
“Apakah Pak Pelatih bertanya padaku tentang caraku mengalahkan lawan mereka atau tentang jika aku berada di posisi menjadi mereka?”
Pak Syarifuddin menatap Luca dengan cermat. Dia kagum Luca dapat bertanya tentang detail seperti itu seolah pemain yang ada di hadapannya itu sudah profesional.
“Bagus, kamu bisa menanyakan sampai detail seperti itu, Luca. Kalau begitu, jelaskan saja kedua-duanya.” Ujar Pak Syarifuddin dengan senyum semanis yang dia bisa untuk membuat Luca nyaman. Akan tetapi seperti biasa, senyumnya itu malah terlihat menyeramkan.
Luca menjelaskan.
Pertama-tama tentang Lia. Dia memang hebat karena bisa serangan jarak jauh memanfaatkan jurus mantranya maupun serangan jarak dekat dengan kepalan tinju yang diperkuat sihir. Serangan jarak jauhnya pun dapat diaktifkan dalam waktu singkat sehingga tidak ada celah memanfaatkan masa jeda dia mengaktivasi jurusnya untuk menyerangnya.
Tetapi, kalau diperhatikan dengan seksama, pertahanan Lia itu tidak ada apa-apanya. Aku dengan mudah dapat mengganggunya dengan serangan sembunyi-sembunyi, mengurangi HP-nya sedikit demi sedikit. Begitu dia kehilangan ketenangan, aku bisa segera mengalahkannya. Dan walaupun dia bisa tetap tenang, aku bisa terus menyerang saja secara sembunyi-sembunyi sampai HP-nya mencapai nol. Tidak perlu menghadapinya secara frontal.
Itulah kelemahan fighter dari Tim Passionate itu. Seharusnya dia bisa tetap tenang dan melihat celah di pertahanan Lia ketimbang mengikuti arus permainannya dan malah berakhir dengan adu kekuatan secara frontal yang justru menguntungkan musuhnya.
Kalau aku jadi dia, aku akan memanfaatkan fisiknya yang besar itu untuk membuat keseimbangan Lia goyah dulu, semisal dengan menyanggah kakinya. Kemudian setelah keseimbangannya terganggu, dengan strength seorang fighter, seharusnya mudah untuk menembus masuk memberikan serangan ke bagian yang tak bisa dilindunginya.
Kemudian di pertandingan kedua ada Kak Medina yang seorang tamer melawan seorang tamer lainnya. Dilihat dari jumlah beastnya, Kak Medina memang sudah unggul. Tetapi penyebab utama sang tamer lawan kalah adalah karena dia berpikir hanya beast-nya yang perlu bertarung dan tidak melatih dirinya sendiri untuk bertarung.
Bagaimana pun, seorang tamer tetap harus memiliki kemampuan bertarung dan tidak hanya berlindung di belakang beast-nya saja.
Kemudian kalau aku yang menghadapi Kak Medina, itu mudah saja bagiku. Aku bisa dengan mudah mengimbangi kecepatan para serigala perak-nya kemudian mengeliminasinya satu-persatu lalu terakhir mengalahkan tamernya.
Mungkin yang sulit adalah pemain yang nomor 3, pemain cadangan dengan kelas shielder itu. Dia tenang dan tak mudah terprovokasi. Dia juga licik dan spekulatif serta pandai memanipulasi musuhnya. Untuk menghadapi tipe pemain yang seperti itu, alangkah baiknya kita tidak gegabah dalam menyerang dan membiarkannya membuka serangan lebih dahulu kemudian memanfaatkan celahnya untuk balik menyerangnya.
Pertahanannya memang kuat dan tanpa celah serta dia juga dengan mudah melakukan serangan jarak jauh dan jarak dekat dengan skill-nya, akan tetapi, dia tidaklah gesit sehingga yang perlu kita lakukan adalah menunggu dan mengamati pola serangannya baik-baik.
Itulah pula kelemahan swordsmen Tim Passionate karena terlalu terburu-buru ingin menyerang sehingga terpancing oleh jebakan lawan.
“Oho, analisa yang menarik, Luca.” Pelatih pun memuji analisa Luca yang menurutnya sudah lumayan untuk anak seumurannya. Akan tetapi, Luca tidak senang sama sekali. Luca tak tahu bahwa itu adalah pujian karena pembawaan horor Pak Syarifuddin dalam menyampaikannya.
__ADS_1
Pertemuan klub pun hari itu usai dengan hanya pertemuan rutin biasa tanpa praktik langsung. Pelatihan sebenarnya baru akan dimulai jumat ini setiap hari sampai menjelang hari pertandingan e-sport tingkat SMA yang akan diselenggarakan dua bulan lagi.
Luca keluar dari klub dengan tampang lemas di wajahnya.
“Ah, Pak Pelatih jadi berharap banyak padaku. Aku jadi kehilangan timing menyampaikan bahwa aku hanya berniat bergabung di klub selama sebulan saja demi taruhanku dengan Senior Areka. Kalau begini, aku jadi tidak enak. Apa aku bertahan di klub saja ya setidaknya sampai pertandingan e-sport tingkat SMA itu berakhir?”
Luca akhirnya memutuskan untuk bertahan di klub dengan lebih lama.
Luca melirik ke jam tangannya.
“Ah, gawat. Sudah jam 5 petang. Aku harus segera kembali ke rumah. Oh iya, tapi masalah uang seratus juta itu belum selesai juga. Bagaimana ini ya?”
“Oi, Luca. Apa yang kamu lakukan?” Luca yang terlihat kebingungan di jalan, membuat Egi penasaran untuk menyapanya.
Luca menatap sesaat secara seksama wajah Egi.
“Ah, tidak. Dia tidak bisa kupercaya.” Luca menundukkan kepala seraya mengatakannya.
“Hehehehehehe. Bukan apa-apa kok, Egi. Ah, bukankah ada orang yang bisa kupercaya selain Kak Nina? Oh iya, orang itu juga sempat memberikan nomor teleponnya padaku.”
Melihat Luca bergumam sendiri, tampang Egi menjadi kusut dan kesal. Egi tampak ingin melampiaskan kekesalannya itu. Akan tetapi sebelum dia sempat berucap, Luca berbicara terlebih dahulu, “Oh iya, Egi, bisa pinjam teleponmu sebentar? Aku ingin menghubungi seseorang.”
“Kenapa tiba-tiba? Memangnya smartphone-mu mana?”
“Hahahahahaha. Aku tidak punya.”
“Hah.” Egi menghela nafas melihat jawaban Luca yang tidak masuk akal itu. Namun Luca memang jujur karena ini baru hari keempatnya di dunia nyata dan belum sempat memperoleh HP.
“Tidak masalah sih. Ini.” Egi pun akhirnya meminjamkan punyanya.
__ADS_1
“Terima kasih, Egi.” Setelah berterima kasih dengan senyum ramahnya, Luca pun mulai memencet nomor telepon. Dia tidak perlu mengintip kertas yang pernah diberikan orang itu padanya. Terima kasih pada daya ingat Luca yang sangat luar biasa itu, dia bisa mengingat informasi apapun dalam sekali lihat saja.
“Ah, Lia. Maaf mengganggumu sore-sore begini. Aku Luca, pemuda yang pernah bertemu denganmu waktu pertandingan e-sportmu di…”
“Lia? Jadi dia menghubungi wanita toh. Cih, tampangnya saja yang polos. Dia penggaet wanita juga rupanya.” Sambil terus menelepon, Luca diperhatikan secara seksama oleh Egi.
“Eh, tidak perlu kok kamu sampai ke sini. Ini kan sudah hampir malam, Lia. Eh tunggu.”
Panggilan pun berakhir.
“Ada apa? Kencan kah?” Tanya Egi menginterogasi Luca.
“Kencan? Apa itu kencan?” Egi salah bertanya kepada seseorang. Luca, si anak polos kita, bahkan tidak mengerti apa itu kencan.
“Cih, dasar pura-pura. Mentang-mentang wajahmu tampan sedikit. Kamu jadi suka menarik perhatian wanita.” Namun Egi malah menganggap itu semua hanya akting Luca agar terlihat polos saja. Tetapi Luca memanglah anak yang masih polos.
“Wanita? Maksudmu Lia? Aku juga sebenarnya tidak enak padanya. Padahal aku cuma ingin bertanya sesuatu padanya lewat telepon saja. Tetapi dia bilang akan lebih baik untuk menjelaskannya jika bertemu denganku secara langsung. Lia memang gadis yang baik. Hahahahahaha.”
Egi tidak berkomentar lagi karena dia jadi bingung karakter Luca yang sebenarnya, apakah dia memang sepolos ini ataukah aktingnya saja yang jago sehingga sangat natural dia kelihatan polosnya. Namun Egi hanya menghela nafasnya panjang.
“Kalau begitu, aku pamit duluan. Semoga sukses kencannya.” Egi yang telah letih hari itu setelah bertanding melawan Luca, memilih untuk segera pulang saja.
Tetapi di perjalanannya, dia terhenti karena menyaksikan sosok yang tidak biasa.
Dengan senyum manisnya, gadis cantik itu menyapa Luca, “Hai, Luca. Apa aku datang terlambat?”
“Tidak kok, Lia. Justru seharusnya kamu tidak perlu repot-repot datang kemari. Kamu memang orang yang baik.”
“Hmm. Memang aku orang yang baik kan? Sebagai hadiah karena kebaikan hatiku, bagaimana kalau mengajakku jalan-jalan?”
__ADS_1
Dialah Lia. Orang yang saat ini ramai diperbincangkan di internet sebagai cleric overpower dari tim e-sport profesional yang sedang naik daun, Tim Silver Hero. Tentu saja sebagai orang yang bergelut di bidang e-sport , Egi pasti kenal benar sosok Lia tersebut.
“Jadi Lia yang dimaksud Luca selama ini adalah sang the second angel? Bagaimana bisa bocah itu kenal dengan selebriti sepertinya?” Gumam Egi tidak percaya.