
Aku melihat sekeliling. Barulah aku tersadar. Ini bukan terakhir kalinya aku mendatangi tempat ini. Pemandangan menjijikkan inilah yang pernah aku saksikan sebelumnya terakhir kali aku menyelesaikan dungeon bersama Kak Kirana.
Tetapi mengapa kali ini yang lain bisa ikut kemari? Sebelumnya, Kak Kirana tidak ikut terseret ke tempat aneh ini.
Tidak, yang lebih penting sekarang…
“Nina! Nina! Sadarlah!”
Begitu aku mendengarkan teriakan Kak Raia, barulah aku tersadar, Kak Nina sedang dalam status aneh.
“Kak Nina! Kakak kenapa?!” Dengan panik, aku menghampiri Kak Nina.
Tetapi apa yang selanjutnya diucapkan oleh Kak Nina adalah sesuatu yang sama sekali aku tidak mengerti.
“Tidak! Jangan ke sana! Kita harus kabur bersama. Tidak… Tidak… Jangan ke sana sendirian! TIdak! Kak Malik!”
“Hei, Nina sadarlah!” Kak Raia pun terpaksa menampar Kak Nina dengan keras. Barulah Kak Nina memperoleh kembali kesadarannya.
Tetapi ini gawat. Tempat ini terasa ganjil. Sangat penuh dengan esensi kematian bercampur kegelapan.
“Kak Nina, Kak Raia, sebaiknya kalian log out secara paksa saja dulu dalam game. Walau mesti turun lagi satu level, itu bisa kita atasi nanti. Yang jelas, kita harus keluar dulu dari hal yang tidak biasa ini. Aku punya firasat buruk.”
Aku pun segera menginstruksi mereka. Akan tetapi, di lain sisi…
“Paman Visgore!” Aku berteriak, tetapi paman itu tidak mendengarkanku.
“Kak Rahnee? Tidak, tidak, apa yang kalian lakukan, b@ ji – ng@n!”
Kulihatlah di depan, apa yang membuat Paman Visgore begitu sangat marah sampai-sampai dia melepaskan penyamarannya. Kini dia telah kembali ke status aslinya, seorang NPC berlevel 82. Di depan, tampak tiga orang wanita disekap oleh para pria bermuka hitam legam yang memiliki winged dark elemental sebagai pet mereka.
Paman Visgore lantas berlari menerjang mereka sembari mengeluarkan pedang beraura apinya. Dalam sekejap, mereka semua menjadi sasaran pembantaian Paman Visgore. Paman Visgore lantas segera membebaskan ikatan yang menjerat wanita yang ada di tengah.
“Kak Rahnee! Kak Rahnee! Ternyata semuanya memang bukanlah khayalanku. Orang-oranglah yang telah salah karena melupakan Kakak. Syukurlah, Kakak benar-benar ada.” Paman Visgore pun menangis sembari memeluk wanita itu.
“Yini engaka? Kubonakala sengathi yonke into eniyenzayo bantu!”
Suatu bahasa yang tidak kukenal pun terdengar. Ini aneh. Jelas ini bukan bahasa yang digunakan di Benua Astrovia.
Tidak, bukan itu, walaupun itu bukan bahasa asli pribumi, sistem pastinya akan otomatis menerjemahkannya di dalam otakku menjadi bahasa Astrovia seperti halnya ketika aku pertama kali terdampar di dunia nyata dan belum memahami bahasa dunia nyata dengan baik.
Tetapi aku sama sekali tidak mengerti ucapan itu?
__ADS_1
Aku pun menatap ke depan ke arah sumber suara itu. Kulihatlah penampilan aneh sosok yang mengucapkan ucapan itu dengan seluruh tubuh hitam legam, kecuali rambutnya yang berwarna putih, dan bola matanya yang berwarna coklat. Ah, dan juga telinganya tampak panjang seperti teman Kak Virus Lady.
Semuanya bertambah kacau ketika aku mendengarkan teriakan Kak Raia.
“Eh, mengapa? Mengapa kami tidak bisa log out secara paksa? Luca, tombol log out di papan status-ku tidak berfungsi.”
Setelah aku, memeriksanya, ternyata benar seperti apa yang Kak Raia ucapkan barusan.
Akhirnya, Kak Raia pun ikut tersadar dengan sosok mengancam yang ada di hadapan kami saat ini. Namun, kudengarlah Kak Raia bergumam ketakutan,
“Kenapa? Itu kan Dark Elf? Kenapa last boss game The Ninth Elvendia ada di sini?!”
The Ninth Elvendia, bukankah itu salah satu series terdahulu dari vrmmorpg The Last Gardenia? Aku pun turut bertanya-tanya. Tetapi keberadaan sesuatu yang tidak pada tempatnya ini bukanlah hal yang terpenting sekarang. Terasa benar hawa membunuh dari sosok yang ada di hadapan kami itu. Aku tidak boleh menurunkan kewaspadaanku.
“Aura, support aku dari belakang.”
“Baik, Master!”
Aku pun bersiap waspada.
“Hey, lakhi! Babulale!”
Aku pun segera maju sebelum mereka sempat menyentuh Paman Visgore. Paman Visgore di depan tampaknya tidak dalam kondisi siap bertarung sekarang. Maka dari itulah, akulah yang harus berinisiatif pada pertarungan yang tak terhindarkan ini.
“Clang, clang, clang.” Dagger-ku pun mulai beradu dengan tombak mereka.
Tidak ada keterangan baik level, nama, maupun ras mereka. Ini sangat aneh. Sebagai seorang player, aku seharusnya bisa melihat informasi standar tentang mereka. Tetapi berdasarkan keterangan Kak Raia, makhluk-makhluk ini dinamakan dengan dark elf.
Adapun untuk pet-pet mereka, aku masih dapat melihat papan status mereka. Tetapi apa ini? Level mereka lumayan tinggi, berkisar dari 35 – 65. Dengan jumlah yang sebanyak ini, bisakah aku bertahan? Ditambah dengan para dark elf sialan ini, ini akan menjadi pertarungan yang sangat sulit.
Ck, di samping itu, Paman Visgore belum juga memperoleh akal sehatnya kembali. Setidaknya bantu aku menghadapi mereka sekarang. Sulit buatku menangani mereka semua ketika dua pertiga kemampuanku masih tersegel.
“Ah, tidak. Aura, pertahanan!” Aku segera berteriak ketika kumelihat para prajurit di belakang mulai menembakkan anak-anak panahnya.
“Siap, Master!”
Untunglah Aura cekatan sehingga dapat tepat waktu melindungi orang-orang yang ada di belakang. Kami belum tahu apa yang akan terjadi pada tubuh asli kami jika kami gameover sekarang di kala status game menjadi kacau seperti ini di mana kami tidak bisa log out secara paksa.
Terlebih, ada 4 orang NPC bersama kami saat ini. Berbeda dengan para player, ketika NPC mati, hidup mereka akan berakhir saat itu juga. Walaupun aku yakin betul bahwa para makhluk sialan yang ada di sini tidak ada apa-apanya di hadapan kekuatan Paman Visgore jika Paman Visgore berada dalam akal sehatnya.
Ah, itu benar.
__ADS_1
“Aura, pulihkan status ganjil pada Paman Visgore jika ada sekarang!”
“Baik, Master!”
Kumohon, semoga Paman Visgore bisa segera sadar.
“Kalian yang ada di belakang, lindungi ketiga wanita ini! Aku yang akan membasmi para b@ ji – ng@n b@ ji – ng@n sialan itu!”
Syukurlah, Paman Visgore akhirnya kembali ke kesadarannya.
“Baik, Paman?”
“Oh, iya?”
Kak Raia dan Kak Nina pun segera menghampiri para wanita itu kemudian melepaskan ikatan kedua wanita lain yang masih terikat tangan dan kakinya selain yang dilepaskan oleh Paman Visgore barusan.
Tampak mereka berdua masih linglung dengan perubahan tiba-tiba seorang paman yang tampak lemah lunglai menjadi seorang ksatria perkasa yang mampu menggunakan aura pedang.
Di dekat mereka, juga sudah stand by Aura yang siap melindungi mereka kapan saja dibutuhkan. Aku pun bisa berkonsentrasi bersama dengan Paman Visgore dalam mengalahkan para makhluk hitam legam bersama para pet mereka, winged dark elemental, ini.
Atau tampaknya itu tidak dibutuhkan.
Kekuatan overpower Paman Visgore dalam sekejap membantai mereka tanpa ampun.
Aku pun hanya kebagian sisa-sisa yang berhasil selamat setelah luput dari tebasan aura api pedang Paman Visgore lantas melarikan diri dari pertempuran.
Bagaimana pun mereka cukup tangguh. Akan tetapi, jika hanya ada 4 di antara mereka, itu adalah bukan masalah yang sulit bagiku selama mereka masihlah petarung level menengah yang belum membangkitkan kemampuan aura atau lingkar mana keempat mereka.
“Shak, shak, shak.”
Mereka melayangkan tombak mereka secara liar ke arahku, tetapi aku mampu menghindarinya dengan baik. Setelah itu, aku menerapkan skill langkah bayangan dan sembunyi di saat yang tepat untuk menghilang di hadapan mereka, kemudian muncul lagi di saat yang tepat untuk memberikan serangan ultimate.
Yang pertama, aku menerapkan skill tikaman penghancur tengkorak kepada lawan yang pertama begitu aku muncul dari arah atas belakangnya lalu secepat kilat menebas leher lawan yang kedua.
Serangan pada lawan yang kedua tidak terlalu efektif karena tubuh avatarku ini belum membangkitkan skill tebasan leher-ku sehingga walaupun aku dapat mengingat sensasinya, sulit untuk menerapkan hasil yang sama. Aku pun menghabisi lawan yang kedua ini dengan skill ultimate lain yakni tikaman penghakiman.
Aku menghilang lagi dengan skill langkah bayangan dan sembunyi. Lalu pada akhirnya, muncul lagi dari arah bawah tanpa mereka sadari ketika aku mengaktifkan skill gerak zig-zag. Lawan yang ketiga yang tidak menyangka-nyangka arah kemunculanku pun menurunkan kewaspadaannya sehingga tidak siap menerima serangan lantas aku habisi pula dengan tikaman penghakiman.
Sisa satu lawan yang tersisa. Tetapi dia cukup bodoh untuk memunggungi musuhnya di tengah pertarungan. Tampaknya, dia yang paling amatir di antara keempatnya. Aku pun dengan mudah menghabisinya dengan gabungan skill langkah bayangan dan langkah cepat putus asa, serta tikaman penghancur tengkorak sebagai serangan ultimate penutup.
Aku pun melirik ke belakang. Tampak Paman Visgore juga sudah membasmi pemimpin mereka. Pertarungan pun dimenangkan oleh kami.
__ADS_1