The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
225. Keunggulan


__ADS_3

“Trang, trang, trang.”


Suara adu perisai terdengar lebih intens. Areka menyerang dengan lebih gesit dibandingkan yang sebelumnya.


Akibatnya, Hermanto pun menjadi terdesak walau dengan support cleric di belakangnya.


“Apa ini? Jangan-jangan kamu marah karena apa yang tadi kukatakan tepat sasaran?”


Pandangan mata yang kosong dari Areka itu hanya menatap Hermanto tanpa tampak terpengaruh lagi oleh provokasi kata-katanya.


“Cih, sialan! Dasar sampah! Anak baru kemarin sore berpikir sudah sederajat denganku dan bisa menggantikan posisiku rupanya! Alika, bersiap untuk kombinasi serangan seperti barusan!”


“Baik, Kak.”


Hermanto berteriak lantas Alika menjawab dengan menyanggupinya.


Sejenak kemudian, kilauan cahaya putih berkumpul kembali di perisai Hermanto dan tampak bersiap akan ditembakkan.


Melihat itu, Areka pun waspada.


“Heh.” Melihat Areka yang waspada mengira itu akan menyerang, Hermanto pun tertawa licik.


“Shut.”


Kumpulan cahaya itu pun ditembakkan. Sayangnya, di luar dugaan Areka, itu tidak ditembakkan ke arahnya, melainkan pada Egi di belakangnya.


“Kamu dasar makhluk bejat sialan!”


Areka akhirnya kembali bersuara. Hanya saja, dalam suaranya tergambarkan ekspresi kekesalan yang tak terbayangkan. Areka maju demi melindungi Egi.


‘Skill: wahai makhluk jahat nan hina, tiada yang akan bisa melukai orang-orangku di bawah perlindungi barrier kokoh milik Lutfi ini’


Sekumpulan barier cahaya seketika terbentuk dari perpanjangan perisai milik Areka. Barier cahaya itu pun melindungi baik Areka maupun Egi di belakangnya dari serangan kilatan cahaya Hermanto.


“Cih, sial!”


Setelah serangannya itu gagal, Hermanto segera menarik mundur dirinya sendiri ke belakang.


“Sialan! Anak kemarin sore saja berani mempermainkanku! Perisai jelekmu itu tidak ada apa-aapnnya jika dibandingkan dengan milikku! Alika! Tingkatkan buff pertahananku!”


“Baik, Kak.”


Alika meningkatkan intensitas pemberian buff-nya kepada Hermanto. Bersamaan dengan itu, Areka kembali menyerangnya.


“Trang.”


Terdengar tumbukan antarperisai yang sangat nyaring.


Gigi-gigi Areka bergetaran dengan ekspresi mata yang mencekam. Hal itu lantas membuat Hermanto bergidik.


“Sialan! Anak baru sialan! Akan kucincang-cincang dan kucongkel matamu yang kurang ajar itu!”

__ADS_1


Sayangnya, sekali lagi provokasi Hermanto itu tak ditanggapi oleh Areka. Areka hanya terus serius menyerangnya dengan hawa membunuh yang sungguh-sungguh.


“Shuhuhuhuhut.”


Secara tiba-tiba saja, sebuah panah melesat lantas mengenai Alika yang ada di belakang Hermanto dengan tepat sasaran.


Di luar dugaan, justru pemain Clock Tower-lah yang duluan tereliminasi dari arena.


“Alika? Mengapa?”


Hermanto kaget perihal serangan yang tiba-tiba saja muncul itu. Dia pun menelisik ka arah sumber datangnya serangan. Rupanya, itu adalah serangan anak panah dari Egi yang padahal barusan hampir saja game over.


“Archer sialan!”


“Heh, setelah omong besarmu, rupanya kalian tidak ada apa-apanya. Baru saja terkena satu anak panahku, cleric itu sudah kalah dengan telak.”


“Kamu sialan! Bagaimana bisa anak panah itu…”


“Rupanya kamu belum menyelidikinya ya, rupanya. Aku tak percaya tim papan atas seperti kalian melewatkan analisa musuh sebelum terjun ke lapangan. Apakah kalian bermaksud meremehkan kami?”


“Yah, tidak apa-apa juga sih, justru aku harus berterima kasih kepada kalian karena telah diremehkan. Berkatnya, aku berhasil menembakkan panah griffin-ku dengan tanpa ada masalah. Akan gawat jika sampai serangan yang memakan banyak mana itu hanya akan sia-sia begitu ditangkis olehmu. Syukurlah kalian begitu bodoh.”


“Sialan! Tapi… tapi bukankah tanganmu sudah terluka parah jadi mana mungkin bisa menembak!”


“Apaan? Skill panah griffin-ku dapat mengunci sasaran di mana pun lawan berada selama aku bisa menjentikkan anak panah lewat busurku. Lupakan itu. Senior Areka! Jangan mau dihasut oleh mulut kotor itu, Senior. Aku dan Luca-lah yang paling tahu bagaimana hangatnya perlindungan perisai milik Senior, jadi jangan percaya sedikit pun kata-kata yang diucapkan oleh pengkhianat itu!”


Mendengar teriakan Egi itu, sudut mulut Areka pun berkedut. Dia masih tampak sedih. Akan tetapi, kata-kata penghiburan dari Egi itu mampu sedikit melegakan hatinya.


Lalu Areka pun tersenyum.


“Kamu? Ada apa dengan senyum menjijikkan itu?!”


Senyum Areka yang unik yang sebenarnya tidak dimaksudkan untuk memprovokasi Hermanto, telah membuatnya melengahkan pertahanannya setelah melihat salah satu pemandangan paling traumatis di dalam hidupnya itu, senyum Areka.


Hermanto yang belum terbiasa melihat pemandangan seperti itu seumur hidupnya layaknya Egi dan Luca, seketika mematung tak berdaya lantaran menahan perasaan mual yang teramat sangat.


Areka yang tanpa menyadari merupakan penyebab ekspresi jijik Hermanto itu, lantas menyerangnya tanpa ampun yang telah tanpa daya oleh debuff senyum Areka yang unik tersebut. Hermanto pun ikut tereliminasi dari arena menyusul sang cleric di bawah perisai kokoh Areka.


***


Sementara itu di tempat lain, Malik bertemu dengan salah seorang swordsman lawan. Dialah pimpinan tim Clock Tower, player Alvian.


“Kamu benar-benar di sini rupanya, Malik.”


“Hmm? Kamu? Kalau tidak salah, kamu adalah swordsman dari Clock Tower itu. Siapa lagi ya nama kamu… hmm… Irfan?”


“Alvian! Memangnya sudah berapa kali kita bertemu, tetapi kamu masih juga lupa namaku?! Cih, sungguh mengesalkan! Tetapi terserah. Tugasku di sini kali ini hanya untuk menghambatmu sesuai permintaan duo swordsman itu.”


“Menghambatku? Mengapa?”


“Heh? Kamu belum tahu ya, rupanya kalau duo swordsman itu punya skill yang dapat mencium bau dari mangsanya. Berkat itu pulalah aku mampu menemukanmu di sini selama mereka menyingkirkan pemain pedang yang lebih lemah duluan.”

__ADS_1


Pandangan mata Malik hanya terlihat kosong mendengar semua ucapan Alvian itu seakan mengatakan ‘hal konyol apa yang diucapkan oleh orang ini.’


“Cih! Terserahlah. Pokoknya tugasku di sini hanya menghambatmu saja sampai mereka datang kemari memberikan bantuan setelah mengalahkan pemain pedang yang lebih lemah itu.”


“Tunggu? Memangnya ada swordsman lain di tim-ku yang lebih lemah dariku?”


“Ah, maksudku si assassin cebol itu. Anehnya dia juga menggunakan pedang.”


“Hahahahahahaha.” Mendengar ucapan Alvian itu, Malik pun tak dapat menahan perasaan lucu di benaknya lantas tertawa terbahak-bahak.


“Aku kira siapa yang kamu panggil lemah. Rupanya itu Luca ya. Aku juga tak menyangka kalau Luca akan menggunakan pedang di pertandingan ini meski aku sudah melihatnya sebelumnya. Tetapi, menghambatku? Apa kamu pikir kamu bisa?”


“Heh? Ternyata benar kata kedua swordsman itu. Kamu rupanya tipe yang terlalu mengkhawatirkan keadaan rekan-rekan setimmu. Itu benar, Malik. Paniklah. Kamu hanya bisa segera mengalahkanku untuk menyelamatkan bocah cebol itu dari tangan duo swordsman berbahaya itu.”


“Menyelamatkan? Mengapa?”


“Cih, bukannya tadi kamu mengkhawatirkannya, sialan! Jangan main-main denganku!”


“Alvian, tampaknya kamu keliru akan satu hal.”


“Apa?”


“Luca itu player yang hebat sampai-sampai aku sendiri masih tidak yakin seratus persen bisa mengalahkannya jika bertarung satu lawan satu dengannya."


“Hah?”


“Dan satu lagi kesalahanmu, kamu sama sekali tidak memiliki kualifkasi untuk menghambatku.”


“Kamu meremehkanku sial…”


Belum sempat Alvian menyelesaikan kalimatnya, Malik secara tiba-tiba saja sudah ada di depan matanya dengan pergerakan yang sangat cepat, melebihi di mana syaraf motorik milik Alvian dapat menanggapinya.


Secara tipis, Alvian dapat menghindari luka fatal. Walau demikian, irisan pedang Malik cukup dalam mengenai dadanya.


‘Sialan! Orang ini benar-benar hebat. Bagaimana aku bisa bertahan mengulur waktu menghadapi orang yang seperti ini? Apa?’


Sayang beribu sayang, belum sempat Alvian mengatur kembali pemikirannya, dia secara tiba-tiba saja merasakan hawa dingin menjulur di seluruh badannya.


Dia telah tamat. Skill es milik Malik telah memerangkapnya begitu dia baru saja mengatur pikirannya.


“Aaaaaakkkhhh!”


Skill itu pun dengan cepat mengoyak-ngoyak tubuhnya hingaa berkeping-keping memancarkan warna merah darahnya yang cemerlang dengan begitu indah ke langit.


***


Kemudian, di tempat lain lagi, Luca yang sedang berjalan secara tiba-tiba saja dicegat oleh seorang musuh. Tidak, mereka ada dua orang. Merekalah sang duo swordsman pengkhianat Klub Lucifer itu yang sama halnya dengan si pengkhianat Hermanto, menjual informasi rahasia milik klub awal mereka kepada Klub Clock Tower sebagai syarat masuk klub itu, Hari dan Danu.


“Abang, jadi ini korban kita kali ini ya.”


“Sama sekali tidak menantang. Kelihatannya lemah sekali. Bikin hilang semangat saja. Ayo selesaikan saja ini dengan cepat.”

__ADS_1


Tampak mereka berdua sangat memandang rendah Luca.


__ADS_2