The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
72. Misi Pembunuhan Pemberontak Kekaisaran Lalania (2)


__ADS_3

Selama jam-jam berikutnya, Luca bersama Aura mengawasi markas rahasia Other, tetapi sang back-up tidak pula menunjukkan tanda-tanda kemunculannya. Penyelidikan Luca pun berakhir hari itu dengan tanpa memperoleh apapun.


Malam berikutnya waktu bumi, Luca bersama Aura kembali melakukan pengintaiannya. Namun kali ini, tanpa perlu menunggu lama, Luca dapat segera bertemu dengan kaki tangan sang back-up tersebut.


“Kamu siap, Aura?” Tanya Luca pada pet-nya itu.


“Tentu saja, Master.” Jawab Aura dengan percaya diri.


Tidak butuh waktu lama bagi Luca untuk menangkap sang kaki tangan setelah keluar dari markas rahasia musuh, tetapi seperti biasa, warga tak berdosa yang dijadikan kaki tangan sang back-up melalui sihir cuci otak kembali memperoleh kesadaran mereka dengan semua jejak sang back-up terhapus oleh dark mage yang membantunya.


Tetapi kali ini, ada Aura yang telah naik level sampai level 25 yang bisa mengatasi masalah itu. Dengan mudah, Aura kembali memulihkan jejak-jejak sihir sang dark mage kemudian mereka segera mentracking jejak itu.


Luca dan Aura pada akhirnya berhasil menemukan identitas sang back-up, tetapi sesuai dugaan Luca, sang back-up bukanlah orang sembarangan. Dia adalah sang duke yang berkuasa di ibukota.


“Bagaimana ini, Master? Haruskah kita membunuh penjahat itu?”


“Tidak. Kita bisa terkena hukum kekaisaran jika salah menangani bangsawan. Lagipula dia bukan salah satu dari lima target pembunuhan kita dan kekaisaran hanya meminta kita menyelidiki siapa sponsor organisasi pemberontak itu. Mari untuk saat ini, kita laporkan hasilnya pada kekaisaran saja.”


Luca pun tampak menulis sesuatu di selembar kertas kemudian bersiul kecil dan tidak lama kemudian, seekor burung hud-hud datang menghinggapi bahu Luca. Luca pun menyelipkan kertas yang sedari tadi ditulisinya sesuatu ke kaki sang burung lantas menyuruh burung itu pergi.


“Mari kita segera selesaikan misi kita saja.” Ujar Luca seraya melompat turun dari atap lalu merubah bentuk armor serba bisa-nya menjadi pakaian yang mirip dengan pakaian yang sering digunakan oleh rakyat jelata di ibukota kekaisaran itu.


Dia juga segera menyamarkan wajahnya menjadi wajah orang lain yang masih terlihat mirip dengan wajah aslinya, namun tampak berbeda dengan efek armor-nya itu.


“Tok tok.” Luca pun mengetuk pintu markas rahasia sang pemberontak yang disamarkan sebagai bar.


Sang pelayan penjaga pintu dengan segera membuka pintu bar lantas mengecek identitas Luca. Dengan armor serba bisa-nya pula, Luca membentuk ID menyesuaikan dengan bentuk kartu identitas yang dimiliki oleh penduduk kekaisaran.


\=\=\=


Nama: Ulac


Umur: 15 tahun

__ADS_1


Pekerjaan: pedagang


\=\=\=


“Baiklah, kamu boleh masuk.” Setelah pemeriksaan identitas sejenak, sang penjaga pintu pun tanpa curiga mempersilakan Luca untuk masuk.


Luca pun mengamati sekeliling.


Ada satu penjaga toko dan 4 orang tamu. Ditambah dengan sang penjaga pintu, total yang ada di dalam bangunan sebanyak 6 orang. Tampak tidak ada reaksi stealth sehingga bisa diasumsikan bahwa tidak ada seorang pun yang sedang bersembunyi di balik layar.


Di antara keenam orang yang berada di dalam ruangan itu, 3 orang merupakan target pembunuhan Luca, yakni Tasya, sang penjaga toko, serta dua pengunjung yang berada di meja sebelah kanan, Garuda dan Daar. Sang penjaga pintu dan dua orang pengunjung di meja sebelah kiri tampaknya hanya orang biasa yang tidak mengetahui identitas sebenarnya dari tempat ini.


Luca pun maju dengan wajah polosnya sembari tersenyum ramah kepada Mbak penjaga toko, berpura-pura memesan minuman.


“Satu gelas Bourbon.”


“Segera dat…” Bahkan sebelum sang penjaga toko menjawab dengan lengkap, Luca dalam senyap telah menggerek leher sang penjaga toko yang menyebabkannya meninggal dalam waktu singkat.


“Kamu!” Salah seorang pengunjung yang juga merupakan target Luca, Garuda, berteriak dengan marah lantas segera menuju ke arah Luca, sementara itu, dua pengunjung lainnya yang hanya merupakan warga sipil segera melarikan diri.


Luca dengan sigap menggunakan skill tebasan pangkal paha-nya pada sang penjahat yang membuat sang penjahat bergidik kaget ketika dagger Luca itu hampir saja mengenai area yang menjadi simbol kejantanannya. Dia pun tersungkur jatuh ke belakang.


Luca tidak memberikannya kesempatan untuk bangkit, lantas segera mengakhiri nyawanya dengan skill tikaman penghancur tengkorak-nya.


Sang scout, Daar, tampak ketakutan melihat aksi sang assassin, Luca, lantas segera ingin melarikan diri dengan mengaktifkan skill sembunyi-nya. Dia dengan bodohnya melakukannya tanpa tahu bahwa Luca adalah seorang assassin yang lebih mahir dalam skill stealth. Luca pun menebas leher sang scout yang masih dalam mode stealth-nya itu dan dia pun meregang nyawa.


Di ruangan itu, masih tersisa sang penjaga pintu. Dia rupanya tak memanfaatkan kekacauan itu untuk segera ikut melarikan diri. Terlihat kakinya gemetaran dan air matanya menetes karena ketakutan. Luca mendekatinya dan terlihat sang penjaga pintu hanya dapat pasrah menerima nasibnya karena dia tampak tak sanggup lagi untuk menggerakkan kakinya sendiri.


Namun, ketika itu dia berujar, “Kamu, kenapa kamu membunuh Tasya? Dia orang yang baik. Kamu, kamu pasti akan segera menerima karmanya.” Sang penjaga pintu itu berujar disertai dengan linangan air mata.


Di situlah Luca baru sadar, rupanya sang penjaga pintu tidak kabur bukan karena terlalu ketakutan sampai-sampai tidak punya kuasa menggerakkan kakinya sendiri, melainkan karena dilanda kesedihan yang mendalam perkara kematian wanita yang baru saja dibunuh oleh Luca itu. Tampaknya sang penjaga pintu menaruh rasa padanya tanpa mengetahui identitas sebenarnya dari wanita jahat itu.


Luca hanya bisa bersimpati padanya. Luca pun hanya melayangkan gagang dagger-nya pada kepala sang penjaga pintu untuk membuatnya pingsan. Dia tak perlu membunuhnya sebab Luca saat ini juga tidak menggunakan wajah aslinya, jadi tidak ada alasan untuk membunuhnya demi menutupi identitasnya.

__ADS_1


Yah, walaupun identitas Luca ketahuan sekalipun, dia pastinya takkan mungkin membunuh seseorang yang tidak bersalah hanya demi menutupi identitas dirinya karena Luca adalah anak yang berhati baik dan lembut, sangat berbeda dengan tuntutan pekerjaannya sebagai seorang assassin.


Luca takkan mungkin pernah melakukan pembunuhan kejam yang tak berarti.


Di dalam toko yang telah penuh bau darah itu, Luca menyembunyikan dirinya di balik pintu menunggu kedua targetnya yang tersisa. Luca baru saja menerima laporan dari Aura yang berada di luar bahwa kedua target sisanya sedang berjalan masuk menuju bar.


Dan tak lama kemudian, pintu dibuka oleh Louis, salah satu dari kelima target Luca.


Tanpa memberikan kesempatan untuk targetnya menyadari keberadaannya, “Shak!” Luca segera menikam dan menghancurkan tengkoraknya dan sang musuh pun menerima kematian seketika.


Akan tetapi, Rahak, salah satu target lain yang tersisa yang sekaigus adalah pemimpin organisasi Other itu segera menyadari keanehan di dalam ruangan setelah mencium bau darah yang menyengat. Dia pun segera mundur menjauh dari pintu.


Oleh karenanya, Luca pun gagal memberikan serangan ultimate dadakan-nya. Kini Luca terpaksa harus menghadapi sang target yang merupakan swordsmen berlevel 50 itu dalam pertarungan frontal.


Berdasarkan ajaran pamannya, adalah keputusan yang tidak bijak bagi seorang assassin melawan seorang swordsmen yang berlevel sama dengannya apatah lagi level sang swordsmen itu hampir tiga kali lipatnya.


Hal itu karena skill assassin dispesialisasikan untuk memberikan serangan kejutan, sementara skill swordsmen memang ditujukan untuk pertarungan frontal. Dalam hal adu kekuatan, seorang assassin akan kalah jauh dengan seorang swordsmen pada level yang sama apatah lagi dengan level yang lebih besar.


Akan tetapi kini, Luca tak perlu khawatir lagi dengan semua itu sebab di sisinya ada Aura, gold dragon yang berspesialisasi dalam penyembuhan dan pemberian buff. Dengan adanya buff strengthening dari Aura, kekuatan Luca dapat meningkat hingga empat sampai lima kali lipatnya. Dalam hal adu kekuatan, Luca-lah yang justru ada di atas awan.


Dengan kepercayaan diri itu, Luca menerjang ke arah sang target, Rahak. Adu antara pedang dan dagger pun terdengar untuk sementara. Namun itu tidak berlangsung lama. Segera terdengar suara tusukan tajam lalu terlihatlah Rahak yang bersimbah darah lantas tewas.


Luca menyelesaikan misi assasinasi-nya dengan mudah. Luca pun segera meninggalkan tempat itu sembari kembali memberikan laporannya melalui burung hud-hud kekaisaran bahwa misinya telah selesai dan meminta agar pihak kekaisaran segera membersihkan lokasi kejadian.


Luca pikir segalanya telah usai. Diapun segera melepaskan penyamarannya dan berniat akan segera log out dari dalam game, tetapi tiba-tiba,


“Apakah kamu orang yang telah membunuh Rahak?”


Suatu sosok dengan pakaian hitam ala dukun necromancer yang menyeramkan lengkap dengan aksesori kalung dengan tulang-tulang sebagai permatanya dan rambut emasnya yang bercampur dengan sedikit warna hitam yang berkibas cerah, satu-satunya yang tidak sesuai dengan penampakannya yang menyeramkan itu, lantas menghampiri Luca.


Sosok itu telah berdiri di samping Luca hanya dalam jarak 50 cm tanpa insting tajam Luca berhasil merasakannya sampai sosok itu sendiri yang menunjukkan keberadaannya. Setelah Krimson, Luca tak pernah menyangka akan bertemu secepat ini dengan sosok lain yang tidak bisa dideteksi oleh instingnya yang tajam itu.


Luca pun segera memasang kuda-kuda waspada terhadap sosok mencurigakan itu, diikuti di belakangnya oleh Aura.

__ADS_1


__ADS_2