The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
148. Petualangan Bersama Sang Alchemist Muda dan Bertalenta, Chika


__ADS_3

Sore itu aku terbangun. Aku tidak ingat dengan jelas apa yang terjadi setelah itu. Yang aku ingat, Toriq beserta ayah dan ibunya berniat membunuhku, tetapi aku berhasil membela diri.


Setelah itu… Ah, benar! Tante Judith. Tante Judith datang ke lokasi dan menyelamatkanku.


Aku sama sekali tidak menyangka bahwa di dunia yang damai ini pun ada orang-orang seperti Toriq dan ayah ibunya yang menganggap orang lain yang kedudukannya lebih rendah dari mereka hanya sekadar serangga saja. Entah itu para bangsawan atau pun mereka, aku benci semuanya.


Malam itu, aku pun melanjutkan pelatihanku untuk para anggota guild-ku.


Karena aku kurang memiliki pengetahuan tentang kelas Scout yang lebih detil, aku pun meminta konsultasi dengan Tante Deborah terhadap pelatihan Diana. Di luar dugaan, Tante Deborah yang sudah sibuk dengan urusan guild-nya, justru bersedia membimbing Diana secara langsung, padahal awalnya aku hanya hendak meminta saran darinya.


Itu hanya mungkin karena memang bakat Diana sangat cemerlang di antara para scout lainnya seperti dugaanku.


Akan tetapi, Tante Deborah juga hendak menggaetku pada pelatihannya. Seketika kenanganku sewaktu dititipkan ke Beliau ketika Paman Heisel ada misi mencuat di ingatanku. Aku pun bergidik. Aku lantas segera mencari alasan agar bagaimana menghindari jeratan Tante Deborah itu.


Tante Deborah tidak salah lagi adalah guru yang baik, tetapi karena sifatnya yang aneh, tidak tepat jika seorang murid laki-laki di bawah arahannya.


Selanjutnya untuk pelatihan Kak Nina dan Kak Raia, belakangan ini mereka sering latih tanding berdua untuk meningkatkan kemampuan mereka masing-masing.


Namun begitu Lia mengetahui bahwa aku telah membentuk guild, Lia segera memprotes kepadaku kenapa aku tidak memberitahunya dari awal. Lia pun yang juga turut menggaet Kak Andra bersamanya akhirnya ikut bergabung ke guild.


Setelah Lia dan Kak Andra ikut bergabung, pelatihan Kak Nina dan Kak Raia pun bertambah lancar sejak mereka punya lebih banyak pilihan partner untuk latih tanding.


Namun jujur, itu agak sedikit membuatku sakit hati, lantaran baik Kak Nina maupun Kak Raia menolak dengan tegas latih tanding denganku, tetapi justru menerima dengan tangan terbuka kedua player yang justru memiliki level yang lebih tinggi dariku itu.


Ketika aku tanya alasannya, hanya jawaban absurd yang mereka berikan seperti tatapan mataku ketika bertarung sangat menakutkan yang membuat mereka sampai kehilangan fokus. Sebagai seorang player, seharusnya mereka harus berlatih membiasakan hal itu, tetapi mereka malah beralasan kalau suatu saat nanti saja jika level mereka lebih tinggi dan mereka lebih siap.


Kemudian tersisa pelatihan Chika. Bahkan lebih dari kelas scout, aku sama sekali tidak punya bayangan apa-apa tentang kelas alchemist selain mengetahui spesifikasi kelas mereka serta kriteria pemain unggulannya. Oleh karena itulah aku meminta saran dari Kak Krimson. Syukurlah Kak Krimson bersedia akan membantuku dan kami pun janjian bertemu hari ini.


Namun sewaktu aku hendak pergi berdua dengan Chika menemui Kak Krimson, entah mengapa Lia menatap begitu seksama Chika dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Sesaat kemudian ekspresinya tiba-tiba menunjukkan kepuasan lantas pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa. Sebenarnya apa yang hendak pacarku itu lakukan dan apa yang membuatnya terlihat begitu puas begitu melihat penampilan Chika?


“Luca!”


Begitu sampai di hutan alchemist di wilayah desa pemula, aku segera mendengar suara Kak Krimson memanggilku. Aku pun menoleh dan dapat segera menemukannya di antara kerumunan. Penampilannya dengan rambut paku-nya yang menonjol membuatnya sangat mudah ditemukan bahkan di tengah kerumunan ramai.

__ADS_1


Aku pun memperkenalkan Chika dengan singkat padanya.


“Kak Krimson, perkenalkan, ini Chika alias miskiin dari guild extraku.”


“Oho! Kamu baru saja membentuk guild extra ya rupanya, Luca. Ternyata kamu cukup kaya. Halo player Miskiin.” Ujar Kak Krimson dengan senyuman.


Melupakan perkataan Kak Krimson yang mengatakan aku cukup kaya yang aku sendiri tidak paham maksudnya, Chika segera berteriak dengan suaranya yang pada dasarnya tidak bisa dikeraskan itu, “Kumohon stop memanggil aku terus-terusan dengan Miskiin! Namaku Missqueen. Sebut dengan benar dong.” Chika pun merajuk.


Aku dan Kak Krimson hanya dapat saling tertawa satu sama lain. Ini bukan salah siapa-siapa. Ini salah lidah yang cadel ini.


Setelah itu, Kami memulai party tiga orang kami untuk menelusuri wilayah hutan yang lebih dalam yang masuk ke dalam wilayah guild alchemist. Di sini terdapat monster yang rata-rata bertipe racun level menengah.


Karena ini adalah pelatihan buat Chika, maka formasinya adalah Chika sebagai penyerang utama sedangkan aku dan Kak Krimson mensupportnya dari belakang jika dan hanya jika ada bahaya yang patut diperhitungkan.


Kami masih tetap masih harus waspada saat ini karena walaupun Chika telah lepas dari status newbie-nya, levelnya masihlah tergolong rendah. Dia saat ini masih di level 13.


Monster pertama pun muncul. Tak kusangka monster kuat langsung muncul di awal. Itu adalah monster bertipe racun mirip badak dengan ukuran yang dua kali lebih besar dari ukuran badak normal di bumi. Akan tetapi, jumlah mereka ada 4 dengan variasi level yang terendah 16, tetapi yang tertinggi sampai mencapai level 38 yang mungkin adalah pimpinan dari kawanan badak beracun itu.


Monster badak beracun adalah tipe monster yang tergolong kuat. Monster badak beracun memiliki kekuatan serangan yang sangat kuat, terlebih kulitnya juga keras dan memiliki defensif yang solid. Dan yang lebih parahnya lagi, mereka beracun.


Aku dan Kak Krimson pun mengambil inisiatif. Kami mengalahkan ketiga badak yang lain, menyisakan badak dengan level terlemah di antara mereka.


“Dengar, Chika! Kulit badak itu keras jadi percuma menyerangnya dengan dagger di levelmu yang lebih rendah 3 level darinya itu. Akan lebih efektif menyerangnya dengan ramuan asam untuk merusak kulitnya atau menggunakan senjata tumpul dengan efek dentuman yang besar.” Ujarku memberikan instruksi.


“Ingat semua titik lemah monster pada prinsipnya sama. Serang bagian matanya yang lunak untuk membutakannya lantas membatasi pergerakannya. Trus perhatikan bagian perut sebelah kirinya. Ada bagian luka di situ. Di situ mungkin bisa menjadi titik lemahnya.” Kak Krimson yang lebih berpengalaman pun ikut menambahkan.


Lalu sesuai dengan instruksi kami, Chika mulai maju menyerang dengan melemparkan ramuan asam berdasarkan resep yang dia buat sendiri. Sesuai yang kuduga, Chika adalah alchemist yang bertalenta. Dengan budget yang tidak begitu besar dari insentif sekolah, Chika mampu melevel-up-kan daya serang ramuannya berkali-kali lipat lebih kuat.


Aku secara kasar bisa menilai bahwa ramuan asam itu berkali-kali lipat lebih kuat dari ramuan asam yang biasanya dijual oleh sistem.


Chika kemudian dengan cepat menusukkan dagger-nya ke bola mata kiri dari sang badak. Blind spot yang luas pun seketika tercipta di area sebelah kiri sang badak. Hal itu lantas membuat pergerakan sang badak menjadi semakin aneh.


Chika memanfaatkan betul peluang itu untuk menyerang luka yang sedari awal telah terbuka tersebut di area perut sebelah kiri sang badak hingga luka itu semakin membesar dan dalam.

__ADS_1


Terlihat ekor sang badak yang beracun hendak akan menyerang dan hampir saja mengenai Chika. Chika yang agility-nya masih rendah itu terlihat tak kuasa menghindari serangan tersebut.


Untunglah, Kak Krimson dengan gesit merapalkan mantra perlindungan perisai sihirnya ke arah Chika sehingga Chika pun tidak terkena ekor beracun dari sang badak.


Chika menyerang berkali-kali titik lemah di luka sang badak itu sembari terlihat bahwa dia sudah semakin terbiasa dalam menghindar. Lalu pada suatu titik, bagian luka sang badak di perut sebelah kirinya itu terbuka lebih lebar dan dalam sehingga tusukan Chika mampu mencapai organ bagian dalamnya yang lebih lunak.


Sang badak pun terluka parah dan pada akhirnya menghilang menjadi poin experience buat Chika.


Setelah mengalahkan sang badak, Chika langsung naik ke level 14.


Petualangan pun terus berlanjut.


Setelah monster badak, kali ini sekali lagi aku menemui monster pohon Yate di hutan ini. Seekor monster Yate berlevel 17.


Setelah mengalahkan sang badak, kini terlihat Chika lebih percaya diri sebagai seorang player. Pada dasarnya, Chika memang adalah player yang andal jika bukan karena masalah terbatasnya dananya dalam mengembangkan ramuannya yang menjadi senjata utama bagi setiap alchemist.


Setelah masalah itu diatasi dengan budget dana dari sekolah, lantas membangun kepercayaan dirinya melalui pertarungan ini, Chika pada akhirnya akan sanggup untuk semakin tumbuh dan melebarkan sayapnya.


Monster Yate di hadapan kami walau memiliki satu level lebih tinggi dari badak yang dikalahkan oleh Chika sebelumnya, jelas itu bukan ancaman bagi player Chika yang sudah membangun kepercayaan dirinya.


Berbeda dengan sang monster badak, defensif monster Yate tidaklah ada apa-apanya, di samping, mereka hanya menyerang dengan melemparkan buah atau dengan serangan ulir-ulirnya saja yang dengan mudah bisa diprediksi karena kurangnya variasi gerakannya.


Chika pun dengan mudah dapat mengalahkan monster Yate itu dan segera naik ke level 15.


Petualangan terus berlanjut hingga tanpa sadar jam larangan main game anak di bawah umur pun hampir tiba.


Setelah kedua monster tadi, Chika telah mengalahkan lebih dari sepuluh monster lainnya di mana salah satunya yang terkuat adalah monster ular phyton berlevel 19 yang paling sulit di antara monster-monster lain yang dihadapinya karena agility-nya yang tinggi serta kemampuan sang monster untuk meludahkan asam. Dan kini Chika telah berada di level 20.


Kami lantas hendak log out dari game. Akan tetapi, Kak Krimson pun berucap sesuatu kepada kami,


“Luca, Chika, bagaimana kalau kalian ikut quest-ku besok ke Kerajaan Hutan Doremi?”


Kesempatan pelatihan baru potensial pun seketika mendatangi kami dengan sendirinya. Tentu saja aku akan setuju, perihal tidak mudah mendapatkan hak akses ke sana karena keterbatasan quest di desa pemula sebab kebanyakan quest mereka ditujukan ke Akademi Pedang dan Sihir Nostalgia, bukan kepada wanderer.

__ADS_1


Dengan demikian, mungkin aku akan punya kesempatan untuk berkunjung ke daerah hutan Kerajaan Doremi di mana kemungkinan ada monster level menengah ke atas yang dapat meningkatkan levelku yang saat ini stuck di level 41. Kali ini, Kak Kaisar tidak ada alasan melarangku karena aku menerima permintaan langsung dari murid Akademi Sihir dan Pedang Nostalgia.


Dan tampaknya, Chika juga setuju dengan antusias. Petualangan kami di keesokan harinya pun telah ditentukan.


__ADS_2