The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
171. Pertandingan Babak Penyisihan Kedua


__ADS_3

“Jadi, bagaimana menurut pendapat kalian soal kemampuan Luca?”


Di tengah kerumunan penonton di bench stadiun itu, Kirana menanyakan pendapat anggota lain yang hadir bersamanya perihal Luca.


Yang pertama kali berpendapat adalah Kania, sang tamer dari Tim White Star.


“Hmm. Aku memang sudah pernah mendengar gosip tentang Luca sebelumnya. Dia kan anak yang memutarbalikkan opini publik tentang kelas assassin yang katanya kelas rendahan? Jujur, aku ingin menyaksikannya secara langsung kemarin. Sayangnya, lawan Luca terlalu lemah untuk menunjukkan lebih potensi bertarungnya itu.”


“Hmm. Tapi aku terkesan padanya sejak dia bisa menggunakan aura. Tidak semua pemain vrmmorpg bisa menggunakan aura karena itu tidak hanya terkait soal skill bawaan game saja.”


“Aku juga sependapat dengan Kak Brian. Terus terang, sejak bertemu dengannya pertama kali di tempat itu, entah mengapa aku langsung suka dengan Luca. Aku jujur ingin satu tim dengannya. Akan tetapi…”


Brian menunjukkan reaksi positif, namun terlihat Malik menunjukkan keraguan. Namun, keraguannya itu ternyata, bukanlah karena Luca.


Setelah diam cukup lama, Malik dengan segan melanjutkan kalimatnya, “Justru aku merasa kitalah yang menipunya jika kita hendak mengajaknya masuk ke tim di saat tim kita terancam akan dibubarkan. Luca berhak bergabung dengan tim yang terbaik. Bagaimana pun, aku tak ingin menghancurkan karir masa depan miliknya dalam dunia vrmmorpg ini.”


“Ck. Semua ini karena Hermanto pencuri sialan itu.”


“Cukup, Bento. Hentikan! Percuma juga pengkianat keji itu dicerita kembali. Hanya kita yang akan bertambah sakit hati, sedangkan orangnya sendiri akan baik-baik saja dengan tim barunya yang sekarang.”


“Tapi Kania…”


“Sudah, sudah. Tidak usah memperdebatkan hal yang sudah berlalu. Kini saatnya kita untuk menatap masa depan. Terkait hal yang dikhawatirkan Malik, aku juga memikirkan hal yang sama. Alangkah baiknya sebelum merekrut Luca, kita memberitahukan kepadanya tentang keadaaan tim yang sebenarnya agar Luca tidak akan menyesali keputusannya.”


“Siap, Kap!”


“Siap, Kap!”


“Tapi jika Luca mengetahuinya, akankah dia masih mau bergabung dengan kita?”


Malik dan Bento menjawab optimis pernyataan kaptennya itu. Namun, Kania tampaknya masih ragu dengan hal tersebut yang diungkapkan dalam gumamannya.


Demikianlah pembicaraan tentang masa depan perekrutan Luca itu dilakukan di salah satu pojokan di bench stadiun pertandingan.


Kembali ke pertandingan. Kini memasuki babak penyisihan kedua. Tim SMA Pelita Harapan kali ini diwakili oleh Luca, Areka, Yurika, Egi, dan Sabrina.


@@@


Tanpa terasa, dua hari sudah berlalu. Kini tersisa 24 tim yang bertahan di turnamen amatir e-sport vrmmorpg tingkat SMA ini. Sesuai dugaan, 3 sekolah elit tentunya lolos tanpa masalah ke tahap ini, begitu pula dengan SMA Yayasan Eden, mantan sekolah Lia dan Kak Andra.


Kali ini, lawan kami adalah berasal dari tim pemenang babak penyisihan pertama kelompok 15, SMA Bintang Jatuh.

__ADS_1


Kata Senior Areka, mereka bukanlah sekolah yang cukup hebat, tetapi bukan juga sekolah yang lemah, makanya kami harus tetap berhati-hati.


Namun karena pertimbangan bahwa babak penyisihan ketiga akan segera dilaksanakan siang hari ini juga jika kami memenangkan babak penyisihan keduanya, terlebih kemungkinan lawan kami adalah SMA hebat seperti SMA Mulya Kasih, kami benar-benar harus waspada menghemat tenaga kami sebisa mungkin.


Yah, walau itu juga belum pasti bahwa SMA Mulya Kasih akan memenangkan babak penyisihan kedua, namun lawannya adalah SMA Kejar Target yang kata Senior Areka juga hanya merupakan sekolah peringkat tier rendah, jadi kemungkinan besar merekalah yang akan memenangkan pertandingan di babak penyisihan kedua tersebut.


Karena pertimbangan itulah, Pak Pelatih akhirnya memilih untuk mengistirahatkan sementara Kak Yudishar dan Kak Robby, menggantikan mereka dengan Kak Sabrina dan Egi, demi mempersiapkan stamina yang lebih besar di babak selanjutnya.


Yah, walau sekarang, itu bukanlah hal yang penting bagi kami karena kami harus memenangkan babak penyisihan kedua terlebih dahulu. Semuanya hanya akan menjadi lelucon jika kami sampai kalah di sini.


“Luca! Fighting!”


Begitu aku akan hendak memasuki bilik pemain yang kali ini terletak di tengah lapangan, kudengar teriakan Lia begitu menggema memberikan supportnya kepadaku. Tentu saja, aku bahagia dengan semua perhatiannya itu. Tetapi entah mengapa aku bisa merasakan aura menusuk yang sangat tajam datang dari berbagai arah kepadaku.


Yah, melupakan hawa membunuh yang tidak terlihat mengancam itu, aku pun bersama tim memasuki bilik kami masing-masing, begitu pula dengan tim lawan.


Dalam sekejap, kami sudah terhubung ke dunia virtual.


Mekanisme lomba kali ini lebih sederhana. Monolith defense. Ini sama seperti babak pertandingan final e-sport vrmmorpg profesional waktu Senior Asario memenangkan dengan mengejutkan pertandingan itu di kala timnya telah terdesak akan kalah hanya karena berhasil menghancurkan monolith lawan.


Namun, karena ini hanyalah pertandingan e-sport vrmmorpg tingkat amatir, menghancurkan monolith tidak serta-merta membuat tim lawan kalah.


Hampir bisa dipastikan bahwa tim akan menang hanya dengan menghancurkan monolith lawan walaupun anggota tim lawan masih utuh. Hanya saja di sini ada batas waktu selama 30 menit. Walaupun monolith lawan telah berhasil dihancurkan, selama masih ada waktu, tim yang monolithnya dihancurkan tersebut masih bisa segera membalas balik menghancurkan monolith lawannya sebelum batas waktunya habis.


Permainan akan segera dihentikan dengan kemenangan suatu tim ketika semua tim lawannya telah gugur di arena di mana monolith lawan telah berhasil pula dihancurkan.


Namun, jika batas waktu 30 menit berakhir, tetapi skor ternyata masih seri, maka pertandingan akan terus dilanjutkan hingga hanya ada satu tim yang bertahan di arena.


Mari kita sudahi pembacaan aturan pertandingan yang membosankan itu karena waktunya telah tiba untuk pertandingan dimulai.


Kak Sabrina dan Senior Areka berperan dalam menjaga monolith, sementara Kak Yurika ada di belakang mereka berdua untuk memberikan efek buff kepada seluruh anggota tim. Egi bertindak sebagai support penyerang jarak jauh, sedangkan aku diberikan tugas yang sangat penting, yakni sebagai penyerang utama.


Pastinya, banyak penonton yang belum mengenalku akan keheranan tentang bagaimana bisa seorang assassin rendahan diberikan tugas sebagai penyerang utama. Karena pada lazimnya, tugas sebagai penyerang utama itu diserahkan kepada seorang swordsman atau fighter.


Namun akan kubuktikan kepada mereka semua yang meragukan aku, bahwa aku bukanlah sembarang assassin.


Dengan secepat kilat, aku berhasil menyalip pertahanan tim lawan. Tampak seorang fighter yang cekatan hampir bisa mengikuti gerak cepatku, namun Egi di belakang tindak tinggal diam. Dia segera bisa meneliminasi pemain itu dengan serangan panahnya yang cepat dan akurat.


Ada dua pemain lawan, seorang seorang swordsman dan mage, tampak mendekat ke arah tim bertahan. Namun, segera serangan petir Kak Sabrina menyambut mereka sehingga mereka tak dapat bergerak lebih mendekat lagi.


Aku percaya pada timku. Kuyakin Kak Sabrina dan Senior Areka mampu menghadapi mereka.

__ADS_1


Aku hanya harus fokus pada dua lawan yang tersisa di hadapanku ini.


Sayangnya, aku sama sekali tak menduga bahwa monolith itu cukup keras sehingga serangan tebasanku hanya mampu menggoresnya sedikit.


Inilah kelemahan kelas assassin, impak serangan kami terlalu lemah. Kami bisa dengan mudah membelah di titik lemah dengan akumulasi strength yang optimal, tetapi beda ceritanya jika tiap bagian itu solid.


Tampaknya, aku harus menggunakan ultimate skill-ku untuk menghancurkan monolith ini.


Belum selesai aku berpikir, sang shielder lawan segera menyerangku. Dia begitu bodoh menyerang seorang assassin yang cekatan di kala agility kelasnya itu sangatlah rendah, bahkan sampai lupa cleric malang di belakangnya yang seharusnya di bawah penjagaannya.


Ini tentunya adalah kesempatan yang terbuka lebar untuk mendapatkan poin tambahan sekaligus mengurangi kekuatan lawan.


Akan tetapi, begitu aku berniat mengeliminasi sang cleric, Egi telah melakukannya lebih dulu dengan serangan panah cepat dan akuratnya.


Kini tersisa sang shielder. Entah mengapa, aku tiba-tiba mengingat ekspresi lucu Senior Areka dulu ketika aku menerapkan skill ini padanya. Sebenarnya aku tanpa maksud buruk sama sekali, tetapi tanpa sadar aku telah menggunakan sekali lagi skill tebasan pangkal pahaku pada sang shielder malang dari SMA Bintang Jatuh itu.


Dia yang panik segera jatuh terduduk dengan gemetaran persis halnya dengan ekspresi Senior Areka dulu. Dia yang dalam posisi lebih rendah daripadaku itu, akhirnya kuhabisi dengan mudah melalui skill tikaman penghancur tengkorak-ku.


Yang tersisa, hanyalah menghancurkan monolith. Kukeluarkanlah pedang suci astaroth-ku, lalu bagaikan seorang swordsman yang andal, aku menebas monolith itu hingga terbelah menjadi dua dengan belahan yang sangat halus. Tentu saja, kelasku tetaplah seorang assassin. Baju serba bisa-lah yang memberikanku kemampuan untuk mampu menggunakan senjata dari kelas lain.


Ketika aku melirik ke belakang. Kulihat dua musuh tersisa tersebut telah hangus oleh serangan petir Kak Sabrina yang digabungkan oleh air bahnya. Yang aku herankan, mengapa air bah seluar biasa itu, tidak mengalir sampai kemari.


Betul-betul kontrol Kak Sabrina akan sihir telah menjadi semakin baik.


Dengan demikian, kami memenangkan babak penyisihan kedua itu dengan skor 105 vs 0 dalam waktu 12 menit 5 detik.


@@@


Jauh di bangku penonton di sana, Malik dan Brian tertegun dalam ekspresi yang aneh.


“Kak Brian, Kakak melihat serangannya barusan?”


“Iya.”


“Bagaimana jika Kakak yang menghadapi serangan yang seperti itu?”


“Itu perkataan bodoh bahkan membayangkannya saja aku tak berani. Memikirkan saja serangan yang seperti itu ada, sudah membuatku merinding. Darimana Luca mempelajari jurus menakutkan seperti itu?”


Malik dan Brian telah sama-sama terperanjat oleh jurus mengerikan tebasan pangkal paha milik Luca. Suatu serangan tebasan yang diarahkan tepat di dekat area sensitif setiap pria. Walau itu tubuh avatar, sensasinya pastinya tetap takkan terlupakan membayangkan bagian pria yang itu sampai terpotong oleh serangan maut milik Luca tersebut.


Sungguh Heine telah mengajarkan jurus yang teramat sangat mengerikan kepada Luca yang tak sepatutnya muncul ke dunia ini.

__ADS_1


__ADS_2