
Lia tampak merasa bersalah karena telah menyerang Doro-doro akibat salah mengiranya sebagai monster yang jahat.
Aku pun tersenyum melihatnya.
Dia tampak imut ketika sedang panik.
Aku lantas mengusap rambut Lia untuk menenangkannya.
“Tidak apa-apa, Lia. Permintamaafan-mu sudah tersampaikan kepada Doro-doro dan dia tampaknya telah memaafkanmu. Lihat.”
Aku pun menunjuk ke arah doro-doro tersebut. Beast yang awalnya menatap kami berdua dengan pandangan puppy yang berusaha tampak imut itu kemudian mengepak-ngepakkan siripnya sewaktu kami berdua tersenyum ke arahnya.
Doro-doro seakan mengerti situasi dan berupaya menyampaikan kepada kami bahwa dia baik-baik saja. Melihat itu, Lia pun tertawa terbahak-bahak sampai air matanya ikut keluar sembari berucap, “Maaf ya, Doro-doro, sudah menyerangmu barusan.”
“Pyayayayayar.” Seakan merespon permintamaafan Lia itu dengan persetujuan, Doro-doro bersuara seraya kembali mengepakkan siripnya lantas berputar-putar di air sambil menampakkan ekspresi yang ramah.
“Huaaak.” Akan tetapi, suara raungan salah satu monster laut menyadarkan kami kembali bahwa kami saat ini masih dalam pertempuran.
Aku dan Lia pun kembali memfokuskan keadaan siaga kami.
Kami bekerjasama dengan baik dengan para doro-doro di air di mana monster laut di air ditangani oleh mereka, sementara yang lolos dari mereka dan hampir berhasil mencapai permukaan, diatasi oleh kami.
“Pyayayayayayar.” Salah satu dari doro-doro lantas merespon kami seolah terlihat senang dengan kerjasama kami itu. Kami pun membalas dengan balik tersenyum ke arah mereka. Seketika itu pula, doro-doro segera kembali mengepakkan siripnya lalu melanjutkan pertempuran.
Tidak lama kemudian, munculllah gelombang ketiga sekaligus yang terakhir namun sekaligus pula yang paling ditakutkan. Kraken serta kepiting raksasa muncul secara bersamaan dari dalam perairan.
Para archer dan mage yang paling berperan di sini di mana mereka menembakkan jurus mereka ke arah sang monster. Kemudian shielder dan swordsmen berperan sebagai pertahanan. Adapun para cleric, termasuk Lia, memberikan dukungan buff mereka. Sementara itu, aku dan para assassin lainnya berperan melindungi cleric.
Yah, intinya, dalam serangan boss monster itu, aku tidak berperan banyak. Boss monsternya pun tidak memiliki kekuatan spesial sehingga dengan kerjasama ala kadarnya dari para petualang veteran, telah cukup untuk mengalahkan sang monster.
Malam pun tiba dan para plankton bercahaya telah kembali ke habitatnya di perairan dalam. Dengan perginya entitas yang menjadi penyebab tingkah abnormal para monster laut itu, serangan para monster laut pun seketika berakhir.
Kami memanfaatkan sisa-sisa daging dari para monster laut yang kami buru, terutama kraken dan kepiting raksasa untuk berpesta pada malam harinya.
Aku sudah menduga sebelumnya bahwa kepiting raksasa juga akan enak mengingat bentukannya yang hampir mirip dengan dhaki-dhaki, tetapi aku sama sekali tak menyangka bahwa kraken pun juga memiliki rasa yang enak, tak ubahnya seperti rasa cumi-cumi, bahkan sepuluh kali lebih enak dengan rasa umami yang khas.
Aku dan Lia duduk di salah satu tempat di dekat pantai yang entah mengapa membuatku semakin fokus menatap Lia dengan degup jantung yang tak karuan. Apakah karena suasana tempatnya yang benar-benar terlihat sangat lovey dovey? Aku pun tidak tahu.
Yang jelas, wanita cantik itu saat ini ada di dekatku, balik menatapku dengan godaannya yang menggairahkan dan hal itu semakin membuatku jantungku hampir meledak. Aku pun menutupinya dengan berusaha tersenyum seperti biasa di hadapannya.
“Pyayayayayayar.”
__ADS_1
Lalu seketika, suara para doro-doro terdengar dari arah perairan. Kami serentak menatap ke arah itu. Mereka tampak mengitari air dalam formasi lingkaran dalam suatu atraksi. Sesaat kemudian, masing-masing dari mereka menyemburkan airnya. Cahaya bulan dpantulkan lewat air yang mereka semburkan itu. Dan itu tampak sangat indah bagaikan permata kuning yang berkilauan. Gelapnya malam semakin menampakkan kilauan indah itu.
Hal itu pun menambah suasana romantis bersama aku dan Lia duduk saat ini. Kulihat pula ekspresi di wajah Lia yang memerah. Ah, tidak hanya aku saja yang gugup. Lia pun demikian. Mungkin inilah saat yang tepat bagiku untuk memberikan hadiahnya.
Suasana yang romantis itu pun kugunakan untuk memberikan Lia hadiah yang sedari tadi kusiapkan untuknya.
Dari dalam inventory-ku, aku mengeluarkan sebuah kotak merah besar yang terikat oleh pita pink yang didesain dengan cantik.
“Apa ini, Luca?”
“Hadiah.” Jawabku singkat seraya tersenyum pada pertanyaan Lia dengan pipi yang memerah itu.
“Tetapi Luca tidak perlu repot-repot seperti itu…”
“Tapi kan aku pacar Lia. Ini adalah hak khusus yang dimiliki olehku kan? Lia yang bilang sendiri.”
Aku segera memotong ucapan Lia dengan mengembalikan apa yang dia dulu pernah ucapkan padaku. Aku berusaha keras untuk tampak imut di situ untuk meluluhkan hatinya. Aku senang karena ekspresi balasan dari Lia sesuai dengan yang aku harapkan. Suatu ekspresi malu-malu khas dari gadis berhati suci. Bagaimana bisa tidak aku mencintai gadis yang ada di hadapanku ini.
Lantas, Lia tidak bisa mengelak lagi lalu tersipu malu sembari membuka hadiah di dalam kotak.
\=\=\=
Nama armor: Pakaian Silat Evony
Efek: membuat pemain mampu meng-copy strength seorang fighter tanpa perlu kehilangan kelas aslinya, strength bertambah 3 poin, agility meningkat 20 %
Syarat penggunaan: wanita, vitality 25
\=\=\=
\=\=\=
Nama senjata: pistol kembar Heroine tipe sihir
Rank: Ultra Rare
Efek: satu set dengan hero tipe fisik, menembakkan bullet dengan mengorbankan MP, jika MP pemain tidak cukup, bisa mentransfer SP lalu kemudian HP pemain menjadi MP lalu digunakan, tetapi SP maupun HP yang ditransfer tidak menyebabkan SP maupun HP pemain turun sampai kurang dari 50 %, semakin besar mana yang dikorbankan semakin besar pula kekuatan bulletnya
Syarat penggunaan: agility 10, tidak dapat digunakan bersamaan dengan pistol kembar hero tipe fisik oleh orang yang sama (sekali pemain memakai salah satu set pistol di antara hero tipe fisik atau heroine tipe sihir, maka pistol yang lain tidak dapat lagi digunakan); syarat khusus: memiliki MP lebih dari 10 %, begitu MP mencapai 10 % atau di bawah, pistol tidak bisa digunakan
\=\=\=
__ADS_1
“Luca, bukankah ini item langka? Jika ini dijual, seharusnya ini bisa mencapai nilai seratus juta rupiah. Aku tidak bisa menerima barang mahal seperti ini.”
Aku berupaya tetap mempertahankan senyum poker face-ku agar Lia tidak terbebani. Aku sekali lagi membalikkan perkataannya yang dulu padaku.
“Lalu bagaimana jika menebusnya dengan janji makan malam? Hmm… Kurasa dua puluh kali di restoran mewah cukup? Itu pastinya hal yang mudah kan bagi seorang putri konglomerat?”
Lia tampak berusaha menyembunyikan identitasnya sebagai putri konglomerat padaku. Tetapi aku sudah tahu hal itu duluan dari Kak Andra. Dia mungkin takut aku akan memperlakukannya berbeda setelah mengetahui identitasnya itu.
Sebagai seorang putri yang terjebak di dalam status sosial yang tinggi, aku mengerti betul perasaan Lia yang merasa terasingkan. Perasaan terasingkan akan lambat laun berubah menjadi perasaan terabaikan yang akan berevolusi menjadi perasaan tidak dibutuhkan. Aku tidak ingin Lia mengalami perasaan inferior yang seperti itu.
Jadi, ini mungkin waktu yang tepat pula sekalian untuk membawa masalah ini ke permukaan untuk meyakinkan Lia bahwa aku tidak akan memperlakukannya berbeda walau setelah aku tahu identitasnya.
Tampak ekspresi bingung dari Lia.
“Jadi, kamu sudah tahu identitasku rupanya, Luca.” Raut wajahnya sedih ketika Lia mengatakan hal itu.
“Bagaimana aku tidak tahu itu ketika Senior Asario tadi mengucapkannya dengan jelas.” Aku berusaha bercanda sejenak untuk mencairkan suasana.
“Cih, orang itu!” Kudengar samar-samar Lia menggerutu, tetapi segera memperbaiki ekspresinya kembali.
Aku tersenyum melihat keimutannya itu walau sedang marah.
“Aku tak akan pernah memperlakukan Lia berbeda, jadi tenang saja. Bagaimana pun, aku adalah pacar Lia, bukan?” Ucapku sembari mengusap rambutnya yang halus itu.
Tampak Lia tersipu malu. Aku pun menambahkan,
“Maka Lia juga tidak boleh memperlakukanku berbeda. Ah, rasanya sakit jika hadiahku ditolak…” Aku berucap sembari berpura-pura kesakitan seolah sedang mengidap penyakit kronis.
Lia tersenyum melihat aktingku yang kaku itu.
“Baiklah, Luca, akan kuterima hadiah ini.”
Aku lantas balas tersenyum dan berkata, “Syukurlah.”
Aku diam sejenak sebelum akhirnya aku berujar kembali,
“Lia adalah pemain yang hebat sebagai battle healer. Tetapi pertahanan Lia lemah dan juga inkantansi sihir Lia lama. Tetapi, kedua item itu akan mengurangi kelemahan Lia. Pakaian silat Evony akan memperkuat pertahanan Lia sementara pistol kembar heroine tipe sihir dapat mempercepat waktu inkantansi sihir Lia. Dengan demikian, Lia akan menjadi player yang lebih hebat setelah menutupi celah kekurangan Lia itu.”
“Aku, bagaimana pun, ingin melihat pacarku tampil sempurna dengan item yang kuberikan padanya. Tidak maukah Lia mengabulkan permohonanku itu?” Ujarku seraya menunjukkan ekspresi puppy terimut yang bisa aku tunjukkan.
“Hahahahahaha.” Lia pun tertawa terbahak-bahak menyaksikan ekspresiku yang lucu itu. Namun sesaat kemudian, ekspresi Lia tampak menjadi lebih serius.
__ADS_1
“Aku berjanji tidak akan mengecewakan Luca. Aku akan memanfaatkan item dari pacarku yang imut ini untuk tampil bersinar di pertandingan e-sport tingkat internasional itu.” Jawab Lia dengan penuh keyakinan disertai dengan senyuman yang penuh arti.