The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
117. Kemenangan Kedua Tim Silver Hero


__ADS_3

Pertarungan pun memasuki klimaksnya. Para serigala perak milik Medina terus menghalau serangan ulir-ulir tangan milik sang dukun dari menyentuh tuannya dan Lia di belakang. Sementara itu, Lia menyupport di belakang dengan memberikan serangan peluru sihirnya.


Namun, seperti apa yang telah diduganya, serangan sihir sama sekali tidak mempan pada sang dukun. Hanya serangan fisiklah yang berfungsi.


Tetapi itu bukan berarti pula Lia dapat mendekatinya perihal di sekujur ulir-ulir tangan itu dipenuhi oleh hawa kutukan yang merupakan titik lemah bagi seorang cleric sepertinya.


Luca yang menyaksikan pertandingan itu di luar sana, tanpa sadar mengepalkan tangannya dengan kencang. Sesuatu di bagian bawah tubuhnya terasa tegang.


“Lia, semangatlah.” Lirihnya dalam situasi di mana keringatnya itu mulai bercucuran karena perasaan tegangnya tersebut.


Seakan batin mereka saling terkontak satu sama lain, Lia tiba-tiba saja tersenyum. Dia tiba-tiba saja merasakan perasaan yang hangat yang membuatnya semakin ingin berjuang lebih keras.


“Luca, akan kutunjukkan sosok keren-ku di hadapanmu.” Lirih Lia sembari memegang erat pistolnya yang tidak lain adalah hadiah pemberian Luca itu.


“Lia, Medina!”


Mendengar suara sang kapten, sontak kedua player wanita itu pun menoleh ke belakang.


Rupanya, Asario dan Andra telah berhasil bergabung bersama mereka.


Pandangan mereka pun tertuju pada musuh yang tersisa.


“Berapa banyak lagi waktu yang tersisa sebelum serangan gelombang keduanya tiba?” Tanya Asario cepat pada Medina.”


“Satu menit tiga puluh… tidak, satu menit dua puluh detik lagi.”


“Oke, aku mengerti. Andra, Lia, lakukan tugas kalian. Medina, tetap support aku dari belakang.”


“Baik.”


“Baik.”


“Baik.”


Semuanya pun serentak menjawab perintah sang kapten.


Asario kemudian maju menerjang ke arah sang dukun yang tenggelam dari balik batu prasastinya. Asario dengan lincah menghindari tiap serangan ulir-ulir tangan yang dilancarkan oleh sang dukun kepadanya dengan dukungan para serigala perak.


Lalu kemudian,

__ADS_1


“Trang, trang, trang, trang, trang.”


Pedang Asario pun mulai berbenturan dengan batu prasasti sang dukun yang menyelubungi tubuhnya. Dia sengaja tidak menyerang bagian tubuh sang dukun yang menonjol karena dia telah tahu bahwa itu adalah jebakan dari data yang telah dikumpulkan oleh tim manajemennya.


Bagian kepala, tangan, maupun kaki itu pada dasarnya hanyalah efek halusinasi di mana bagian tubuh utama sang dukun tidak lain adalah batu prasasti itu sendiri. Adapun bagian yang menunjukkan halusinasi itu adalah jebakan yang ketika diserang, justru akan memberikan efek kutukan balik kepada sang penyerang.


“Trang, trang, trang, trang, trang.”


Suara benturan pedang Asario dan batu prasasti terus terdengar, sementara Lia di belakang memberikan support efek buff-nya yang meningkatkan strength Asario.


Sang dukun pun tidak lagi mampu menyerang dalam keadaan optimal perihal Andra telah menguncinya dengan skill sense of confussion-nya. Sisa-sisa ulir yang masih dapat bergerak pun yang telah menurun kecepatannya berkat Andra, juga kini dapat diatasi dengan baik oleh para serigala perak milik Medina.


Alhasil, Asario dapat mengonsentrasikan fokusnya hanya untuk menyerang saja.


Hingga beberapa menit kemudian,


“Trak.”


Batu prasasti pun mulai retak.


Asario memfokuskan serangannya pada bagian yang retak itu, lalu retakan pun perlahan kian membesar dan akhirnya batu prasasti itu pun hancur berkeping-keping.


Para penonton di luar di dunia nyata yang menyaksikan pertandingan itu bertepuk tangan dengan meriah menyambut hasil pertandingan yang gemilang itu.


***


Sekitar pukul 5 lewat, pertandingan usai. Aku bisa menyaksikan Lia di hadapanku dalam jarak pandang yang jauh, namun aku sama sekali tidak bisa mendekatinya. Itu karena ada aturan yang ketat dari panitia bahwa anggota keluarga sama sekali tidak boleh bertemu dengan pemain sampai pertandingan usai.


Walau begitu, aku bangga padanya. Lia benar-benar adalah player yang hebat.


Namun, aku jadinya hanya bisa menatap wanita yang menjadi pacarku itu dalam jarak yang jauh. Tetapi rupanya Lia menyadari tatapan mataku itu dan balik menatapku dengan senyuman sebelum akhirnya kembali ke timnya.


Tetapi apa ini? Mengapa Kak Mark merangkul Lia dengan mesra begitu? Walaupun kalian berteman, bukankah itu sudah offside kalau kau harus sampai merangkul bahu begitu?


Lalu kulihatlah Lia segera menepis tangan Kak Mark itu dari bahu yang dirangkulnya. Dalam hati, aku pun bersorak, “Kerja bagus, sa.. sa.. sayan.. Kerja bagus, Lia.”


***


Mari kita ke sudut pandang Lia sejenak.

__ADS_1


“Wah, ini gawat, Nona. Lihat sana! Luca tampak melihatmu dengan tatapan cemburu begitu. Kenapa ya kira-kira? Apa karena selama berada di sini, dia sama sekali tak dapat menemuimu?” Ujar Andra kepada Lia.


Lia pun segera tertegun dan akhirnya tersadar apa yang terjadi. Dia pun segera sadar bahwa Mark saat ini sedang merangkul bahunya. Selama ini, dia adalah wanita yang easygoing sehingga tidak pernah mempermasalahkan hal-hal yang seperti itu.


Tetapi dia pun tersadar, dari sudut pandang Luca, mungkin kekasihnya itu menanggapinya dengan cara yang lain. Lantas dengan dingin dan tak berperasaan, Lia pun menepis tangan Mark yang merangkulnya itu mentah-mentah.


Mark yang seketika merasakan perubahan sikap aneh Lia yang tiba-tiba itu hanya bisa terpelongo akannya.


***


Aku menghabiskan waktu bersama Kak Nina dan Kak Raia sebentar untuk jalan-jalan di luar hingga tibanya waktu makan malam. Usai makan malam, aku pun kembali menyeret Kak Nina dan Kak Raia ke dalam dunia game untuk level-up.


Mereka berdua terlihat sangat enggan ketika kuajak, tetapi ujung-ujungnya mereka berdua rupanya sangat menikmatinya.


Aku pun menunggu sekitar 30 menit bagi Kak Raia dan Kak Nina untuk menyelesaikan ujian pendewasaan mereka terlebih dahulu sembari aku menghabiskan waktu untuk bercepika-cepiki bersama Kak Derickson dan para anggota guild lama lainnya.


Paman Heisel tampak tidak terlihat di dalam guild. Menurut keterangan Kak Derickson, Paman Heisel sedang mengurus masalah fenomena aneh di perbatasan dengan Kerajaan Melodia. Untuk detailnya, tampaknya Kak Derickson sendiri juga tidak tahu.


Kak Derickson hanya mengatakan bahwa Paman Heisel tampaknya pergi bersama Tante Deborah dan Paman Visgore serta dengan ketua guild mage dan alchemist.


Oleh karena itu, suasana hari ini di guild assassin begitu tenang dan damai. Tetapi entah mengapa, rasanya sedikit agak pahit di dadaku.


Setelah beberapa saat, Kak Nina datang menemuiku duluan di guild lalu disusul oleh Kak Raia dalam beberapa jeda waktu lagi setelah mereka berdua menyelesaikan ujian pendewasaan mereka.


Setelah party kembali lengkap, kami pun menuju Allidra Ekin, Ibukota Kekaisaran Lalania untuk menghadap Kak Kaisar.


Setelah menjalani beberapa prosedur yang dibutuhkan, kami pun bergegas ke tempat misi kami yang kali ini berada di selatan ibukota, bernama Kota Whistle yang jaraknya dekat dengan wilayah Kerajaan Melodia.


Misi kali ini cukup mudah. Kami harus membasmi monster-monster berbulu mirip domba bernama Dodori yang belakangan terlihat meliar di perbatasan kota. Itu adalah tingkah monster yang wajar di musim-musim kawinnya.


Monsternya cukup lambat walau pertahanannya lumayan keras. Sangat cocok untuk melatih kemampuan tempur sang fighter Kak Raia dan sang battle tamer Kak Nina beserta keempat pet kelinci bertanduknya itu.


Namun, sebelum aku pergi dari istana, aku sempat mendengarkan Kak Kaisar berbicara hal yang menyeramkan.


“Luca, bagaimana kalau kau membentuk guild extra di bawah naungan Kekaisaran Lalania? Bukankah Kerajaan Melodia dan Kerajaan Symphonia baru-baru ini juga melakukannya?”


Aku merinding setengah mati setelah mendengar ucapannya. Mana mau aku terlibat dekat dengan yang namanya keluarga kerajaan.


Aku harus segera memikirkan solusi ini nanti.

__ADS_1


__ADS_2