The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
56. Luca dan Party Delapan Orang


__ADS_3

Party Luca, Areka, dan Raia akhirnya tiba di desa pemula. Sembari menunggu kelima anggota party lainnya, tampak Areka melihat sekeliling dengan wajah nostalgia. Dia telah cukup lama tak lagi berkunjung ke desa pemula tersebut.


Tidak berselang beberapa lama, datanglah dua di antara lima orang yang ditunggu.


“Nona, apa benar ini tidak apa-apa? Kita bolos latihan selama 2 hari menjelang pertandingan final e-sport kita?”


“Tentu saja tidak apa-apa karena kita sudah dapat izin dari pelatih.”


“Walaupun begitu, apa Nona tidak lihat bagaimana wajah Senior Asario menatap kita seakan mau memakan kita hidup-hidup?”


“Abaikan saja orang yang tidak fleksibel sepertinya.”


Terdengar dari jauh bisik-bisik kedua orang itu. Dialah Lia, sang cleric, serta Andra, sang scout dari Tim Silver Hero.


Melihat wajah selebriti yang sedang naik daun itu secara random ada di hadapan mereka, bahkan setelah mengetahui merekalah anggota party yang mereka tunggu-tunggu, rahang atas dan rahang bawah Areka dan Raia pun terpisah dengan cara yang mencengangkan.


Mereka masih tidak bisa percaya sampai-sampai menganggap ini semua hanya mimpi bisa bertemu sosok yang sedang dielu-elukan di dunia e-sport saat ini. Atau mungkin mereka berdua hanya mirip saja dengan tokoh selebrita itu.


“Hai. Lia! Di sini.” Luca berteriak untuk menyapa mereka.


Melihat Luca yang berdiri sambil melambaikan tangan, Lia pun tersenyum sambil turut melambaikan tangan lalu segera berlari ke arah Luca. Andra mengikutinya dari belakang. Mereka pun saling bercengkerama.


Melihat dari dekat, Areka dan Raia pun tak dapat lagi menyangkal bahwa memang benar merekalah orangnya, dua dari anggota Tim Silver Hero yang kini menjadi selebrita terkenal pendatang baru di kalangan penggemar e-sport.


“Tetapi apa yang mereka lakukan di sini? Bukankah mereka ada pertandingan e-sport minggu depan? Tidakkah mereka harusnya sibuk latihan?”


Areka tak dapat menahan diri untuk tidak bertanya-tanya di dalam hatinya.


Tak lama kemudian, Lia dan Andra pun turut menyapa Areka dan Raia dengan ramah.


“Jadi, anggota scout yang Lia janjikan adalah Kak Andra rupanya. Salam kenal, Kak Andra.” Luca turut menyapa Andra dengan ramah lalu Andra balik pula menyapa dengan ramah.


“Tapi bukannya kalian seharusnya sibuk dengan ajang kompetisi e-sport kalian?”


Pada pertanyaan Luca itu, Areka turut menyimak dengan serius karena hal itu pulalah yang selama ini membuatnya penasaran.

__ADS_1


“Hahahahahahaha. Tidak usah khawatir, Sayang Luca. Pelatih sudah memberikanku izin. Lagipula di sini juga bagian dari latihanku untuk persiapan lomba e-sport tersebut.”


“Begitu.” Luca hanya berujar datar dan singkat terhadap jawaban Lia itu.


Justru yang lebih menunjukkan ekspresi kaget adalah orang yang berdiri di sebelah Luca, Areka.


“Jadi kalian pa pa pa pa pa pa…”


“Papa?” Ujar Luca heran atas ucapan tak lazim dari Senior Areka-nya tersebut.


“Kalian pacaran???” Akhirnya terungkap juga apa yang sedari tadi ingin Areka ucapkan.


Namun, alih-alih Luca yang menjawab, Lia menginterupsi duluan sembari memeluk Luca dengan erat dan mesra. “Begitulah. Aku dan Luca pacaran.” Ujar Lia dengan senyum nakalnya.


Mendengar jawaban itu, Areka menoleh ke sana dan ke sini, takut kalau sampai-sampai ada orang lain selain dari kelompok mereka yang mendengarkan ucapan Lia tersebut. Bagaimana tidak, hal ini pasti akan langsung menggemparkan dunia maya jikalau mereka sampai mengetahui selebriti yang sedang naik daun itu yang dikenal sebagai malaikat battle healer yang kedua punya pacar.


Sontak pacarnya alias Luca akan menerima amukan massa. Areka tidak bisa membayangkan jikalau hal itu sampai terjadi pada juniornya yang polos itu.


“Lagian mengapa mereka bisa pacaran? Menimbang karakter Luca yang unik itu, dia seharusnya tidak mudah didekati.”


Rupanya, keterkejutan Areka dan Raia, tidaklah berhenti sampai di situ persoalan 3 anggota party terakhir yang muncul 2 di antara 3 dari mereka adalah NPC yang sangat terkenal di Gardenia. Kedatangan mereka justru lebih menarik perhatian ketimbang kedatangan Lia dan Andra sebelumnya.


Hal itu tentu saja melihat bagaimana kedua orang NPC ini yang terlibat dalam main story sampai berkunjung ke desa pemula. Mereka pastinya mau tidak mau jadi bertanya-tanya apakah kedatangan mereka akan berkaitan dengan main story.


Hal itu tidak terlepas juga berlaku kepada Areka. Dia jadi mau tak mau penasaran apakah quest yang akan mereka jalani itu adalah quest kenaikan level menengah ke bawah Luca atau malah quest buat main story.


“Darimana bocah ini kenal dengan NPC-NPC penting ini?”


Areka mau tidak mau penasaran dan bertanya-tanya di dalam hatinya.


Tidak hanya Heisel Trakatov yang terkenal di antara mereka. Ada juga NPC lain yang tidak kalah terkenalnya. Dialah Dimitri Copenhagen, salah satu agen intelejen berpangkat tinggi dari Kerajaan Symphonia yang terletak jauh di sudut barat laut benua.


Berdasarkan brosur game The Last Gardenia, Dimitri Copenhagen inilah yang nantinya akan berperan penting dalam melatih para kadet pemain dan turut berjuang dalam menghadapi invasi para zombie dari tanah kematian yang terletak di utara benua.


Areka mau tidak mau bertanya-tanya apa yang dilakukan sosok penting yang seharusnya berada di Kerajaan Symphonia saat ini di desa pemula pada wilayah netral Gardenia.

__ADS_1


Meninggalkan ekpresi tak percaya Areka, Luca juga turut menatap ke arah para NPC itu dengan tatapan tak percaya. Namun tatapannya bukan tertuju kepada Pamannya, Heisel, maupun Dimitri, yang sampai membuat Areka tercengang itu, tetapi kepada sosok wanita yang ada di antara mereka.


Sosok dengan tubuh aduhai, tetapi begitu sampai ke wajahnya, seakan mengkhianati pandangan, wajahnya teramat sangat jelek. Luca pun memanggil sosok itu, “Kak Keporin, akhirnya Kakak pulang juga. Aku sangat rindu dengan Kakak.” Ujar Luca dengan antusias sembari berlari ke arah Keporin untuk menjabat tangannya.


Namun, lebih dari Areka, Lia tampak lebih shok akan hal itu. Melebihi faktor cemburu, apa yang dikatakan Luca di masa lalu kembali terngiang di dalam benaknya,


“Mbak sangat cantik seperti Kak Keporin.”


Itulah pujian pertama yang diberikan oleh Luca padanya yang sampai saat ini masih terngiang sebagai salah satu kenangan termanis bagi Lia di hidupnya. Namun, melihat wajah Keporin yang dimaksud Luca itu, semangat Lia pun jadi runtuh.


“Apa aku harus senang karena Luca menyukai wajahku atau harus sedih karena bagi Luca wajahku tidak jauh seperti itu?”


Lia bergumam terlarut dalam keputusasaan.


“Tidak, tidak. Itu pasti Keporin lain, bukan yang dimaksud Luca kala itu.”


Dari putus asa, Lia mengalihkan pikirannya kepada penolakan.


“Hei, Keporin, bisakah sekarang kau membuka topengmu itu? Menjijikkan tahu melihatmu terus mengenakan topeng itu.” Tiba-tiba, Dimitri berujar pada sosok wanita berbadan aduhai, tetapi berwajah mak lampir itu.


“Tapi hebat juga ya, kau bocah. Bisa mengenali Keporin dalam penyamarannya yang seperti itu.”


“Hahahahaha. Itu tentu saja karena Kak Keporin adalah Kak Keporin.”


Dimitri hanya menghela nafas mendengarkan tanggapan Luca yang tidak jelas itu.


Dimitri diam-diam menatap Luca dengan intens perihal Luca-lah yang menjadi objek utama pengamatan Dimitri yang jauh-jauh datang ke wilayah netral Gardenia tersebut sebagai tugas yang diamanahkan oleh Raja Symphonia kepadanya untuk menyelidiki perihal beberapa keanehan yang sering terjadi di dunia mereka belakangan ini, termasuk tertelannya Luca ke langit dan perubahannya yang tiba-tiba menjadi seorang wanderer.


Meninggalkan soal Dimitri, akhirnya Keporin pun melepaskan topengnya itu. Apa yang berada di balik topeng itu ternyata adalah wajah cantik nan jelita tiada taranya yang sama sekali tidak mengkhianati keaduhaian body-nya.


Melihat hal itu, Lia menjadi bersemangat kembali. Tetapi dalam sekejap dia menjadi kesal karena Luca terlalu dekat dengan orang yang seperti itu. Namun, setelah Lia tersadar bahwa dia hanyalah NPC, suatu program komputer dan bukanlah manusia nyata, Lia bernafas lega kembali. Akan tetapi, ekspresi Lia dengan cepat berubah kusut lagi.


“Mengapa Luca terkesan memperlakukan NPC itu seakan hidup? Juga interaksi timbal-balik para NPC kepada Luca terlalu hidup seolah mereka memang manusia hidup dan telah lama mengenal Luca. Dan yang lebih penting lagi, mengapa mereka sampai terlibat pada misi ujian Luca? Apakah Luca memicu kondisi tertentu sehingga mendapatkan bantuan para NPC?”


Lia mau tak mau jadi bertanya-tanya akan semua hal itu, sementara Andra yang sejak dari tadi memperhatikan perubahan ekspresi nona mudanya dengan tak biasa itu, akhirnya tak dapat menahan rasa khawatirnya dan dia pun menyipitkan mata mengamati suasana sekitar.

__ADS_1


__ADS_2