
“Sebelum pertandingan dimulai, mari perkenalkan kedua tim.”
Suasana di lapangan kala itu penuh gemuruh. Hal itu tentunya wajar mengingat sekarang adalah puncak pelaksanaan turnamen e-sport vrmmorpg amatir sesi akhir tahun.
Dari berbagai sudut lapangan aku bisa melihat rekan-rekan yang menyalurkan semangat mereka lewat dukungan. Tidak hanya pelatih dan para anggota tim saja, tetapi juga ada Tante Judith dan Om Rowin, Kak Kirana dan kawan-kawan dari Tim White Star yang lain, bahkan Kak Sasmi yang datang bersama Pak Susanto dengan mengenakan tudung yang kelihatan sangat panas, semuanya datang mendukung kami.
“Mula-mula dari tim sudut kiri, ada Tim SMA Pelita Harapan, perwakilan kelima dari Area Pusat.”
Seakan harapan mereka menyatu, mereka semua serentak meneriakkan doa kemenangan buat tim kami.
“Pelatih, Syarifuddin. Co-Pelatih, Lia Wijayakusuma.”
Tampak para anggota tim begitu gugup perihal berbeda dari pertandingan sebelum-sebelumnya, khusus babak final ini, akan disiarkan secara live di TV. Tentu saja, hanya Lia seorang sebagai atlit pro yang telah biasa tampil di TV, tetap menunjukkan ekspresi wajah ceria seperti biasa seolah bukan apa-apa.
“Wah, lihat itu Lia, atlit dari Silver Hero.”
“Tapi kenapa dia ada di situ? Bukankah klub-nya berafiliasinya dengan SMA Yayasan Eden?”
Namun sebagian penonton tampak heran dengan kemunculan Lia di tim kami sebagai co-pelatih.
“Selanjutnya sebagai pemain yang akan diutus di babak penentuan ini, Chika, sang alchemist cantik penebar wabah.”
“Tim yang akan kalian lawan besok tidaklah lebih hebat dari SMA Ayam Jantan maupun SMA Sahabat Hutan yang sudah kalian hadapi sebelumnya. Mereka tidaklah memiliki keunggulan tertentu. Namun, jika kita balik, mereka juga tidak memiliki kelemahan spesifik sebagai celah yang dapat kita gunakan.”
“Bisa dikatakan bahwa tim lawan yang akan kalian hadapi besok adalah tipe yang paling tidak cocok dengan kondisi tim saat ini yang memaksimalkan kemenangan dengan menganalisa lawan. Namun, berdasarkan rekam jejak selama ini, mereka 95 % selalu kalah dengan SMA Phoenix melalui strategi racun alchemist mereka. Oleh karena itu, di pertandingan kali ini, kita akan menurunkan Chika dan berharap kita bisa melakukan hal yang sama.”
“Diana, sang scout cantik perusak syaraf.”
“Walau demikian, tim lawan secara kasar bisa dikatakan memiliki daya tempur yang luar biasa. Dengan mereka juga sama seperti kita, tim yang mengandalkan banyak strategi dengan memanfaatkan kesepuluh anggota mereka secara maksimal, kita tidak boleh setengah matang dalam menghadapinya.”
“Senior Yudishar dan Senior Raia yang masih memiliki kekuatan tempur di area menengah mutlak tidak bisa dijadikan senjata andalan. Begitu pula dengan Senior Sabrina yang agility-nya masih rendah. Oleh karena itu, untuk mengubah alur pertandingan, kita akan mengutus Diana.”
__ADS_1
“Egi, sang archer, pemanah akurat yang tanpa emosi.”
“Yuda, sang swordsman, si pedang besar yang menawan.”
“Sebagai support sekaligus sub tank untuk menutupi ketiadaan Senior Areka, kita akan mengutus Senior Yuda dan Egi.”
“Dan terakhir, si kecil-kecil cabai rawit, pemilik legenda sang penjagal kecil, Luca, sang assassin.”
“Kemudian, tentu saja sebagai penyerang utama, kita akan mengutus Luca. Mari semuanya kita berjuang yang terbaik besok demi bagian Senior Areka juga yang masih sementara dirawat di rumah sakit.”
Malam itu, semuanya pun bersatu-padu dengan harapan yang sama untuk meraih kemenangan. Suatu kemenangan yang sebelumnya tak pernah berani diimpikan oleh SMA Pelita Harapan yang selama ini hanya merupakan sekolah kelas menengah di area pusat yang bahkan di kompetisi awal tahun akademik saja tidak pernah memperoleh tempat tiga besar.
Setelah itu, komentator pertandingan pun memperkenalkan tim lawan, Tim SMA Cenderawasih. Tim yang sama seperti kami yang juga tidak pernah diduga mampu untuk menembus babak final. Tim yang tahun lalu hanya berhasil menduduki posisi empat besar, walaupun di tahun sebelumnya lagi sempat memperoleh juara kedua yang tepat juga di bawah SMA Phoenix.
Namun, satu hal yang membuat baik aku, Lia, maupun yang lainnya khawatir. Sewaktu Kak Shea memutarkan rekaman pertandingan ulang Tim SMA Cenderawasih melawan Tim SMA Phoenix, yang lainnya tak dapat menangkapnya, tetapi aku dan Lia dapat melihatnya dengan jelas, keberadaan seorang pemain yang bertanggung jawab membalikkan keadaan.
Dia adalah seorang scout yang tampak sama sekali tak menonjol kecuali dia menjalankan perannya dengan cukup baik sebagai seorang scout yang mengintai lawan.
Tetapi begitu kami menelisik kembali penyebab sang alchemist tepar di lapangan, rupanya itu adalah hasil dari strategi yang sangat halus dari lawan yang mampu melihat kondisi lapangan secara menyeluruh dan mengarahkan rekan-rekannya dengan optimal, memanfaatkan peran mereka dengan baik demi menguras secara maksimal stamina mereka, khususnya sang alchemist.
Ya, itu adalah ulah sang scout SMA Cenderawasih.
Aku dan Lia awalnya berpikir bahwa itu mungkin hanya kebetulan saja. Aku dan Lia pun menelusuri rekam jejak ketiga pertandingan SMA Cenderawasih di babak-babak sebelumnya lagi. Rupanya, itu bukanlah kebetulan, sang scout tidak salah lagi adalah seseorang yang culas.
Namun, yang paling kami herankan adalah ketika kami mencari rekam jejak pertandingan awal tahun akademik di Pulau Papua, pemain itu belum ada di sana. Dia tiba-tiba saja muncul di turnamen akhir tahun ini.
Dia saking hebatnya menutupi keculasannya hingga tak terlihat mencurigakan sedikit pun di mata para tim pengintai kami, tidak sampai aku dan Lia menyaksikan pertandingannya sendiri secara langsung, bahkan Kak Andra sebagai sesama scout, yang terlebih adalah pemain profesional, juga sama sekali tidak menyadarinya.
Aku pernah dengar dari Tante Deborah tentang bentuk pengembangan kebalikan dari skill ‘sense of confussion’. Jika skill ‘sense of confussion’ adalah skill yang mengacaukan saraf-saraf motorikmu, maka walau prinsip kerjanya sama, penerapannya sama sekali berkebalikan dengan ‘sense of confussion’.
‘Share sense’.
__ADS_1
Suatu skill yang tiada artinya jika pemain bermain individu. Namun ketika dia berada dalam suatu party, terutama jika party-nya sangat besar, maka keberadaan orang yang memiliki skill seperti itu adalah suatu ancaman besar.
Dengan skill itu, para anggota party bisa saling merasakan perasaan dan indera satu sama lain, terkoneksi yang bagaikan bagian-bagian mesin yang menyatu dalam menjalankan sebuah mobil. Dengan skill itu, sinergitas tim akan meningkat dengan sangat signifikan.
Dengan kata lain, kerjasama tim yang mutlak akan terbentuk. Pantas saja, SMA Cenderawasih mampu mengalahkan SMA Phoenix tanpa terlihat menonjol sama sekali.
Yang aku herankan, siapa pemain yang tiba-tiba muncul itu? Kenapa tidak ada rekam jejaknya sama sekali selama ini? Tapi tentu saja aku tidak pantas yang mengatakan hal itu perihal aku pun sama, tidak ada juga tentang rekam jejak pertandinganku sebelumnya. Ya itu tentu saja, karena aku baru terdampar di dunia nyata ini sekitar enam bulan yang lalu.
Tidak mungkin kan ada NPC yang juga terdampar sama sepertiku ke dunia nyata? Itu tidak mungkin kan? Itu tidak mungkin kan kalau orang itu juga NPC sama seperti diriku?
Soalnya skill ‘shere sense’ itu sendiri sudah sangat langka, termasuk bagi para NPC sendiri. Itu perihal perang di Kerajaan Melodia sebelumnya telah menghancurkan klan pemilik jurus tersebut jauh sebelum kedatangan para player ke Gardenia.
Apapun itu, aku penasaran. Tentu saja aku tidak percaya dengan semua omong kosong itu. Kasusku saja sudah merupakan suatu mitos. Mana mungkin mitos lain akan terjadi dua kali berturut-turut secara bersamaan.
Yah, aku hanya harus mencari tahunya selama pertandingan.
Benar saja, sang pemain scout itu lagi-lagi diturunkan ke dalam pertandingan dan memecahkan rekor sebagai pemain yang tidak pernah absen sekalipun selama kelima pertandingan mereka di turnamen akhir tahun ini.
Pemain yang lainnya secara mengejutkan adalah seorang assassin, swordsman, archer, dan shielder. Apakah kalian menyadarinya? Kombinasi kami benar-benar hampir sama kecuali untuk bagian alchemist yang digantikan oleh tank seutuhnya, sang shielder.
Entah ini direncanakan ataukah murni kebetulan yang luar biasa. Tetapi menurutku, itu pastilah yang kedua karena aku tak bisa membayangkan bahwa ada salah satu rekanku di sini yang akan mengkhianati tim dengan membocorkan informasi ke lawan.
Aba-aba pertandingan dari wasit pun dimulai.
Namun, seketika hal yang absurd pun terjadi dengan pemain scout itu sebagai dalangnya.
Seisi arena meledak, kecuali tempat di mana aku dan scout itu berpijak. Kedelapan pemain lain, termasuk rekan-rekannya sendiri seketika itu gugur di arena.
Kulihat sang scout itu pun tersenyum sinis sembari berkata, “Ayo tunjukkan kemapuanmu padaku, Senior.”
Aku sama sekali tak mengerti maksud ucapannya, entah itu mungkin dia salah mengira aku seebagai seseorang atau bagaimana. Yang jelas, pertandingan tim baru saja berubah menjadi pertandingan individu.
__ADS_1