The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
173. Kehebatan Seorang Assassin


__ADS_3

\=\=\=


Skor Sementara Babak Penyisihan Ketiga


SMA Mulya Kasih: 103


SMA Pelita Harapan: 0


\=\=\=


Robby, Yudishar, dan Yurika dari Tim SMA Pelita Harapan telah lama tereliminasi di arena menyisakan Luca dan Areka di sana, sementara tim lawan masih dalam keadaan utuh dan dalam kondisi baik-baik saja. Terlebih, monolith Tim SMA Pelita Harapan telah dihancurkan.


Ditambah perbedaan skor yang terpaut sangat jauh dengan waktu tersisa kurang dari setengah waktu pertandingan itu, mau tidak mau membuat semua pendukung Tim SMA Pelita Harapan harus menelan rasa kegugupan yang teramat sangat.


“Bocah sialan! Setelah apa yang kamu tunjukkan padaku sebelumnya, jangan bilang kamu akan game over di sini! Ayolah, Luca, menangkanlah pertandingan ini! Kumohon!”


Dialah Kania, anggota Klub White Star yang paling melankolis sedang penuh harap-harap cemas akan nasib Tim SMA Pelita Harapan yang didukungnya itu, atau tepatnya, pusat kekhawatirannya ada pada salah satu anggota tim tersebut yang merupakan atlit favoritnya.


“Kania, ada apa?”


“Bukan apa-apa, Bento. Hanya saja, aku tidak ingin Luca kalah di pertandingan ini.”


“Tenang saja. Melihat dari tatapan matanya, anak itu sama sekali belum menyerah. Kurasa dia akan baik-baik saja.”


‘Benar kata Bento. Luca pasti bisa. Luca, kumohon, bertahanlah!’


Doa yang tulus pun terpatri dalam hati wanita yang penuh kelembutan itu.


Tidak hanya Kania saja yang sedang mengkhawatirkan Luca.


“Luca, sayang! Kalahkan mereka!”


Dialah Lia, sang selebriti e-sport vrmmorpg, pacar Luca, yang tak henti-hentinya memberikan pacarnya itu dukungan tulusnya.


“Luca, setelah kerja kerasmu selama ini, jangan mau kalah!”


“Luca, kalahkan mereka!”


“Luca, semangatlah! Aku yakin pada dirimu.”


“Bukan hanya ini saja kan kemampuanmu, Luca!”


Tidak hanya Lia saja, Nina, Raia, Chika dan Diana yang ada di sampingnya juga tak henti-hentinya memberikan Luca dukungan melalui doa.


Di tengah kegugupan pendukung Tim SMA Pelita Harapan itu, penonton lain yang justru mendukung Tim SMA Mulya Kasih atau termasuk yang netral tanpa memberikan dukungan lebih pada salah satu tim, telah bersorak-sorai dengan meriah, berpikir bahwa sebentar lagi SMA Mulya Kasih akan segera memenangkan pertandingan dengan menyingkirkan sang SMA langganan semifinal pertandingan lawannya itu.


Di tengah alur suasana stadiun yang mulai mengalir ke arah keuntungan SMA Mulya Kasih tersebut, di tengah sorak-sorai penonton yang tak henti-hentinya mengelu-elukan nama SMA Mulya Kasih, tiba-tiba satu suara teriakan nyaring seketika menghentikan momentum itu.


“Luca, berjuanglah! Kalahkan para mob itu dengan percaya diri! Kamulah karakter utama di dalam cerita ini!”


Semua penonton seketika terdiam hanya karena keberadaan satu suara dukungan itu saking tulus dan spesialnya satu suara vokal sang pendukung tersebut menembus hati para penonton lain.


Dialah sang guru sastra SMA Pelita Harapan yang bersuara spesial nak penyiar radio ternama yang sebenarnya sedang menyamar hendak menyembunyikan identitasnya datang ke tempat itu. Dialah Bu Sasmi, salah satu fans fanatik Luca.


Seakan bisa mendengarkan suara sang guru, di balik layar terlihat Luca tiba-tiba tersenyum pasca teriakan Bu Sasmi itu.

__ADS_1


@@@


Aku tersenyum. Samar-samar, aku bisa mendengarkan teriakan penuh dukungan dari Kak Sasmi di luar. Tidak hanya Beliau, walau aku tak bisa mendengarkan suara yang lain dengan jelas, aku masih bisa mendengarkan semangat mereka berbaur dalam dukungan tulus mereka kepadaku.


Ah, samar-samar aku juga bisa mendengarkan suara dukungan dari Lia bercampur di antara riuh suara penonton, mendukungku dengan suaranya yang imut dan menyejukkan hati itu.


Kalau begini, mau tidak mau aku bertambah semangat.


Targetku sekarang ada 4 orang. Syukurlah mereka berempat hanya fokus terhadapku dan syukurlah pula bahwa Senior Areka bisa menghalangi sementara Viandra di sana.


Dengan kemampuanku, tetap saja sulit jika sampai Viandra dan rekan swordsman-nya itu bersatu untuk menghadapiku, ditambah dengan keberadaan sang mage dan juga sang cleric yang memberikan efek dukungan buff.


Bahkan sehebat apapun diriku, aku tetap tak dapat menghindari serangan kombinasi jarak dekat fighter, jarak menengah swordsman, serta jarak jauh mage, jika serangan itu datang secara bersamaan, terlebih jika tenaga serangan mereka sampai diperkuat beberapa kali lipat oleh efek buff seorang cleric.


Aku mengingat betul nasihat Paman Heisel.


“Luca, ingat. Tidak peduli kita akan dianggap pengecut atau apa, tetapi ingat bahwa prinsip seorang assassin adalah melemahkan kekuatan lawan secara bertahap dengan mengeliminasi titik vital pertahanan mereka terlebih dahulu di tempat yang terlemah.”


“Ingat bahwa serangan pertama itu sangat penting karena di kala itu, tingkat antisipasi musuh berada di titik yang terlemah. Sekali kamu gagal, maka kamu tidak akan lagi memperoleh kesempatan yang sama lagi di penyerangan kedua, ketiga, maupun setelahnya.”


Benar kata Paman Heisel. Ini adalah momen-momen yang sangat penting untuk menghancurkan pertahanan lawan. Jelas siapa yang harus aku singkirkan terlebih dahulu.


‘Skill: tebasan langkah cepat’


“Slaaaaaash.”


Dalam satu gerakan epik, aku menggorok leher dua musuh secara bersamaan yang sedang berdiri pada posisi sejajar satu sama lain dalam gerakan yang sangat cepat.


Bahkan berberapa detik setelah aku melakukan serangan, tampaknya mereka sama sekali belum menyadari kalau hidup mereka sudah berakhir. Mereka hanya menatapku dengan kosong seakan menanyakan apa yang baru saja aku lakukan dengan lewat di hadapan mereka secara tiba-tiba.


“Aaaaaaaakh!”


“Aaaaaaaakh!”


“Enal! Alexio!”


Tampak sang shielder begitu panik melihat sang mage dan cleric rekannya itu game over begitu saja tepat di depan mata kepalanya sendiri.


Tersisa dua musuh. Aku melangkah dengan langkah bayangan sembari mengaktifkan pula skill stealth-ku mengitari mereka.


Tampak jelas bahwa mereka sedang berusaha keras untuk menerawang mencari keberadaan posisiku yang seketika menghilang kembali dari hadapan mereka.


‘Skill: jeratan benang tipis’


Tanpa memberikan kesempatan mereka berpikir, aku segera menjerat sang shielder lawan melalui skill jeratan benang tipis-ku yang kupelajari dari Kak Keporin. Sang shielder lawan tampak berusaha keras untuk melepaskan jeratan itu, tetapi sayangnya semua usahanya itu sia-sia belaka.


“Aslar!”


Terlihat sang swordsman ikut panik melihat rekan shielder-nya yang terjebak itu. Namun, rupanya dia tidak bodoh.


Entah itu insting atau dia memang bisa merasakan, yang jelas dia rupanya sadar bahwa aku sementara mengincar dirinya.


Alih-alih memilih untuk segera berlari ke arah rekan shieldernya untuk melepaskannya dari jeratan skill-ku, dia terlihat lebih waspada akan serangan dadakan yang bisa datang kapan saja yang berasal dariku. Dia pintar.


Tetapi terkadang, berinsting terlalu tajam pun bisa menjadi kekurangan yang fatal di dalam suatu pertarungan. Setidaknya, itulah yang telah kubuktikan dari berbagai pengalaman bertarungku melawan musuh-musuh yang kuat selama ini.

__ADS_1


Aku pun melemparkan dummy yang terbuat dari tulang-tulang ke arah atasnya. Sesuai dugaan, berkat instingnya yang tajam, gerakan sekecil itu pun bisa segera mengalihkan perhatiannya. Seketika dia menoleh ke arah atas, tempat di mana dummy itu membuat suara.


Di saat itulah, aku memanfaatkan peluang sepersekian detik dia lengah menatap ke arah atas untuk menyerangnya.


Tidak sempurna, tetapi serangan itu berhasil mengenainya. Sayangnya, dia bisa segera menyadari seranganku itu sebelum aku bisa memberikan tusukan yang fatal padanya.


Aku segera melangkah mundur kembali darinya untuk menjaga jarak. Lalu aku pun segera melayangkan pisau lemparku ke arah atasnya.


Dia tampaknya sadar bahwa serangan itu sama sekali tidak akan mengenainya seperti tadi.


Tetapi dia telah keliru. Sedari awal, serangan itu memang bukan untuknya.


Itu untuk mengaktifkan jebakan jaring-jaringku yang aku pelajari dari Kak Keporin itu.


Seketika pisau lemparku mengenai pisau trigger yang menjadi pengaktif jebakan begitu terlepas. Dalam untaian rangkaian yang indah, pisau-pisau dan jaring-jaring saling berinteraksi menunjukkan aksi-reaksi gerakan satu sama lain melalui terlepasnya trigger pisau itu dari tampuknya.


Dan sebagai penutup yang indah dari atraksi itu, seketika sepuluh pisau lempar yang datang dari berbagai arah, menusuk ke belakang kepala, jantung, hati, dan bagian-bagian vital lain dari sang shielder lawan yang terjebak di dalam jebakan jaring-jaringku itu.


Kecepatan pisau dirancang sangat cepat melalui perhitungan yang presisi dan akurat dari rumus-rumus fisika aksi-reaksi dengan memanfaatkan efek momentum dan kelembaman materi.


Alhasil, pisau-pisau yang terlihat lemah itu, mampu menembus dengan sangat dalam ke tubuh sang shielder hingga sampai melukai organ-organ vital bagian terdalam tubuhnya yang akhirnya menyebabkan sang shielder harus game over di arena.


Strategi ini tentu lebih efektif karena yang terjebak di dalam adalah seorang shielder yang lambat bagai kura-kura dan tak elastis menyesuaikan diri di dalam jebakan. Mungkin, beda ceritanya jika yang terjebak adalah sang swordsman. Kuyakin dia akan segera meronta-ronta, dan begitu ada celah gerak sesedikit apapun, dengan mudah dia akan sanggup untuk memotong jaring-jaring tersebut.


Tentu saja, aku sudah memikirkan semua itu sebelum memutuskan untuk menjebak sang shielder, alih-alih sang swordsman.


Aku bisa melihat wajah shok sang swordsman dengan jelas ketika rekan shieldernya itu tereliminasi begitu saja di arena berkat suatu serangan yang konyol tanpa dia yang ada di dekatnya itu bisa menyelamatkan rekannya tersebut.


Dia pasti merasa menyesal karena telah memilih untuk mengabaikan seranganku tadi yang dia pikir hanya gertakan hanya karena instingnya tidak menganggap serangan itu berbahaya bagi dirinya.


Ya itu tentu saja karena memang serangan itu ditujukan bukan untuknya, melainkan sang shielder rekannya.


Dan kekuatan jaring-jaring itu tidak sampai di situ saja.


“Praaaaang! Duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk duk!”


Pisau-pisau terlempar liar dengan kecepatan yang sangat menakutkan lantas mengenai monolith lawan. Perlahan tapi pasti, tiap lemparan pisau itu memberikan keretakan pada monolith.


Dan akhirnya,


“Gubrak!”


Monolith lawan pun runtuh dengan spektakuler.


Sang swordsman hanya bisa ternganga dengan mulut yang terbuka lebar menyaksikan pemandangan luar biasa yang sama sekali tidak disangka-sangkanya itu. Dalam sekejap, skor pun kembali seimbang dan pertandingan kembali ke titik awal.


\=\=\=


Skor Sementara Babak Penyisihan Ketiga


SMA Mulya Kasih: 103


SMA Pelita Harapan: 103


\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2