The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
175-1. Peserta 6 Besar (1)


__ADS_3

Semua penonton berada pada puncak ketegangannya. Siapapun di antara Luca dan Viandra yang memenangkan duel itu, maka tim merekalah yang akan memasuki babak 6 besar.


@@@


Tinju dan dagger mulai beradu di antara kami. Tidak ada satu pun dari kami yang mau mengalah.


Terus terang pertandingan melawan Viandra sangatlah menyenangkan. Jika ini latih tanding biasa, maka tentu aku ingin ini berlangsung lebih lama lagi.


Akan tetapi, masa depan tim ditentukan oleh satu pertandingan ini. Kami membawa nama tim kami masing-masing. Siapapun di antara kami yang kalah, maka tim yang bersangkutan akan segera tersingkir dalam kompetisi amatir bergengsi tingkat SMA ini.


Aku tidak boleh kalah.


Namun, aku juga sadar bahwa staminaku sudah tak mendukung lagi. Pertandingan ini harus segera kuakhiri.


Di kala berbagai simulasi serangan akhir kugunakan di kepalaku, tiba-tiba Viandra memukul tanah dan menggoyahkan pijakanku lantas bergerak cepat hendak akan memberikan pukulan terakhirnya. Di saat itulah aku mengaktifkan jurus spesialku. Skill jaring-jaring benang bilah tajam.

__ADS_1


Seketika gerakan Viandra itu terhenti sebelum sempat menggapaiku dan segera berada dalam mode siaganya. Viandra terlihat waspada mengira jaring-jaring itu adalah jebakan. Mungkin dia sempat melihat sekilas dari jauh bagaimana aku menggunakannya untuk mengalahkan rekan shielder-nya serta menghancurkan monolith-nya dengan jaring-jaring itu.


Yah, awalnya jika MP-ku masih cukup, maka tentu saja aku akan menggunakan skill yang serupa seperti sebelumnya itu. Tetapi kini MP-ku mulai surut sehingga tak memungkinkan bagiku lagi untuk menggunakan jurus yang serupa.


Tetapi itu tak masalah, baik MP maupun SP-ku memang sudah hampir terkuras, tetapi secara keseluruhan, HP-ku baik-baik saja.


Aku pun menggunakan jurus itu. Terinspirasi dari permainan pinball ketika Egi mengajakku ke suatu tempat untuk bermain itu di malam hari, aku pun menerapkannya sebagai jurus dengan melihat prinsip yang sama antara bola dan pemantul dengan diriku sendiri dan bilah pisau bagian belakang yang terlihat empuk yang terlihat bisa memantulkan tubuhku itu.


Lantas, aku pun mengeksekusi jurus itu.


Aku bergerak dengan sangat cepat dan sangat cepat. Melompat dari berbagai sisi ke sisi yang lain, menggunakan bagian belakang bilah pisau sebagai landasan pijakanku. Aku memantulkan diriku memanfaatkan berat badanku yang ringan bagai pinball melewati di antara celah musuh.


Sesuai dugaan, Viandra mulai kebingungan.


Jurus yang benar-benar efektif di mana tidak menguras MP sama sekali serta dengan biaya SP yang minimal. Selama HP berada pada kondisi yang vit, jurus ini dapat digunakan kapan pun. Benar-benar sangat cocok dipadukan dengan gerak lincah seorang assassin.

__ADS_1


Aku pun mulai melancarkan seranganku sedikit demi sedikit kepada Viandra. Aku sedikit demi sedikit mulai menggores tubuhnya dengan dagger-ku. Sudah kuduga, dia hanya menggunakan tameng tangannya untuk menahan setiap goresanku itu alih-alih menghindarinya.


Hmm. Dia belum mengambil pelajarannya setelah bertarung melawan Kak Krimson. Yah, itu tentu saja karena dia takkan mungkin menduga bahwa aku sedang menggunakan dagger yang dilumuri racun.


Seharusnya dia sudah menduga hal itu terjadi ketika mengetahui bahwa aku seorang assassin. Cukup lazim bagi seorang assassin soalnya, untuk melumuri senjata mereka dengan racun.


Mungkin juga dia lengah karena sampai detik ini, aku sama sekali tidak pernah menggunakan hal demikian untuk mengalahkan lawan-lawanku. Yah, bukannya sampai saat ini aku tidak mau menggunakannya, hanya saja belum ada lawan kuat yang dirasa perlu saja untuk menggunakan trik seperti itu.


Ya, dagger yang kugunakan saat ini bukanlah dagger taring serigala perak favoritku, melainkan dagger taring beracun basilisk yang telah aku lumuri dengan racun buatan Chika.


Pada suatu titik, Viandra akhirnya tersadar bahwa dagger-ku itu mengandung racun. Terlihat dari bagaimana dia tiba-tiba meronta dan merontokkan tanah untuk dapat segera kabur dari jeratan jaring-jaring benang bilah tajamku walau harus mengorbankan tubuhnya yang jadi luka-luka karena teriris dengan menyakitkan oleh benang-benang tipis yang terbuat dari bahan tulang-tulang yang sangat kuat itu.


Namun itu sudah sangat terlambat.


Aku bisa melihat dengan jelas ekspresi wajahnya yang begitu kesakitan, tak berdaya di bawah pengaruh racunku. Dia bahkan sampai-sampai menitihkan air matanya dan berteriak begitu frustasi tak ingin kalah.

__ADS_1


__ADS_2