The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
170. Lawan yang Banyak Tiada Artinya di Hadapan Kekuatan Mutlak


__ADS_3

Antusiasme penonton terhadap SMA Mulya Kasih memang bukan tanpa alasan.


Begitu babak pertandingan pertama dimulai, sang mage, pemain pertama perwakilan dari SMA Mulya Kasih langsung saja menunjukkan ketangguhannya terhadap peserta yang lain.


Sang pemain sama sekali tidak gentar menghadapi keempat pemain lawan yang berasal dari tim yang berbeda-beda yang bekerjasama secara dadakan untuk mengalahkannya. Sudah sewajarnya bahwa mage adalah sasaran utama dan pertama dalam setiap royal battle.


Tetapi tentu saja, itu bukanlah masalah jika sang mage memiliki kekuatan mutlak. Dalam sekejap, dia mampu mengungguli keempat lawan lain yang tiba-tiba saja bersatu itu. Dengan jurus apinya, dalam waktu singkat dia membakar seluruh lawan-lawannya di arena lantas keluar sebagai pemenang di babak tersebut.


Tidak hanya sang mage, tetapi juga sang pemain kedua dari SMA Mulya Kasih tak kalah mengagumkannya. Dia adalah seorang swordsman.


Dengan langkah yang elegan dan tenang, dia mengeliminasi satu-persatu lawannya dari arena dan keluar sebagai pemenang di babak kedua itu.


Melangkah ke babak ketiga, sorak-sorai ramai dari penonton pun mencapai puncak intensitas tertingginya. Ya, inilah pertandingan sang pemain ace tim Joker Hitam tersebut yang kali ini bertanding mewakili atas nama sekolahnya, Viandra sang fighter.


Tidak perlu diragukan lagi, bahkan ketangguhan dan keoverpoweran kedua anggota timnya yang sebelumnya, sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan dirinya.


Hanya dalam dua gerakan tinjuan, bahkan dalam satu tinjuannya dia menggunakannya untuk masing-masing dua lawan, keempat lawan dari tim SMA lain terpental dan terpelintir dengan kejam begitu saja lantas game over dari arena.


Skor 30 poin untuk SMA Mulya Kasih hanya dalam tiga babak. Panitia pertandingan pun memutuskan untuk meniadakan pertandingan babak keempat dan kelima perihal apapun hasil pertandingannya, tiada lagi lawan yang mampu mengalahkan skor mutlak itu. SMA Mulya Kasih akhirnya keluar sebagai pemenang pertandingan babak penyisihan pertama di kelompok 2 tersebut.


“Jadi ini lawan yang harus kita kalahkan jika kita berhasil tembus sampai di babak penyisihan ketiga? Apa kamu percaya diri bisa mengalahkan mereka, Luca?”


Dalam rasa takjubku itu melihat pertandingan SMA Mulya Kasih, Senior Areka tiba-tiba bertanya kepadaku lantas membuyarkan diriku yang sementara tenggelam dalam lamunan itu.


Yah, pertandingan mereka tentu saja tidaklah terlalu begitu hebat jika disandingkan bersama tim profesional. Namun, sebagai tim amatir tingkat SMA, kemampuan mereka sudah sangat menakjubkan.


“Aku tahu benar rasa khawatir Senior. Tetapi tidak usah berpikiran macam-macam dan fokus saja dulu pada pertandingan yang ada di depan kita. Tidak akan ada yang bisa mengetahui hasil pasti pertandingan perihal tidak hanya kemampuan, terkadang faktor luck menjadi faktor penentu terpenting pula dalam hasil pertandingan.”


Senior Areka hanya terlihat terdiam sembari mengangguk terhadap tanggapanku atas pertanyaannya itu.


“Tetapi itu curang kan? Mengapa pemain tim profesional seperti dia masih boleh ikut turnamen amatir seperti ini?”


Dia adalah sang pessimistic Kak Robby yang berujar.


“Ck. Tidak peduli dia dari tim profesional atau apa, bukankah semakin kuat lawan, semakin menarik pertandingannya? Jangan jadi lemah. Semakin kuat lawan, kita hanya harus menjadi lebih kuat lagi. Hanya kemampuan diri sendirilah yang takkan pernah mengkhianati kita.”


Dengan tatapan yang penuh percaya diri, Senior Areka pun menuntun kami ke ruang komputer, tempat kami akan bertanding yang diiringi penyemangat dari Pak Pelatih serta para anggota tim lainnya.


“Hei, Egi. Apa kamu tidak panik? Bagaimana jika menyerahkan pertandingan babak penyisihan pertama padaku saja?”


“Tidak! Serahkan padaku saja! Bagaimana pun dilihatnya, seorang tamer lebih cocok untuk royal battle!”

__ADS_1


Mereka adalah Kak Inggar dan Kak Rena yang masih belum puas dengan hasil penunjukan Egi, sang anak baru di tim sama sepertiku, untuk menggantikan posisi Kak Yurika sebagai non petarung dalam battle royal ini.


“Tidak, Senior. Akulah yang berada di posisi lima peringkat petarung terbaik di SMA Pelita Harapan. Sudah jelaslah aku yang harus maju.”


Apa yang dikatakan Egi adalah benar. Walau banyak yang meragukan terpilihnya Egi dengan kelas archer yang sebenarnya kurang cocok dengan battle royal perihal pertandingan akan dieksekusi dalam pertandingan jarak dekat yang tidak sesuai dengan kemampuannya itu, bagaimana pun hanya Egi-lah yang paling berhak untuk mengikuti pertandingan ini, perihal berdasarkan peringkat, dialah anggota petarung terbaik kelima.


Dengan demikian, kami pun melangkah ke pertandingan babak penyisihan pertama dengan anggota aku, Senior Areka, Kak Yudishar, Kak Robby, serta Egi.


Pertama-tama adalah undian untuk menentukan urutan tampil pertandingan. Ternyata aku mendapatkan nomor urut 1, kemudian Kak Yudishar di nomor urut 2, Senior Areka di nomor urut 3, Egi di nomor urut 4, dan terakhir Kak Robby di nomor urut 5.


Terus terang, ketika aku memasuki arena, aku sedikit kesal perihal gema suara penonton masih sibuk membicarakan soal kehebatan Viandra. Yah, ini wajar. Karena kami seumuran, mau tidak mau alam bawah sadarku menganggapnya sebagai rival yang menjengkelkan.


Tanpa sadar, aku pun menuangkan kekesalanku itu di dalam pertandingan. Bahkan sebelum aku sempat serius, tebasan aura yang kukeluarkan sebagai jurus pertama, telah mengeliminasi semua lawan di arena.


“…”


Suasana hening seketika terjadi. Tiada satu pun dari penonton yang mengeluarkan suara untuk berkomentar. Jangankan berkomentar, untuk menimbulkan suara dari gerakan kecil saja, mereka terlihat segan. Tanpa sadar, aku telah mengalihkan dunia mereka dengan kemampuan yang lebih over power lagi ketimbang Viandra.


Setelah beberapa saat, akhirnya seorang penonton pun tersadar dari bawah hipnotis permainanku. Sang penonton itu lantas segera bertepuk tangan. Bagaikan sindrom butterfly, di mana efek suara membatalkan hipnotisasi massal, dari satu sumber suara tepuk tangan, lantas menjalar ke berbagai sisi, hingga tanpa sadar, panggung yang terbuka lebar itu pun dipenuhi oleh suara tepuk tangan meriah disertai sorak-sorai dari penonton.


“Hei, bukankah dia bocah pirang SMA Pelita Harapan yang mengalahkan sang juara dunia, Ecila? Aku sempat tidak menyadarinya karena dia menggunakan karakter dengan rambut hitam.”


“Bukankah dia juga yang baru-baru ini membuat keributan pas pertama kali masuk di SMA-nya dengan mengejek para seniornya lantas menantang dan mengalahkan mereka semua dalam duel hingga babak belur?”


“Wow, sungguh wild! Tetapi itu juga keren. Sayang dia pendek ya.”


Oi, oi. Kalian pikir karena jauh aku tidak bisa mendengarkan gosip kalian itu? Maaf saja, telingaku cukup tajam sehingga walaupun kesadaranku berada di dunia virtual saat ini, telingaku di dunia nyata tetap terhubung dengan baik dan mampu mendengarkan gosip kalian.


Tetapi yah, karena kalian memujiku hebat, maka itu tidak apa-apa, itu kenyataan soalnya.


Tetapi apa maksudnya kalimat kedua tadi? Aku malah terdengar seperti preman jadinya yang datang-datang di sekolah langsung mengambil kekuasaan para senior. Yah, walaupun dalam artian lain, itu memang benar adanya.


Tetapi apa pula kalimat yang terakhir itu? Apa salahnya menjadi orang yang pendek? Hufft.


Yah, melupakan gosip para penonton, aku malah jadinya memperoleh kemenangan pertama bagi tim kami di babak penyisihan pertama ini dengan terlalu mudah.


Selanjutnya adalah pertarungan Kak Yudishar di babak kedua ini. Sama seperti mage di tim SMA Mulya Kasih, Kak Yudishar juga adalah mage berelemen api. Kalau dipikir-pikir, aku justru kebanyakan mengenal pemain berelemen tipe api. Ada Kak Brian, Kak Glen, dan Kak Krimson juga. Apa elemen api adalah elemen yang paling umum ya?


Singkat cerita, sama seperti SMA Mulya kasih sebelumnya, karena Kak Yudishar adalah seorang mage, mutlak menjadi incaran pertama para lawan. Namun demikian, perbedaan kekuatan lawan teramatlah besar.


Dengan waktu inkantansi mantra yang singkat namun dengan impak serangan yang luar biasa, Kak Yudishar dalam sekejap mampu mengungguli para lawan. Para lawan seketika terhanyut dalam lautan api tanpa sanggup lagi untuk berkutik. Mereka pun satu-persatu game over di arena lantas Kak Yudishar keluar sebagai pemenang di babak kedua itu.

__ADS_1


Kini tiba giliran Senior Areka di babak ketiga. Sebagai pemain tipe bertahan, berbeda dengan aku dan Kak Yudishar, alih-alih menyerang, Senior Areka lebih berfokus pada pertahanan.


Namun, karena penampilan tim SMA kami yang memenangkan pertandingan dua babak berturut-turut, terima kasih berkat aku dan Kak Yudishar, ditambah memang pada awalnya, sekolah kamilah yang diunggulkan di kelompok itu, maka mutlak Senior Areka-lah yang menjadi incaran para pemain lain.


Namun sayangnya, Senior Areka bukanlah pemain kacang-kacangan yang dapat mereka buli begitu saja. Dengan perisai kokoh itu, Senior Areka menghempaskan satu-persatu lawan yang hendak menyergapnya.


Tiada dari keempat lawan dari tim yang berbeda itu yang mampu mengungguli kekuatan dahsyat Senior Areka, justru merekalah yang satu-persatu harus menjadi bulan-bulanan pelampiasan kekesalan Senior Areka tersebut. Aku juga bingung, entah mengapa Senior Areka terlihat kesal begitu.


Yang jelas pada akhirnya, Senior Areka juga turut menyumbangkan skor maksimal dengan memenangkan pertandingan di babak ketiga tersebut.


Sama seperti SMA Mulya Kasih sebelumnya, perihal skor kami sudah mencapai angka 30 sehingga sudah mutlak SMA kami memenangkan pertandingan apapun hasil pertandingan sisanya, maka pada saat itu pula SMA Pelita Harapan ditetapkan sebagai pemenang babak penyisihan pertama di kelompok 3 tanpa perlu dilangsungkannya lagi kedua pertandingan tersisa.


Namun itu justru membuat Egi kesal, lantaran setelah adu mulut getirnya dengan Kak Inggar dan Kak Rena dan berhasil merebut satu tempat, ujung-ujungnya dia tetap tidak bisa tampil dalam kompetisi babak penyisihan pertama itu.


@@@


Jauh di salah satu bangku penonton di sana, seorang wanita paruh baya tiba-tiba berujar,


“Jadi bagaimana? Apa pendapatmu tentang Luca sudah berubah?” Dialah Bu Sasmi yang sedang menatap lurus ke arah mata Pak Susanto.


“Ck. Jika guru yang tiada pijakan sepertiku ingin aman di sekolah yang penuh predator yang mengerikan, adalah sikap yang wajar bagiku untuk pura-pura buta dan tuli.”


“Itukah omongan seorang wali kelas?”


“Ck. Memangnya apa fungsi wali kelas?! Mengapa banyak yang lebai dengan beranggapan wali kelas itu harus mampu mengayomi kenyamanan hati para murid-murid waliannya? Selama kita dapat memenuhi hak-hak akademik setiap murid walian kita, bukankah itu sudah cukup?”


“Pak Susanto, Anda terlalu kontekstual. Meski kita tidak dibayar untuk itu, namun demikian, ada tanggung jawab moral yang ditanggung bagi para guru untuk memupuk mental peserta didiknya ke arah kebaikan. Walau tidak sanggup melawan posisi di atas, Anda setidaknya memberikan dukungan mental bagi para murid yang membutuhkan.”


“Seperti melakukannya saja mudah.”


“Apa Anda tidak kasihan dengan Luca yang polos itu? Kudengar bahwa kedua orang tuanya telah meninggal dunia dan sementara dirawat oleh kerabatnya.”


“Jadi memangnya kenapa? Setiap orang punya masalahnya masing-masing. Aku sendiri juga harus mempertahankan pekerjaanku demi menafkahi kedua orang tuaku dan adik-adikku di rumah.”


“Jadi Anda akan membiarkan skema licik si guru BK sampah itu begitu saja kepada Luca?! Andai aku bisa, aku yang akan menanganinya. Tetapi apa? Aku bukanlah wali kelasnya, Andalah wali kelasnya, Pak Susanto! Anda seharusnya yang paling tahu perasaan Luca karena Anda sendiri pernah mengalami situasi yang sama.”


Mendengar pernyataan Bu Sasmi itu, Pak Susanto terdiam sejenak. Namun kemudian, dia mulai berbicara kembali,


“Setidaknya, aku akan membantunya untuk hal-hal yang tidak membahayakan posisiku. Untuk masalah skema licik si sinting itu, serahkan saja kepada Pak Kepsek. Dia juga pastinya takkan mau kehilangan atlit berbakat seperti Luca di sekolahnya.”


Pak Susanto berujar penuh kemantapan.

__ADS_1


__ADS_2