli padaku dengan cara mereka sendiri. Jika tidak, mereka tidak akan mungkin datang ke sini di tempat pertama tanpa imbalan.


Karena mereka mempercayaiku, aku juga harus mempercayai mereka.


“Luca, serahkan di sini pada kami berenam. Kamu dan Andra pergilah mencari necromancer yang membuat kekacauan ini. Kemungkinan dia bersembunyi di dalam desa tinggi. Jika benar demikian, nyawa penduduk desa akan terancam. Bukankah kamu menghargai para NPC ini lebih dari yang lain kan? Di samping, ini juga misi utamamu, tiada yang lebih tepat melakukan pekerjaan ini selain dirimu. Jadi pergilah dan serahkan para zombie ini kepada kami.”


Ujar dari Lia itu benar. Aku tak tahu dengan Kak Raia, tetapi jika itu mereka berlima, aku yakin mereka bisa mempertahankan desa ini dengan baik. Jadi jelas apa yang harus aku lakukan sekarang. Akan kuhabisi nyawa necromancer yang telah tega mengancam keselamatan para penduduk desa yang tak bersalah itu.

__ADS_1


__ADS_2