The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
54. Luca Menjelang Ujian Kenaikan Level


__ADS_3

Keesokan harinya, Luca menjalani aktivitas-aktivitas rutinnya dengan santai di sekolah sejak kegiatan pelatihan neraka klub e-sport baru akan dimulai jumat besok. Atau setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Luca.


Akan tetapi, hari-hari terakhir di mana dia bisa santai tersebut, ternyata tak bisa Luca nikmati. Egi beserta rombongan teman sekelas pria-nya yang lain segera menyeret Luca untuk jalan-jalan.


Sebenarnya, ini adalah langkah licik Egi untuk mempermalukan Luca dengan mencari kelemahannya. Dia pun membawa Luca ke tempat karaoke agar Luca bisa mempertontonkan suaranya yang jelek itu. Atau setidaknya itulah yang Egi pikirkan.


Satu yang Egi benar tentang Luca, Luca masih baru di dunia ini sehingga belum banyak mengenal lagu-lagu yang populer di bumi. Tetapi itu bukanlah masalah di hadapan skill fast learner milik Luca. Luca segera belajar lirik serta cara bernyanyi-nya dengan meng-copy lagu yang Egi nyanyikan.


Setelah Egi bernyanyi lantas menyerahkan microfonnya kepada Luca, Luca dengan cepat melakukan langkah-langkah yang sama seperti apa yang Egi lakukan termasuk dalam memilih lagu yang sama. Luca pun menyanyikan lagu yang sama persis seperti apa yang Egi nyanyikan sebelumnya.


Tetapi di luar dugaan, Luca ternyata memiliki suara emas. Walau dengan lagu yang sama, Luca menyanyikan lagunya dengan jauh superior dibandingkan dengan Egi, yah walaupun bisa dikatakan Egi sudah termasuk penyanyi yang cukup baik. Tetapi jika dibandingkan, suara Egi hanyalah daging renyah di warung kaki lima pinggir jalan, sementara suara Luca adalah steak A5 berkualitas tinggi dari restoran berbintang lima.


Semuanya jadi terpukau dengan keindahan suara yang menakjubkan itu. Mau tidak mau, semua yang hadir di sana jadi membanding-bandingkan kedua penyanyi yang menyanyikan lagu yang sama tersebut, tetapi dengan perbedaan karisma yang bagai bumi dan langit.


###


Kau bukan siapa-siapa.


Jangan kira dirimu sama denganku


Kau hanyalah pecundang sedangkan aku raja


Kita berada di kasta yang berbeda


Sadar dirilah wahai pecundang


###


Luca hanya bernyanyi sesuai dengan contoh apa yang diperolehnya dari Egi termasuk liriknya. Namun, saking Luca menghayati lagunya tersebut, Egi pun malah berfantasi menganggap itu sebagai ungkapan ejekan Luca terhadap dirinya. Rasa kesal Egi pun dia tumpuk di hatinya.


Karena merasa kalah dengan Luca, Egi enggan untuk mengakhiri malam itu hanya sampai di sini saja. Egi pun mengajak Luca dan rombongan ke tempat latihan panjat tebing. Egi merasa yakin bahwa walaupun dia kalah oleh Luca dari segi seni suara dan ketangkasan bermain game, dia tak mungkin kalah pada bakatnya yang satu ini untuk memanjat tebing.


Namun, harapan Egi itu pun dikhianati. Yah tentu saja bagi seseorang yang telah terbiasa bekerja sebagai assassin selama ini di dunianya yang lama, latihan memanjat tebing bukanlah hal yang susah bagi Luca. Bahkan jika disuruh, Luca pun sanggup untuk berjalan vertikal di dinding itu sejauh kurang lebih dua meter.


Egi pun meraung dalam hati karena telah kalah telak dengan skor 3 – 0 terhadap Luca. Yah, walaupun itu semua hanya pernyataan sepihak dari Egi saja yang begitu menganggap Luca sebagai rivalnya.


Akan tetapi, begitu Luca dan Egi hendak berpisah,


“Hari ini menyenangkan ya, Egi.” Egi bertambah kesal mendengar Luca sambil tersenyum cerah mengatakan kalimat itu. Namun, kalimat yang selanjutnya dari Luca seketika menghapuskan kemarahan Egi begitu saja, “Terima kasih telah mau menjadi temanku dan mengajakku main, Egi.”


Egi yang sensitif terhadap niat terselubung, sadar betul bahwa Luca mengucapkan kalimat itu saat ini dengan tulus. Dia pun menyadari bahwa pikirannya selama ini yang menganggap Luca meremehkannya hanyalah khayalan sepihak Egi semata.

__ADS_1


Egi pun membalas ucapan Luca, “Tentu. Kapan-kapan kita main lagi.” di mana Egi mengucapkannya pula tulus dari lubuk hatinya yang terdalam.


.


.


.


Malam itu, Luca sampai di rumahnya pukul 21.30 tepat. Masih ada beberapa waktu baginya mengerjakan PR dan bermain game. Akan tetapi, letihnya jalan-jalan membuat Luca memilih untuk segera terbang ke dunia kapuk saja.


.


.


.


Keesokan harinya, pelatihan neraka klub e-sport pun dimulai yang diikuti oleh ke-18 anggota klubnya saat ini, atau tepatnya 15 karena lagi-lagi 3 pemain tidak hadir mengikuti pelatihan tanpa kabar.


Namun, daripada pelatihan neraka, mungkin lebih tepat menyebut pelatihan itu sebagai sang raja iblis Luca sedang menyiksa para seniornya.


Luca secara bergiliran melawan ke-14 anggota lain yang lebih senior darinya tanpa ampun, termasuk kepada dua anggota cleric mereka, Yurika dan Shea.


Masing-masing dari mereka hanya melawan Luca sebanyak 3 kali dan itu pun jika ditotalkan waktu ketiga pertandingan mereka, hampir tidak ada satu pun yang melewati angka semenit, kecuali sang archer, Danang, dengan jumlah waktu 1 menit 3 detik, terima kasih berkat keahliannya dalam menghindar dan berlari. Mereka semua pun sepakat bahwa itu adalah salah satu momen terberat di hidup mereka.


Pukul 17.00 tepat, pelatihan [siksaan sang raja Iblis Luca] pun berakhir dan semua anggota pulang dengan badan yang lemas tak berdaya, terkecuali Luca.


Luca pun berjalan ke tengah koridor yang menghubungkan antara ruang klub dan pintu keluar gedung olahraga tersebut sambil memikirkan strategi apa yang nantinya dia gunakan pada misi pembukaan kunci level yang kedua-nya itu.


Namun, Luca tiba-tiba mendengarkan suara Nina yang berteriak marah di suatu tempat di dekat situ. Luca pun mengintip.


“Memangnya apa yang Senior tahu dariku! Berhentilah ikut campur masalah hidupku!”


“Bagaimana aku tidak ikut campur melihat kebodohanmu seperti ini?! Memangnya sampai kapan kamu akan mempertahankan mimpi idiotmu itu?!”


“Hei, hei. Senior Areka! Ucapan Senior sudah keterlaluan!” Di sela-sela mereka, Luca juga melihat Raia ikut berdebat.


“Kamu, pecundang, diamlah! Aku sedang bicara dengan Nina!”


“Cukup, cukup, cukup! Aku tidak mau dengar lagi.”


“Aku takkan berhenti sampai kamu mau mendengarkanku untuk melepaskan mimpi bodohmu itu dan melihat kenyataan! Apa kamu mau seperti itu terus dan akhirnya menyesal kemudian hari ketika tidak ada lagi jalan untuk kembali?! Hah!”

__ADS_1


“Tidak, cukup, Senior.” Lalu dengan kalimat terakhir itu, Nina jatuh pingsan.


“Hei, Nina!”


“Minggir! Ini semua salah Senior!”


Seketika Nina pingsan, Areka dan Raia segera menggapainya. Melihat hal itu dari kejauhan, Luca juga tak dapat lagi menjaga ketenangannya lantas turut berlari menghampiri sosok yang telah dianggapnya sebagai kakak itu sejak datang ke dunia ini dengan panik.


Mereka pun segera membawa Nina ke rumah sakit.


.


.


.


“Hei, Senior! Berhenti menekan Nina seperti itu! Lihat apa yang sudah Senior lakukan pada gadis rapuh itu!” Di luar pintu kamar rumah sakit UGD di mana Nina dirawat, Raia berteriak sambil memegangi kerah baju seniornya itu dengan marah.


“Kak Raia juga tenanglah. Kak Nina butuh istirahat tenang.” Luca lantas segera menenangkan suasana hati Raia yang penuh amarah saat itu.


Areka tak berkomentar lagi. Dia menyadari bahwa kali ini dia sudah keterlaluan.


“Ah, Dik Luca. Maaf ya. Padahal kami harusnya membantu Dik Luca untuk ujian kenaikan level menengah bawah malam ini. Tapi sekarang karena Nina pingsan dan aku harus menjaganya. Dik Luca terpaksa harus mencari pengganti kami.”


Menanggapi itu, Luca tersenyum, “Tidak apa-apa kok, Kak Raia. Bukan hal penting. Lagian itu cuma game. Aku bisa melakukannya lain kali.”


Namun, pintu kamar UGD di mana Nina dirawat pun terbuka.


Itu Nina.


“Tidak, Raia. Aku baik-baik saja, hanya perlu beristirahat. Kamu temanilah Luca naik level karena jika tidak, dia harus menunggu sebulan lagi untuk mendapatkan misi pengganti naik level tersebut. Kasihan Luca.”


Luca segera memotong perkataan Nina tersebut, “Tidak kok, Kak Nina. Benaran tidak apa-apa.”


“Kamu diam saja!” Tetapi Nina juga segera balik membuat Luca terdiam.


“Aku paling mengerti bagaimana perasaan seorang gamer itu. Walaupun di hadapan orang lain terkesan sepele, dalam hatimu, jujur kamu tidak bisa menunggu waktu selama itu hanya untuk naik level kan?”


Kali ini Luca hanya terdiam atas ucapan Nina tersebut.


“Jadi, Raia, kamu temani saja Luca ujian kenaikan level malam ini. Akan sulit baginya di sisa waktu setengah jam ini untuk mencari pemain pengganti. Juga Senior Areka, ini salah Kakak sehingga aku drop. Jadi Kakak yang harus menggantikan posisiku menemani Luca naik level. Mengerti?”

__ADS_1


“Haaaaaah.” Areka menghela nafasnya panjang. “Baiklah, aku mengerti.” Lalu Areka pun menjawab setuju.


Malam itu, 30 menit sebelum ujian pembukaan kunci level yang kedua Luca dimulai, seorang anggota party keluar, namun segera digantikan dengan masuknya anggota party yang lain. Dialah Areka yang menggantikan posisi Nina.


__ADS_2