The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
214. Bitter End


__ADS_3

“Mengingat dia sanggup mengalahkan Egi, juga membuat Senior Areka kewalahan, aku bisa menyimpulkan bahwa mage lawan tidak sesederhana kelihatannya kan, Senior Areka?”


“Ya, dia agak berbeda dari yang ada dalam rekaman. Bagaimana mengatakannya ya… Hmm… Dia adalah mage tipe listrik sesuai di data. Namun, ada sedikit anomali pada serangannya. Padahal, aku yakin sudah menghindari tiap serangannya, namun entah mengapa serangannya itu tetap saja bisa melukaiku. Aku harus berada pada mode full-defense agar benar-benar bisa menghindari serangannya. Akibatnya, aku tidak punya cukup waktu melakukan serangan balik.”


“Cara seperti itu…”


Cara bertarung mage tipe listrik yang seperti itu. Rasanya sedikit de javu ketika Senior Areka menyinggungnya.


Ah, benar. Sewaktu aku masih berusia sekitar 9 tahun, di awal-awal aku mulai mengikuti Paman Heisel menjalankan misi. Kalau tidak salah, aku sempat mengenal seorang battle mage tipe listrik yang deskripsi serangannya mirip seperti apa yang baru saja dideskripsikan oleh Senior Areka.


Mage itu bertarung dengan menggunakan tombak yang di ujungnya dialiri oleh aliran listrik yang membentuk wujud.


Aku ingat benar memperhatikannya di saat bertarung. Battle mage itu sedikit culas.


Tampak bahwa bagian tajam senjatanya itu hanyalah ada pada ujungnya. Tetapi ketika dia menyerang dengan cepat, tanpa musuh sadari, sebenarnya ada bagian menonjol tajam lain yang ikut muncul di bagian badan tombaknya yang turut melukai lawan.


Berkatnya, ketika seseorang bertarung dengannya, tampak bahwa orang tersebut telah menghindari dengan benar senjatanya, tetapi tanpa orang itu sadari, tahu-tahu saja dia tetap terluka.


“Sihir interferensi dan delay wujud. Hal yang lumrah sebenarnya untuk mage bertipe listrik, hanya saja sudah jarang kita lihat sekarang. Pastinya, Kak Sabrina dapat menggunakan rekaman pertandingan ini nantinya untuk sedikit belajar menjadi battle mage seperti layaknya Kak Yudishar.”


“Apa yang kamu bicarakan?”


“Ah, agak panjang untuk dijelaskan. Senior Areka, Kak Yuda, bisa aku serahkan fighter itu kepada kalian saja? Terus terang, dengan levelku yang sekarang di kelas assassin, akan sulit bagiku untuk menghantamkan serangan telak padanya. Lagipula pada dasarnya, strength seorang assassin memang lemah. Aku tak dapat mengalahkannya jika lawan tak pernah sekalipun mengendorkan pertahanannya.”


“Ini akan mudah. Karena walaupun dia telah dipulihkan, impak racun dari Chika seharusnya masih terasa padanya. Sebagai gantinya, serahkan saja sang mage padaku. Akulah yang akan menghabisi mage listrik itu.”


Demikianlah kami berbagi tugas. Kak Yuda dan Senior Areka segera menarik jauh sang fighter sehingga aku bisa berfokus menghadapi sang mage-nya.


Sesuai dugaan, panah-panah listrik yang dilayangkannya mengandung sihir interferensi dan delay wujud. Itu tampak seakan telah meleset melewatimu, tetapi nyatanya, bagian tajam yang kedua dari anak panah listrik tiba-tiba muncul di badannya lantas menusuk dengan cepat ke samping melukaimu yang baru saja melewatinya.


Sihir interferensi ditambahkan untuk menyamarkan perubahan halus ini sehingga takkan mudah untuk diamati oleh lawan.


Namun berbeda denganku yang memiliki indera yang tajam terutama ranah penglihatanku. Aku dapat dengan jelas melihat trik itu.


Aku pun dapat menghindari dengan mudah serangan-serangan anak-anak panah listrik itu. Terlihat bahwa sang mage meringis marah setengah ketakutan melihat bahwa serangannya tidak berhasil melukaiku sedikit pun.


Lalu, kini giliranku yang menyerang. Aku pun melayangkan sabit bulan-ku padanya. Yah, seorang mage pada dasarnya takkan mungkin menang melawan agility seorang assassin sehingga seketika nasibnya sudah ditentukan akan kalah begitu dia bertarung dalam pertarungan jarak dekat melawan seorang assassin. Terlebih, jika assassin itu adalah tipe yang lincah sepertiku.


Sang mage berhasil kalah. Kini yang tersisa tinggal sang fighter yang sedang dihadapi oleh duo senior hebat, Senior Areka dan Kak Yuda.


Namun begitu aku melihat ke belakang, tampak mereka juga telah selesai. Pedang besar Kak Yuda segera membelah dua tubuh avatar sang fighter itu.


Kami pun menang pada babak semifinal ini dan melaju ke babak final.

__ADS_1


Kini yang tersisa, tinggal the last boss saja, peraih juara satu umum turnamen akhir tahun ini selama 4 tahun berturut-turut, SMA Phoenix.


Namun, rupanya aku keliru. Mereka kalah di babak semifinal oleh sang perwakilan kedua Pulau Papua, SMA Cenderawasih.


Suatu fakta yang tidak hanya mengejutkanku saja, melainkan semua anggota tim perihal tim SMA di mana Kak Krimson bernaung baru saja telah kalah.


Alih-alih di babak final, mereka kalah di babak semifinalnya. Tidak hanya itu, mereka kalah oleh perwakilan kedua di pulau yang sama yang seharusnya mereka telah kenal betul karakteristiknya sehingga tidak mungkin mereka kalah karena tidak mengenal lawan dengan baik.


Tidak, jika itu dibalik, SMA Cenderawasih pastinya juga telah mengenal SMA Phoenix dengan sangat baik sejak mereka adalah perwakilan satu pulau.


Sebagai tim SMA yang selalu berdiri di belakang bayang-bayang tim SMA yang sangat kuat, wajar jika sekali ada kesempatan, mereka segera dapat menggunakannya dengan baik untuk menjatuhkan lawan yang berdiri di tengah cahaya tersebut.


Begitu aku bertanya kepada Zevan, Asti, Evan, dan Kak Shea sebagai regu pengintai, rupanya mereka kalah karena keteledoran mereka sendiri.


Mereka terlalu memforsir tenaga alchemist newbie mereka yang padahal masih baru di tim itu yang di mana staminanya masih lemah, tetapi mereka memainkannya pada setiap pertandingan tim tanpa jeda sedikit pun sampai sekarang. Wajar jika akhirnya dia tepar seperti itu.


Yang lebih sialnya lagi, dia sebagai fondasi di tim yang menggantikan tempat Kak Krimson perihal ketidakbisaan Kak Krimson ikut serta lantaran larangan bagi atlit yang telah melebarkan sayapnya ke kancah internasional, persis sama mengapa Lia dan Kak Andra juga dilarang mengikuti lomba, harus tepar selama pertandingan berlangsung.


SMA Phoenix pun tak bisa lagi mengambil langkah pencegahan perihal para atlit telah terlanjur memasuki arena. Dan perihal ketiadaan fondasi tim ini di arena, strategi yang disusun pun menjadi amburadul dan tampak SMA Phoenix tidak terbiasa cepat tanggap dalam menghadapi situasi yang tidak terduga.


Stategi bertarung secara individu pun diterapkan walaupun itu pertandingan tim. Akhirnya, dengan mudah SMA Cenderawasih melihat celah di situ lantas mengalahkan mereka dengan memalukan.


Makanya, hargailah sedikit rekan setimmu. Jangan terlalu egois melihat diri sendiri sehingga tidak memperhatikan bahwa ada rekan yang sementara tidak enak badan, tetapi tetap memaksakan diri bertarung demi tim. Hasilnya lihat saja bagaimana. Semuanya tentu saja menjadi kacau.


SMA Pelita Harapan diwakili oleh Kak Yuda di dalam turnamen individu swordsman itu. Jenis kompetisinya adalah dengan menebas sasaran boneka kayu yang bergerak di lapangan seluas 10 x 10 meter persegi sebanyak mungkin. Boneka kayu yang baru akan segera muncul kembali ketika kamu mengalahkan boneka kayu yang ada di arena. Turnamen dilaksanakan selama 10 menit bagi masing-masing peserta.


Di luar dugaan, Kak Yuda mampu membasmi 104 target atau dengan kata lain 5,77 sekon perboneka kayu. Dia hampir menyamai kecepatan seorang assassin.


Sayangnya, rekornya itu hanya mampu bertengger di posisi ketiga di mana posisi pertama dan kedua masing-masing diraih oleh SMA Phoenix dan SMA Cenderawasih.


Kemudian untuk turnamen individu shielder. Jelas bahwa Senior Areka-lah yang mewakili tim.


Tetapi, aku benar-benar kesal dengan mulut bawel atlit shielder dari SMA Andalusia itu. Jelas-jelas bahwa tim mereka telah dipecundangi dengan sangat memalukan selama turnamen ini, tetapi bisa-bisanya dia masih meledek Senior Areka mengatakan kurang lebih,


“Dasar katak di dalam sumur. Merasa dirinya hebat padahal kemampuan tidak seberapa.”


Atlit itu bahkan masih mengungkit kejadian memalukan yang dialami oleh Senior Areka selama kompetisi di tahun lalu padahal aku saja waktu itu belum ada di tim.


Syukurlah, kali ini Senior Areka tidak lagi terlihat sefrustasi dulu. Dia telah mampu tersenyum pada ledekan tidak berarti dari anjing menggonggong itu.


Dia benar-benar fokus dalam kompetisi.


Turnamen para shielder dilaksanakan dengan menahan beban yang menimpa yang dimulai dari berat 100 Newton kemudian meningkat sebanyak 100 Newton secara bertahap. Satu-persatu peserta shielder berguguran, bahkan si atlit SMA Andalusia itu, baru berat 800 Newton saja sudah gugur.

__ADS_1


Ketegangan memuncak ketika memasuki beban 2000 Newton. Dari delapan sekolah yang bertahan, langsung hanya menjadi empat sekolah saja yang salah satunya adalah atlit sekolah kami, Senior Areka.


2100, 2200, dan 2300 berlalu, tampak keempat sekolah masih bertahan dengan baik. Namun, memasuki beban 2400 Newton, atlit SMA Ayam Jantan pun gugur.


Lalu di beban 2800 Newton, dua sekolah langsung gugur secara bersamaan. Dan itu adalah atlit SMA Phoenix dan SMA Cenderawasih.


Ya, Senior Areka-lah yang menjadi atlit terakhir yang sanggup bertahan dan berhasil memperoleh predikat shielder terbaik.


Sayangnya, Eren tidak dapat mengikuti kompetisi kali ini. Tampaknya, dia masih cedera pasca bertarung melawan kami. Namun bagaimana pun, aku tidak bisa menyembunyikan rasa penasaranku. Jika dia sanggup mengikuti turnamen individu shielder ini dalam kondisi optimalnya, akankah dirinya atau Senior Areka yang lebih kuat?


Bagaimana pun itu, aku bangga kepada Senior Areka yang telah membawa nama harum bagi tim.


“Buk.”


Di saat aku berpikir seperti itu, Senior Areka tiba-tiba terjatuh pasca keluar dari game. Dia telah pingsan.


Aku pun berusaha berpikir positif bahwa semuanya tetap baik-baik saja. Mungkin Senior Areka hanya kelelahan sesaat sehingga tak dapat menahan rasa lelahnya lantas tak buang-buang waktu lagi dan segera tidur saja.


Namun, setelah dokter memeriksa keadaannya, rupanya Senior Areka telah lama menyembunyikan dengan baik keadaannya yang tengah sakit demam dari kami para anggota timnya.


Mereka terlalu memforsir tenaga alchemist newbie mereka yang padahal masih baru di tim itu yang di mana staminanya masih lemah, tetapi mereka memainkannya pada setiap pertandingan tim tanpa jeda sedikit pun sampai sekarang. Wajar jika akhirnya dia tepar seperti itu.


Makanya, hargailah sedikit rekan setimmu. Jangan terlalu egois melihat diri sendiri sehingga tidak memperhatikan bahwa ada rekan yang sementara tidak enak badan, tetapi tetap memaksakan diri bertarung demi tim. Hasilnya lihat saja bagaimana. Semuanya tentu saja menjadi kacau.


Padahal aku baru saja mengatakan hal seperti itu. Sekarang, siapa yang tidak peduli dengan keadaaan rekan setimnya sendiri? Aku pun menjadi sangat malu lantaran telah menelan ludahku sendiri.


Namun kuharap, semoga Senior Areka akan baik-baik saja.


\=\=\=


Hasil Sementara Turnamen Akhir Tahun e-sport vrmmorpg



SMA Phoenix 33 poin


SMA Pelita Harapan 27 poin


SMA Cendrawasih 21 poin



\=\=\=

__ADS_1



__ADS_2