
Aku adalah anak yang terlahir dengan sendok emas di tangan. Apa pun yang aku inginkan, orang tuaku akan selalu memenuhinya.
Mungkin itu pulalah penyebab aku tumbuh menjadi anak yang manja tanpa bisa berbuat apa-apa.
Tanpa sadar, aku menjadi seseorang yang memiliki perangai buruk, suka pamer kemewahan, suka menindas anak yang kurang mampu, suka membeli apapun dengan uang, termasuk jika nilai sekolahku tidak memuaskan, maka aku cukup memberikan para guru tersebut hadiah agar mereka mau menggantinya dengan nilai yang baik.
Benar-benar kehidupan yang tidak berguna.
Termasuk pada saat aku bertemu Luca di kala itu.
Aku ingin mendapatkan anak itu untuk menjadi budakku seperti aku dulu mengunci erat Andra di balik jeratanku.
Aku ingin memanipulasi pikirannnya untuk berpikir bahwa akulah satu-satunya orang tempat di mana dia bisa bergantung.
Aku pun mulai menyelidiki kesehariannya, tentang di mana dia tinggal, apa hobinya, sampai pada apa makanan favoritnya. Aku menyelidiki semua itu demi menemukan cara untuk dapat menggaet hati pemuda lugu itu agar bertekuk lutut di bawah kakiku.
Namun lambat laun aku mengawasinya, pikiranku berubah.
Dia adalah anak yang baik yang dengan caranya sendiri bertahan hidup di dunia yang penuh tanpa arti ini. Tanpa sadar, justru akulah yang diubah olehnya.
“Lihatlah, sayangku, Luca. Aku pasti akan memanfaatkan hadiah pemberianmu ini untuk meraih kemenangan.” Dengan penuh keyakinan, Lia pun menyusun tekadnya.
Sementara itu di dunia nyata di luar, para penonton semakin bersorak dengan keras di kala pertandingan telah hampir mendekati endingnya. Hampir semua tampak bergairah dengan ekspresi antusias yang sangat bersemangat.
Namun di tengah-tengah situasi penonton yang seperti itu, justru tampak raut wajah tegang dari Luca maupun Nina.
“Hei, Luca. Bukankah ini gawat? Tim Silver Hero memang kelihatan unggul sekarang, tetapi di antara tim lain, mereka yang saat ini berada pada posisi yang tidak menguntungkan. Asario pemain terhebat mereka justru dikeroyok oleh tim lain, sementara para pemain terhebat dari tim lainnya masih dalam keadaan segar bugar.”
“Tenang saja, Kak Nina. Kalau itu Lia dan Senior Asario, mereka pasti bisa melewati krisis ini.”
Ujar Luca dengan yakin sembari menatap serius ke arah layar yang menampakkan pertarungan dengan jelas. Luca sepenuhnya percaya akan kemampuan tim yang didukungnya itu.
“Hiyat.”
Lia pun kembali memulai pertarungan dengan pace yang lebih cepat dan menggebu-gebu dibandingkan yang sebelumnya.
Lia melayangkan tinjunya hendak mengincar para magical boy.
Para magical boy berupaya menghindar dengan sekuat tenaga memanfaatkan kelincahan gerak mereka. Tetapi pada suatu waktu, stamina mereka tidak mencukupi lagi.
Mereka mulai kewalahan dengan penambahan pace serangan yang tiba-tiba itu.
__ADS_1
“Hei, dasar wanita! Kau beraninya melayangkan tinjumu padahal kamu adalah seorang healer!” Salah satu dari magical boy itu pun berteriak marah.
Tapi Lia tetap dengan yakin melayangkan tinju yang dilapisi aura yang diperkuat oleh pakaian silat Evony-nya itu.
“Aaaaaaakh!” Satu musuh pun pada akhirnya berhasil ditangkap oleh tinju maut sang battle healer tersebut.
Magical boy itu segera dapat berhasil menghindari serangan tinju Lia yang kedua. Sayangnya, Lia dengan cepat mensummon pistol heroine tipe sihir-nya lantas dengan cepat pula dia menembaki sang magical boy yang sudah terluka cukup parah berkat tinju mautnya hingga magical boy itu akhirnya gameover dalam pertandingan.
“Sonia! Kurang ajar kau ya, dasar wanita!”
Teriak sang magical boy yang terakhir dengan penuh amarah.
Tetapi Lia sekali lagi hanya melanjutkan serangannya tanpa membalas sepatah kata pun.
“Dor, dor, dor, dor, dor.” Lia melayangkan tembakan sihirnya ke lima arah yang berbeda, tetapi bukan pada tempat di mana magical boy terakhir itu berada.
“Heh, kau sudah kehilangan akal sehatmu rupanya ya, wanita! Kamu pikir di mana kamu menyerang, hah?!”
Namun, magical boy itu segera sadar apa yang diincar oleh Lia sebenarnya begitu dua peluru sihir dari kanan dan kirinya secara bersamaan hendak menghantamnya.
Magical boy itu melompat dengan cekat sehingga dia mampu menghindari kedua peluru sihir itu.
Akan tetapi, dua peluru sihir lainnya dari arah depan dan belakangnya lanjut mengintimidasinya. Dia pun meliukkan badannya yang masih di udara ke kiri dan ke kanan dengan lincah sehingga peluru sihir kembali dapat dihindarinya.
“Bam.”
“Aaaakkkh!”
Sang magical boy pun meraung kesakitan akibat hantaman peluru sihir.
Tanpa membuang-buang kesempatan yang ada, Lia dengan tinju di tangan kanan yang dilapisi oleh aura putih yang lebih tebal dari sebelumnya, meninju ke arah wajah sang magical boy.
Kepala sang magical boy pun seketika meledak dan kehilangan bentuknya. Magical boy yang terakhir itu pun turut gameover dalam pertandingan. Kemenangan mutlak buat Lia.
Sesaat kemudian, Lia kembali mensummon pistol heroine tipe sihir-nya. Tetapi apa yang dilakukannya membuat seketika semua penonton di dunia nyata di luar menjadi riuh penuh kegemparan.
Lia menodongkan pistolnya ke kepalanya sendiri.
Lalu, “Dor!” Lia menembak kepalanya sendiri.
Penonton pun riuh mempertanyakan keputusan Lia yang ceroboh itu. Banyak dari penonton yang berspekulasi bahwa Lia sama sekali tidak memahami peraturan pertandingan. Walaupun Lia tereliminasi melalui tangannya sendiri dan bukan lewat pemain dari tim lain, skor poin korban-nya tetap akan diperoleh oleh tim lain yang memberikan damage terbesar ke lawan.
__ADS_1
Itu tetap berlaku walaupun pada akhirnya lawan itu memutuskan untuk membuat dirinya sendiri gameover, termasuk Lia yang dalam hal ini poin korban akan jatuh ke tangan Tim Puririn sebagai penyumbang damage terbesar buat Lia.
Tetapi, semua penonton telah salah sangka. Tidak, ada penonton yang tampaknya paham keputusan Lia. Dialah Luca sang pacar.
Semuanya lupa bahwa sejatinya Lia bukanlah seorang mage, melainkan seorang cleric dan pistol yang ditembakkannya itu, bukanlah peluru sihir seperti yang dilayangkannya pada para magical boy itu, melainkan peluru penyembuhan.
“Dor, dor.” Lia sekali lagi menembak kepalanya.
Dalam waktu sekejap, HP-nya kembali pulih dalam keadaan penuh seperti sedia kala, walau tentu saja tetap dalam poin SP yang sudah hampir di ambang batasnya, serta MP yang hanya tersisa sekitar 60 % saja.
Dua puluh meter di utara Lia, tampak pertempuran juga sudah akan memasuki babak terakhirnya.
Sang swordsmen dari Tim Vdol telah terbentang tak berdaya, setelah tertusuk telak oleh pedang besar sang pimpinan Tim Borjuin. Sesaat kemudian, sang swordsmen itu pun gameover dalam pertandingan.
“Hei, Bung, mari kita bicarakan ini baik-baik. Oke? Lihat, tim kita saja saat ini di sebelah barat juga bekerjasama demi mengalahkan Asario dari Tim Silver Hero yang merupakan ancaman terbesar kalian. Bagaimana kalau kalian memanfaatkan babak ini untuk menyingkirkan pesaing terkuat terlebih dahulu dengan membiarkan tim kami yang lemah yang melaju ke babak selanjutnya?”
Sang thief Tim Vdol tampak berupaya menghasut sang pimpinan Tim Borjuin demi menyelamatkan diri dari kekuatan super dahsyat sang robot. Tak heran jika Luca mengatakan bahwa pimpinan Tim Borjuin inilah yang terkuat kedua setelah Asario.
Akan tetapi, sang pimpinan Tim Borjuin tampak tak bergidik sedikit pun lantas mengayunkan pedangnya ke arah sang thief yang sudah tidak berdaya lagi untuk bangkit.
Sang thief Vdol pun turut gameover dalam pertandingan menyusul rekan swordsmen-nya setelah gagal bernegosiasi dengan sang pimpinan Borjuin.
“Jadi, kamu lawanku selanjutnya rupanya, wanita.”
Ujar sang pimpinan tim Borjuin sambil melirik ke arah belakangnya. Rupanya di sana, telah berdiri seorang wanita yang sedari tadi menunggunya, siap memulai babak baru pertarungan. Dialah Lia, sang cleric dari Tim Silver Hero.
\=\=\=
Hasil pertandingan sementara ruang virtual C sesi ketujuh
Silver Hero, jumlah korban \= 6, jumlah pemain tersisa \= 2
Borjuin, jumlah korban \= 4, jumlah pemain tersisa \= 2
Puririn, jumlah korban \= 3, jumlah pemain tersisa \= 1
Vdol, jumlah korban \= 1, jumlah pemain tersisa \= 1
\=\=\=
__ADS_1