The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
155. Pertandingan Akhir Penentuan Tim Inti SMA Pelita Harapan (2)


__ADS_3

Keseruan pertandingan penentuan penempatan posisi anggota klub e-sport vrmmorpg SMA Pelita Harapan berlanjut.


Walau pertandingan ini tidak semegah dan semenakjubkan seperti pertandingan e-sport vrmmorpg profesional tingkat internasional yang pernah dia saksikan di Amerika Serikat, Luca tetap menyaksikannya dengan antusias.


Walau banyak player yang masih kikuk dan terlihat cukup amatir dalam bermain game jika dibandingkan dengan para pemain profesional itu, Luca tetap penasaran ingin melihat seperti apa pertandingannya.


Bagaimana pun, mereka semua adalah calon pemain yang akan menemani Luca dalam debutnya di kompetisi e-sport vrmmorpg tingkat SMA itu.


Kali ini, ada pertandingan antara saudara kembar mage, Evan Plitzerd vs Zevan Plitzerd.


Evan mulai menyerang dengan api yang membara ketika aba-aba pertandingan dimulai. Zevan tampak berupaya menangkisnya dengan sebuah perisai es, tetapi itu dibuat terlalu frugal. Api pun dengan mudah meretakkan dan melahapnya.


Evan tampak dengan mudah mengalahkan adik kembarnya, Zevan.


“Selamat, Kakak. Sudah kuduga Kakak memang yang terbaik.” Puji Zevan kepada kakak kembarnya, Evan.


Akan tetapi,


“Kau! Sampai kau akan merendahkanku seperti ini?! Kenapa kau selalu mengalah denganku di setiap pertandingan?! Kau seharusnya kan lebih hebat daripada ini! Apa kau sengaja mengejekku?! Apa kau pikir aku tidak bisa mengalahkanmu jika kau serius?!”


Di luar dugaan, Evan justru frustasi dengan hasilnya dan mengutuk adik kembarnya itu.


“Tidak, bukan itu maksudku, Kak. Kakak benaran hebat kok.”


“Semua orang di sini juga bisa melihat bahwa kau sengaja mengalah padaku! Sejak kapan perisai es-mu bisa serapuh itu?!”


Zevan yang sengaja menurunkan tingkat kekuatannya dalam menghadapi kakak kembarnya itu agar kakak kembarnya itu bisa menang justru menimbulkan efek sebaliknya dari yang dia duga. Keinferioritasan Evan kepada adik kembarnya yang jenius itu malah semakin meningkat.


Tetapi mari kita tinggalkan masalah kedua saudara kembar itu untuk mereka berdua saja, toh mereka hanyalah karakter extra yang kurang penting dalam cerita.


Selanjutnya giliran player Nina yang memanfaatkan dua kesempatannya untuk mengajukan tantangan.


Pertama-tama player Nina memilih Alvin sang shielder peringkat 12 sebagai lawan bertandingnya.


Berbeda dari sebelum-sebelumnya, tampak level pertandingan kedua pemain kali ini jauh lebih baik. Gerakan mereka berdua jauh lebih terkoordinir dan mereka mampu menerapkan strategi pertandingan dengan lebih baik.


Begitu Nina menerjang dengan para kelinci bertanduknya, Alvin berusaha sekuat tenaga untuk bertahan lewat perisainya. Serangan yang datang dari empat arah cukup menyulitkan Alvin, tetapi Alvin masih mampu bertahan dengan baik.


Akan tetapi, suatu gerakan tidak diduganya ketika player Nina memanfaatkan dua kelinci bertanduknya sebagai pijakan untuk melompat ke arah atasnya lantas mengaktifkan sihir blindness-nya dan menyerang Alvin dari arah atas.


Alvin dalam sekejap tak mampu melihat apa-apa, tetapi dia tahu serangan para kelinci bertanduk juga telah menunggunya dari berbagai arah mata angin sehingga dia tidak dapat menangkis serangan Nina yang datang dari arah atas itu.


Dia pun mengandalkan indera pendengarannya yang masih berfungsi dengan baik untuk memprediksi jalur mana yang tidak sedang dijaga oleh para kelinci bertanduk. Dia pun bergegas mundur ke arah itu untuk menghindari serangan player Nina.


“Puaaak!” Nina menghantam tanah dengan tongkatnya, tetapi sayangnya dia meleset mengenai lawannya.


Tetapi gerakan terkoordinasi Nina terus berlanjut dengan para kelinci bertanduknya. Secara bersamaan, mereka mengambil jalan memutar yang berlainan arah, bersiap menyerang player Alvin sekali lagi.


Alvin sadar bahwa situasi tidak akan berubah kecuali dia ikut bergerak menyerang. Dia pun merubah posisi defensifnya menjadi posisi offensif yang aktif menyerang. Dan di situlah Nina dengan baik menunjukkan penggunaan lain dari skill kelinci bertanduknya yang baru pula ditemukannya itu lewat latihan.


Satu kelinci bertanduk terlihat membentuk perisai yang tepat berada di samping sedikit ke arah belakang dari Alvin.


Nina pun menembakkan sihir api-nya ke arah perisai kecil yang dibentuk oleh kelinci bertanduk itu, alih-alih ke arah Alvin.


Alvin kebingungan mengapa Nina bisa melakukan kesalahan fatal yang tidak biasanya itu dengan tiba-tiba meleset serangannya tersebut.


Alvin segera menyadari bahwa ada yang tidak beres dan segera menoleh ke arah samping, tempat di mana sihir api itu ditujukan.


Tetapi apa yang dilihatnya,


“Tuaaaang, baaaaam!”


Sihir api memantul dan dengan cepat mengarah ke arah player Alvin yang tidak terlindungi perisai.

__ADS_1


Perihal perkembangannya yang terlalu tiba-tiba, dan player Alvin sedang berada dalam posisi offensif-nya, dia pun terlambat beralih ke posisi defensif sehingga terlambat pula mengarahkan perisainya untuk perlindungan.


Alhasil, Alvin benar-benar terkena telak serangan api itu.


Lantas Nina kemudian maju menghantam Alvin dengan tongkatnya. Player Alvin pun kalah oleh player yang peringkat sementaranya lebih rendah darinya itu.


Lawan Nina selanjutnya adalah player nomor dua, Areka. Jika Nina bisa sampai mengalahkan player ini, kedudukan akan segera berbalik dan Nina dipastikan akan segera melejit peringkatnya dan langsung menempati posisi di tim inti. Tentu saja, tak satu pun dari peserta di sini yang percaya bahwa itu akan terjadi, termasuk oleh Luca sendiri.


Pertandingan pun dimulai.


“Kali ini, aku pasti akan mengalahkan Senior!” Nina langsung berujar mengumumkan tekadnya itu.


Akan tetapi, player Areka justru menatapnya dengan pandangan yang merendahkan.


“Apa kamu begitu percaya diri setelah mengalahkan player tak berbakat lainnya seperti Alvin?”


“Ya, aku puas dan walaupun aku tidak berbakat, tetapi aku adalah pekerja keras.”


“Apa kamu pikir dengan bekerja keras saja segalanya bisa kamu miliki?! Kalau begitu semua orang yang sibuk belajar selama satu tahun penuh untuk masuk ke fakultas kedokteran pasti akan sudah lulus semuanya! Tapi nyatanya apa?! Tidak semua yang berjuang keras akan memperoleh apa yang mereka inginkan! Itu semua kembali lagi tergantung pada bakat! Dan kamu, Nina, sama sekali tidak memiliki bakat untuk bidang e-sport vrmmorpg ini!”


“Diam! Diam! Diam! Aku sama sekali tidak ingin mendengar omong kosong dari mulut berbisa Senior.”


Nina marah. Dalam amarahnya itu, dia menghantam perisai Areka dengan tongkatnya. Serangannya membabi buta. Namun sayangnya, tampak tak ada satu pun dari serangan itu yang berhasil menggoyahkan kekokohan perisai Areka.


“Seharusnya kamu sadar kamu itu berbakat apa, dasar bodoh! Mengapa kamu mesti berjuang di sini padahal kamu dengan mudah akan terkenal jika menggeluti bidang tarik suara?!


“Sudah kubilang diam, dasar senior bodoh!”


“Berkali-kali pun akan kukatakan lagi! Kamu sama sekali tidak punya bakat di bidang e-sport vrmmorpg ini, maka berhentilah selagi masih ada waktu! Apa kamu hanya akan menghabiskan masa mudamu untuk berjuang kepada hal yang mustahil untuk kamu capai?!”


“Sudah kubilang diam!”


“Apa kamu begitu bangga pada akhirnya bisa bergabung di klub e-sport vrmmorpg ini?! Tapi hanya sampai di situ saja! Lihatlah, sahabatmu Raia dengan cepat melampauimu sedangkan kamu tetap bertahan di posisi rendah walaupun kalian starter di tempat yang sama. Itu karena kamu sekali tidak berbakat!”


Nina tak lagi dapat mentolerir perkataan Areka yang menurutnya sudah keterlaluan itu. Dia begitu marah mengapa orang yang sama sekali dianggapnya bukan siapa-siapanya itu berani mendiktenya seperti itu. Dia dari lubuk hati terdalamnya benar-benar merasakan kebencian.


Namun berbeda dengan Nina, sebenarnya tak ada niat jahat sama sekali Areka mengatakan hal itu. Areka hanya berpikir itu diperlukan untuk menyadarkan anak yang tidak tahu diri yang terlalu tergila-gila menggeluti hal yang bukan berada pada ranah bakatnya, terima kasih berkat seseorang yang begitu dikaguminya.


Areka harus menanamkan kejamnya dunia di pikiran Nina sejak dini agar tidak terlambat baginya untuk memperbaiki jenjang karirnya itu selama dia masih muda.


Tetapi entah siapa yang salah.


Tidaklah salah Areka yang mengatakan bahwa tidak semuanya bisa diubah hanya dengan kerja keras saja. Namun di sisi lain, juga tidaklah salah mengatakan untuk berjuang dengan usaha keras menutupi kekurangan bakat kita demi meraih hasil yang optimal di mimpi kita.


Semuanya kembali kepada di mana keberuntungan berpihak. Tiada yang tahu pilihan mana yang tepat. Apakah menyerah ketika kita mengetahui sulit untuk meraihnya dengan bakat yang terbatas. Dengan demikian, rasa sakit hati ketika gagal tidak akan terlalu besar. Ataukah kita mengambilnya dan memperjuangkannya hingga ke titik akhir agar tiada penyesalan apapun hasil akhirnya.


Bagaimana pun, tiada yang akan pernah tahu seperti apa masa depan itu akan bergulir. Kita hanya bisa memilih dan mempercayakan pilihan kita itu kepada usaha kita.


Namun memang terkadang, menyerah juga bukanlah suatu pilihan yang buruk.


Dengan frustasi, Nina menyerang Areka. Tetapi sejak awal, perbedaan kekuatan mereka sangat terlalu jauh. Bahkan tanpa melakukan apa-apa dan menerima serangannya begitu saja, Areka tampak sama sekali tak terganggu oleh serangan Nina dan hanya mengalami lecet kecil.


Hingga pada suatu titik, Areka pun bosan dengan kekeraskepalaan Nina. Dia pun menutup pertandingan itu dengan serangan yang menurutnya kecil itu.


Akan tetapi serangan kecil dari Areka telah berdampak sangat luar biasa bagi player noob seperti Nina. Nina seketika merasakan keinferioritasan yang teramat mendalam sebelum kalah dalam pertandingan.


\=\=\=


HASIL SEMENTARA PENENTUAN POSISI ANGGOTA KLUB E-SPORT VRMMORPG SMA PELITA HARAPAN


TIM INTI UTAMA


__ADS_1


Luca 163840 poin


Areka 64907 poin


Yudishar 40960 poin


Robby 29874 poin


TIM INTI CADANGAN


Danang 3680 poin


Sabrina 3433 poin


Egi 3302 poin


Inggar 3240 poin


Ikki 3200 poin


TIM CADANGAN UTAMA


Rena 3133 poin


Raia 2728 poin


Alvin 1417 poin


Zeno 1000 poin


Diana 982 poin


Joshua 480 poin


Nina 391 poin


Chika 354 poin


Zevan 250 poin


TIM CADANGAN PENDAMPING


Asti 241 poin


Evan 147 poin


Ula 54 poin


Isman 21 poin


Yuda 20 poin


Zen 10 poin


Martin 5 poin


David 3 poin


Jacob 3 poin


\=\=\=


__ADS_1


__ADS_2