
Tatapan penuh penghinaan Asario semakin tajam ke arah Luca begitu dia mendengar pembelaan Lia padanya. Dia pun berkomentar,
“Apa aku salah? Makhluk lemah seperti dirinya hanya bisa menempel padamu yang kuat untuk bisa sukses tanpa perlu usaha. Begitulah dia memanfaatkanmu untuk meningkatkan level karakter game-nya.”
Asario lantas menatap tajam Luca,
“Hai, Bocah! Sadar dirilah! Makhluk lemah sepertimu tak pantas bergaul dengan orang superior seperti kami.”
Mendengar penghinaan Asario itu, Luca pun terprovokasi,
“Apa? Senior baru saja bilang aku lemah? Baiklah. Bagaimana kalau kita latih tanding Senior? Aku bersedia menjadi kacungmu selama setahun jika aku tak dapat mengalahkanmu dalam 3 menit.”
Tatapan Luca pun ikut menajam kepada Asario.
Asario merasa sangat terhina. Dia kembali mengingat kenangan buruknya di akademi yang gagal dimasukinya ketika dia dipandang remeh oleh seorang instruktur penilai yang menilai dirinya sama sekali tidak memiliki bakat untuk menjadi seorang pahlawan.
Dia masih ingat dengan jelas perkataan instruktur itu bahwa dirinya boleh hebat di dalam game, tetapi tubuh aslinya sama sekali tidak memiliki bakat sedikit pun. Itu karena tingkat sinkronisasinya sangat rendah.
Bayangan instruktur itu pun tumpang tindih dengan pemuda cilik yang menatapnya tajam yang ada di hadapannya itu.
Asario pun menggertakkan gigi-giginya dengan marah.
“Apa yang kamu bilang, Bocah?! Kamu pikir kamu siapa?! Hah!”
Asario sangat marah. Luca tidak mengatakan bahwa dia bisa bertahan melawan serangan Asario ataupun berusaha menyeimbangi kemampuannya. Luca juga tidak mengatakan bahwa dia akan mampu mengalahkannya jika dia berusaha sekuat tenaga. Melainkan Luca meremehkannya dengan mengatakan bahwa dia dengan mudah dapat mengalahkannya hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga menit saja.
Dia marah pada bocah itu yang menganggap remeh dirinya. Di samping itu, Luca benar-benar menyatakannya dalam tatapan penuh keyakinan seakan tidak ada keraguan sedikit pun di balik ucapannya itu.
Itulah sebabnya, Asario merasa sangat terhina.
“Sudah kubilang. Aku masih jauh lebih hebat darimu, Senior. Kalau itu Kak Malik, mungkin aku sedikit ragu, tetapi jika itu Senior, aku sangat yakin bisa mengalahkanmu dengan mudah. Bahkan 3 menit pun mungkin masih terlalu berlebihan. Apa mau kubuat jadi semenit?”
“Dasar bocah sialan!” Asario pun mengumpat. Tetapi dia mencoba menahan amarahnya.
Bagaimana pun saat ini dia ada di hadapan publik. Sedikit saja salah bertindak, image tim yang berusaha dibangunnya selama ini akan rusak.
“Hmm.” Dia pun memaksakan senyum liciknya.
“Baiklah, mari kita uji kemampuanmu, Bocah. Tetapi, bukan aku yang akan melawanmu.” Asario mencoba memprovokasi Luca.
“Eh, apa itu artinya Senior takut padaku sebelum bertarung? Menyedihkan sekali.”
Asario mencoba menahan sekuat tenaga amarahnya menghadapi mulut Luca yang mudah membuat orang emosi itu. Dia pun berusaha bersikap tenang layaknya serang profesional yang pilih-pilih lawan yang tidak akan sembarangan melawan anjing liar di jalanan.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan memikirkan untuk menjadi lawan tandingmu jika kamu berhasil mengalahkan Andra dalam semenit seperti yang kau bilang tadi. Tapi jika kau kalah…”
Seraya mengatakan itu, Asario menunduk untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Luca sembari berbisik, “Kau harus merangkak mengelilingi stadium ini seraya menggonggong seperti anjing.”
“Jadi begitu. Rupanya Senior sangat ingin mempermalukanku rupanya. Baiklah, aku bisa mengalahkan Kak Andra dalam semenit. Jika itu terjadi, bersiap-siaplah karena berikutnya Senior-lah yang akan kukalahkan. Dan jika senior kalah…”
Luca turut memotong ucapannya seakan ingin mendramatisir suasana.
“Senior-lah yang harus melakukan apa yang Senior ucapkan barusan.”
Deal pun terjadi di antara mereka berdua.
Lia tampak panik, tetapi karena dia yakin dengan kemampuan Luca, dia tidak banyak berkomentar.
Semuanya terjadi tanpa persetujuan orang yang tanpa sengaja terseret adu mulut mereka.
“Eh, kenapa tiba-tiba aku terlibat?”
“Nah, ayo Kak Andra. Mari kita bertarung.” Ujar Luca seraya mengeluarkan dagger dari balik celah pahanya.
Seketika raut wajah Asario, Lia, dan Andra menampakkan raut wajah meme tidak percaya.
“Luca, mengapa kamu mengeluarkan barang berbahaya itu di sini? Duh, lagian kok petugasnya bisa meloloskan pisau seperti ini masuk stadiun sih.” Lia menjadi panik melihat Luca mengeluarkan senjatanya yang selama ini diselipkannya di antara pahanya yang telah berada bersamanya sejak dia terdampar di dunia nyata itu.
“Game! Yang dimaksud Senior Asario itu, game!” Andra pun berteriak.
Tak berselang lama, Luca, Lia, Andra dan Asario menuju ke salah satu ruangan komputer di dalam stadium yang hanya bisa diakses oleh orang tertentu yang diberikan izin. Hari ini adalah hari pertandingan Tim Silver Hero, otomatis mereka punya kartu izin pemakaian untuk hari ini. Asario pun menggunakan kartu itu untuk kepentingan pribadinya.
\=\=\=
Nama: LUCA (Lv 21)
Race: Manusia
Umur: 15 tahun
Jenis kelamin: Laki-laki
Pekerjaan: Assassin
\=\=\=
\=\=\=
__ADS_1
Nama: BUDAKMALANG (Lv 51)
Race: Manusia
Umur: 16 tahun
Jenis kelamin: Laki-laki
Pekerjaan: Scout
\=\=\=
“Heh.” Tampak senyum merendahkan dari muka Asario melihat level Luca yang begitu rendah. Dia pun berpikir pertandingan ini akan berlangsung dengan cepat.
Akan tetapi,
“Skill: sense of confussion.”
Andra memulai serangannya kepada Luca, serangan dadakan yang merupakan andalan milik Andra.
Luca telah melihat serangan milik Andra itu berkali-kali, mulai saat dia berhadapan dengan Bento dari Tim White Star maupun sewaktu membentuk party dengannya. Dan ini bukan juga pertama kalinya dia melihat skill seperti itu. Deborah, wanita paruh baya yang merupakan kapten guild Scout, juga memiliki skill serupa dan dia telah berkali-kali melihatnya bertarung dengan pamannya, Heisel, menggunakan skill itu.
Skill itu sekilas terlihat sangat berbahaya karena akan menurunkan sesaat semua stat lawan sebanyak 50 persen ditambah akan mengacaukan respon syaraf motorik lawan. Tetapi penurunan stat hanya akan terjadi dalam waktu sekitar 3 milisekon saja yang memang akan cukup mengagetkan buat newbie lain dan mungkin beberapa veteran yang belum terbiasa.
Tetapi itu beda ceritanya dengan Luca yang telah melihat jurus itu berulang-ulang kali.
Ditambah, selama pemain bisa memahami mekanisme pengacauan syaraf motoriknya semisal tangan kiri yang digerakkan, maka kaki kiri yang akan bergerak, atau kaki kiri yang digerakkan, maka kepala yang akan bergerak, dan seterusnya, akan gampang untuk mengatur pergerakan dalam kondisi syaraf motorik yang kacau itu.
Sisanya adalah ibarat permainan game dengan konsol di mana kita menggunakan tombol lain untuk bergerak, semisal jika kita ingin berlari, maka sisa mengimajinasikan kita menggerakkan kedua tangan kita dengan cepat, dan sebagainya.
Luca telah banyak berlatih dengan hal itu di bawah pelatihan spartan Deborah ketika pamannya, Heisel, sedang sibuk dengan misinya lantas menitipkannya kepadanya semasa mereka berdua belum saling menjadi pemimpin guild dulu.
Luca tampak terdiam begitu Andra melancarkan skillnya.
Di luar di dunia nyata, Asario yang menyaksikan pemandangan itu dari balik layar komputer pun tersenyum cerah seakan bersiap menikmati kekalahan Luca. Sayangnya, apa yang terjadi bukanlah sesuai kehendaknya.
Begitu Andra maju dan ingin menikam Luca, Luca menggerakkan tangan kanannya,
“Skill: tikaman penghakiman.”
Dan balik menikam Andra hingga gameover.
Kemenangan mutlak buat Luca.
__ADS_1