The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
133. Akhir Pertandingan Lia vs Eros


__ADS_3

“Fuuuush!”


“Treeeeeeeek!”


Suara nyaring tombak dan perisai mana yang berbenturan terus terdengar di layar besar yang menyajikan pertandikan live di arena.


Lia dengan sekuat tenaga berupaya mempertahankan perisai mana eternal holy seven feathers-nya. Akan tetapi, skill Gae Bolg sang tombak tak henti-hentinya berotasi bagai bor yang terus-menerus hendak melubangi perisai sihir kasat mata berwarna putih suci itu.


Lubang-lubang terlihat mulai terbentuk. Akan tetapi dengan kemampuan pemulihan Lia, lubang-lubang itu kembali mampu tertutup dengan cepat.


Bulu-bulu indah yang terbuat dari mana berwarna putih mirip bulu burung merpati tetapi dengan ukuran yang jauh lebih besar senantiasa terjuntai menutup celah lubang. Seketika bulu itu meresap ke dalam celah lubang, perisai yang awalnya terlihat retak dan berlubang itu kembali ke bentuknya yang baru tanpa cacat.


Bulu-bulu putih dengan menawan berubah menjadi perisai mana menggantikan bagian perisai mana yang retak itu.


Sayangnya dari awal, kemampuan antara kedua pemain sangatlah berbeda, baik dalam hal pengalaman bertarung, maupun dalam hal jumlah mana.


Eros jauh lebih unggul.


Perlahan tapi pasti, Lia duluan-lah yang terlihat mulai menampakkan tanda-tanda kehabisan mana.


Perisai tujuh lapis yang terbentuk dari kumpulan sayap putih nan indah itu pun retak satu-persatu.


Dimulai dari lapis ketujuh, keenam, kelima, hingga akhirnya mencapai lapis keempat.


Lia berusaha sekuat tenaga mempertahankannya. Dengan semakin sedikitnya jumlahnya, mana-nya pun semakin dapat terkonsentrasi ke perisai yang tersisa itu sehingga meningkatkan durabilitas sang perisai mana.


Akan tetapi, tampak darah mulai bercururan di hidung Lia. Keringat dinginnya mulai membasahi sekujur tubuhnya.


“Kau tangguh juga ya, Nona Muda. Kenapa kau tidak menyerah saja? Dengan kondisi tubuh seperti itu, kau tidak akan sanggup lagi untuk bertahan lama.” Eros terlihat mencoba memprovokasi Lia.


“Aku akan berjuang sekuat tenaga sampai akhir!” Namun, Lia membalas ucapan Eros itu dengan perlawanan tanpa terlihat goyah sedikit pun.


“Oi, oi, kalau begini, aku terkesannya membuli seorang wanita yang lemah…”


“Aku tidak lemah!”


“Sudahlah. Jangan keras kepala, Nona Muda! Walau ini hanya tubuh avatar, lumayan sakit lho jika harus terkena langsung tusukan tombak Gae Bolg-ku.”


“Jangan banyak bicara kau, sialan!”


Lia mengumpat. Isi kepalanya terasa telah kosong. Jika bukan karena energi semangat yang memicu adrenalinnya, pastilah wanita muda itu sudah lama terkapar pingsan.


Akan tetapi, darah pun mulai mengucur di mata dan telinganya.

__ADS_1


Lia menggigiti bibirnya hingga berdarah. Hal itu dilakukannya tidak lain adalah untuk mempertahankan kesadarannya di situasinya yang telah sangat kritis itu.


Wanita muda yang terlihat lemah itu sama sekali belum menyerah.


“Traaaaak!”


Lia masih berusaha bertahan sekuat tenaga, namun perisai keempat-nya pun pecah. Akan tetapi senyum justru tersungging di bibir wanita itu, sementara Eros menunjukkan ekspresi pucat yang berkebalikan darinya.


Kecepatan rotasi tombak juga ikut menurun bersamaan dengan pecahnya perisai mana keempat yang berarti mana Eros pun mulai melemah.


Sayangnya, perisai ketiga dengan cepat tertembus hingga menerjang ke perisai kedua. Lia semakin mengerahkan sekuat tenaganya demi mempertahankan kedua perisai yang tersisa itu.


Namun demikian, perisai kedua tetap berhasil tertembus. Tetapi di kala penonton telah surut semangatnya dan mengira akan segera menyaksikan akhir dari pertandingan, keajaiban pun ditunjukkan oleh sang cleric itu.


Rotasi tombak Gae Bolg tepat berhenti di perisai pertama.


Setidaknya…


Itulah yang dipikirkan oleh semua orang.


Kenyataan lebih pahit menunggu Lia.


“Traaaaaaaash.”


Perisai mana terakhirnya itu retak di detik-detik terakhir sehingga tombak Gae Bolg yang walau telah berhenti berotasi pun, mampu menembus ke dalam pertahanannya itu.


Tangan kanan wanita mungil nan imut itu pun terluka parah dan tak mampu lagi digerakkannya.


“Selamat, Nona Muda, karena kamu menjadi orang yang ketiga yang berhasil menahan serangan Gae Bolg-ku itu. Tetapi tampaknya cukup sampai di sini.”


Ekspresi Eros pun seketika berubah bengis,


“Tang tung trang.”


“Shet shut shet.”


Dalam sekejap mata, sang tombak telah bergerak sendiri kembali ke tangan tuannya.


Dalam senyum bengisnya itu, Eros berlari ke arah Lia sembari melayang-layangkan tombaknya.


Lia segera mengeluarkan lima ramuan potion, batas terbanyak yang bisa dia ambil di dalam inventory-nya dalam sekali ambil, lalu meminum potion itu untuk sedikit memulihkan mana-nya.


Walau dalam keadaan tangan kanan yang tidak bisa digerakkannya itu, Lia berjuang sekuat tenaga dengan tangan kiri-nya yang tersisa.

__ADS_1


Lia segera melempar ramuan potion yang telah diminumnya ke tanah lantas dengan sigap menghindari serangan mematikan tombak Eros.


Lia menunduk menghindari serangan tombak itu sehingga Eros tepat berada pada posisi yang berbungkuk di atasnya. Tinjuan maut tangan krinya pun di layangkannya tepat ke dada Eros.


Eros terpental cukup jauh. Dan tampaknya serangan Lia cukup bekerja.


Eros memuntahkan sedikit darah melalui sudut bibirnya.


“Cih.” Tampak amarah mulai tersulut di benak Eros.


Namun dia segera kembali menyerang.


Serangan tombak satu demi satu dilancarkannya ke arah wanita itu, namun Lia walau dalam keadaan yang terhuyung-huyung perihal tangan kanannya yang cedera, mampu menghindarinya dengan baik.


Lalu ketika ada kesempatan di saat Eros lengah,


“Duaaaaar.” Lia akhirnya melayangkan tembakan dahsyatnya melalui sisa-sisa mana-nya itu tepat ke ulu hati Eros yang tidak terjaga.


Atau setidaknya itu yang dipikirkan Lia.


Ekspresi wajah Lia seketika mengerut, “Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kamu tahu bahwa aku masih punya mana yang tersisa untuk menyerang?”


Pasir yang menghalangi pemandangan sekeliling pun tersingkap.


Eros sama sekali tidak terpental ke belakang sebagai impak serangan peluru sihir Lia.


Justru sebaliknya, hanya Lia seorang dirilah yang terpental ke belakang.


Lia pun memperhatikan dengan seksama tubuh Eros itu. Rupanya perisai kecil namun sangat tebal, tepat telah melindungi bagian ulu hatinya itu dari dentuman serangan hebat peluru sihirnya itu.


“Bagaimana bisa aku tahu? Itu insting, Nona Muda. Kamu pikir telah berapa lama aku berada di arena. Aku sama sekali tidak akan pernah menurunkan kewaspadaanku apalagi ketika berhadapan dengan Nona Muda yang hebat seperti kamu.”


“Dari awal, kamu tidak pernah meremehkanku rupanya.”


“Siapa yang akan meremehkan Nona Muda yang hebat yang telah menunjukkan kemampuannya bisa bertahan sampai di 16 besar ini. Sudah pasti aku tahu kamu pemain yang hebat dan banyak menyelidiki tentang kebiasaan bertarungmu.”


“Jadi sikapmu tadi hanya akting saja rupanya. Kamu aktor yang hebat.”


“Aku akan anggap itu sebagai pujian. Yah, mari kita mengobrol lain kali saja. Kita akhiri dulu pertandingan ini perihal kita telah memakan waktu yang cukup lama.”


Eros pun melangkah ke arah Lia dalam kecepatan yang sedang.


Lia berusaha bangkit namun tampaknya baik tangan maupun kakinya sudah terlalu cedera parah untuk mengikuti kemauannya itu.

__ADS_1


Lalu dalam tebasan terakhir, Eros mengakhiri pertandingan itu dengan kemenangannya.


Semua penonton bersorak riang menyaksikan pertandingan yang penuh keseruan itu. Tidak, tidak semuanya. Setidaknya sang protagonis kita menunjukkan ekspresi wajah yang sendu. Kekasihnya itu telah gugur di 16 besar.


__ADS_2