The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
63. Luca dan Naga Hijau Berlevel 999


__ADS_3

Suatu entitas menakutkan itu menatap kami dengan matanya yang berkilauan hijau. Dia pun meraung yang membuat kami merasa jiwa kami akan terlepas dari jasad kami begitu saja. Aku ingat betul terhadap perasaan ini. Perasaan yang sama ketika dalam sekilas para dark elf beserta peliharaan winged dark elementalnya itu melayangkan sihir kegelapannya padaku.


Aku saat ini berada di dunia spiritual itu, dunia yang terpisah dari dalam game.


Aku pun segera mengeluarkan dua buah selendang jiwa dari dalam spiritual inventory-ku, satu aku pakai sementara yang lainnya aku sematkan kepada Lia. Barulah saat itu, keadaan mental kami kembali stabil.


Monster itu tampak menatap kami marah. Kemudian dia pun berdiri dari duduknya lantas melangkah ke arah kami. Tiap langkah dari monster itu, membuat guncangan yang begitu dahsyat di sekeliling kami. Aku pun segera mengeluarkan sabit bulan-ku untuk bertahan.


Lia yang sedari tadi nampak setengah linglung, akhirnya kembali ke kesadarannya setelah beberapa saat ku-memakaikan-nya selendang jiwa itu. Akan tetapi, Lia segera dikejutkan kembali oleh entitas menakutkan yang ada di hadapan kami. Ya, dialah monster naga hijau yang sebelumnya kami lihat di dalam pecahan dimensi.


Sang monster naga hijau itu pun mulai menyemburkan nafas naganya yang berwarna hijau yang penuh dengan racun. Tapi kali ini berbeda, aku lebih siap menghadapinya.


Aku segera meraih Lia lantas melompat untuk menghindari serangannya itu. Aku berlari menyelamatkan diri, tetapi tiba-tiba,


“Sharararak!”


Ada sesuatu dari balik kegelapan yang melilit kaki serta tanganku yang membuatku kembali tak dapat bergerak. Tanah pun bergetar, yah walaupun kurang tepat jika menyebutnya tanah karena apa yang ada di sekeliling kami saat ini hanyalah entitas yang gelap. Kian monster itu melangkah ke arah kami, tempat kami berada kian bergoncang seakan seluruh isi perutku diaduk hingga rasanya aku akan segera muntah jika tak kutahan.


Dari balik mulut sang naga hijau itu pun, kembali dia akan menyemburkan kabut beracunnya. Namun ini gawat, badanku masih terkunci oleh sesuatu yang melilit dari balik kegelapan yang aku sendiri belum tahu apa itu.


Aku hanya bisa memasrahkan diri. Sembari membekap Lia, aku hanya dapat menutup mata. Lagipula, saat ini aku dan Lia hanya menggunakan tubuh avatar kami. Palingan jika kami mati di sini, kami hanya akan gameover dan kembali ke tubuh nyata kami.


Tetapi seandainya saja, seandainya saja, kami akan mengalami kematian abadi, setidaknya akan lebih baik jika aku saja yang mengalaminya. Tetapi saat ini, ada Lia di sampingku. Aku tak ingin terjadi apa-apa pada gadis yang baik hati ini. Ditambah yang lebih mencurigakan adalah bahwa tombol log out game-ku saat ini tidaklah berfungsi, dalam artian kami tidak bisa keluar dari game ini secara paksa.


Akan tetapi di tengah kekalutanku itu, suatu cahaya kuning emas kembali bersinar di hadapanku. Sekali lagi sosok bermata kuning itu menyelamatkan aku dan Lia. Aku tidak tahu siapa atau apa sosok itu, tetapi aku berterima kasih padanya.


“Oi, Master! Mengapa kamu selalu terlibat masalah seperti ini?!” Ujar sosok itu sembari tampak menahan perisai spiritual berwarna emas yang menghalangi kabut beracun itu menggapai kami.


Akan tetapi dentangan demi dentangan semakin terasa. Tanah bergetar semakin kuat seiring monster itu melangkah mendekati kami. Lalu kulihatlah sosok imut bersayap emas itu tak mampu lagi menahan perisainya lantas pecah dan akupun kehilangan kesadaran.

__ADS_1


><


Sang pet Luca, gold dragon level 1 yang diperolehnya sewaktu menyelesaikan quest winged gold elemental, tentu saja takkan mampu menangkis serangan sang green dragon berlevel 999 itu. Perisainya pecah begitu saja ketika sang naga hijau melayangkan cakarnya ke arah mereka, seolah hanya merobek selembar kertas tipis yang rapuh.


Namun di saat itu, kekuatan batin Luca pun terbangkitkan. Mata kirinya berubah menjadi merah, sementara mata kanannya menjadi biru. Dua sosok guardian berwujud transparan dari masing-masing pasang mata itu keluar lantas menangkis serangan beracun dari sang naga hijau berlevel 999 itu.


Dalam samar-samar, Luca pun mendengar sosok guardian pria di antara mereka itu berujar, “Luca, segeralah pulihkan kekuatan spiritualmu agar hal seperti ini takkan terjadi lagi.” Lalu ucapan itu segera dilanjutkan oleh sang guardian wanita, “Sampai menunggu waktu itu tiba, biarlah kami menyegel sementara kekuatan spiritualmu agar tak di luar kendali.”


Luca dan Lia pun memperoleh kesadaran mereka kembali. Tahu-tahu, Andra dan Heisel telah berada di hadapan mereka sembari menahan serangan Cerberus dan Jamer yang hendak menyerang mereka.


“Nona! Sadarlah! Kalau tidak, kita akan gameover!”


“Hei, Luca! Luca! Cepat, bangunlah!”


Teriakan Andra dan Heisel silih berganti berirama bagaikan suara alarm yang membangkitkan kembali kesadaran Luca dan Lia.


“Apa itu tadi? Apa aku bermimpi?” Tampak Lia menggumamkan sesuatu, tetapi Luca hanya memberikan tangannya untuk memapah Lia bangkit dari tanah.


Lia hanya mengangguk dalam diam terhadap ucapan Luca itu.


Luca pun maju kembali dalam pertarungan, sementara Lia memberikan dukungan buff-nya di belakang.


Skill spiritual: tebasan lintas dimensi


Luca berdiri di hadapan Cerberus bersama Andra kemudian mengaktifkan skill tebasan lintas dimensinya, skill spiritual kedua yang baru saja berhasil didapatkannya itu.


Luca tidak menggunakan dagger taring serigala perak maupun sabit bulannya, senjata andalan yang selama ini selalu digunakannya, melainkan senjata baru yang diperolehnya sewaktu menyelesaikan quest di dungeon pemula, belati elemental cahaya.


Naluri Luca entah bagaimana dapat memahami sendiri dengan lebih baik ketika ranah spiritualnya meningkat dari tingkat pembukaan indera ke tingkat penyatuan darah dan mana, bahwa bagaimana menggunakan dan memanfaatkan skill spiritualnya dengan optimal plus penggunaan senjata mana yang paling tepat.

__ADS_1


Naluri itu mengatakan bahwa belati elemental cahaya yang berelemen cahaya mampu memberikan serangan yang lebih fatal dengan skillnya melawan sang zombie yang berelemen death tersebut.


Namun rupanya, Luca sama sekali tidak mengincar Cerberus, melainkan Jamer yang lengah karena terlalu fokus dengan pertarungannya melawan pamannya.


Tebasan lintas dimensi mengeluarkan elemen cahaya dari belati lantas menerjang ke arah depan. Namun, tepat ketika berada di pelupuk mata Cerberus, cahaya itu menghilang begitu saja dan tahu-tahu secara ajaib muncul kembali di belakang sang assassin zombie Jamer lantas mengenainya secara telak yang memberikannya damage yang sangat fatal.


Luca pun maju menerjang menusuk leher sang assassin. Namun, tidak hanya suara kulit tertusuk yang terdengar. Terdengar pula suara retak bercampur ketika Luca menusuk leher sang assassin zombie Jamer tersebut.


Rupanya, terdapat orb berwarna merah di dalamnya yang selama ini mendukung kehidupan sang assassin zombie Jamer yang membuatnya tidak lenyap ketika tuannya sang necromancer Philtory berhasil dibunuh.


Orb pun retak dan perlahan retakan itu semakin banyak. Lalu kemudian, orb pun menjadi berkas-berkas sinar dan menghilang di udara. Seiring dengan menghilangnya orb, tubuh sang assassin pun berubah menjadi butiran-butiran debu. Sang assassin Jamer berhasil dikalahkan oleh Luca.


“Jadi begitu.” Gumam Heisel.


Heisel yang tampaknya sudah memahami mekanisme monster zombie yang tak menghilang ketika tuannya dikalahkan tersebut seketika menajamkan inderanya. Dia menatap dalam-dalam ke arah Cerberus yang kini kepalanya kembali utuh menjadi tiga buah setelah terespawn beberapa saat yang lalu.


“Ketemu.” Ujar sang assassin Heisel itu.


Heisel pun berlari menerjang ke arah Cerberus dengan menghindari tiap serangannya, mulai dari serangan fisik berupa cakarnya yang tajam, sampai serangan sihir-sihir elementalnya yang datang dari tiap kepalanya itu. Dia menuju ke arah betis kiri belakang sang Cerberus lantas menusuknya sekuat tenaga.


Terdengar pulalah suara retak itu di mana rupanya orb dari sang Cerberus tersembunyi di area tersebut. Orb pun retak dan pecah lalu Cerberus pun juga berubah menjadi butiran-butiran debu. Heisel dengan sukses mengalahkan sang Cerberus.


Heisel tersenyum puas dengan semua itu. Akan tetapi, senyumnya itu seketika berubah menjadi kerutan ketika dia menatap sang keponakan.


“Luca!” Teriak Heisel dengan penuh kekhawatiran.


Dia pun segera berlari menuju tempat di mana keponakannya itu telah meringkuk kesakitan. Lia dengan segera turut menotice hal itu lantas turut menyusul ke sana. Andra yang khawatir kepada Lia, akhirnya juga turut serta di belakang Lia.


Walau dengan luck 600 itu, menghadapi monster berlevel 999 di saat levelnya masih 11, tetaplah hal yang sulit bagi Luca. Selamat dari gameover adalah optimal apa yang bisa dilakukan oleh keberuntungannya itu. Namun, Luca masih harus menderita keracunan akibat serangan dari sang monster naga hijau.

__ADS_1


Barulah Luca kala itu menyadari, “Ah, benar kata Paman. Ternyata skill kebal racun itu sangatlah penting.”


Perlahan, kesadaran Luca pun sejenak menghilang.


__ADS_2