The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
104. Sang Magical Girl Perkasa


__ADS_3

“Slash.”


Asario dengan anggun menghempaskan peluru-peluru yang dihujamkan padanya, lalu dalam kecepatan tinggi menerjang ke arah robot yang menghujamkan peluru-peluru itu.


“Tak.”


Sayangnya, sang rekan robot pemegang pedang tak membiarkan Asario begitu saja. Begitu Asario melayangkan pedangnya ke arah sang robot penembak, sang robot pemegang pedang langsung menangkisnya dengan pedang yang berukuran lebih besar.


Sedari awal, pertarungan sudah berjalan dengan tidak adil di mana seorang Asario harus menghadapi dua musuh sekaligus.


Tetapi, tidak ada tanda-tanda depresi sedikit pun di wajah pemuda itu.


Dia menggunakan kaki kanannya untuk menendang rongsokan logam itu hingga terpental sejauh tiga meter.


Sayangnya, sang rekan robot penembak yang hendak menjadi sasaran Asario sudah lari duluan sebelum perhatian Asario kembali padanya.


Asario pun di kelilingi dari arah depan dan arah belakang dari musuh-musuhnya. Sang robot pemegang pedang di depan, sementara sang robot penembak di belakang. Tidak, ada satu lagi, yakni dari samping, sang thief pimpinan Vdol yang sedari tadi siap melakukan serangan dadakan kapan pun ada kesempatan.


“Ck. Sial! Mengapa pertarungannya berjalan sangat lama?! Kalau begini, aku bisa kehabisan waktu di sini hanya untuk mengawasi pertarungan mereka saja. Sementara dua archer timku sudah gameover duluan. Ck, sialan! Setidaknya kalian salah satunya, gameover-lah segera.”


Keluh sang thief pimpinan Vdol yang sudah tak sabar melakukan the last hit siapapun di antara Asario atau duo robot yang menang.


Sang thief tidak tahu saja bahwa Asario juga sudah sejak tadi turut mengawasinya dan menjadikannya salah satu perhitungan serangannya yang pada akhirnya membuat Asario tidak bisa berfokus seratus persen pada lawan duo robot yang ada di hadapannya itu.


Asario tersenyum.


Pedangnya yang besar seketika bercahaya. Asario mengaktifkan skillnya.


Dengan kecepatan dua kali lebih cepat dengan daya hantaman pedang empat kali lebih kuat, Asario menyerang sang robot pemegang pedang dengan elegan.


Sementara itu, rekan robot penembak di belakangnya tampak tidak kuasa melayangkan peluru-pelurunya itu karena khawatir akan justru mengenai rekan setimnya sendiri.


***


Sementara itu, di pertandingan bagian selatan antara wanita perkasa Tim Puririn melawan robot penembak berat dari Tim Borjuin tampak telah memasuki tahap akhirnya.


Namun di luar dugaan, justru sang robot penembak berat-lah yang tidak dalam posisi menguntungkan. Suit-nya compang-camping dan dia tampak berjalan dengan pincang.


“Hiyat!”


“Dor dor dor dor dor dor dor dor dor dor dor dor dor dor dor dor.”

__ADS_1


Dia melayangkan pelurunya dengan putus asa yang sebenarnya memiliki impak yang seharusnya lebih berat daripada sang robot penembak yang sedang dihadapi oleh Asario.


Akan tetapi, sang wanita perkasa hanya berjalan dengan percaya diri menghampiri sang robot penembak berat dengan langkah yang pasti, mengabaikan butiran-butiran peluru yang mengenai tubuhnya yang sama sekali tak melukai sedikit pun tubuhnya itu.


Tampak lapisan tipis cahaya transparan menyelubungi seluruh tubuhnya yang menetralkan semua impak serangan fisik yang diberikan kepadanya. Itulah alasan mengapa serangan peluru-peluru itu sama sekali tak berdampak apa-apa padanya.


Sang robot penembak berat, tidak sang pemain yang bersembunyi di dalam suit robot itu pun ketakutan begitu sang wanita perkasa yang ukurannya tidak jauh berbeda dari ukuran suitnya yang seharusnya dua kali tinggi manusia rata-rata itu, tepat berada di hadapannya.


Sang wanita perkasa pun dengan sigap membuang senjata yang berada di tangan sang robot. Lalu, dia pun menyentuh tangan kanan sang robot yang tadinya memegang senapan itu lantas menariknya kuat-kuat hingga puntung.


Tidak sampai di situ saja, kini giliran tangan kirinya yang dia cabik.


Tidak puas sampai di situ, dia mengangkat sang robot dengan menarik kedua kakinya ke atas sehingga sang robot berada pada posisi yang terbalik di udara. Lalu sang wanita perkasa pun turut mengamputasi kedua kaki itu.


Sang pemain yang berada di dalam suit berupa robot itu pun ketakutan setengah mati hingga sampai-sampai mengeluarkan suara yang aneh nan lucu.


Tetapi sang wanita perkasa tetap menatapnya dengan tatapan penuh hawa membunuh.


Sang wanita perkasa masih sangat ingat dengan jelas di ingatannya tentang bagaimana sang pemain itu mengatainya sebagai ‘gorila’. Bagi sang wanita perkasa, tiada ampun untuk siapapun yang berani mengejek wajahnya yang dinilai cantik oleh Emitan itu.


Sang wanita perkasa pun akhirnya mencabut kepala suit-nya itu lalu mengoyak bagian dadanya hingga tampak dengan jelas-lah wajah pemain di dalamnya yang sangat ketakutan dan tak berdaya setelah kehilangan suit robotnya.


“Aaaaaaakh!”


Alhasil, terluka-lah pria itu oleh goresan serangkaian peralatan di dalam suit-nya sendiri.


Namun, begitu sang wanita perkasa hendak menuangkan segala amarahnya secara membabi-buta kepada sang pria yang telah mengatainya gorila itu, sang rekan yang juga berupa pria cantik berkostum magical girl menghentikannya.


“Babahentai, hentikan!”


Dalam satu ucapan pria cantik itu, akhirnya sang wanita perkasa pun kembali ke kesadarannya.


“Emitan?”


“Duh, tidak baik melampiaskan amarahmu seperti itu. Ingat bahwa segala perbuatan buruk hanya akan kembali kepada diri kita sendiri. Biarkan aku saja yang menanganinya.”


“Baiklah, Emitan, jika itu maumu.”


Sang wanita perkasa pun menyerahkan sang pria itu begitu saja kepada pemain yang dipanggilnya Emitan itu, menuruti saja perkataan pria cantik itu tanpa ada sedikit pun tanda-tanda perlawanan.


Melihat hal itu, sang pemain pria Borjuin pun bernafas lega. Setidaknya, dia tidak mesti gameover dengan sadis di tangan sang gorila.

__ADS_1


Dia awalnya berpikir seperti itu, sampai pemain yang bernama Emitan itu mengeluarkan serangkaian alat penyiksa berduri yang justru terkesan jauh lebih kejam.


Dengan tampang yang tidak berdosa itu pun, Emitan pun memasukkan sang pemain pria Borjuin ke dalam peti mati penuh dengan duri lantas menyiksanya dengan siksaan yang teramat sadis sehingga tidak akan lulus sensor jika diceritakan di novel untuk anak berumur lima belas tahun ke bawah ini.


***


Kemudian di tempat lain pula, Andra dengan sigap mentracking jejak penembak jitu dari Tim Borjuin lalu memberikan pengarahannya, “Mark, giliranmu.”


“Ya.”


Mark dengan langkah tak bersuara mengikuti petunjuk arah yang diberikan oleh Andra dalam jarak jauh lalu benar-benar berhasil menemukan penembak jitu itu.


Dia tanpa berbasa-basi segera melayangkan dagger yang telah diperkuat oleh sinar laser di sekelilingnya untuk membelah dada suit robot untuk mengungkap pemain yang bersembunyi di dalamnya.


Namun di luar dugaannya, mesti dengan alat pemotong terkuat yang dimilikinya itu, Mark gagal melubangi suit robot sang pemain Borjuin.


Yang lebih parah lagi, sang robot, atau tepatnya pemain di dalam robot itu, segera menotice serangan Mark lantas menyerang balik dengan mengayunkan tangan kanannya. Mark yang terlambat menyadari itu pun terpental.


Tetapi tidak berhenti sampai di situ saja, sang penembak jitu tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada dengan menembakkan peluru snipernya tepat ke arah Mark yang dalam posisi kehilangan keseimbangannya untuk menghindar.


Mark pun turut gameover di dalam pertandingan.


Andra frustasi. Tetapi sebelum Andra sempat mengeskpresikan rasa frustasinya itu, satu lagi party ikut bergabung di dalam pertarungan tersebut dengan mengarahkan tinju ganasnya ke arah sang penembak jitu Tim Borjuin yang sampai-sampai menghempaskan segala pepohonan dan bebatuan yang ada di sekitarnya. Merekalah duo wanita perkasa-pria cantik dari Tim Puririn.


\=\=\=


Hasil pertandingan sementara ruang virtual C sesi ketujuh



Borjuin, jumlah korban \= 2, jumlah pemain tersisa \= 4


Silver Hero, jumlah korban \= 2, jumlah pemain tersisa \= 3


Puririn, jumlah korban \= 1, jumlah pemain tersisa \= 4


Vdol, jumlah korban \= 1, jumlah pemain tersisa \= 3


\=\=\=


__ADS_1


__ADS_2