
Tanpa terasa telah dua bulan lebih aku tinggal di dunia nyata ini. Siapa yang mengira berbekal karena ingin mengungkap misteri tentang kedua orang tuaku yang menghilang setelah tertelan oleh langit, aku mengetahui suatu fakta mengejutkan bahwa dunia yang aku tinggali selama ini hanyalah berada di dalam game saja.
Telah banyak hal yang terjadi selama dua bulan lebih aku tinggal di dunia nyata ini. Terus terang, banyak hal yang membuatku ketakutan pada awalnya karena banyaknya hal-hal yang berbeda dari dunia sebelumnya yang kutempati seperti ganti baju yang harus dilakukan sendiri tanpa bantuan sistem, juga di dunia ini ada yang namanya… yah, konsep toilet.
Namun, berkat keluarga hangat yang kumiliki di sini, ada Tante Judith, Om Rowin, dan Kak Nina, aku dengan mudah dapat menyesuaikan diri tinggal di dunia nyata ini.
Kebahagiaanku bertambah ketika kumengetahui bahwa aku tidak harus berpisah pula dengan Paman Heisel, Kak Derickson dan kawan-kawan di dunia tempat aku dulu tinggal, perihal aku dapat kapan saja bertemu dengan mereka ketika aku terkoneksi dengan game yang Kak Nina perkenalkan padaku yang berjudul The Last Gardenia.
Aku pun di sini mempunyai teman-teman berharga seperti Egi, Senior Areka, Kak Raia, Kak Andra, Senior Asario, Kak Mark, Kak Krimson, Chika, Diana, dan yang lainnya.
Dan yang lebih utama lagi, di dunia yang berharga ini, aku telah menemukan belahan jiwaku, Lia.
Berawal dari kekagumanku terhadap timnya, aku mulai tertarik padanya. Aku pun menerima undangan darinya untuk melihat pertandingannya di kompetisi e-sport vrmmorpg tingkat internasional di luar negeri.
Di sanalah aku menyaksikan bahwa dunia itu begitu luas. Ada banyak petarung yang saling membenturkan semangat mereka lewat game yang disebut vrmmorpg di mana kita dapat bertarung melalui tubuh virtual sehingga tidak harus terluka secara fisik karena pertarungan.
Walaupun Lia dan timnya tidak memenangkan kompetisi itu, aku telah cukup bangga padanya perihal Lia adalah tidak salah lagi seorang petarung yang andal.
Berawal dari kompetisi itu, timbul benjolan di dalam dadaku. Aku ingin seperti mereka. Aku ingin menjadi seperti mereka yang disebut sebagai atlit e-sport vrmmorpg profesional, terutama ketika aku menyaksikan pertandingan Ecila beserta naga kembarnya. Aku pun menerima tawaran dari Kak Kirana untuk menjadi salah satu atlit e-sport vrmmorpg profesional di klubnya, Klub White Star.
Alasan aku memilih klub itu cukup sederhana, soalnya di sana ada seorang swordsman yang begitu aku ingin jadikan partner perjuangan, dialah pujaan hati Kak Nina, Kak Malik. Tentu saja alasan aku menginginkannya sebagai partner adalah bukan karena Kak Nina jatuh hati padanya, melainkan gaya berpedangnya yang bersih.
Untuk menggapai tahap itu, aku mulai debut dengan mengikuti kompetisi e-sport vrmmorpg amatir tingkat SMA. Aku pun latihan sekuat tenagaku. Aku berlatih tiap siang bersama Pak Syarifuddin. Di sore harinya aku berlatih fisik dengan Kak Silvia. Lantas di malam harinya, aku kembali ke Gardenia lewat game dan berlatih bersama Kak Hendric.
Aku juga menerima banyak ilmu dari Senior Asario, Bu Riska Angela, serta Kak Leo. Aku pun dengan langkah yang yakin mengikuti kompetisi itu.
Namun aku lupa suatu fakta yang penting. Suatu pertandingan tim tidak hanya dapat dimenangkan dengan kehebatan satu individu saja di dalam tim tersebut. Pada akhirnya, aku dan timku kalah di dalam kompetisi itu di quarter final dan terus terang, aku begitu malu untuk bertemu kembali dengan Kak Kirana dan kawan-kawan karenanya.
Tanpa sadar, pandanganku teralihkan pada smartphone yang menempel di lengan kananku. Kulihatlah di sana ada satu item yang sama sekali belum pernah kugunakan.
Mahkota the king of undead [kunci ke dungeon legacy of Sultan Lacoza]
Satu hal yang terbayangkan di pikiranku saat menatap item itu, kepedihan Senior Areka, salah satu rekan setimku perihal kelemahannya.
‘Haruskah aku menggunakan ini untuk membuatnya level-up?’
Namun ketika kuteringat kembali akan peringatan bahaya quest-nya, aku menjadi ragu.
\=\=\=
Peringatan!
Anda akan memasuki Dungeon The Legacy of Lacoza.
Untuk memasuki Dungeon The Legacy of Lacoza dibutuhkan anggota party sang pemegang kunci sebanyak 4 orang, tidak kurang, tidak lebih.
__ADS_1
Luka mental maupun fisik yang terjadi di dalam dungeon, terutama jika gameover di tengah-tengah misi, mungkin akan mempengaruhi tubuh asli di dunia nyata, jadi silakan pilihlah party yang menurut Anda benar-benar kuat dan layak mendampingi Anda.
Perihal reward dungeon yang mungkin akan mengundang keserakahan bagi para player, jangan lupa untuk memilih anggota party yang benar-benar Anda percayai.
Catatan: area ini adalah area yang terbatas untuk NPC, NPC dilarang keras memasuki dungeon, serta dibutuhkan minimal satu orang anggota party dari kelas shielder.
\=\=\=
Akan tetapi mengingat bahwa dibutuhkan salah seorang shielder di party, hanya memungkinkan jika salah satu hadiah dungeon adalah item legendaris untuk kelas shielder dan jika itu semacam senjata atau skill, maka Senior Areka dapat level-up dan meningkatkan kemampuannya sehingga dia tidak mesti galau lagi soal stack di suatu tempat atau tidak dapat berkembang.
Tiada gunanya memikirkannya seorang diri. Aku harus menanyakan kepada orangnya secara langsung.
Aku pun menelepon Senior Areka.
“Luca, benar kamu yang nelpon? Ada apa? Tumben kamu nelpon.”
“Senior mau jadi kuat?”
“Eh? Apa maksud pembicaraan kamu?”
“Aku berbicara soal senjata atau skill di dalam game. Apakah Senior Areka mau jadi lebih kuat dengan mendapatkan hal semacam itu mesti resikonya sangat berbahaya?”
“Kamu sedang meremehkanku ya, Luca? Tentu saja aku akan menempuh resiko apapun jika itu untuk tujuan menjadi lebih kuat!”
“Eh, lantas masalah tiketnya bagaimana?”
“Kalau itu, tolong Senior yang urus semuanya.”
Dengan demikian, aku pun menetapkan tekadku untuk membantu Senior Areka level-up melalui dungeon itu.
‘Ya, selama aku bisa melindunginya, segalanya akan baik-baik saja.’
“Tapi apa itu benar-benar baik-baik saja, Master, mengajak teman Anda ke tempat yang mungkin sangat berbahaya itu?”
Mata besar yang tiba-tiba muncul lantas memberitahuku hal itu adalah Aura, pet-ku. Ukuran tubuhnya sudah terlalu besar sehingga kini dia hanya dapat menampilkan mata kanannya saja.
“Makanya aku juga akan mengajak Kak Silvia dan Kak Agnes bersama ke sana.”
“Kalau ada mereka, maka semuanya akan baik-baik saja, Master.”
“Itu benar. Tapi ngomong-ngomong, Aura, bisa tidak kamu melakukan sesuatu soal tampilanmu itu? Menyeramkan tahu jika kamu selalu muncul hanya dengan mata besar seperti itu.”
“Apa boleh buat, Master. Soalnya ukuran tubuhku sekarang tidak muat lagi berada di dalam ruangan ini.”
“Tapi kan hologram itu bisa dimodifikasi baik bentuk maupun ukurannya. Kamu tidak harus berwujud seperti bentuk naga aslimu.”
__ADS_1
“Ah.”
“Hmm?”
“Aku lupa bisa melakukan hal itu, Master. Hehehehehehe.”
Aku kemudian hanya menanggapi kekikukan Aura itu dengan ekspresi muka panjang.
Setelah itu, sekeliling tempat di mana Aura berada lantas bersinar dengan terang. Tentu saja hologram itu hanyalah proyeksi di otakku saja sehingga hanya akulah yang dapat melihat sinar terang itu.
Sejenak kemudian,
“Meeeow!”
Seekor kucing berwarna emas tiba-tiba muncul setelah cahaya memudar.
“Master, bagaimana dengan tampilan baruku sekarang?
“Kamu Aura?”
“Iya, Master. Bagaimana penampilan ini? Lucu kan? Aku meniru penampilan ini dari makhluk lucu yang kulihat di Film Kuntilanak Penunggu Gedung Bioskop yang kutonton tiap tengah malam.”
“Itu, bukannya referensimu agak aneh? Lalu bukannya kucingnya berwarna hitam?”
“Itu apa boleh buat. Aku tidak bisa berbuat apa-apa soal warna tubuhku.”
“Tapi memangnya ada kucing yang berwarna emas?”
“Duh, Master. Apa master lupa kalau hanya Master yang bisa melihat sosokku ini?”
“Ah, benar juga.”
Demikianlah sosok baru Aura di dunia nyata ditentukan.
“Ngomong-ngomong, Master. Bagaimana janji dengan Klub White Star? Bukankah itu juga diadakan besok? Apa tidak akan berbenturan dengan janji Master bersama Senior Areka?”
“Itu akan baik-baik saja. Soalnya pertandingannya pagi, sementara janjiku dengan Kak Kirana dan tim adalah malam hari.”
Ya, besok adalah hari pentingku pula karena besok adalah hari di mana aku akan menandatangani kontrak bersama Klub White Star.
Kak Kirana dan yang lainnya sebenarnya telah menjelaskan kepadaku bahwa klub mereka terancam akan bubar perihal masalah internal klub. Namun demikian, itu tidak menjadi hal yang membuatku kehilangan minat bergabung bersama mereka sebab mereka adalah tim yang baik.
Jika aku harus masuk ke salah satu klub untuk melangkahkan kakiku ke dunia e-sport vrmmorpg profesional, maka tiada tempat yang lebih tepat selain di klub yang ada Kak Malik-nya itu.
Demikianlah tahap demi tahap masa depan kurencanakan.
__ADS_1