
[POV Nina]
“Haaaaaah!” Dengan helaan nafas panjang, aku membaringkan diriku di kasur.
‘Dasar bodoh!’ Umpatku pada diriku sendiri.
Bisa-bisanya aku mengatakan perkataan yang jahat begitu kepada Luca.
Memangnya aku siapanya Luca sampai bisa marah seperti itu kepadanya? Adik kandung pun bukan. Aku hanyalah sebatas kerabat jauh baginya.
Mengapa bisa aku marah kepadanya begitu hanya karena dia tidak mengatakan padaku lebih awal bahwa dia akan mendaftar klub e-sport vrmmorpg profesional? Tidak sepatutnya aku mencampuri terlalu dalam urusannya.
Bagaimana pun, dia adalah seorang laki-laki. Seimut apapun dia, wajar saja jika dia akan tersinggung kalau aku mencampuri keputusannya. Tidak sepatutnya aku memarahinya hanya karena dia baru bilang setelah melakukan kontrak dengan klub e-sport vrmmorpg profesional itu.
Lagipula walaupun klub itu hampir jatuh, itu bukan klub sembarangan. Itu adalah klub idolaku, klub tempat di mana Kak Malik berada, Klub White Star yang sampai saat ini masih merupakan klub e-sport vrmmorpg terbaik ketujuh se-Indonesia.
Apakah aku terlalu mengkhawatirkan masa depan Luca ya perihal aku khawatir dia dijebak oleh kontrak jahat yang mengekangnya pada klub yang hampir jatuh? Tidak, tidak, itu mana mungkin. Klub White Star di mana Kak Malik berada bukanlah klub yang jahat seperti itu. Pastinya sebelum Luca bergabung ke sana, dia sudah mendengar pengarahan sekilas tentang keadaan klub itu saat ini.
Ataukah, apa mungkin aku iri padanya? Walau bukan adik kandungku, Luca sudah seperti sosok adik bagiku. Aku senantiasa merasa jika akan punya adik, mungkin rasanya akan sama seperti berinteraksi dengan Luca.
Dia adalah anak yang polos, baik hati, namun terkadang sedikit canggung. Pernah aku menyuruhnya membeli minuman cola di minimarket, tetapi dia malah pulang dengan membawa suatu balon yang bukan untuk ditiup.
Dia pemuda yang kikuk sehingga aku khawatir dia akan gampang ditipu oleh orang jahat. Itulah sebabnya aku tidak pernah sedikit pun melepaskan pandanganku padanya. Terutama dengan wajahnya yang di atas rata-rata itu, aku jadi bertambah khawatir bahwa suatu saat dia akan diseret ke hotel oleh tante-tante girang hanya dengan pancingan makanan.
Sewaktu kudengar dia punya pacar, betapa aku panik, berpikir bahwa apa yang selama ini menghantui pikiranku, akhirnya akan benar-benar terjadi padanya. Di luar dugaan, anak itu bisa memperoleh pacar yang baik seperti Lia.
Yah, mungkin aku terlalu menganggap Luca sebagai anak kecil sehingga terbersit rasa iri di hatiku tentang mengapa justru dia yang mendapatkan kesempatan tawaran menjadi pemain e-sport vrmmorpg profesional itu. Terlebih, bukan di sembarang klub, melainkan Klub White Star naungan Kak Malik, idolaku.
Padahal, betapa selama ini aku memperjuangkan cita-citaku, namun belum juga ada kemajuan di mana aku menemukan titik terang dalam pencapaian cita-citaku itu.
Tidak, itu salah. Justru jika bukan karena Luca yang memanduku, aku tetap akan salah jalan, berpikir untuk bisa menjadi swordsman seperti Kak Malik tanpa tahu tipe player seperti apa yang paling cocok buatku. Berkat Luca-lah, aku bisa menemukan jalanku sebagai player tamer dan aku merasa ada perkembangan yang signifikan.
Namun, sekali lagi aku merasakan tetap ada dinding yang tidak bisa aku lampaui. Apakah ini yang disebut Senior Areka sebagai keterbatasan bakat ya? Apa benar bahwa aku memang tidak berbakat?
Jika seandainya… jika seandainya setelah ini aku memang belum menemukan jalanku di e-sport vrmmorpg, mungkin seperti yang Senior Areka bilang, aku sebaiknya keluar saja dari klub, tidak, dari upaya pencapaian cita-citaku. Ketimbang aku melangkah lebih jauh lagi, namun ujung-ujungnya gagal, itu malah akan membuatku semakin terluka.
__ADS_1
Ya, ini telah kuputuskan sebagai kesempatanku yang terakhir.
.
.
.
Hari itu, aku kebetulan datang ke klub di luar jadwal latihan rutin. Secara kebetulan pula, aku bertemu Senior Areka di sana. Tanpa pikir panjang, aku pun memintanya untuk latih tanding bersamaku.
Aku berjuang berkali-kali menggunakan segala taktik yang kubisa, mulai dari gerak berpencar Papi, Pepi, Popi, dan Popo yang menyerang Senior Areka dari segala arah, sihir ilusi, blindness, serangan api dadakan, bahkan dengan kekuatan karate bawaan-ku, namun aku tetap tak dapat menembus pertahanan perisai Senior Areka.
Apa itu karena aku tidak berbakat?
Lantas mengapa?! Aku tak ingin menyerah dulu! Aku akan berjuang lebih lama lagi!
Namun, berkali-kali kucoba, tidak terbuka pula celah sedikit pun bagiku bahkan untuk sekadar menggoyahkan posisi Senior Areka.
Tanpa terasa air mata frustasi turut bercampur dengan keringat letih pada tubuh nyata-ku. Untunglah, senior menyebalkan itu sama sekali tidak menyadari air mataku itu dan hanya melemparkan handuk padaku, mungkin berpikir bahwa aku terlalu berkeringat karena terlalu memforsir diri untuk latihan.
Di saat itulah, kudengar Senior Areka berucap padaku,
“Hei, Nina. Mengapa kamu terus-terus saja berlatih sekeras ini hanya untuk mengejar pria yang bahkan mungkin telah melupakan keberadaanmu itu?”
“Hah?! Apa yang baru saja Senior Areka katakan?!”
“Kamu melakukan ini karena ingin dekat dengan Malik, pemain White Star itu kan?”
“Hah?! Darimana pendapat Senior itu berasal?! Aku memang mengaguminya, tetapi darimana Senior bisa berpikir kalau aku melakukan ini semua hanya untuk mengejarnya?!”
“Itu karena sewaktu SMP, kamu tidak henti-hentinya memujinya dan berkata bahwa kamu akan mengejarnya untuk menjadi pemain yang hebat seperti dia.”
“Itu karena Kak Malik itu idolaku, Senior. Tetapi hanya itu. Tidak berarti aku mengejar impian menjadi pemain profesional karena ingin bersamanya! Yah, memang kuakui setiap kali melihatnya, jantungku berdetak cepat. Jadi apa?! Bagiku impian dan asmara, walaupun sumbernya sama, tetapi tetap hal yang berbeda masing-masing! Jadi kuharap Senior jangan salah paham!”
Kulihat ekspresi tidak percaya di wajah Senior Areka terpampang dengan jelas. Padahal, aku mengatakan yang sebenarnya. Aku memang cinta pada Kak Malik, tetapi bukan berarti aku mengejar impianku ini karenanya.
__ADS_1
“Lantas, mengapa kamu sangat ingin menjadi pemain e-sport vrmmorpg walau dengan bakat sampah itu?”
Kata-kata Senior Areka itu, benar-benar tidak pernah dia berusaha perhalus sedikit pun. Selalu saja nyerocos seenak hatinya saja. Apanya yang bakat sampah! Gini-gini, aku juga sedikit berkembang. Bahkan aku sudah mampu mengalahkan Kak Zen dan Kak Ula hanya dengan menutup mata saja.
Melupakan mulut Senior Areka yang los itu, perkataannya seketika menyadarkan aku.
‘Eh? Apa lagi alasanku sesemangat ini ingin menjadi pemain e-sport vrmmorpg profesional ya?’
Kalau tidak salah, sewaktu aku berusia antara 10 sampai 11 tahun, aku akhirnya untuk yang pertama kalinya bertemu dengan pemain muda bertalenta sosok idolaku, Kak Malik yang waktu itu masih menginjak usia 15 tahun setelah memenangkan salah satu kompetisi e-sport vrmmorpg profesional pekanan dengan klub yang ada di dekat tempat tinggalku sebagai tim penantang.
Setelah itu lantas apa? Mengapa aku tiba-tiba berteriak penuh keteguhan di hadapan Kak Malik yang terluka untuk menjadi pemain e-sport vrmmorpg tangguh sepertinya? Tunggu dulu. Kenapa lagi saat itu Kak Malik terluka? Kurasa karena menyelamatkanku… Tapi kenapa?
Bagaimana pun kucoba mengingat, tetap saja tak bisa juga kuingat. Mengapa bisa aku melupakan kenangan sepenting itu?
“Apapun alasannya, itu bukan urusan Senior. Ayo kita latih tanding saja lagi karena aku sudah merasa baikan kembali.”
“Eh?”
“Tidak ada ‘eh’. Sebagai senior yang baik, Senior Areka harus selalu menolong juniornya yang kesulitan kan?”
“Lagipula, jika aku masih saja gagal lagi di kesempatan kali ini. Aku mungkin benar-benar akan menyerah.”
“Nina, kamu mengatakan sesuatu?”
“Tidak, bukan apa-apa, Senior.”
Aku pun berjalan kembali ke depan komputer, tetapi entah mengapa Senior Areka masih saja berdiri di tempatnya itu.
Ketika aku hendak mencari tahu ada apa, tidak butuh waktu lama, kudengarlah ucapan keluar dari mulut senior yang biasanya tanpa perasaan itu,
“Nina! Aku juga tidak berbakat! Setelah lama bersama Luca, aku akhirnya menyadari bahwa bakat yang selama ini aku bangga-banggakan, ternyata hanyalah seonggok kolam dibandingkan lautan luas sepertinya. Tidak ada manusia yang benar-benar bisa dikatakan berbakat. Tidak ada manusia yang sempurna. Jadi janganlah terlalu bersedih, Nina. Selama kamu berjuang, maka semuanya pasti akan tidak sia-sia…”
Ini pertama kalinya kulihat senior itu berkata seperti itu untuk menyemangati seseorang. Namun kutahu, ini pasti hanyalah nasihat sebagai refleksi inferioritas dirinya sendiri kepada Luca. Tetapi bagaimana pun, aku bangga karena Senior Areka sudah lebih dekat ke karakter manusia yang normal dan mulai mengekang sedikit ego dan rasa sombongnya itu.
“Jadi aku yakin, bakat sampah sepertimu pun akan menemukan jalannya selama kamu tidak menyerah. Jadi maafkan aku telah berkata kasar seperti itu padamu sebelumnya, Nina. Tetapi tentu saja aku tetap berpikir bahwa kamu akan lebih bersinar di dunia tarik suara.”
__ADS_1
Kulihat ekspresinya benar-benar cerah seraya mengatakan itu. Ingin rasanya kutonjok wajahnya yang tersenyum itu. Ternyata aku salah, Senior Areka tetaplah Senior Areka, si mulut ember yang tidak peka.