The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
190. Demon vs Sistem


__ADS_3

“Kupikir darimana energi yang sangat menjijikkan itu berasal. Aku sama sekali tak menyangka. Rupanya di tempat seperti ini, aku akan menemukan seekor naga emas. Jadi siapa saint-nya? Apakah itu kamu? Atau kamu?”


Suatu sosok yang menjijikkan tiba-tiba saja datang entah darimana lantas dengan sombongnya menunjuk aku lalu Egi dengan pandangan yang sangat merendahkan.


“Master, cepat kembali ke portal! Makhluk ini berbahaya! Aku akan mencegatnya selama mungkin selama Master dan rekan Master melarikan diri.”


Aura segera tahu bahwa sosok yang muncul di hadapan kami itu bukanlah sosok yang baik. Dia pun seketika berlari menerjang ke arah sosok yang menjijikkan itu. Aura segera mengaktifkan perisainya untuk perlindungan. Akan tetapi,


“Craaaang.”


Hanya dalam satu sapuan tangan makhluk menjijikkan itu, perisai Aura pecah bagai gelas tipis yang rapuh.


Makhluk menjijikkan itu pun melayangkan cakarnya kepada Aura. Dan hanya dalam sekali serangan cakarannya, Aura langsung tidak berdaya dan dia pun begitu saja langsung game over dari arena.


Syukurlah aku dan Aura membentuk kontrak pet dan master. Jikalau tidak, aku pasti telah akan kehilangan Aura dari dunia ini.


“Monster menjijikkan sialan!” Aku yang marah atas perlakuan monster menjijikkan itu kepada Aura seketika kehilangan rasionalitas dan turut pula hendak menyerang monster yang sangat menjijikkan itu.


“Luca, tenanglah! Lihat status monster itu! Itu bukan status monster normal. Kita takkan dapat mengalahkannya. Lebih baik kita segera keluar dari tempat ini perihal tombol log out yang tidak berfungsi menyebabkan aku berfirasat buruk.”


Jika bukan karena Egi yang mengingatkanku, aku pasti sudah akan bertindak gegabah.


“Egi.”


“Baguslah. Kamu tampaknya sudah tenang, Luca.”


Akan tetapi, monster menjijikkan itu sama sekali tidak membiarkan kita memperoleh waktu istirahat. Dia seketika maju menerjang hendak menghabisi kami.


Namun, Igun sang griffon muda menghalangi langkahnya.


“Traaaang.”


“Igun!”


“Kamu juga mau melawanku, burung hina?!”


Tidak, ini tidak boleh dibiarkan. Jika Igun terus-terusan menghadapi monster yang berbahaya seperti itu, dia bisa sekarat dan bisa saja… Tidak, bahkan aku tidak bisa memikirkan kemungkinan terburuknya.


Padahal setelah Igun akhirnya memperoleh kebebasannya setelah lama terkungkung dan tersiksa di tempat seperti ini, mana mungkin kubiarkan dia akan mati begitu saja tanpa menikmati apa yang disebut kebebasan itu.


Namun demikian, sesuai perkataan Egi, monster itu bukanlah monster biasa. Ini pertama kalinya aku berhadapan dengan monster yang seperti itu. Ras yang paling ditakuti di Gardenia. Sama halnya dengan naga, seharusnya ras tersebut hanyalah menjadi legenda saja. Tetapi secara ajaib, ras dari legenda terjahat seperti itu bisa muncul di hadapan kami.


\=\=\=

__ADS_1


Nama: Beryl (Lv 424)


Ras: demon


Umur: 400 tahun


\=\=\=


Itu bukan lagi level yang bisa kami tangani. Walaupun tidak sehebat naga wabah berlevel 999 yang dulu pernah kuhadapi, tetap saja level 424 itu adalah masih merupakan level yang terlalu tinggi buatku.


Terlebih berdasarkan legenda, ras demon memiliki kekuatan over power bertipe kegelapan yang berada di luar imajinasi kami. Adalah keputusan yang tepat untuk melarikan diri dari lawan yang seperti itu.


“Ciaaaaaak!”


Igun tiba-tiba bersuara seakan memberi kami isyarat untuk segera lari sementara dia menghalang sang monster-nya.


Mana mungkin itu akan kubiarkan!


Berbeda dengan Aura yang membentuk kontrak master-pet denganku, keberadaan Igun tidak lain hanyalah sekadar NPC di dunia ini. Jika sampai dia mati di dunia ini, maka itu akan segera menjadi akhir hidupnya.


Tidak! Itu tidak boleh terjadi! Mengapa harus makhluk menderita seperti itu yang baru saja memperoleh kebebasannya harus segera menemui ajalnya di tangan monster menjijikkan seperti itu?! Aku takkan pernah membiarkan itu terjadi!”


“Burung yang berisik. Enyahlah.”


‘Tidak. Jika dibiarkan begini terus, maka Igun akan musnah.’


“Luca!”


Tanpa pikir panjang aku pun berlari ke arah Igun hendak menghalau laser beam berwarna hitam pekat yang diarahkan ke arahnya itu. Walau demikian, setelah itu aku tak tahu lagi apa yang harus dilakukan.


Aku juga bukannya punya skill perisai yang dapat menghalau serangan musuh. Aku hanya punya badan ini. Setidaknya, aku saja yang game over menggantikan Igun. Aku adalah seorang player yang jika game over, maka aku hanya akan kehilangan tubuh avatar-ku ini untuk sementara.


Dalam waktu 24 jam, tubuh avatar itu juga akan segera te-respawn di mana aku hanya akan mengalami penurunan level sebanyak 1. Tidak, itu pun salah. Aku kan sedari awal punya gelar ‘sang wanderer sejati’ sehingga penalti game seperti itu takkan berlaku buatku. Setelah game over, aku hanya akan segera tersummon kembali ke arena dalam keadaan utuh seperti semula.


Jadi semakin tidak ada alasan bagiku untuk tidak mengorbankan tubuh ini demi Igun. Dengan demikian, griffon muda ini dapat selamat dan merasakan yang namanya hidup bebas yang selama ini belum pernah dia rasakan.


Aku hanya berdoa semoga kutukan banshee ras kegelapan takkan ikut berpengaruh pada tubuh nyataku. Terus terang, aku sebenarnya juga takut akan sampai di mana pengaruh kekuatan serangan ras demon yang kejam itu. Akankah benar-benar berpengaruh di tubuh nyataku? Namun, apa boleh buat. Ini adalah keputusan paling bijak yang bisa kuambil saat ini.


Namun, di saat itulah tiba-tiba terjadi keanehan pada AI sistem-ku.


“Peringatan bahaya level mitos!”


“Makhluk tak teridentifikasi sedang menyerang pemain di dalam game.”

__ADS_1


“Melakukan instruksi manual pencegahan bahaya tak teridentifikasi.”


Dalam sekejap, berbagai senjata mecha yang tak terhitung jumlahnya bermunculan di udara bersamaan dengan munculnya perisai mecha yang tampak terbuat dari pengetahuan tingkat tinggi dari peradaban yang jauh.


Perisai mecha itu pun menahan serangan sang makhluk demon sehingga baik aku dan Igun pun dapat selamat dari tempat itu. Kulihat bahwa Egi yang juga tampak sama sekali tidak memahami situasi yang sedang terjadi mendekat ke arahku dalam tampang yang linglung. Namun kami di tempat itu, hanya mampu menyaksikan kehebatan kekuatan mecha yang tampak berasal dari peradaban yang jauh itu.


“Sistem sialan! Kau ingin mengalahkanku?! Jangan bermimpi!” Makhluk demon itu pun tampak mulai kehilangan rasionalitasnya lantas menyerang dengan serangan yang juga turut di luar batas imajinasi manusia.


Akan tetapi, senjata mecha yang dikatakannya tampak berasal dari sistem itu mampu menghalau tiap serangannya hingga tidak tembus keluar dan mencederai kami. Tidak hanya itu, jibunan senjata-senjata mecha itu lantas mulai menembaki sang demon dengan gencar hingga tampak sang demon mulai hancur dan kehilangan wujud fisiknya. Dalam sekejap, tak terlihat lagi tanda-tanda keberadaan sang demon tersebut.


Dia benar-benar telah dimusnahkan oleh makhluk bernama sistem itu.


“Luca, ini?”


“Entahlah, Egi. Aku tidak tahu. Aku juga baru pertama kali menyaksikan pemandangan yang seperti ini.”


Dari awal, aku sudah merasa bahwa sistem itu agak sedikit aneh. Dia mengatur segala yang ada di game sehingga bahwa celah dimensi di mana tempat hal-hal berbahaya berada seperti naga wabah berlevel 999, dark elf bawahan demon yang sempat mengurung Kak Rahnee, juga cucu Nenek Noni versi original yang telah terpengaruh oleh kutukan demon, tidak membawa dampak bahayanya ke dunia game.


Tidak hanya itu, sistem game juga membentuk mekanisme dunia cermin dan dunia bayangan seperti yang dikatakan oleh kakek-kakek berambut putih yang memiliki aura seperti Ayah yang menggantikan kerusakan bagian dunia game dengan bagian yang baru.


Yang lebih mengerikan adalah bahwa sistem itu tidak hanya mengganti material saja, tetapi termasuk makhluk hidup di dalamnya seperti bagaimana dia dengan dingin menggantikan keberadaan Nenek Noni yang telah meninggal dan cucunya yang telah terkena kutukan demon dengan doppelganger mereka dari dunia cermin yang kuselesaikan.


Jangan jauh-jauh ambil contoh. Keberadaan Igun yang saat ini bersama kami juga adalah salah satu contohnya. Dia pada hakikatnya adalah doppelganger dari Igun asli yang berasal dari dunia cermin. Ya, tempat kami berada sekarang tidak lain adalah dunia cermin yang sedang menggantikan bagian dunia game yang rusak.


Mungkin saja, Igun asli yang saat ini secara bertahap dibuang ke dunia bayangan di celah dimensi telah lama kehilangan kehidupannya perihal tak mampu lepas dari jeratan kekangan rantai-rantai itu.


Jika kancing esensi kenyataan tidak bereaksi dan membuka celah dimensi itu, itu berarti hal itu bukanlah sesuatu yang bisa aku hadapi dengan kekuatanku saat ini. Aku belum memiliki kekuatan yang cukup untuk menyelamatkan Igun asli di dunia bayangan. Aku harus bertambah kuat.


Egi pun segera menyeretku keluar dari portal setelah salam perpisahan dengan Igun sang griffon. Setelah berada di luar portal, kembali ke dunia real game, Kak Silvia segera menghampiriku dan tampak memelukku dengan sangat erat karena mengkhawatirkanku.


Yah, semuanya pada akhirnya berjalan dengan lancar dan tampak di sini pun, Kak Silvia, Zevan, dan Asti, mampu menyelesaikan sisa-sisa quest-nya dengan baik sambil menunggu kedatangan kami.


Akan tetapi, pandangan Kak Silvia tiba-tiba saja kehilangan kecerahannya ketika aku dan Egi menceritakan perihal kemunculan sosok Beryl di dunia cermin itu dan betapa dia bertambah khawatir lagi terhadapku.


Pikiranku tidak lepas dari rasa penasaran tentang mengapa sosok legenda kegelapan seperti demon tiba-tiba saja muncul di tempat seperti itu. Tidak, tidak, bukan itu. Lebih daripada demon itu sendiri, aku lebih penasaran tentang apa sebenarnya sosok yang bernama sistem itu.


Apakah dia benar-benar hanya sekadar AI yang diciptakan oleh perusahaan game AD saja? Kalau dia memang sekadar AI, dia terlalu pintar dan kompleks, tetapi di satu sisi terasa memiliki kemanusiaan yang membuatnya terasa mirip dengan manusia.


Tidak hanya yang kusebutkan di atas, sistem itu masih memiliki banyak keganjilan lagi. Seperti bagaimana di kala aku berpikiran untuk mempelajari mana di awal-awal game, dia segera memarahi aku bagaikan seorang ibu yang tak ingin anaknya menempuh jalan yang salah di mana dia tidak berbakat akannya.


Sistem itu pun sering mengejek aku layaknya seorang saudara yang mengejek satu sama lain di kala aku melakukan hal-hal yang konyol. Di kala aku menemukan kesulitan, dia pula yang membantuku menemukan solusinya.


Bahkan, ketika aku bermain game lain, yakni Game The Last Blood yang dibawa oleh Kak Leo, mungkin perasaanku saja, tetapi tampak sistem yang sama juga mengikutiku ke sana. Lantas, siapa sebenarnya sistem itu?

__ADS_1


__ADS_2