
Aku dan Senior Areka masih menatap dengan penuh keheranan terhadap makhluk maskot aneh yang masih saja terus berbicara di hadapan kami itu. Sungguh suatu perkembangan yang tidak kami sangka-sangka.
“Nah, sang pemilik kunci. Saatnya bagimu untuk memperoleh reward karena telah menyelesaikan ujiannya.”
Sembari sang makhluk maskot yang menamai dirinya sebagai Lutfi itu berbicara, tubuhku tiba-tiba saja bersinar terang. Aku telah memperoleh gelarku yang kelima.
\=\=\=
Nama gelar: Sang komandan terpercaya
Rank: Ultra Rare
Efek: mampu meningkatkan moral anggota yang dipimpinnya dengan kata-kata Anda, memberikan efek buff strength dan defense tergantung seberapa besar anggota terpengaruh oleh kata-kata Anda, Anda memiliki kekebalan mutlak terhadap debuff kegelapan dan kematian kecuali untuk debuff yang be-rank lebih tinggi dari gelar ini, memiliki kemampuan menyadarkan seseorang dari debuff kegelapan dan kematian dengan kata-kata Anda, memiliki buff kepercayaan dengan kata-kata Anda
\=\=\=
“Sayangnya Anda bukanlah seorang shielder seperti Master Lacoza sehingga Anda tidak bisa mewarisiku. Sebagai gantinya, aku akan memilih seorang rekan shielder yang Anda percayai sebagai tuan yang baru. Nah, rekan shielder sang pemilik kunci, silakan angkat perisai Anda.”
Senior Areka sejenak terdiam masih ragu terhadap apa yang sebenarnya diinginkan oleh sang maskot Lutfi tersebut. Namun karena desakan Lutfi yang terus-menerus, akhirnya Senior Areka hanya menuruti saja perkataan Lutfi tersebut dan mengangkat perisainya.
“Nah, sekarang saatnya penyatuan.”
Tanpa diduga-duga, Lutfi memutar tubuhnya bagai roda yang dengan cepat menerjang ke arah Senior Areka yang sampai-sampai membuat Senior Areka tersentak kaget. Namun, saking cepatnya, Senior Areka tak mampu menghindari benturan tubuh Lutfi itu. Tidak, Lutfi mengarahkan tubuhnya tidak untuk menerjang ke arah Senior Areka, melainkan ke arah perisainya.
Seketika itu perisai Senior Areka bersinar terang dan Lutfi pun terlihat menyatu dengan perisai tersebut. Setelah cahaya terang menghilang, Lutfi turut menghilang, sementara perisai Senior Areka telah termodifikasi sedikit di mana bisa terlihat gambar sang maskot Lutfi di tengah-tengah perisai itu.
“Nah, sang shielder. Sekarang teriakkan skill yang telah kamu pelajari itu.”
Tiba-tiba suara Lutfi terdengar menggema lagi dan dia tampaknya menyuruh Senior Areka untuk mengaktifkan suatu skill, tetapi entah mengapa wajah Senior Areka malah memerah dalam diam.
“Ada apa, Senior? Apa landak itu mengajarkan Senior Areka suatu skill?”
Senior Areka terlihat mengangguk terhadap pertanyaanku itu, namun dia tetap diam tanpa suara.
“Kalau begitu, mengapa Senior Areka tidak mencoba untuk mengaktifkan skill-nya?”
Namun alih-alih mengaktifkan skill-nya, muka Senior Areka malah bertambah merah.
__ADS_1
“Sudahlah, Luca. Kapan-kapan saja, kamu melihat skill-nya. Mari kita balik log out saja setelah menyelamatkan Senior S07 dan Senior Virus Lady lalu beristirahat.”
Begitulah ucap Senior Areka sembari mengisyaratkanku untuk bergabung pergi dengannya. Akan tetapi, dia rupanya tidak bisa melangkah lebih jauh. Tepatnya, perisai yang telah ada gambar Lutfinya itu menghalanginya untuk meninggalkan tempat itu.
“Tuan Areka, Anda tidak bisa pergi meninggalkan tempat ini begitu saja sebelum Anda mengaktifkan pertama kali skill-nya. Ada tujuh skill, tetapi Anda cukup mengucapkannya satu dulu saja untuk saat ini.”
“Sudahlah, Senior. Daripada lama, mari kita ikuti saja permintaan landak menyebalkan itu untuk saat ini.”
Senior Areka masih tampak diam dengan muka yang memerah untuk waktu yang lama. Namun, mungkin karena tak tahan lagi didesak oleh makhluk landak yang menyebalkan itu, dia akhirnya memutuskan untuk menggunakan skill yang dimaksud oleh Lutfi tersebut.
‘Skill: dengan kekuatan cinta dan cahaya menyilaukan, Lutfi akan menghukum makhluk jahat dengan hati yang ternoda!’
Seketika Senior Areka meneriakkan skill-nya itu, sebuah siluet cahaya perwujudan perisai keluar dari dalam perisai Senior Areka yang dibarengi oleh penampilan wujud Lutfi yang bersemangat di mana siluet cahaya itu membentur dinding gua terdekat dalam sekejap sehingga dinding gua itu pun berlubang.
Serangan itu tampak tidak hanya menembus satu lapisan dinding gua saja, tetapi banyak lapisan yang sampai-sampai sejauh mata memandang. Singkatnya, itu adalah skill serangan tumbukan yang sangat overpower.
Tetapi mengapa nama skill-nya terlalu panjang? Tidak, bukan itu yang lebih penting. Mengapa nama skill-nya sendiri terkesan agak aneh?
Yah, melupakan itu semua, karena Senior Areka telah mampu level-up kemampuan ke taraf yang lebih tinggi lagi, semuanya jadi tidak masalah.
“Wah, selamat ya, adik newbie kecil kita, juga rekannya. Hadiah quest-nya juga tampaknya sangat luar biasa. Satunya gelar ultra rare dan satunya lagi skill legendaris.”
Belum sempat aku mengingat kembali keberadaan Kak Silvia dan Kak Agnes yang pikirku masih berada di dalam kurungan, rupanya mereka telah membebaskan diri mereka sendiri dari dalam kurungan itu tanpa kesulitan sedikit pun.
“Sudah kuduga kalau Kak Silvia dan Kak Agnes cuma akting saja terperangkap di dalam kurungan mengingat kemampuan kalian yang bahkan bisa mengalahkan monster di atas level 100. Huff, tapi itu cukup membuatku panik. Lain kali, jangan lakukan itu dong, Kak.”
“Maaf, Dik Luca. Aku hanya tidak tahan ingin menyaksikan perjuangan para anak muda seperti kalian yang penuh semangat walau dengan kemampuan yang pas-pasan.”
“Duh, Kak Silvia. Jangan berkata seperti orang tua gitu dong. Umur kita kan hanya terpaut 4 tahun saja.”
“Yah, yah, apa pun itu, selamat buat adik kecil kita, Luca dan rekannya. Jadinya, petualangan kali ini tidak sia-sia kan? Hal itu patut kalian syukuri lho.”
“Yah, kalau itu tentu saja aku syukuri. Tapi bukan itu kan yang aku maksud, Kak Agnes. Lagian berhenti memanggilku sebagai adik kecil.”
Kami pun bercanda bersama pasca quest sembari berjalan kembali ke ibukota Kekaisaran Lalania, Allidra Ekin. Syukurlah semuanya berjalan baik-baik saja. Bahkan kekhawatiranku bahwa quest akan berjalan seberbahaya apa berdasarkan peringatan sistemnya rupanya juga tidak terjadi.
Tiada monster level tinggi yang membahayakan kami. Namun di satu sisi, itu juga sebenarnya membuatku kesal perihal tiada monster yang kami temui yang dapat membantu kami level-up. Alhasil, aku tetap berada di level 48-ku.
__ADS_1
Oh iya, aku baru tahu kalau rupanya Senior Areka juga masih stack di level yang sama. Aku jadi bertanya-tanya tentang apa yang dilakukannya selama dua bulan ini. Aku saja sudah naik 42 level dari saat kita bertanding dulu, sementara dia hanya naik 8 level saja.
Ataukah memang mencari monster level tinggi memang sesulit itu sekarang? Seharusnya akan ada banyak monster level tinggi di lima area paling berbahaya di bagian benua yang ditinggali. Tetapi sewaktu aku mengunjunginya yang ada di Kerajaan Doremi, memang tak terlihat lagi satu pun monster level tinggi di sana.
Tetapi mengapa? Mengapa monster level tinggi tiba-tiba menjadi langka? Namun, mari lupakan masalah itu dulu untuk sejenak. Aku harus senang kali ini karena telah memperoleh gelar yang sangat bagus di luar dari sense namanya yang tidak mengenakkan.
Sesampainya di Allidra Ekin, Kak Silvia dan Kak Agnes segera log out dari game terlebih dahulu. Aku pun hendak segera menemui Aura di dekat sana dan ingin berpisah dari Senior Areka. Aku takut mungkin dia khawatir karena telepati kami selama quest sempat terputus.
Akan tetapi, di saat aku akan pergi, Senior Areka tiba-tiba saja menarik belakang bajuku.
“Itu, Luca. Maaf ya, soal barusan.”
“Barusan?”
Seketika aku baru teringat kembali perkataan Senior Areka itu yang diucapkannya tanpa sadar dan tanpa sengaja aku dengarkan pula.
“Dasar anak cebol menjengkelkan! Kamu selalu saja mengejekku dalam hati hanya lantaran kamu lebih hebat?! Hah?! Bagaimana pun aku ini seniormu! Mengapa kamu tidak pernah sekali pun memperlihatkan penghargaanmu padaku?! Apakah menjadi hebat begitu bersinarnya di matamu sehingga kau bahkan hanya melihatku sebagai extra yang tak penting?! Sekali-kali perhatikan seniormu ini juga sebagai rival yang pantas!”
Yah, isinya memang sesuatu yang akan membuatku marah, tetapi mengingat Senior Areka berupaya sekuat tenaga menyembunyikan isi hati terdalamnya itu kepadaku, aku jadi serba salah. Dia tak bermaksud mengatakannya.
“Tenang saja, Senior. Aku tak akan ambil hati perkataan dari lubuk hati terdalam Senior yang Senior ucapkan tanpa sadar itu.”
“Tidak. Bukan begitu, Luca. Aku sadar bahwa perkataanku itu salah. Juniorku yang sebaik dirimu mana mungkin memiliki pemikiran jahat seperti yang kupikirkan itu. Hanya saja… kamu tahu kan, Luca, bahwa terkadang untuk menahan rasa inferioritas kita jauh-jauh di lubuk hati kita, kita butuh objek untuk pelampiasan rasa kekesalan. Suatu sosok superior yang tak akan mampu kita jangkau.”
“Aku justru kagum padamu, Luca, tetapi di lain sisi, aku iri padamu. Namun lebih dari siapapun, aku tahu bahwa apa yang aku ucapkan barusan tidaklah benar. Luca adalah anak yang baik, jadi janganlah sampai pikiranmu rusak karena kata-kata sampahku.”
Aku bisa merasakan ketulusan di balik kata-kata Senior Areka tersebut.
Tetapi aku tak dapat menyalahkannya. Begitulah lemahnya hati yang terkadang untuk mengobati rasa sakit itu, kita mencari-cari berbagai alasan setidak rasional apapun alasan itu. Bagaimana pun aku sedih, mengapa aku yang harus menjadi tokoh raja iblis di hati Senior Areka untuk meredam rasa sakit di hatinya itu.
Daripada sosok raja iblis, aku lebih berharap dia memikirkanku sebagai rekan yang dapat diandalkannya seperti halnya terkadang aku senantiasa mengandalkan Senior Areka pula dalam beberapa kesulitanku. Tampaknya, jalanku untuk dapat lebih akrab dengan Senior Areka masihlah sangat jauh.
“Aku mengerti kok, Senior Areka. Benaran tidak apa-apa. Lagian, aku bukanlah sosok yang tidak dapat dijangkau oleh Senior Areka kok. Aku tahu kalau Senior Areka juga hebat.”
Aku pun dengan sekuat tenaga berusaha menunjukkan senyumku yang teramah padanya. Aku tak ingin beban Senior Areka malah bertambah karena kejadian ini. Aku hanya berharap dia dapat segera menjadi lebih kuat sehingga rasa inferiornya itu bisa mereda dan tidak akan lagi merusak hatinya.
Bagaimana pun, Senior Areka adalah senior yang baik dan dapat diandalkan, tidak seperti apa yang ada di dalam pikirannya itu.
__ADS_1