
Pagi itu, Luca hendak berangkat ke sekolah seperti biasanya.
Luca telah sekitar 1 bulan lebih tinggal di dunia nyata dan telah paham tentang seluk-beluk jalan sehingga untuk berangkat ke sekolah, kini dia tidak perlu lagi diantar oleh Nina.
Akan tetapi, begitu pemuda lugu itu berangkat ke sekolah sendirian di pagi yang cerah itu, tepat di suatu jalan yang sepi, segerombolan preman mencegat langkahnya.
“Kalian siapa?” Luca pun segera waspada ketika para preman menunjukkan gelagat tidak baik dengan nyengar-nyengir sambil memandangi Luca dengan pandangan yang tidak sopan.
“Bos, benar anak ini kan?”
“Benar. Habisi dia.”
Dialah Toriq, sang bos preman yang akhirnya menemukan fakta bahwa penyebab kegagalannya dalam ujian kualifikasi klub e-sport vrmmorpg di sekolahnya semuanya karena review Luca yang buruk padanya.
Toriq pun menjadi dendam pada Luca dan hendak membalaskan rasa sakit hatinya itu.
“Heh.” Dengan tampang yang seram, para preman pun mengintimidasi Luca.
Sayangnya, mereka tidak tahu saja bahwa tubuh asli sang pemuda mungil di hadapannya itu bahkan masih jauh lebih kuat dari tubuh avatarnya di game. Luca telah terbiasa bertarung dan mutlak preman kelas teri seperti mereka bukanlah apa-apanya baginya.
Dalam sekejap, Luca membantai para preman dengan alasan pertahanan diri.
Lalu Luca pun melangkah ke depan Toriq sebagai bos para preman itu.
Toriq gemetaran. Tetapi saking gemetarannya, kaki-kakinya tidak lagi dapat digerakkannya untuk melarikan diri. Lalu dalam satu bogeman mentah, Toriq pun mencium aspal dan hilang kesadarannya seketika.
Dengan perasaan santai, Luca meninggalkan lokasi kejadian setelah memberi pelajaran yang setimpal kepada para preman.
Di luar dugaan, indera assassin Luca yang tajam sama sekali tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedari tadi telah merekam semua jejak kejadian di tempat itu. Rupanya sang perekam tidak lain adalah Ellen sang cleric baru di timnya.
Tetapi ada keanehan di balik ekspresi wanita itu. Wanita yang biasanya selalu terlihat ketakutan tersebut sama sekali tidak terlihat gemetaran sewaktu merekam kejadian penuh kekerasan itu.
***
Terlepas dari gangguan para preman, hari-hari sekolah Luca di hari itu tetap berjalan adem seperti biasanya.
Lalu tibalah jam istirahat.
__ADS_1
Sesuai dengan instruksi di papan pengumuman sebelumnya, Chika dan Diana pun menemui Luca.
“Oh, iya. Pak Pelatih menugaskanku untuk menjadi mentor kalian selama sebulan ini. Ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dari permainan kalian, tetapi secara potensi, kalian tidak salah lagi adalah player yang berbakat.”
Luca tampak dewasa dan bijak mengayomi para mentee-nya itu. Terlebih, face pemuda itu sangatlah enak untuk dipandang bagi setiap kaum hawa.
Seketika image Luca yang menyeramkan hilang begitu saja di mata Chika dan Diana. Mereka pun malah tanpa sadar senyum-senyum sendiri di kala sosok yang tampan itu memuji diri mereka sebagai player yang berbakat.
Luca pun melanjutkan instruksinya.
“Untuk Chika, sekolah akan membantu membiayaimu untuk menyediakan ramuan bahan dasar, di samping aku juga akan ikut mensupport-mu di dalam game untuk mengumpulkan herbal langka.”
Mendengar hal itu, ekspresi Chika seketika berubah semringah. Betapa Chika sangat senang dengan angin segar yang tiba-tiba saja dilontarkan oleh sosok pemuda itu.
“Lalu untuk player Diana, sebelum itu, aku ingin mendengar alasanmu mengapa kamu memilih kelas mage di game.”
Diana menjawab,
“Tidak ada alasan khusus. Aku hanya waktu itu mencari di internet mana kelas yang populer di kalangan player perempuan. Sebenarnya aku juga sempat beberapa kali berganti kelas. Pertama, aku memainkan kelas cleric, tetapi kelas itu tampaknya tidak cocok bagiku karena membatasi pergerakan dan kebanyakan hanya berada di belakang sebagai support.”
“Kedua, aku juga sempat memilih kelas tamer. Hanya saja, itu juga tidak cocok buatku karena rasanya ribet untuk mengoordinasikan gerakan dengan para pet yang sukar untuk dikendalikan, jadi aku segera menyerah. Hanya kelas mage ini sajalah sebagai kelas ketiga yang kucoba yang tampaknya cocok buatku.”
“Kalau itu… rasanya tidak terlalu masalah soalnya levelku di game juga belum terlalu tinggi.”
Luca senang dengan komentar positif Diana itu.
“Tetapi kalau boleh aku tahu, kelas apa itu?” Diana pun bertanya dengan penasaran.
“Scout.”
“Scout? Kelas yang paling tidak populer itu, bahkan lebih tidak populer dibandingkan kelas assassin yang ampas?”
“Hei, Diana!” Chika segera menyadarkan Diana dari kekhilafan ucapannya.
Barulah di situ Diana teringat bahwa sosok yang sedang duduk di hadapan mereka saat ini tidak lain adalah kelas assassin yang dia katakan sebagai ampas itu.
Diana seketika berkeringat dingin. Dia pun segera memfungsikan otaknya untuk mencari jalan keluar atas masalah yang dibuat sendiri oleh mulutnya yang selalu blak-blakan itu.
__ADS_1
Namun begitu Diana menatap wajah Luca, betapa leganya dia setelah menyadari bahwa pemuda tampan di hadapannya itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda tersinggung atas ucapannya yang kasar itu.
“Baik scout maupun assassin banyak dikatakan ampas oleh para player perihal hanya sedikit player saja yang cocok dengan kedua kelas itu. Tetapi begitu dimainkan oleh pemain yang cocok, kelas apapun itu pasti akan tampak hebat. Bukankah kalian sudah melihat permainanku sebagai assassin sebelumnya?”
Chika dan Diana secara bersamaan mengangguk dalam diam penuh persetujuan menanggapi ucapan Luca itu.
“Begitu pula kamu, Diana. Kamu bisa menjadi pemain yang luar biasa dengan kelas scout dan aku berjanji akan menuntunmu ke arah yang benar sebagai seorang mentor untuk itu. Maukah kamu mengganti kelasmu dan mengikuti arahanku?”
Rupanya sangat bertolak belakang dengan ejekan terhadap kelas scout yang tadi diucapkannya, Diana justru dengan cepat menjawab,
“Aku mau. Aku ingin menjadi player yang andal di bawah arahanmu sebagai seorang scout. Mohon arahannya, Pelatih.” Diana pun berujar dalam penuh tekad.
Seketika semuanya ditentukan, mereka pun saling berteman satu sama lain di dalam game melalui smartphone mereka yang terhubung ke dalam aplikasi game.
“Kalau begitu, aku tunggu di desa pemula pukul 8 sebentar malam ya.”
“Baik, Pelatih.”
“Baik, Pelatih.”
Kedua sahabat akrab itu pun secara bersamaan menjawab Luca dengan senyuman manis diiringi tekad membara di hati mereka demi memulai langkah ke jalan kesuksesan sebagai seorang gamer.
***
Usai sekolah, seharusnya ini adalah jadwal latihan Luca untuk persiapan kompetisi e-sport vrmmorpg tingkat SMA yang akan diadakan sekitar sebulan lagi. Akan tetapi, lagi-lagi Luca tidak menerima satupun request latih tanding dari pemain berangking lebih bawah. Alhasil, sekali lagi tiada yang dapat diperbuatnya di dalam klub hari itu.
Luca pun kembali meminta izin kepada pelatih untuk pulang cepat. Luca pun diberikan izin. Lalu di hari itu, akhirnya Luca kembali berkunjung ke kediaman sang Putri Silvia.
“Dalam meditasi, kita dituntut untuk peka terhadap sekitar. Rasakan aliran mana di sekitar kita. Buat itu menyatu ke dalam aliran darah kita dan bukannya menolaknya.”
“Lantas Kak Silvia, apakah cahaya putih yang kusaksikan di sekelilingku itu ketika bermeditasi yang disebut mana?”
“Luar biasa, Luca. Hanya dalam waktu dua hari, kamu sudah masuk ke level 2. Itu benar. Itulah yang disebut dengan mana yang dapat seseorang lihat ketika telah berada di level 2 penguasaan spiritual.”
“Jadi begitu. Jadi ini benar yang disebut mana.” Ujar Luca dengan takjub sembari melanjutkan pelatihannya dengan menarik mana-mana itu dari luar untuk menyerap masuk ke setiap pembuluh nadinya.
“Oh iya, Luca. Apakah kamu sudah mengunjungi makam Sultan Lacoza di game?” Putri Silvia tiba-tiba bertanya kepada Luca.
__ADS_1
“Itu belum, Kak. Aku hanya belum menemukan party yang tepat saja.”
“Lantas bagaimana jika aku bergabung ke dalam party-mu itu?” Putri Silvia pun kembali mengucapkan sesuatu yang tak terduga.