
Beberapa saat setelah memasuki arena, aku memeriksa lokasi para anggota lain. Dengan memanfaatkan kemampuan telepatiku atau lebih tepatnya kemampuan telepati Aura yang disalurkan melalui item cincinku, aku memastikan posisi yang lain.
Di situlah aku mengarahkan Egi dan Senior Areka yang berada pada jarak yang cukup dekat untuk bertemu duluan.
Namun seketika itu pula, aku segera merasakan hawa bahaya dari musuh yang mengancam keduanya. Aku pun hendak bergegas ke sana. Namun siapa yang menduga, aku yang padahal telah menyembunyikan keberadaanku dengan cukup terampil bisa ditemukan oleh kedua musuh yang mendekat itu.
“Abang, jadi ini korban kita kali ini ya.”
“Sama sekali tidak menantang. Kelihatannya lemah sekali. Bikin hilang semangat saja. Ayo selesaikan saja ini dengan cepat.”
Mereka tampaknya meremehkanku.
Setelah kumemastikan data milik mereka di ingatanku, aku pun segera tahu bahwa identitas mereka berdua adalah duo pengkhianat swordsman yang awalnya berasal dari Klub Lucifer yang mengkhianati klub mereka lantas berpindah haluan ke Klub Clock Tower sembari menjual informasi-informasi penting klub asal mereka ke klub baru yang mereka naungi tersebut.
Intinya, mereka adalah sampah. Tidak, semua yang berkaitan dengan Klub Clock Tower itu adalah sampah.
“Abang, ayo segera kita habisi saja dia.”
“Kamu saja yang hadapi dia. Aku sedang tidak mood.”
“Terserah Abang saja.”
Hmm, kalian meremehkanku? Kalian akan segera menyesalinya.
Aku tidak berkata apa-apa atas ucapan merendahkan mereka itu sambil kulihat salah seorang swordsman yang berperawakan lebih kurus di antara mereka datang mendekat.
“Rasakan ini, Cebol!”
Ujarnya dengan lantang padaku sembari mengayunkan pedangnya. Aku bisa merasakan bahwa dia adalah player yang hebat, terbukti dari bagaimana dia juga bisa menyadari keberadaanku yang padahal aku sendiri sangat yakin dengan keahlian menghilangkan keberadaanku sebagai seorang assassin walaupun tanpa mengaktifkan skill.
Tapi satu kesalahannya, dia meremehkan lawan hanya dengan penampilan fisiknya saja. Tidak selamanya yang berbadan lebih kecil dan kurus itu lemah. Di luar daripada itu, apa yang membuatku kesal adalah dia telah mengatakan kata pantangan nomor satu bagiku itu [cebol].
Lagian, apa mereka tidak punya media sosial atau apa? Perasaan belakangan ini aku sudah cukup terkenal walaupun tidak seterkenal Kak Nina dan Lia dan sering diisukan di internet sejak aku telah memenangkan kompetisi tingkat amatir berkali-kali.
Yah apapun itu, anggap saja ini sebagai peluang untuk memudahkan pekerjaanku.
Begitu sang swordsman kurus itu tiba sembari mengayunkan pedangnya, aku pun segera memiringkan badanku ke kanan, menghindari tebasannya, lantas segera melakukan counter attack.
Ukuran pedangnya yang panjang, menyebabkan walau reaksinya lambat, dia tetap mampu menangkis seranganku itu.
__ADS_1
“Abang, tampaknya kita telah salah. Dia cukup hebat. Ayo hadapi dia dengan serius.”
Begitulah. Aku telah gagal memanfaatkan kelengahan mereka di saat memandang rendah kemampuanku. Kini, aku harus bertarung serius dengan mereka lantas pertarungan 2 lawan 1 yang sesungguhnya pun dimulai.
Tampak sang swordman yang berbadan lebih besar turut serta melayangkan pedangnya padaku sembari aku bertahan menghindari pula pedang sang swordsman kurus.
Ini tidak baik. Aku hanya dapat menghindar. Sejak seorang assassin memang dilatih untuk melakukan serangan sembunyi-sembunyi. Pertarungan terang-terangan seperti ini tidak cocok untukku. Setidaknya, itu ketika aku menggunakan senjata dagger.
Bagaimana pun kamu menyerang dengan dagger ketika dikeroyok oleh kedua pedang, itu adalah bukan hal yang baik. Itu baik-baik saja jika hanya ada satu di mana kamu dapat memanfaatkan kelincahan gerakanmu untuk memposisikan dirimu di arah sebaliknya dari arah pedang sang swordsman.
Lain halnya jika ada dua yang kerjasamanya cukup baik, terutama untuk lawan seperti mereka. Aku akui, kedua lawan yang ada di hadapanku ini memiliki kombinasi serangan yang menyatu, terlihat bahwa mereka memang sudah lama sebagai partner.
Ketika aku berupaya merendahkan posisi tubuhku untuk menghindari satu tebasan, rekan yang lain akan segera datang pada posisi di mana aku menghindar. Begitu pula sebaliknya, jika aku bersalto di udara, pedang itu akan segera menungguku di daratan tempat aku akan mendarat.
Benar-benar pertarungan yang tidak menguntungkan sejak bukannya kau bisa menangkis pedang besar itu secara serampangan hanya dengan sebuah dagger.
Di situlah, aku mengganti senjataku dengan pedang suci Astaroth.
“Hah? Seorang assassin menggunakan pedang?!”
“Tampaknya, dia kewalahan dengan pedang kita Bang, sejak pedang kita besar sementara daggernya cukup kecil. Makanya dia mencoba untuk menggunakan senjata yang sama agar bisa imbang dalam adu serangan.”
Kulihat swordsman yang berbadan lebih besar itu menekukkan sudut mulutnya tersenyum dengan penuh kesinisan.
Tetapi dia salah, aku juga ahli dalam menggunakan pedang, terima kasih berkat kursus singkat yang diberikan oleh Kak Dimitri padaku, serta dasar-dasarnya yang turut diajarkan oleh Paman Heisel.
Setelah menggunakan pedang suci Astaroth, aku pun berhasil mengatasi kerugianku dalam hal impak serangan. Aku mulai bisa menangkis pedang lawan dengan daya tahan yang cukup.
Lalu lambat laun,
“Hei, Danu, kenapa kamu tidak serius! Serius sedikit! Aku mulai kelelahan menghadapi assassin cebol ini.”
“Maaf, Bang. Aku sama sekali tidak bermaksud main-main.”
“Cih! Kalau begitu, mana bisa kita didesak oleh newbie assassin cebol ini.”
“Trak.”
“Hentikan kata cebol itu! Aku ini kecil, bukan cebol. Lagian, itu tidak ada hubungannya dengan keahlian.”
__ADS_1
“Ukh.”
Pedangku berhasil masuk menyelinap ke celah-celah pertahanan si swordsman besar lantas menusuk dadanya.
“Tidak, Abang!”
Terlihat wajah penuh kekhawatiran dari si swordsman kurus yang siap membalaskan dendam, mengayunkan pedangnya itu padaku.
Aku pun segera menarik pedang yang tertancap di dada si swordsman besar, tetapi rupanya si swordsman besar menahan pedangku itu dengan kedua tangannya tanpa khawatir akan tangannya yang terluka perihal bilah tajam pedang.
Tanpa pilihan lain, aku pun mengeluarkan senjataku yang lain, pistol tipe fisik Hero-ku. Aku menembak dalam tiga kali tembakan kepada si swordsman kurus.
Aku sejenak was-was perihal berbeda di dalam game, di pertandingan, pistolku itu hanya mampu kuisi dengan maksimal 6 peluru saja sejak ketidakadaan item pengorbanannya.
Syukurlah, tembakanku cukup cepat dan tampak dia sama sekali tidak menduganya lantas kepala si swordsman kurus itu pun segera berlubang berkat peluru dari pistolku.
Terakhir, sisa si swordsman besar.
“Kurang ajar kau!”
Dia tampak begitu marah karena si kurus telah dikalahkan dan dirinya juga turut dibuat terluka parah.
Aku salut akan ketahanan fisiknya yang walaupun dadanya itu telah berlubang, dia masih sanggup bertahan.
Dia mengayunkan pedang besarnya itu ke arahku. Namun, sejak gerakannya telah melambat perihal terluka parah, aku dapat menghindari serangannya dengan mudah.
Aku kembali men-summon dagger taring serigala perakku, lantas dengan dagger itu, aku berlari dengan cepat sembari menggorok leher si swordsman besar. Dia pun segera menyusul yang kurus, turut game over di pertandingan.
***
Di tempat lain, Brian berjalan dengan hati-hati, begitu waspada mengkhawatirkan jikalau saja ada musuh yang menyerang. Sejak Luca memberikan instruksi terakhirnya, tiada lagi komunikasi telepati yang datang dari newbie di klubnya itu. Hal itu pun semakin membuatnya waspada.
Akan tetapi, di tengah kewaspadaannya itu, pemberitahuan sang MC pertandingan pun tiba-tiba muncul.
“Selamat! Klub White Star berhasil memenangkan pertandingan atas Klub Clock Tower dengan kelima anggota bertahan di arena.”
Mendengar itu, Brian melongo sejenak tak percaya.
Brian senang atas kemenangan timnya, tetapi di lain pihak, dia juga kesal dan marah. Dia pun lantas berteriak melepaskan seluruh frustasi di kepalanya itu.
__ADS_1
“Klub kami menang begitu saja tanpa aku sempat bertemu satu musuh pun. Ini apaan sih sebenarnya!!!”