
Melalui portal yang terletak di desa pemula, aku dan rombongan berteleportasi ke Ibukota Kekaisaran Lalania, Kota Allidra Ekin. Dari sana, kemudian kami transit ke Kota Gridnyard, kota terdekat yang masih ada portalnya.
Karena di Desa Kaukau yakni desa yang menjadi tujuan perjalanan kami tidak ada portal, kami pun memilih rute darat di mana kami bersepakat untuk memilih mengendarai kuda secara langsung saja alih-alih kereta kuda demi mempersingkat waktu perjalanan kami berhubung waktu yang disediakan oleh sistem kepadaku dalam menyelesaikan misi terbatas.
Kami mengendarai 4 kuda. Aku berkendara dengan membonceng Lia di belakang, sementara Paman Heisel membonceng Kak Andra. Senior Areka pada awalnya bersikeras untuk menunggang kuda sendiri karena mengaku telah pernah mempelajarinya. Dan terbukti dia memang bisa, tetapi itu hanya bertahan sekitar setengah jam saja. Setelah itu kecepatannya melambat karena mengaku bahwa pantatnya kesakitan.
Diapun akhirnya bertukar menjadi penumpang dengan Kak Keporin sebagai pengendaranya. Adapun Kak Raia yang semula dibonceng oleh Senior Areka, akhirnya beralih dibonceng oleh Kak Dimitri, orang dari guild assassin yang baru aku kenal itu.
Tidak, aku yakin kedatangannya di guild adalah sebagai mata-mata, perihal aku juga telah melihat video tutorial vrmmorpg The Last Gardenia di mana dirinya adalah agen intelijen dari Kerajaan Symphonia yang terkenal. Yang aku herankan adalah mengapa dia tetap menggunakan nama yang sama seolah tidak berniat sama sekali menutupi identitasnya.
Dan jika itu benar bahwa kedatangannya di guild assassin kami adalah sebagai mata-mata, tepat beberapa saat sejak aku menghilang dari quest di Kerajaan Symphonia, itu berarti dia ingin mencari tahu aku yang berhubungan dengan fenomena aneh yang terjadi di Kerajaan Symphonia beberapa waktu lalu itu.
Tetapi itu tidaklah mengapa karena aku tak berniat menyembunyikan apapun. Namun, yang kukhawatirkan adalah pembatasan oleh sistem yang mencegahku memberikan informasi tentang dunia luar sampai tahap tertentu.
Setelah dua jam lebih berkendara, kami pun tiba di Desa Kaukau.
Aku yang memimpin grup di depan kemudian menjadi yang pertama kali bertemu dengan penjaga.
“Darimana asal kalian dan ada keperluan apa kalian berkunjung ke desa terpencil ini?” Pertanyaan yang diajukan oleh penjaga berbadan besar serta berwajah seram itu sekilas membuat aku bergidik. Namun, kami pun menunjukkan identitas kami, ID untuk para NPC, sementara papan status untuk kami para wanderer.
Seketika wajah yang seram itu berubah lunak dan memperlakukan kami dengan ramah begitu mengetahui bahwa kami bukanlah orang yang mencurigakan. Ternyata, Pak Penjaga juga adalah orang yang baik.
Hanya dengan perjalanan saja waktu pun sudah hampir 3 jam berlalu. Padahal di hari ini, kami hanya punya waktu 4 jam untuk menjalankan misi perihal jam larangan bermain game bagi anak di bawah umur itu.
__ADS_1
Akan tetapi, kulihatlah ekspresi Lia yang begitu tertarik dengan buah-buahan eksotis dan kuliner yang dijual di pasar. Oh iya, walaupun di dunia nyata saat ini adalah sekitar pukul 22.30 lewat, tetapi tampak masih senja di desa ini.
Kekaisaran Lalania memang terkenal dengan buah-buahan eksotis dan kulinernya, tidak hanya di ibukota, tetapi juga di seluruh pelosok negerinya. Wajar saja jika Lia tertarik dengan semua itu. Aku pun sebagai pemimpin grup tersebut, sebelum menjalankan misi memutuskan untuk menikmati kuliner dan buah-buahan eksotis yang menggiurkan itu.
Tampak Kak Andra dan Kak Raia tidak keberatan sama sekali akan hal itu karena mereka juga terlihat sangat penasaran. Hal itu tidak jauh beda buat Senior Areka, hanya saja, dia tetap pada sikapnya yang malu-malu kucing.
Sungguh aneh rasanya. Padahal aku tidak sedang menggunakan tubuh asliku, tetapi aku dapat menikmati segala buah-buahan dan kuliner yang menggugah selera ini dengan nikmatnya. Sensasi rasa dan bau makanan benar-benar terasa asli, sama persis ketika aku menggunakan tubuh asliku. Ditambah, sensasi kenyang dan puas yang aku rasakan juga terasa begitu asli.
Sampai-sampai timbul pikiran aneh di dalam kepalaku, jika seandainya aku makan makanan di dalam game saja dan tidak keluar-keluar game selama berminggu-minggu, apakah kira-kira tubuh asliku masih hidup tanpa butuh makanan asli. Yah, tentu saja aku sudah tahu bahwa jawabannya adalah tidak, perihal Pak Susanto, guru biologiku sebelumnya telah menjelaskannya di kelas secara detail.
Di situ, aku mengenal banyak NPC-NPC yang ramah. Ada Bu Maryam penjual kuliner dari bahan cumi-cumi, Pak Sardi penjual buah apel, Dik Angga penjual jajanan manis menggiurkan selera, dan masih banyak lagi. Tidak hanya Lia dan kawan-kawan, aku juga betul-betul menikmati jajanan hari ini.
Ini sungguh dilematis mengingat selama 15 tahun aku hidup di benua ini, aku sama sekali tidak pernah merasakan indahnya alamnya. Justru ketika aku terpisah dan terdampar di dunia lain lantas kembali ke sini sebagai wanderer, aku baru menyadari betapa indahnya semua itu.
.
.
.
Pukul 11 tepat, kami menghentikan wisata kuliner kami. Kami berniat untuk menggunakan sisa waktu satu jam itu paling tidak untuk menemukan petunjuk mengenai penjahat yang kami cari lalu bersiap merencanakan berbagai hal untuk mengeksekusinya besok.
Kak Andra pun mulai mengaktifkan skill khusus kelas scoutnya untuk mencari sang target. Sang target, Philtory, adalah seorang necromancer sehingga seharusnya mudah ditemukan dari aliran energinya yang tak wajar karena bercampur dengan mana yang mati.
__ADS_1
Dan bingo! Hanya dalam waktu pencari 4 menit 15 detik, Kak Andra tampaknya sudah selesai dalam pencarian.
“Ketemu.” Ujarnya dengan penuh kepastian.
“Tetapi mengapa jika quest-nya semudah itu, hanya mencari lalu membunuh target, seharusnya Sayang Luca dan Andra seharusnya sudah cukup keberadaannya di sini. Mengapa sampai membutuhkan party berjumlah delapan orang?” Lia pun bertanya.
“Karena ini berkaitan dengan necromancer, bukankah dia nantinya akan membangkitkan para zombie? Lagian di sini kan dekat dengan tanah kematian.” Lalu Senior Areka menjawab pertanyaan itu, tetapi jawabannya begitu menyeramkan sampai membuat bulu kudukku merinding. Aku tak bisa membayangkan kalau semua zombie di tanah kematian tiba-tiba bangkit lantas menyerang kami.
“Hahahahaha. Itu tak mungkinlah soalnya ini hanyalah ujian kenaikan newbie. Mana bisa tingkat kesulitannya akan sama dengan quest utama yang membutuhkan partisipan minimal 100 pemain.” Aku juga sependapat dengan Kak Raia.
Namun, kulihatlah senyum tersungging di bibir Kak Andra. Dengan santai dia berujar, “Hahahahaha. Tebakanmu benar, Senior Areka. Ini akan menjadi quest yang menyenangkan. Necromancer itu tampaknya telah memanggil ribuan zombie dari tanah kematian dan sebentar lagi akan menuju ke tempat ini.”
Apa yang baru saja diucapkan oleh Kak Andra itu? Aku sama sekali tidak mengerti. Karena tidak mengerti, aku pun mencoba mengonfirmasinya, “Kak Andra, apa yang baru saja Kakak ucapkan? Ribuan zombie? Lantas bagaimana nasib para penduduk di desa ini?”
“Hahahahaha. Apa yang kamu khawatirkan, Luca? Mereka kan hanya NPC. Yang penting bagi kita adalah mengumpulkan poin quest. Karena membantumu menyelesaikan quest tak akan memberikan sumbangan apa-apa pada reward kami, maka tentunya side quest seperti ini bagaikan hadiah buat kita.”
Benar. Mereka sama sekali tak pernah menganggap orang-orang yang hidup di dunia ini sebagai manusia. Mengapa aku sampai melupakan hal itu? Bagi para player, keberadaan para NPC tak ubahnya hanya jalan untuk mendapatkan quest demi poin game mereka.
Dengan menahan perasaan sesak di hatiku ini, aku berlari menuju ke para penjaga gerbang demi memperingatkan mereka tentang bahaya serbuan zombie yang sebentar lagi akan menyerbu desa.
“Hei, Nak. Jangan main-main dengan kami, para penjaga. Memangnya darimana kamu tahu akan ada serbuan zombie? Kami sudah capek menjaga gerbang seharian ini. Hargailah kami dengan tidak membuat kami harus bekerja dua kali.”
Namun para penjaga itu sama sekali tak mempercayai ucapanku.
__ADS_1