
“Jadi kamu yang namanya Luca. Aku telah melihat pertandinganmu sebelumnya. Kamu memang berbakat.” Dengan ucapan singkat itu, Pak Syarifuddin memuji Luca, tetapi dengan nada suara yang dalam dan mencekam sehingga tak terdengar seperti pujian sama sekali.
Luca hanya dapat bengong menyaksikan aura menakutkan yang terpancar dari Pak Syarifuddin itu.
Pak Syarifuddin pun melalui Luca lantas melihat kepada anak-anak yang lain. Sontak seluruh anggota klub ketakutan begitu menyaksikan Pak Syarifuddin menangkap basah mereka melakukan sesuatu yang salah.
“Apa yang tadi saya suruhkan kepada kalian?”
“Maaf pelatih! Kami telah berbuat salah!”
“Kesalahan? Kesalahan apa memangnya yang kalian perbuat?” Sekali lagi dengan nada suara yang dalam dan mencekam itu, Pak Syarifuddin bertanya kepada mereka.
Salah satu di antara mereka yakni Robby memberanikan diri dalam menjawab.
“Kami disuruh menganalisis strategi Tim Silver Hero yang mengantarkan mereka pada kemenangan, tetapi kami malah seenaknya mengadakan duel dengan mengabaikan tugas dari pelatih.”
“Hah.” Pak Syarifuddin menghela nafasnya.
“Itulah kelemahan kalian. Kalian selalu terlalu terburu-buru dalam bertarung sehingga melupakan taktik untuk bisa mengalahkan lawan. Tapi itu masih lebih baik daripada pengecut yang sama sekali tidak berani bertarung.”
Pelatih lantas melirik Robby, Danang, dan Yurika yang membuat mereka sampai merinding ketakutan.
__ADS_1
“Robby, Danang, Yurika, kalian selalu bermain di zona comfort kalian dan selalu menghindari tantangan sehingga perkembangan kalian selalu stagnan. Walaupun akan kalah, setidaknya kalian memberanikan diri menerima tantangan Luca lantas memanfaatkan kesempatan itu untuk menganalisis kelemahan kalian sendiri dalam bertarung.”
Pernyataan pelatih yang seakan mendukung tindakan Inggar dan Rena dalam mengajukan duel kepada Luca, membuat mereka berdua sejenak kegirangan. Akan tetapi,
“Oke. Sebagai hukuman karena kalian telah melanggar perintah pelatih, kalian semua harus keliling lapangan outdoor sekolah sebanyak 5 kali putaran. Ditambah untuk Inggar dan Rena, kalian harus menulis laporan tentang analisis pertandingan kalian melawan Luca dan wajib dikumpukan besok.”
Perintah sang pelatih pun membuat mereka semua memiliki ekspresi ikan mati.
Mereka semua kembali berkumpul di ruang klub untuk kembali menyaksikan pertandingan Tim Silver Hero melawan Tim Passionate yang akhirnya mengantarkan Tim Silver Hero memperoleh 3 poin tambahannya dan memantapkan langkah mereka menuju ke babak semifinal dalam ajang kompetisi e-sport profesional tingkat nasional tersebut.
Sebagai petarung pertama, ada Lia, cleric dari Tim Silver Hero, melawan seorang fighter dari Tim Passionate. Lia bertarung dengan cemerlang memanfaatkan aliran mana untuk memaksimalkan kekuatan tinjunya sehingga walaupun dia seorang cleric, dia dapat bertarung secara barbar mengalahkan lawan dengan tinjunya.
Ada 18 orang anggota klub yang masih resmi terdaftar di klub e-sport tersebut. Namun yang hadir saat ini hanyalah 15 orang saja. Tiga orang dari kelas 3 yang di luar dari pemain inti sama sekali tak terlihat saat itu.
Hal ini tentu membuat orang-orang yang saat ini berada di tim cadangan utama dan cadangan tambahan lebih terbakar semangatnya untuk merebut 5 tempat tersisa di tim inti agar dapat turut mewakili sekolah mereka dalam ajang pertandingan e-sport paling bergengsi di tingkat SMA tersebut.
Dengan kata lain, semuanya ingin mengambil hati sang pelatih sebagai orang yang akan menentukan pemain mana yang akan mengisi komposisi itu.
Dialah Ikki, salah satu pemain pengisi tempat cadangan utama, pria yang terlihat pintar yang memulai pembicaraan di dalam ruangan tersebut dengan memberikan analisanya pada pertarungan Lia, sang cleric.
“Menurutku, penampilan Lia sangat menarik. Dia memaksimalkan stat strength kelasnya yang lemah dengan suatu skill sihir untuk mengalahkan musuh. Dia benar-benar mengingatkanku pada battle healer di generasi pertama pertandingan e-sport.”
__ADS_1
“Kalau dipikir-pikir, pada pertandingan e-sport generasi pertama sewaktu masih menggunakan The First Altoria, kelas pemain hanya dibagi menjadi empat kan, yakni DPS, ranger, tanker, dan support?” Shea, sang cleric dari pemain cadangan utama, menambahkan.
“Kalau berbicara soal battle healer di generasi pertama, itu berarti kamu mengacu pada pemain support legendaris yang bernama Angel itu kan?” Rena, sang tamer dari pemain cadangan utama ikut menambahkan.
“Ya benar, benar. Sampai sekarang pun, sosoknya masih melegenda di dunia internet.” Begitu Shea dan Rena turut memuji idolanya itu, Ikki tak dapat menahan perasaan senangnya. Namun seketika ekspresinya itu kembali surut, “Sayangnya, tak terdengar lagi berita soal dia. Aku sedikit kecewa. Tapi apa mungkin Lia ini ada kaitan dengannya ya?” Sedikit harapan timbul di benak Ikki.
Mungkin yang lain tidak menyadarinya karena kekakuan ekspresi Pak Syarifuddin, tetapi Luca berhasil menangkap perubahan gelagat dari sang pelatih sewaktu Ikki dan kawan-kawan membahas soal sang battle healer, Angel, tersebut.
Apa jangan-jangan Pak Pelatih punya hubungan dengan orang yang bernama Angel itu ya?” Luca pun menggumamkan kecurigaannya.
Setelah Lia sang cleric, kini giliran mereka menyaksikan pertarungan yang kedua antara Medina, sang tamer dari Tim Silver Hero melawan sesama tamer dari Tim Passionate.
Medina mempunyai 8 ekor serigala perak sebagai beast-nya sementara tim lawan memiliki beast yang tampak sedikit lebih kuat yakni seekor beast yang mirip beruang, tetapi hanya berjumlah seekor. Hal itu menyebabkan Medina dapat menang mudah dengan memanfaatkan empat ekor beast-nya untuk menghalangi beast lawan sementara sisanya menerkam sang majikan beast di belakang. Tamer dari Tim Passionate dengan mudah dikalahkan.
Kemudian untuk giliran yang ketiga, Tim Silver Hero mengirimkan pemain cadangan mereka, Toni sang shielder. Toni berhadapan dengan seorang swordsmen dari tim lawan. Pertarungan terjadi lebih lama dibandingkan dengan dua pemain sebelumnya, tetapi berkat Toni yang mampu memaksimalkan stat agility-nya pada kelas shielder itu, dengan cepat Toni dapat menguasai alur pertarungan.
Ketika sang swordsmen akan mengeluarkan ultimate skill-nya, Toni terlihat menunggu dengan skill pertahanan tamengnya seperti yang telah biasa tipikal kelas shielder akan lakukan. Tetapi begitu sang lawan melancarkan serangan tersebut, barulah sang lawan menyadari bahwa apa yang dikeluarkan Toni itu sama sekali bukan skill pertahanan.
Toni dengan sigap menghindari ultimate skill sang swordsmen dengan kelas shielder yang seharusnya memiliki stat agility terlemah dibandingkan dengan kelas yang lain itu. Lalu kemudian,
“Skill, pemangsa.” Dia meneriakkan nama skillnya, kemudian delapan ekor ular pun keluar dari tamengnya lantas menyerang sang lawan, mengisap esensial kehidupannya serta meracuninya. Lawan pun kalah akibat kehabisan HP.
__ADS_1
Begitu tayangan video selesai, sang pelatih pun bersuara, “Nah, Luca, jika kamu berada di posisi Tim Passionate, bagaimana caramu akan mengalahkan pemain Lia, Medina, dan Toni itu?” Tanpa diduga-duga, sang pelatih mengajukan pertanyaan kepada Luca.