The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
196. Guild Master Terhebat


__ADS_3

Di putaran final, guild extra Gubuk Bambu berhadapan dengan Jalan Kebenaran, guild extra peringkat satu di guild swordsman yang sekaligus berhasil membawa pulang piala juara satu pada turnamen guild extra pertama di game The Last Gardenia dua minggu lalu.


Seperti halnya di babak-babak sebelumnya, Chika menampilkan performa yang baik sehingga tidak satu pun kekhawatiran Luca padanya. Ditambah, lawan Chika semuanya hanyalah sesama veteran pemula sepertinya yang memang masihlah sangat hijau.


Seperti di babak kali ini,


“Hahahahahahaha. Hai Wanita Alchemist, cepat keluarkan semua ramuanmu. Aku yakin takkan ada satu pun yang bisa menembus pertahanan aura-ku. Tahukah kamu? Ini adalah hadiah yang kuperoleh setelah mengalahkan monster gajah terbang. Hahahahahahaha.”


Entah mengapa semua lawan Chika tipikal songong seperti itu.


Namun, tidak butuh waktu lama bagi pemain itu untuk menyesali kata-katanya.


Chika menembakkan panah melalui crossbow-nya dan seperti yang telah diduga, panah dari crossbow itu sama sekali tak mampu mengoyak aura lawan. Akan tetapi, terlihat semacam buah busuk berwarna orange terciprat di sekitar auranya.


Sejenak kemudian, di luar dugaan sang lawan, tubuhnya tiba-tiba merasakan kesemutan di seluruh badan. Dia pun tiba-tiba muntah-muntah dan merasa mual serta nyeri otot yang teramat sangat.


“Ini, apa yang terjadi? Padahal aura-ku baik-baik saja. Apakah kamu yang melakukan semua ini, wanita alchemist?!”


“Entahlah. Mana ada yang akan mengungkapkan triknya sendiri kepada lawan. Beeeeeh.” Begitulah tutur Chika sembari menjulurkan lidahnya dengan usil yang lama kelamaan dari karakter wanita pendiam penurut berubah secara berangsur-angsur menjadi wanita yang lebih ceria dan menggoda.


Sesuai dugaan sang pemain lawan, Chika-lah yang melakukan semua ini.


Buah busuk yang dilontarkan bersamaan dengan panah melalui crossbow-nya itu, sejatinya adalah buah melon neraka yang menggiurkan selera jika mencium baunya, tetapi itu bukanlah buah yang layak untuk dikonsumsi perihal buah yang tumbuh di pedalaman hutan alchemist itu telah menjadi habitat alami bagi bakteri bernama histeria varian 707 untuk tumbuh dan berkembang.


Bakteri histeria varian 707 ini banyak digunakan oleh alchemist untuk mengurai inti monster tingkat tinggi tertentu yang tidak bisa diurai dengan cara konvensional. Oleh karena itu, walau berbahaya, habitatnya tetap dilestarikan.


Ya, bakteri itu sangat bermanfaat, tetapi makhluk yang bahkan tak terlihat secara kasat mata itu dapat menggunakan aura manusia sebagai sumber energinya, merasuk ke dalam aliran mana, lantas merusak tubuh manusia pengguna mana dari dalam.


Untuk player non-pengguna mana atau aura sendiri, keberadaan bakteri ini tetap berbahaya jika tertelan atau terinhalasi ke tubuh, hanya saja efeknya lebih lambat.


Demikianlah, lagi-lagi lawan Chika berhasil terkalahkan perihal ketidaktahuan mereka soal ilmu alkimia. Jadi jangan macam-macam soal alkimia.


Luca sudah menduga kemenangan Chika, tetapi itu tetap saja tak dapat menahannya dari bersorak riang ketika hal itu terjadi. Akan tetapi, ketika Luca dan Chika saling membenturkan telapak tangan mereka, Lia yang biasanya tidak bereaksi apa-apa, mulai menunjukkan reaksi kewaspadaan layaknya induk hewan yang mendeteksi keberadaan predator yang hendak menerkam anaknya.


Atau mungkinkah itu karena penampilan Chika yang tampak semakin menggoda yang tidak hanya dari segi wajah, tetapi juga dari segi attitude? Namun, itu bukanlah hal yang penting untuk dibahas di novel yang bergenre action ini.


Daripada Chika, Luca tampak lebih mengkhawatirkan Raia. Sedari tadi, ekspresi pemuda itu kusut pasca pertarungannya melawan sang swordsman dari guild extra Dawn.


“Kak Raia baik-baik saja?”

__ADS_1


“Ah, Luca? Hahahahahaha. Aku baik. Baik-baik saja. Hahahahaha.”


Walau Raia tampak mengatakannya dengan ceria, raut matanya mengatakan lain. Hal itu membuat Luca tak dapat untuk tidak semakin khawatir padanya.


Kekhawatiran Luca pun terbukti di babak ketiga putaran final itu.


Raia seakan kehilangan jiwanya di dalam pertarungan. Lawan memang hebat, tetapi sejak awal, pikiran Raia telah ke mana-mana.


“Sungguh mengecewakan. Beginikah lawan yang kuhadapi di putaran babak final?! Bahkan guild Khalia dan High yang kulawan di babak sebelumnya jauh lebih hebat darimu. Hmm, tampaknya kabar mengenai guild Dawn sudah menurun sejak dikeluarkan dari guild utama benar adanya. Bagaimana bisa mereka kalah dari lawan yang lemah begini!”


Setidaknya tidak hanya Luca yang berpendapat seperti itu, lawan yang dilawan Raia saat ini pun memikirkan hal yang sama.


Mungkin tiada yang menyadarinya. Akan tetapi, Raia tahu betul bahwa dirinya-lah yang seharusnya kalah di putaran babak sebelumnya dan bukanlah sang swordsman dari guild extra Dawn tersebut, atau setidaknya itulah yang tertanam di bawah sadarnya. Hal itulah yang secara tidak sadar menghipnotisasi pikiran Raia menjadi lemah. Dia melemah oleh rasa bersalahnya.


Hal itu pun membawa Raia ke jurang kekalahan di babak itu dengan mudah. Semuanya karena dia telah menghipnotisasi dirinya sendiri sedari awal bahwa dirinya tidaklah hebat.


Pemuda itu kembali ke cangkangnya setelah Luca dengan susah-payah mengeluarkannya.


“Maaf, Luca. Aku kalah.”


Namun, daripada perkataan lembut yang menantinya, tinjuan telak Luca-lah yang telah menunggu ke ulu hatinya.


“Kak Raia pikir aku marah karena itu?! Aku tidak peduli jika Kak Raia mau kalah atau bagaimana jika Kak Raia telah berjuang keras. Tetapi Kak Raia sendiri yang mengkhianati usaha Kak Raia!”


“Luca?”


“Lihat, pukulan mematikan seorang assassin hebat sepertiku saja masih sanggup Kak Raia tahan. Itu artinya Kakak itu memang hebat. Kakak terlalu menilai rendah diri Kakak sendiri. Siapa peduli dengan hasil pertandingan! Yang aku pedulikan itu Kak Raia! Kak Raia adalah pemain yang hebat yang tidak sepantasnya berkecil hati seperti ini!”


“Luca?”


“Jadi jangan murung begitu lagi dong, Kak Raia.” Di akhir kalimatnya, Luca pun tersenyum cerah.


Hal itu lantas membuat Raia meneteskan air matanya. Dan sekali lagi, pemuda itu mampu keluar dari cangkangnya.


Namun itu sebenarnya cara curang dari Luca. Dia telah tanpa sadar mengaktifkan skill ‘sang komandan’-nya. Di luar dari pengetahuannya, skill itu telah aktif sendiri perihal merespon perasaan tulus Luca yang diinisiasi oleh skill ‘anak baik hati’-nya.


Apapun itu, jiwa terdalam Raia yang bersembunyi jauh di dalam cangkang, kini kembali berani menatap langit yang cerah.


“Terima kasih, Luca. Kamu telah menyadarkanku. Hiks… hiks…”

__ADS_1


“Tenang saja. Kak Raia. Kak Andra dan aku akan segera membalikkan keadaan.”


Dan sesuai perkataan Luca, Andra sang bintang Silver Hero itu memenangkan pertandingan dengan mudah.


“Ini curang. Ini curang! Bagaimana bisa artis e-sport vrmmorpg yang telah tampil di tingkat internasional, tampil di acara kecil-kecilan seperti ini?! Aaaaaakkkkkhhhhh!”


Andra menang dengan memperoleh keunggulan sejak awal berkat pamor-nya sebagai sang pengacau arena dari Klub Silver Hero yang sedari awal membuat musuh-musuhnya gentar menghadapinya.


Skor kini 2 vs 2. Sisa pertarungan terakhir yang akan menentukan guild extra mana yang akan membawa piala turnamen tersebut.


Pertarungan antara sesama guild master. Guild master Gubuk Bambu, Luca yang berlevel 48 melawan guild master Jalan Kebenaran, sang swordsman ber-ID TATARTINULAR yang berlevel 80.


Sejenak, tampak sang swordsman yang akan memenangkan pertarungan perihal perbedaan level yang teramat jauh.


Ada pelatih tertentu yang pernah mengatakan bahwa jika perbedaan level lawan melebihi 10, maka cobalah berpikir untuk mengulur waktu untuk kabur, jika perbedaan level lebih dari 20, maka kaburlah meski lengan dan kakimu terputus, dan jika perbedaan levelnya lebih dari 30, maka pura-pura mati adalah jalan yang terbaik berharap lawan akan mengasihanimu.


Dan opsi ketiga-lah kini yang menimpa Luca.


Tentu saja Luca tidak percaya dengan semua omong kosong itu perihal pamannya, Heisel, telah mengajari Luca bahwa assassin itu memang lemah, makanya mereka harus bertahan hidup bahkan dengan merangkak sekalipun. Akan ada selalu titik lemah lawan jika kita tak melepaskan konsentrasi kita pada pertarungan sedikit pun.


Tentu saja sang sistem berpikiran lain. Dia pada dasarnya sependapat dengan Heisel, hanya saja alasannya yang absurd itu, membuatnya geleng-geleng kepala.


Level memang menggambarkan sampai di mana tingkat perkembangan fisik pemain. Hanya saja, tiada yang memungkiri bahwa seorang kakek renta tetapi veteran di dalam peperangan pun bisa membunuh anak muda yang memiliki perkembangan tubuh yang berada di puncak-puncaknya tetapi tidak berpengalaman dalam bertarung.


Dalam hal ini, Luca-lah yang berada di posisi kakek-kakeknya, sementara Tatar Tinular berada di posisi anak muda yang memiliki fisik yang jauh lebih kuat, dengan strength, vitality, dexterity, intelegence, serta agility yang jauh unggul. Mutlak dia unggul segalanya dari Luca kecuali dalam hal luck.


Akan tetapi, kelihaian dalam mengendalikan tubuh avatar yang diistilahkan sebagai tingkat sinkronisasi jauh berperan penting dari semua itu.


Sebanyak apapun air di lautan, selama tidak bisa diminum, maka sama sekali tidak akan bermanfaat untuk melegakan rasa haus orang yang terjebak di tengah lautan.


Dengan analogi yang sama, walaupun air hanya ada sebotol, seseorang akan bisa bertahan hidup dalam kurungan selama tiga hari selama air itu semuanya layak diminum untuk dijadikan cairan tubuh.


Singkat cerita, Tatar Tinular yang begitu percaya diri dengan levelnya, menganggap remeh Luca lantas menyerangnya secara membabi-buta. Di luar harapannya, Luca tiba-tiba menghilang dari hadapannya tanpa sanggup dia yang ber-agility lebih tinggi mampu menyadari pergerakannya itu.


Dalam sekejap, darah telah mengucur deras melalui lubang yang terbentuk di tengkoraknya. Dengan kecepatan yang sangat cepat, Luca telah mengaktifkan skill ‘tikaman penghancur tengkorak’-nya.


Begitulah kehebatan tingkat sinkronisasi 400 % milik bakat Luca, ataukah itu juga mungkin karena pengaruh faktor luck-nya yang tinggi.


Apapun itu, Luca menang dengan mudah dan membawa guild extra-nya kepada kemenangan melalui skor 3-2. Guild extra Gubuk Bambu-lah yang akhirnya membawa pulang piala kemenangan turnamen guild extra yang kedua tersebut.

__ADS_1


__ADS_2