The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
198. Party Newbie vs Party Expert


__ADS_3

[POV Diana]


“Chika! Sudah kubilang perhatikan posisi rekan-rekanmu sebelum melemparkan ranjau asap! Tidakkah kau lihat kalau Kak Raia sedang berlari ke arah sana?!”


“Siap, Kapten!”


“Kak Raia juga! Sudah kubilang, berlari liar itu bagus sebagai kelebihan Kakak, tetapi tetap perhatikan formasi tim!”


“Ukh. Siap, Luca.”


“Dan Kak Nina! Pepi terlambat beberapa detik menyergap ke posisinya. Harap kontrol dengan baik pergerakan beast Kakak.”


“Ah, maaf, Luca. Aku kehilangan fokus.”


“Ayo, semuanya bergerak dengan pace yang lebih cepat! Kalau seperti ini terus, kalian hanya akan jadi korban jebakan Kak Keporin saja.”


Tak kusangka, pemuda yang terlihat sangat polos itu, bisa bertindak sebagai kapten yang sangat spartan seperti ini. Aku memang tahu kalau Luca memiliki watak yang keras jika berbicara soal pertarungan. Dia selalu mengutamakan kesempurnaan dalam setiap gerakan pertarungannya. Namun, di luar arena dia selalu lembut menyapa rekan-rekannya. Dia memperlakukan yang tua dengan hormat dan juga tidak lupa menghargai yang sebaya dengannya.


Tapi tak kuduga, anak yang kukira berhati lembut itu bisa tegas pula pada anggota-anggota yang dilatihnya ketika dalam latihan. Tidak, ini bukan sekadar spartan dan tegas lagi! Pelatihan Master Deborah masih bisa dibilang surga jika dibandingkan dengan pelatihannya!


“Luca, bagaimana kalau kita beristirahat sebentar terlebih dahulu? Kita sudah empat jam non-stop latihan.”


“Cara yang paling baik untuk melatih otot adalah dengan menggunakannya sampai batasnya. Ini belum seberapa!”


Begitulah pelatihan neraka yang lebih neraka kami alami di bawah komando Raja Iblis Luca.


Ya, tetapi aku tidak bisa bilang kalau itu tidak berguna. Justru berkat arahan Luca-lah, kami bisa saling berkoordinasi dengan baik satu sama lain. Seperti bagaimana aku menggunakan jebakanku untuk menyebarkan racun Chika, atau seperti bagaimana aku memadukan jebakanku bersamaan dengan sihir ilusi Kak Nina, ataukah bagaimana aku menyinkronkan rute jebakan dengan pergerakan liar Kak Raia.


Kami dalam sekejap, telah menjadi tim yang lebih baik.


Lalu tak terasa, hari yang ditunggu itu pun tiba. Hari pertarungan yang dijanjikan antara tim kelima newbie dengan jajaran kelima NPC kelas tinggi.


***


“Yo, Luca. Sudahkah kamu mengajari tim-mu dengan baik?”


“Tenang saja, Kak Keporin. Mereka pasti takkan mengecewakan Kakak.”


“Oh ho. Kalau begitu, aku jadi tak sabar menantikannya.”


“Luca, jangan terlalu keras pada kami ya.”


“Apa yang Kak Heine katakan? Justru aku yang seharusnya meminta Kakak agar memperlakukan kami dengan lebih lembut.”


“Ara ara, begitukah? Baiklah kalau begitu, akan kuingat permintaan Luca. Hehehehe.”


“Tapi ngomong-ngomong, Kak Heine. Bukankah Kakak pengguna dagger? Mengapa Kakak justru membawa sebuah rapier?”


“Yah, itu karena pada dasarnya, teknik-ku lebih sesuai dengan pedang rapier. Aku menggunakan dagger saat itu karena mudah saja disembunyikan di balik pakaianku ketika aku sedang bekerja. Pastinya Luca jarang ya melihat seorang assassin menggunakan rapier seperti ini? Yah, tapinya ini bukan rapier biasa.”


“Slelulululush.”


Rapier tipis yang dipegang oleh Heine tiba-tiba saja terbelah-belah lantas memanjang meliuk-liuk bagai ular.


“Wow, ternyata Kakak jauh lebih hebat dari yang kubayangkan.”


“Tentu saja. Bahkan Heine waktu muda dijuluki sebagai ratu ular. Dia adalah mantan assassin berbakat sewaktu menjadi prajurit di Kerajaan Melodia. Bukan begitu, Derickson?” Keporin-lah yang menjawab komentar Luca itu, sementara orang yang dibicarakan itu sendiri hanya terdiam dengan muka yang memerah.


“Ah, waktu sekitar sepuluh tahun yang lalu, aku memang sempat mendengar namanya melejit. Tetapi Heine, mengapa tiba-tiba kamu berhenti saat itu?”


“Itu karena aku tidak suka terhadap sikap korup para bangsawan menjijikkan itu! Ehem. Ah, maaf, Luca. Tampaknya aku tidak sepantasnya berbicara tidak sopan. Hehehehehe.”


Demikianlah obrolan secara alami terjadi di antara mereka. Setelah itu, Luca pun mulai memperkenalkan anggota party-nya kepada jajaran NPC itu.

__ADS_1


Nina dan Raia yang telah lebih dulu mengenal mereka tampak telah terbiasa dengan adegan itu, akan tetapi bagi yang lain, itu masih tampak merupakan nuansa yang baru bagi mereka, apalagi melihat keramahan para warga assassin yang biasanya penuh dengan pandangan membunuh itu. Mau tidak mau, Chika dan Diana tetap tidak dapat menurunkan kewaspadaan mereka di hadapan para NPC assassin itu.


Adapun Lia dan Andra tampak sama sekali tidak peduli dengan semua itu. Lebih tepatnya, ekspresi mereka datar-datar saja. Ataukah memang seperti itu kiranya attitude dari seorang pemain yang telah melangkahkan kakinya ke jenjang profesional.


Lalu tak lama kemudian, latih tanding pun dimulai.


“Nah, Luca. Perlihatkan kemampuanmu dan timmu padaku!” Ujar Keporin seraya mengeluarkan jurus jaring laba-labanya.


“Chika, sekarang!”


Atas arahan Luca, Chika pun mengeluarkan ramuan gas-nya yang dia alirkan pada jaring laba-laba milik Keporin.


‘Cih! Padahal aku ingin mencoba ramuan racunku. Tetapi mengapa Luca sampai berkata seperti itu ya kemarin?’


“Dengar, Chika. Untuk latih tanding kali ini, ramuan racun berbahaya dan asam dilarang.”


“Eh, mengapa?”


“Tentu saja karena berbeda dengan kita, nyawa seorang NPC hanya satu soalnya. Kita tak bisa membiarkan mereka game over.”


‘Aku sama sekali tak mengerti apa maksudnya. Tetapi karena itu Luca yang bilang, aku percaya pada keputusannya.’


“Luca, sekarang!”


“Bagus, Chika. Diana, tolong support-nya!”


“Serahkan padaku, Luca!”


Luca pun berlari dengan lincah di atas jaring laba-laba milik Keporin. Lantas, Keporin yang tidak lain adalah orang yang telah mengajari Luca jurus yang sama, menyambut Luca dengan turut berlari di atas jaring laba-labanya itu.


Akan tetapi,


“Akh, apa ini? Sejak kapan benangku jadi lengket begini? Aku jadi tidak bisa melepaskan kakiku.”


Namun, itu belumlah akhir dari kerjasama tim mereka.


Itu adalah ulah Diana yang telah mengaktifkan skill-nya. Keporin pun akhirnya terperangkap di dalam jaring laba-laba miliknya sendiri yang tiba-tiba menjadi sangat lengket itu.


“Hah, Luca? Mengapa kamu baik-baik saja berjalan di atas situ?”


“Rahasianya ada pada serbuk di sepatuku ini, Kak. Ini semacam tepung yang tak lengket terhadap lelehan jaring-jaring Kakak yang terbuat dari paduan logam khusus, inti monster, dan mana tersebut.”


“Sial. Aku terjebak.”


“Maafkan aku ya, Kak Keporin. Poin dari Kakak, aku ambil.”


“Clang!”


Namun begitu Luca hendak mengambil badge yang dikenakan oleh Keporin sebagai pertanda dia telah mengalahkannya, rapier Heine yang tiba-tiba saja memanjang, meliuk-liuk lantas memotong semua jeratan yang menjebak Keporin sehingga Keporin pun kembali bebas.


Semua mata terpaku melihat penampilan Heine itu. Mereka semua kecuali Luca, awalnya menganggap bahwa Heine hanyalah pegawai biasa di guild assassin yang selalu menyapa mereka dengan ramah.


Mereka semua mengira bahwa apa yang dikatakan Keporin dan Derickson itu hanyalah cerita yang dibesar-besarkan saja. Nyatanya, justru kemampuan Heine melebihi ekspektasi cerita itu.


Mereka tahu benar kehebatan Luca dan bagaimana lincahnya bocah bertubuh kecil itu. Tetapi walau dengan itu semua, rapier Heine yang memanjang dengan mudah melewatinya tanpa Luca sempat bereaksi sedikit pun.


Bahkan mata mereka sebenarnya sama sekali tak melihat rapier yang bergerak itu. Mereka hanya tahu bahwa itu pasti rapier persoalan gagangnya yang masih utuh dipegang oleh Heine, dan juga berkat demonstrasi Heine sebelumnya yang telah memperlihatkan bentuk rapier-nya yang bisa memanjang maliuk-liuk bagai ular itu.


Tak butuh waktu lama untuk keadaan berbalik. Rapier itu berhasil meraih badge milik Luca, Chika, dan Diana tanpa perlawanan sedikit pun, atau lebih tepatnya mereka tidak memiliki waktu untuk bereaksi saking cepatnya rapier itu bergerak.


Berbeda dengan Chika dan Diana, Luca sebenarnya masih mampu melihat dalam slow motion gerakan rapier milik Heine. Sayangnya, refleks Luca yang kurang, menyebabkannya gagal untuk memerintah tubuhnya sendiri untuk bergerak tepat waktu.


Walau dengan tingkat sinkronisasi 400 % itu, keterbatasan fisik akibat levelnya yang masih cukup rendah, menghambat Luca dalam mengeluarkan potensinya yang maksimal.

__ADS_1


Sementara itu, rekan dua newbie lain yang tersisa,


“Hiyat, hiyat, hiyat.”


“Semangatmu boleh juga ya, bocah fighter. Hmm? Apa-apaan para kelinci bertanduk ini?”


“Sekarang, Raia. Menghindar!”


Dengan aba-aba dari Nina, Raia pun bersalto menjauh dari tempat itu.


‘Skill: magic transfer fire ball’


Secara tiba-tiba, masing-masing dari keempat kelinci bertanduk yang mengelilingi tubuh Blanche itu membuka mulutnya lantas muncul semacam anagram berbentuk lingkaran tepat di hadapan mulut mereka yang terbuka. Lalu, serangan fire ball combo empat pun keluar dari masing-masing mulut para kelinci bertanduk itu.


“Duh, sial!”


“Baaam!”


“Hah, jubahku yang berharga terbakar!”


“Raia, sekarang. Serang bersama!”


“Siap, Nina.”


Raia bersamaan dengan Nina dan para kelinci bertanduknya pun maju hendak memberikan pukulan terakhir kepada Blanche. Namun sayang,


“Huaaaaah!”


Blanche, yang termuda di antara para jajaran NPC assassin, yang sedari tadi bertarung dengan Nina dan Raia itu, seketika mengamuk.


“Ukh.”


“Aaaakh!”


Nina dan Raia terhempas yang bersamaan dengan badge yang mereka kenakan itu ikut terlepas.


“Haaaaah. Kau melawan anak kecil bahkan satunya seorang wanita dengan tidak berbelas kasihan, tetapi kau sebut dirimu sebagai pria sejati dewasa? Sungguh memalukan.”


“Lantas aku harus apa, Senior Dimitri?! Senior sendiri yang tadi bilang kalau aku harus serius agar mereka bisa bertambah kuat!


Kelima newbie itu benar-benar diperlakukan sebagai anak kecil oleh para jajaran NPC veteran itu. Bahkan Blanche yang terlemah di antara mereka saja, masih saja terlalu kuat buat mereka. Masih banyak yang mesti tim pemain newbie itu benahi.


Dan di tengah-tengah itu semua, Luca termenung. Raut matanya sayu.


“Aku kalah?”


Tetapi itu tidak lama. Kecerahan bagai matahari terbit segera terlihat kembali dalam sekejap di wajah pemuda tampan itu.


“Kakak-kakak semua, memang petarung yang hebat. Kak Heine, Kak Keporin, Kak Dimitri, Kak Blanche, dan juga Kak Derickson, tolong latih tanding dengan kami sekali lagi.”


“Boleh saja. Tapi apa kami mesti menahan diri lagi seperti tadi?” Heine yang biasanya berhati malaikat itu, tiba-tiba saja menunjukkan senyum intimidasinya kepada party newbie itu.


“Mohon bantuannya, Kak.”


“Mohon bantuannya, Kak.” [x4]


Beriringan dengan suara Luca yang menggema sambil menundukkan kepalanya, di luar dugaan, para anggota party yang lain turut melakukan hal yang sama.


Melihat itu, entah mengapa Heine tiba-tiba tersenyum lembut. Tampaknya, dia mengenang kembali masa lalunya ketika dirinya memiliki jiwa semangat muda seperti mereka. Tentu saja saat ini Heine masih bisa dikatakan muda, secara dia baru berusia 22 tahun. Hanya saja, itu tentunya berbeda dengan masa lalu ketika semangat bertarungnya masih terasa segar.


“Tentu saja. Mohon bantuannya juga, junior-juniorku yang manis.”


Mendengar Heine akhirnya memanggil mereka semua dengan junior, tak dapat mencegah kebahagian mereka meluap. Itu artinya Heine telah mengakui para anggota party newbie itu dan itu tentu saja semakin membuat mereka semangat dalam latihan.

__ADS_1


Setelah itu, latihan yang lebih spartan pun dimulai dengan kelima jajaran NPC bertalenta tersebut sebagai mentor mereka. Ataukah bisa dikatakan hanya empat? Perihal walau sudah kembali ke kewarasannya dan berhenti untuk mabuk-mabukan di siang bolong serta mulai serius untuk berkembang di bawah arahan Dimitri yang telah dia akui sebagai kakak sekaligus gurunya, kemampuannya sebenarnya masihlah baru berkembang dari taraf sampah ke taraf rata-rata.


Apapun itu, tidak diragukan lagi bahwa kemampuan Luca, Nina, Raia, Chika, dan Diana akan semakin level-up lagi berkatnya.


__ADS_2