The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
21. Sang Newbie Mendadak Dapat Uang Banyak


__ADS_3

“Luca, aku buat cemilan nih sebelum makan malam.  Cepat, segera keluar dari game kalau kamu mau kebagian.  Duh, apa sih senangnya hanya bisa main di desa pemula tanpa bisa ikut quest karena penalti sistem?”  Suara Nina dari dunia luar menyadarkan Luca akan waktu.  Dia pun bergegas keluar dari game.


Nina tidak tahu saja bahwa Luca sama sekali tidak pernah game over pada quest yang mereka lakukan bersama sehingga tidak ada penalti larangan main selama 24 jam yang diterima oleh Luca dari sistem.


Tanpa terasa dari senja, waktu mengalir begitu cepat hingga sudah tiba saatnya makan malam.  Kali itu, seluruh anggota keluarga berkumpul secara lengkap.  Rowin dan Judith hadir bersama mereka untuk makan malam.


“Oh iya, ada yang Kang Mas mau sampaikan buat Luca.”  Judith membuka pembicaraan kala itu.


“Apa itu Tante?”  Luca lantas bertanya-tanya dengan penasaran.


“Mulai besok, kamu akan bersekolah di sekolah yang sama dengan Nina sebagai siswa kelas 1.  Jadi Om harap, Luca dapat mempersiapkan diri dengan baik ya.”  Rowin pun menyampaikan berita tersebut diiringi senyum lembut yang tulus kepada Luca.


“Ya, itu benar.  Seragam yang Tante pesankan dari penjahit buat Luca juga sudah jadi tadi pagi.  Luca bisa mencobanya bersama Tante sebentar.”  Judith menambahkan.


“Ehem.  Ehem.  Kalau itu, biar aku saja Sayang yang melakukannya.”  Dengan tampang yang tiba-tiba serius, Rowin mengambil alih tugas itu secara paksa dari Judith.  Tampaknya, Rowin masih trauma dengan kepolosan Luca.


Judith hanya mengiyakan saja lalu menatap Nina.


“Pastikan kamu menjaga Luca dengan baik ya, Nina.  Karena mulai besok, kamu resmi menjadi kakak tingkatnya Luca.”  Pinta Judith pada Nina diiringi senyuman khasnya.


“Tenang saja, Bu.  Serahkan padaku.  Aku akan pastikan mengawasi Luca baik-baik di sekolah.”  Jawab Nina dengan jawaban yang sudah pasti.  Namun entah mengapa pada saat dia mengucapkan kalimat terakhirnya itu, ada aura yang sangat mengintimidasi keluar dari Nina yang mengarah kepada Luca.


“Tante Judith, Tante Judith, kalau boleh tahu, aku akan masuk kelas apa?  Dulu sewaktu Ibu masih ada, dia sangat menginginkanku masuk kelas administrasi.  Kata Ibu, aku paling jago soal hitung-hitungan.  Tetapi setelah aku pikir-pikir, sepertinya aku lebih cocok menjadi seorang pembunuh, jadi sebaiknya ikut kelas pembunuh saja.”


Seketika mendengar pernyataan Luca itu lewat mulut polosnya, kacamata Rowin menjadi pecah, sementara Judith hanya bisa mematung.


“Oi, cara bicaramu, Luca!  Kita ini bukan berada di film yang ada makhluk kuning bertentakelnya!”  Nina pun memecah suasana dengan teriakannya.


“Tidak, bukan begitu, Ayah, Ibu.  Maksud Luca itu ekskul game.  Luca sangat ingin mendaftar klub e-sport sekolah begitu masuk sekolah.  Bukan begitu, Luca?”  Nina dengan panik berupaya menjelaskan kepada ayah dan ibunya mewakili Luca.


“Oh, game kah?  Iya ya, bagi kalian, semuanya tidak lebih dari game.  Tapi kalau seandainya pekerjaan seperti itu juga ada di dunia nyata, rasanya boleh juga.”  Lanjut Luca berujar.


Serta-merta Nina panik dan langsung saja membekap mulut yang penuh sumber masalah itu, “Kamu diam saja sana!”  Lantas berteriak kesal kepada Luca.


Rowin dan Judith hanya terdiam saja saat menyaksikan pemandangan itu karena lebih dari siapapun, mereka berdua paham betul darimana Luca berasal.

__ADS_1


Makan malam pun berakhir lantas Nina mengunjungi kamar Luca.


“Duh, kamu ini.  Kadang Kakak tidak bisa menebak jalan pikiranmu.”  Ujar Nina berkedut seraya menatap Luca yang asyik menikmati keripik kentang di atas kasurnya.


“Kamu itu bukannya anak SD yang belum bisa membedakan mana game dan mana dunia nyata.  Yah, tapi kurang lebih aku mengerti perasaanmu, Luca.  Kakak juga sangat ingin memasuki klub e-sport sekolah.  Hanya saja, dua kali Kakak mengikuti ujian masuknya, Kakak tetap saja gagal.  Apa benar kata Senior Areka ya, bahwa Kakak ini sebenarnya tidaklah berbakat?”


Nina jadinya curhat kepada Luca, sementara Luca dengan serius menontonnya sambil makan keripik kentang.


“Tetapi tetap saja, aku ingin menggapai mimpi ini, menjadi pemain e-sport terkenal lantas melakukan streamer yang memiliki subscriber jutaan.”


Nina menatap ke arah langit-langit seraya mengangkat tangannya tinggi-tinggi seolah ingin menggapai langit.  Dia kemudian berbalik menatap ke arah Luca lalu lanjut berujar.


“Tapi Kakak bisa tahu, Luca.  Kamu berbeda dari Kakak.  Aku bisa melihat bakatmu sewaktu bermain game sebelumnya.  Jika kamu sangat ingin meraihnya, maka Kakak akan dukung kamu seratus persen.  Yah, walaupun kita semua game over kala itu karena bos monsternya terlalu over power, tetapi kita masih bisa meningkatkan level kita lain kali lantas kembali menantang quest itu.”


Nina masih belum tahu kalau hanya dirinya dan Raia saja yang game over kala itu.  Sementara Luca sendiri berhasil menang dengan gemilang.


“Namun, tentu saja kita tidak bisa main game malam ini karena penalti sistem di samping kamu juga harus mempersiapkan banyak hal untuk sekolah perdanamu besok.  Oh iya, ada juga masalah kamu dengan Senior Areka ya yang belum teratasi.  Sesuai janji Kakak, Kakak yang akan mengurusnya sehingga kamu tidak perlu terlibat kesulitan.”


Pada pernyataan terakhir Nina itu, Luca merespon, “Kak Nina, kalau itu tidak perlu.  Aku akan melawan Senior Areka sesuai janji pada pertarungan yang jujur dan adil.”


“Hah.”  Nina menghela nafasnya pada pernyataan Luca tersebut.


“Tok tok.”


Belum selesai Nina berucap, suara gedoran pintu terdengar.  Nina lantas membukakan pintu dan ternyata yang datang adalah ayah Nina, Rowin.


“Ah, Ayah sudah datang.”


“Iya.  Sesuai janji, Ayah akan membantu Luca mencoba seragam barunya.”


Nina langsung berbalik ke arah Luca seraya melambaikan tangannya, “Kalau begitu, Luca, Kak Nina pergi dulu ya.  Jangan lupa istirahat dengan baik untuk sekolah perdanamu besok.”


Nina kemudian meninggalkan kamar itu, menyisakan Luca dan Rowin di dalam kamar.  Momen Luca untuk memberitahu kebenaran kepada Nina bahwa dirinya tidaklah game over kala itu lagi-lagi terlewatkan.


Pukul 10 lewat, masih ada sejam lebih sebelum tibanya waktu larangan bermain game bagi anak di bawah umur.  Luca memanfaatkan kesempatan itu untuk kembali login ke dalam game.  Sesampainya di desa pemula, Luca serta-merta membuka jendela statusnya.

__ADS_1


Nama: LUCA (Lv 6)


Race: Manusia


Umur: 15 tahun


Jenis kelamin: Laki-laki


Pekerjaan: Newbie [silakan klik di sini untuk mengganti job ke apprentice]


Stat:


Strength:  7


Vitality: 2


Agility: 8


Dexterity: 3


Intelligence: 10


Luck: 600


Poin stat: 35


Skill: tebasan (Lv 10 max), tikaman (Lv 10 max), berjalan vertikal (Lv 4 /10), tahan nafas (Lv 5/10), gerak zig-zag (Lv 10 max), langkah bayangan (Lv 6/10), sembunyi (Lv 5/10), engineering (Lv 2/10), tikaman penghancur tengkorak (Lv 4/10), klik di sini untuk melihat detail skill yang masih non-aktif


Poin Skill: 290


Gelar: Anak baik hati, anak penyayang


Telepon, Kontak, Pesan, Item, Koin 200347 Rupiah


^^^1/2^^^

__ADS_1


“Apa?  Mengapa koinku bisa sebanyak ini?”


Luca seketika terfokus kaget dengan peningkatan jumlah koinnya secara tiba-tiba yang jika ditransfer ke dalam mata uang asli adalah senilai lebih dari seratus juta rupiah.


__ADS_2