
Berkat Senior Asario, aku bisa mempelajari banyak jurus-jurus yang bagus. Bagaimana pun galaknya dia, dia adalah Senior yang baik hati dan tidak sombong yang tanpa pamrih mengajarkan skill game-nya kepada para juniornya.
Hehehehehe, walaupun secara teknis, aku bukan juniornya, pastinya Senior Asario telah menganggapku sebagai salah satu junior kesayangannya.
Kini, aku kembali berada di wilayah perbatasan Negeri Nostalgia dan Kerajaan Doremi. Aku sekali lagi mengikuti misi yang diikuti oleh Kak Krimson di sini setelah kegagalan yang telah kami buat sebelumnya.
Setelah melewati hutan yang lebat, akhirnya tibalah kami di Kerajaan Doremi. Tetapi ini cukup mengecewakan. Tidak ada monster level tinggi sama sekali yang menyerang karavan kami. Palingan monster level tertinggi yang menyerang kami adalah kawanan serigala biru khas Kerajaan Doremi yang disebut suluksaksak yang levelnya tiada yang mencapai di angka 35.
Tetapi yah, ini tentunya masih lebih baik, mengingat terakhir kali kami berangkat ke sini sewaktu bareng juga bersama Chika, kami diserang oleh monster bernama yang levelnya di atas level seratus.
Patut disyukuri kalau perjalanan kali ini aman-aman saja. Tiada yang meninggal, hanya kali ini ada sekitar kurang dari sepuluh anggota mercenary yang lecet kecil.
Tibanya di Kerajaan Doremi, kulihat ada empat orang berkulit hitam yang menyambut kami, dua pria dan dua wanita, sembari menyatukan kedua telapak tangan mereka lantas menyapu sekilas area dahi mereka yang diriasi oleh semacam cat berwarna emas.
Aku sebenarnya tidak tahu apa itu karena aku kurang mendalami masalah budaya. Maklum, aku lebih tertarik soal pertarungan dan sejarah. Tetapi karena itu tampaknya semacam salam khas mereka, aku pun mengikuti hal yang sama seperti yang mereka lakukan untuk membalas salam mereka itu.
Satu kesanku pada mereka, mereka semua ramah-ramah. Sangat berbeda dengan kaum bangsawan berambut pirang yang selalu menyombongkan diri mereka, terlebih yang berlokasi di Kerajaan Melodia.
Jangankan bangsawan, terkadang ada penduduk biasa saja yang sering mendiskriminasi para petualang hanya karena perbedaan warna kulit, mata, dan rambut semata. Benar-benar konyol jika ada suatu ras yang beranggapan ras mereka lebih unggul dari ras lainnya.
Yah, pada dasarnya di Kerajaan Doremi, mereka tidak menetapkan pembagian kasta sehingga tidak dikenal istilah bangsawan dan bahkan pemilihan penerus raja mereka saja dilakukan dengan turnamen untuk menentukan siapa yang terkuat yang pantas menjadi raja.
Mungkin itulah sebabnya, karena diwarisi oleh semangat jiwa kesetaraan, mereka semua menjadi penduduk yang ramah-ramah.
Tetapi aku tidak bisa pula mengatakan sistem itu cukup adil karena ini sebenarnya rahasia, tetapi para raja beserta generasi penerusnya yang merupakan keturunan beastman singa itu mempunyai semacam teknik kultivasi rahasia tertentu yang menyebabkan ilmu beladiri mereka akan selalu jauh lebih unggul dari kalangan ras lain yang berasal dari penduduk biasa.
Jadi bagaimana mungkin seorang yang berasal dari kalangan biasa-biasa saja tiba-tiba melengserkan posisi mereka sebagai raja? Kalaupun ada, kompetisi akan sedikit dicurangi secara halus hingga akhirnya kaum penantang non-keluarga raja-lah yang akan kalah. Semuanya kembali pada permainan politik dengan memanfaatkan celah hukum yang ada.
__ADS_1
Setelah itu, kami diantar masuk ke wilayah dalam kerajaan. Aku pun melihat sekitar. Tempat ini begitu indah yang dipenuhi dengan manusia berbulu tebal dengan telinga dan ekor yang menyerupai berbagai jenis binatang terutama kucing, rubah, kelinci, dan serigala yang dijuluki sebagai beastman serta para orang kulit hitam.
Tempat ini begitu indah. Air sungainya jernih, barang dagangannya di pasar tertata dengan rapi, kulinernya juga tampak menggiurkan. Tapi yah, satu kekurangannya, tempatnya terasa agak bau seperti bau kandang kuda.
Tetapi yang aku herankan, tidak ada satu pun baik dari warga pribumi maupun dari para mercenary dan petualang termasuk Kak Krimson yang terlihat terganggu oleh bau aneh itu. Jadi aku pun turut mengabaikannya saja dengan mengenakan masker penutup mulut dan hidungku yang berwarna hitam yang turut tercipta dari baju serba bisa-ku.
Singkat cerita, transaksi yang tampaknya akan memakan waktu agak lama itu untuk dilaksanakan, segera dimulai oleh Kak Krimson. Mengingat waktu transaksi yang akan lama, akhirnya Kak Krimson pun menyuruhku ke hutan saja untuk berburu monster demi memperoleh poin experience.
Dan inilah memang momen yang kutunggu-tunggu.
Belum lama aku berjalan melewati hutan, sekali lagi aku dicegat oleh suluksaksak. Ini mengesalkan karena walaupun mereka berlevel rendah, jumlah mereka sangat banyak sehingga akan membuang-buang waktu saja untuk mengalahkan mereka.
Setidaknya jika bos monsternya berada di level yang tinggi, mungkin aku akan dengan senang hati melawannya. Sayangnya, bos monsternya saja hanya berlevel 32.
Tanpa pikir panjang, aku pun mengaktifkan skill stealth dan langkah bayangan-ku untuk segera meninggalkan lokasi tanpa repot-repot mengalahkan kawanan serigala biru itu.
Tetapi apa yang menyergapku ternyata hanyalah seekor beast cobra yang tidak tahu diri. Berani-beraninya beast yang hanya berlevel 19 ini hendak memangsaku. Tanpa pikir panjang aku pun segera membunuhnya saja.
Aku makin ke dalam dan perlahan ke dalam area hutan yang lebat karena kudengar bahwa inilah salah satu dari lima tempat di mana kita akan bisa menemukan monster yang berlevel tinggi. Tetapi apanya yang monster level tinggi. Jauh aku berjalan, monster level tertinggi yang aku temui hanyalah monster kura-kura pohon berlevel 35.
Bahkan levelnya itu jauh dari beast beruang yang terakhir kali kutemui di sini yang mencapai level 47.
Karena keterbatasan waktu, aku pun memutuskan untuk menghentikan pencarianku saja dan bergegas segera kembali menuju ke tempat Kak Krimson untuk berbenah-benah pulang kembali ke Negeri Nostalgia.
Yah, pada akhirnya aku memang tidak dapat menemukan monster level tinggi yang aku cari, tetapi paling tidak, dua ratus lebih monster yang aku kalahkan itu telah menggenapkan poin experience-ku ke level 48.
Sayangnya, hanya sampai di situlah poin experience-ku kali ini dapat meningkatkan levelku, perihal aku belum pernah sekalipun mengalahkan monster berlevel 48 ke atas yang diakui oleh sistem. Padahal aku pernah mengalahkan basilisk berlevel 49 dan bahkan lesser dragon zombie berlevel 73. Sayangnya itu semua tidak diakui oleh sistem.
__ADS_1
Alasan yang pertama adalah kondisi basilisknya tidak sehat, sedangkan yang kedua adalah jelas karena dia zombie, bukan makhluk hidup, yang telah kehilangan daya hidupnya, jadi mana mungkin diperhitungkan oleh sistem.
Yang jelas hari ini berakhir dengan damai, termasuk Aura yang juga sedang berjaga di ibukota Kekaisaran Lalania, Kak Raia dan Kak Nina yang sedang mencoba menjelajahi dungeon kecil bersama Diana sebagai pemandunya di daerah terpencil Kekaisaran Lalania, serta Chika yang sedang berlatih bersama Profesor Bruntall de Yesod. Hal itu patut disyukuri.
Oh iya, aku belum bilang bahwa berkat bakat Chika yang luar biasa, Kakek Bruntall segera merekrutnya untuk menjadi murid player keduanya setelah Kak Krimson. Jadi saat ini, Chika sedang sibuk bersama ramuan racikannya di Akademi Sihir Negeri Nostalgia.
Satu yang aku senangi dari mereka adalah bahwa walaupun mereka pada akhirnya tidak terpilih sebagai peserta yang akan mengikuti turnamen awal tahun akademik e-sport vrmmorpg tingkat SMA, mereka tidak terlihat putus asa. Malah, mereka terus berjuang meningkatkan kemampuan mereka demi kesempatan yang selanjutnya.
***
Malam itu tepat pukul 12 malam, aku menyudahi bermain game-ku karena tibanya jam larangan anak di bawah umur bermain game.
Namun begitu aku hendak menutup mataku, tiba-tiba panggilan telepon dengan nomor yang aneh yang tidak seperti nomor telepon Indonesia berdering di smartphoneku.
Dan begitu aku mengangkatnya,
“Hai, Luca. Lama tidak berjumpa.”
Suara yang cukup lama tidak kudengarkan, tetapi aku mengenalnya dengan sangat baik. Dialah Kak Leo, yang sebenarnya hubungan kami adalah saudara nenek dan cucunya. Dan akulah yang sebagai saudara neneknya Kak Leo. Hubungan yang rumit, bukan? Tetapi karena Kak Leo lebih tua, maka tak salah jika aku panggil dia dengan sebutan Kakak.
Dia pun berkata, “Aku saat ini ada di Jakarta, pengen ketemu sama Nenek Judith dan keluarga. Main game The Last Blood yuk.”
Dan di malam minggu itu, kesempatan latihan yang aku cari-cari terbuka lebar begitu saja. Aku bisa latihan bareng dengan Kak Leo yang hebat.
Terus terang, ada satu senjataku saat ini yang kubiarkan membeku saja di inventory perihal aku belum memiliki rasa percaya diri yang cukup untuk menggunakannya, perihal senjata tipe seperti itu begitu baru buatku. Itulah senjataku, pistol kembar hero tipe fisik.
Dan seperti yang kalian tahu, game The Last Blood itu adalah game buatan asli Amerika yang berlandaskan pada skill tembak-menembak monster tipe apocalypse. Benar-benar akan menjadi latihan yang sangat bermanfaat buatku.
__ADS_1