The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
216. Sang Pemenang Turnamen Amatir


__ADS_3

“Kamu siapa? Maaf, tapi tampaknya kamu telah salah mengenaliku sebagai orang lain.”


Aku pun hanya berbicara jujur kepada atlit scout itu. Tidak mungkin bahwa kami pernah kenal satu sama lain lantaran aku baru ke dunia ini enam bulan yang lalu dan tidak mungkin aku akan melupakan wajah orang yang dekat denganku selama bulan yang singkat itu.


Hanya satu kesimpulan yang dapat kubuat. Dia telah salah mengenaliku sebagai orang lain kecuali jika dia juga memang NPC yang berasal dari Gardenia sama sepertiku.


Di luar dugaanku, atlit scout itu hanya menanggapi jawabanku dengan tersenyum simpul padaku. Atau apakah ini semacam trik mengalihkan perhatian lawan dengan mengatakan suatu perkataan yang aneh-aneh?


Tetapi dilihat dari vibe yang ditunjukkannya kepadaku, tampaknya tidaklah demikian. Scout itu benar-benar tulus mengucapkannya padaku.


Kami pun saling bertarung satu sama lain.


Sebelumnya, aku sama sekali tidak mengerti keputusannya. Oke-lah bahwa dia sekaligus mengeliminasi seluruh anggota tim-ku. Tetapi mengapa dia turut mengeliminasi semua anggota timnya? Dia hanya akan kehilangan timing untuk mengaktifkan skill andalannya ‘share sense’ yang membutuhkan anggota party itu.


Walau demikian, aku segera mengerti keputusannya itu. Dia tidaklah selemah yang kuduga. Tidak, dia sangat kuat.


***


Di salah satu sudut bangku penonton, seseorang yang mengenakan tudung turut datang untuk menonton pertandingan tim Luca melawan tim orang misterius itu.


Tiba-tiba, dirinya dikagetkan dengan seseorang yang menepuk pundaknya.


“Gajel? Jadi kamu akhirnya ikut menonton rupanya?”


“Geh, Eren. Apa yang kamu lakukan di sini?”


“Aku? Kan sudah kubilang tadi di telepon bahwa aku ingin menonton pertandingan final.”


“Lantas bagaimana dengan kondisimu? Apa kamu sudah baikan?”


“Aku sudah baik-baik saja kok, Gajel. Lebih penting daripada itu, mengapa kamu tadi menolak untuk kuajak nonton jika ujung-ujungnya kamu juga tetap datang kemari?”


[Itu tentu saja karena aku tidak ingin terlalu dekat dengan kamu, sialan! Tetapi tentu saja aku tidak mungkin bicara terus terang begitu padamu.] Gajel pun mengumpat di dalam hatinya.


“Aku tidak enaklah, Eren, dengan kondisimu yang seperti itu. Justru aku sedih melihatmu datang ke sini hari ini. Seharusnya kamu lebih banyak istirahat lagi. Kamu kan baru pulih.”


“Hehehehehehehe. Terima kasih telah mengkhawatirkanku, Gajel. Tapi tenang saja. Aku telah benar-benar pulih kok.”


[Ya, terserahlah. Siapa yang peduli dengan kesehatanmu. Aku hanya basa-basi dan asal bilang saja.]


“Ngomong-ngomong, Eren, bagaimana caranya kamu bisa menemukanku di tengah kerumunan penonton yang memenuhi stadium ini?”


“Itu tentu saja dari aromamu, Gajel. Aku telah kenal benar dengan aromamu bahkan dari jarak yang jauh.”

__ADS_1


Mendengar ucapan Eren yang sebenarnya diucapkannya dengan polos dan tanpa satu pun niat terselubung itu, Gajel tidak dapat untuk menahan muntah secara internal. Tetapi dia sekuat tenaga berupaya menutupi perasaan jijiknya itu kepada Eren.


[Dasar stalker sialan!]


“Tapi, Gajel. Apa yang sebenarnya terjadi? Darimana asal ledakan itu? Apa itu dari Luca atau dari lawannya?”


“Entahlah. Aku juga tidak mengerti. Begitu aba-aba dari wasit dimulai, ledakan itu terjadi begitu saja, padahal terlihat bahwa baik bocah cebol itu maupun scout lawannya belum sama sekali bergerak. Kita tidak juga bisa bilang bahwa itu kesalahan sistem. Karena jika demikian, pasti wasit pertandingan sudah lama membatalkan pertandingannya.”


Demikianlah komentar Gajel dan Eren, mantan lawan Luca tersebut di babak quarter final. Bahkan penonton yang memiliki indera yang tajam sekaliber Gajel dan Eren pun sama sekali tidak menangkap apa yang sebenarnya baru terjadi di arena.


***


Sementara itu di tempat lain, di bench tim SMA Pelita Harapan, suara langkah kaki terdengar memasuki bench itu.


“Senior Areka? Bagaimana dengan kondisi Senior? Kudengar Senior pingsan kemarin malam. Apa Senior sudah baikan?”


Suara panggilan Nina lantas memalingkan perhatian seluruh anggota yang lain menuju ke arah pintu masuk bench itu. Begitu mereka melihat wajah Areka di sana, betapa mereka semua menunjukkan ekspresi kelegaan yang penuh kebahagiaan sembari menghampiri salah satu fondasi tim mereka itu, sang kapten tim, Areka.


Areka pun balas menunjukkan ekspresi senyum khasnya yang sebenarnya akan membuat orang lain yang melihatnya menjadi jijik padanya. Namun tentu saja, semua anggota timnya tidak ada lagi yang peduli dengan itu. Mereka semua bersyukur melihat kepulihan Areka.


Areka pun menoleh ke arah Nina sembari mengatakan, “Oh iya, aku belum mengatakan kepadamu ini, Nina… Selamat ya, telah memenangkan turnamen individu tamer. Penampilanmu benar-benar luar biasa. Aku sangat suka.”


Mendengar ucapan dari senior yang selalu mengejeknya itu bahwa dia tidak punya bakat sedikit pun di bidang e-sport vrmmorpg, muka Nina pun seketika memerah. Dengan perasaan yang bercampur aduk, Nina dengan cepat memalingkan pandangannya dan menunduk, tak berani lagi menatap wajah seniornya itu untuk sesaat.


“Tapi apa yang sedang terjadi di arena? Siapa yang meledakkan tempat itu? Apa itu salah satu skill tersembunyi Luca? Ataukah itu skill dari lawannya? Tetapi mengapa jurus itu menghancurkan kedua kubu pemain?”


Pertanyaan dari Areka itu sekaligus mewakili seluruh perasaan tim yang saat itu berada di bench cadangan.


***


Aku bertarung dengan sungguh-sungguh melawan pemain scout dari SMA Cenderawasih itu. Mungkin di luar, ini terlihat bahwa pertarungan kami seimbang. Tetapi apa yang terjadi sebenarnya adalah bahwa scout itu menahan diri.


Entah apa yang dipikirkannya, tetapi dia sengaja mengulur-ulur waktu pertarungan. Dia hanya terus terlihat berusaha mengimbangi tiap serangan yang kuberikan tanpa niat sedikit pun untuk melakukan serangan balik.


Apa dia meremehkanku?


Aku marah, tetapi bukan berarti aku bisa berbuat apa-apa. Apa ini memang kemampuan yang dimiliki oleh seorang atlit amatir? Tidak, bahkan di jajaran atlit profesional pun, dia memiliki skill yang tinggi. Tidak, mungkin dia adalah lawan yang terkuat yang selama ini pernah kuhadapi, bahkan lebih kuat dari Senior Asario dan Goruth.


Entahlah aku tidak bisa membandingkannya dengan Ecila, tetapi aku bisa menerawang secara kasar bahwa walaupun Ecila dengan serius menghadapinya, belum tentu Ecila bisa menang. Begitulah hebatnya lawan yang tak diduga-duga yang sedang aku hadapi di turnamen amatir e-sport vrmmorpg ini.


Aku jadi bertanya-tanya, apa yang dilakukannya di pertandingan amatir ini? Bahkan jika dia mengikuti kompetisi e-sport vrmmorpg profesional tingkat internasional, tidaklah mengherankan jika dia akan menang.


Tapi daripada berusaha meraih prestige seperti itu, dia justru menyembunyikan kemampuannya, lantas bermain-main di sini? Di saat semua orang serius membakar semangat mereka? Hanya orang di depanku ini, hanya orang di depanku ini sajalah yang tak dapat kumaafkan karena telah meremehkan jiwa semangat e-sport vrmmorpg.

__ADS_1


[Baiklah, jika kamu meremehkan para atlit amatir ini, maka aku akan memanfaatkan itu untuk menggigitmu dari belakang.] Aku pun membulatkan tekadku.


Aku bersalto dan menyerangnya dari atas melalui serangan racun dagger taring beracun basilisk-ku, tetapi gagal.


Aku secara tiba-tiba mengaktifkan tebasan kilat sabit secara tidak terduga-duga di tempat yang tidak terduga-duga, namun dia justru juga bisa menghilangkan interferensi skill-ku itu dengan mudah.


Bahkan, tanpa pikir panjang, aku melakukan sinkronisasi dengan Aura, tanpa khawatir akan tim pemantau yang berusaha mencari tahu tentang segala kemampuan dan kelemahanku untuk digunakan di pertandingan e-sport vrmmorpg profesional nantinya untuk menjatuhkanku.


Aku mengaktifkan jurus serangan perisai cahaya, tetapi lagi-lagi, ada suatu interferensi gelombang yang aneh yang seketika menghilangkan skill-ku itu.


Aku kehabisan akal. Lama bertanding, aku pun mulai kehabisan stamina dan mulai menyerangnya dengan hanya mengandalkan instingku semata.


Tetapi tanpa kuduga-duga lagi, suatu ketika di saat aku mengayunkan sabit bulan-ku padanya, kali ini dia hanya menerimanya dengan pasrah, lantas tubuh avatarnya pun mulai hancur.


“Dalam waktu dekat ini, mari kita bertemu lagi, Senior Luca.” Dia pun hanya mengatakan itu lalu game over di arena. Bahkan sampai akhir, aku sama sekali tidak mengerti akan tujuan sang scout aneh dari SMA Cenderawasih itu.


Tapi apapun itu, yang jelas, tim kami, Tim SMA Pelita Harapan, akhirnya mampu memenangkan juara satu umum turnamen akhir tahun e-sport vrmmorpg tingkat amatir SMA ini dengan sumbangan 25 poin melalui juara satu turnamen tim. Dan tidak ada lagi yang bisa membantah fakta itu bahwa SMA kamilah yang memegang predikat tim terkuat di bidang e-sport vrmmorpg kalangan SMA.


\=\=\=


Hasil Final Turnamen Akhir Tahun e-sport vrmmorpg amatir Tingkat SMA



SMA Pelita Harapan 46 poin


SMA Phoenix 37 poin


SMA Cendrawasih 30 poin



\=\=\=


Setelahnya, hasil penentuan juara ketiga turnamen tim antara Tim SMA Phoenix melawan Tim SMA Ayam Jantan yang dilaksanakan di tempat lain yang tidak disiarkan secara live seperti pertandingan final kami turut diumumkan. Walaupun tanpa kehadiran alchemist mereka yang selama ini menjadi fondasi tim, SMA Phoenix tampaknya tetap dapat memenangkan pertarungan tersebut.


Hasil juara umum pun diumumkan dan di luar dugaan, meski SMA Cenderawasih yang berhasil tembus ke babak final, ternyata mereka hanya memperoleh juara umum ketiga di mana SMA Phoenix-lah yang meraih juara umum kedua-nya berdasarkan rekap nilai tambahan dari keseluruhan pertandingan individu.


Tentu saja kamilah, SMA Pelita Harapan, yang meraih juara satu umumnya.


Yah, walaupun itu sedikit berakhir secara bitter end karena kami ujung-ujungnya tak mampu membuktikan secara optimal bakat kami dengan mengalahkan SMA Phoenix, sang peraih juara satu turnamen akhir tahun di tahun lalu, tetapi untuk saat ini, aku dan tim telah melakukan yang terbaik.


Dan tentu saja, ini hanyalah langkah awal bagiku. Kompetisi ini bukanlah akhir dari tujuanku. Aku akan menjadikan ini sebagai batu pijakan untuk dapat mengejar Ecila. Lalu sebagai sasaran berikutnya, adalah kemenangan di pertandingan e-sport vrmmorpg profesional tingkat nasional bersama timku tentu saja, Klub White Star.

__ADS_1



__ADS_2