The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
115. Persiapan ke Event Paling Penting


__ADS_3

Usai pertandingan Kak Leo, kami keluar ruangan hendak bergegas kembali ke ruang virtual A. Akan tetapi, Kak Nina pun merengek ingin makan siang terlebih dahulu sebelum kembali ke sana perihal waktu sekarang sudah menunjukkan hampir lewat pukul 2 siang waktu setempat.


Aku sebenarnya dapat mengerti keputusan Kak Nina itu.


Tidak ada jeda istirahat dari pertandingan pertama hingga pertandingan terakhir nanti karena mempertimbangkan jumlah pertandingan dalam waktu yang terbatas. Dengan kata lain, penonton diminta untuk mengatur waktu makan siangnya sendiri. Mereka bisa melewatkan satu atau dua pertandingan untuk mengatur waktu makan siang tersebut.


Sebenarnya, tidak ada alasan bagi kami pula untuk buru-buru kembali karena kebetulan Lia dan timnya dijadwalkan pada pertandingan terakhir yakni pada pertandingan keenam belas yang mungkin akan diselenggarakan sekitar pukul 4 sore lewat sehingga masih ada waktu sekitar dua jam bagi kami jika kami ingin makan siang duluan.


Hanya saja, Kak Raia masih ada di dalam sana sedang menjaga kursi kami. Tentu saja aku tidak enak meninggalkannya sendirian di belakang sana, sementara kami bertiga asyik makan siang. Itulah alasannya aku agak skeptis dengan keputusan Kak Nina tersebut.


Tetapi bukan berarti rasa lapar itu palsu. Aku sendiri juga sudah tidak tahan dengan perutku yang keroncongan ini.


Aku pun hendak memutuskan untuk kembali ke ruangan menemani Kak Raia yang sendirian di sana sementara Kak Nina dan Tante Judith makan siang duluan. Setelah mereka tiba makan siang, barulah aku dan Kak Raia giliran menyusul makan siang di belakang.


Di situlah Kak Nina menjawab sambil melambai-lambaikan smartphone di tangannya,


“Raia sudah bilang ok kok. Dia akan menyusul makan siang nanti ketika kita sudah makan siang duluan.”


Dan setelah mendengar jawaban konfirmasi dari Kak Raia itu, aku segera berubah haluan. Aku pun sepakat untuk kami bertiga makan siang duluan. Alhasil, setelah kami sampai ke sana, yakni sekitar hampir pukul 3, pertandingan kedua belas sudah berada di pertengahannya.


Sesampainya di sana, aku bisa melihat dengan jelas wajah kasihan Kak Raia yang tampak begitu menahan diri bahwa dia baik-baik saja. Padahal aku bisa mendengar dengan jelas dengan telingaku yang tajam ini suara perutnya yang keroncongan itu.


Terus terang, aku salut dengan sikap Kak Raia yang gentleman itu.


Lalu tak lama kemudian setelah kami sampai, kini giliran Kak Raia yang keluar untuk makan siang.


Aku pun duduk di kursi demi kembali menyaksikan pertandingan. Namun, betapa lengahnya aku yang sudah terbiasa dengan kehidupan mewah sejak berada di rumah Tante Judith itu.


Aku yang seorang assassin tangguh ini yang bahkan bisa tidak tidur lebih dari 3 hari ketika dalam menjalankan misi, tertidur dengan nyeyak selama hampir satu jam di dalam ruangan hanya karena perihal AC yang sejuk.


Sungguh, aku merasa malu terhadap semua nenek moyang assassin.

__ADS_1


Aku baru terbangun ketika Kak Raia datang kembali ke kursinya sambil menyapaku dengan menepuk pundakku.


Begitu bangun, ternyata pertandingan sudah memasuki sesi kelima belas. Hampir saja aku melewatkan pertandingan Lia karena kecerobohan yang memalukan.


Samar-samar aku menyaksikan pertandingan kelima belas dalam kondisi mata yang masih berkabut. Dapat kulihat seorang pemain wanita yang mendominasi pertarungan.


Wanita itu bersenjatakan cambuk yang agak mirip dengan pemain wanita Almbolescence sebelumnya, kecuali untuk cambuknya yang berbasiskan duri tanaman mirip seperti tanaman beracun milik Aghena dari Lost Child.


Dalam sekejap, pertandingan pun usai dengan kemenangan tim wanita itu dengan anggota timnya yang hanya tersisa tinggal dua orang saja termasuk dirinya.


Setelah pertandingan kelima belas usai, tibalah pertandingan yang telah kunanti-nantikan sedari tadi, sesi pertandingan keenam belas di ruang virtual A.


...\=\=\= ...


...Tim Wieczny Orzet – Polandia – War Fantasy...


...Vs...


...Tim Silver Hero – Indonesia – The Last Gardenia...


Di ruangan itu, telah berkumpul seorang pelatih dan kesepuluh pemainnya. Tidak, tepatnya hanya 7 orang.


Tiga yang lainnya hanya memojok di belakang sambil mengamati jalannya diskusi karena sudah sedari awal disepakati bahwa mereka tidak akan pernah diturunkan dalam lomba sama sekali kecuali jika ada hal yang mendesak terjadi supaya mereka masih bisa mengikuti pertandingan e-sport tingkat SMA di negara mereka yang melarang keras keikutsertaan partisipan yang telah berkontribusi atas nama negara itu.


“Tim lawan kali ini kebal terhadap sihir dan racun, jadi menurutku Glen dan Toni yang sebaiknya diistirahatkan saja.” Asario-lah yang terdengar mulai bersuara.


“Itu keputusan bijak. Bagaimana menurut kalian berdua?” Pelatih Riska Angela pun turut bersuara sembari menatap kedua pemain yang akan dicadangkan itu.


“Tapi Senior, bukankah kita tetap butuh perisai atau setidaknya barier untuk menghalangi serangannya?” Lia mencoba membantah perkataan Asario.


Akan tetapi, Asario segera membalasnya, “Apa kamu pikir perisai Toni atau barier Glen bisa menahan serangan laser yang sekuat matahari itu? Lagipula daripada pemain bertahan, kita lebih membutuhkan pemain yang lincah untuk menghindari serangan yang berbahaya itu.”

__ADS_1


“Tetapi…” Lia terlihat masih sedikit ragu, akan tetapi dia juga tahu bahwa apa yang dikatakan oleh seniornya itu ada benarnya juga.


“Sudah, sudah. Tidak usah berdebat lagi. Kami tidak apa-apa kok dicadangkan, iya kan, Toni?”


“Iya, Senior. Lagipula aku sudah main di babak pertama tadi. Tapi untuk Senior…”


Namun sebelum Toni bisa menyelesaikan kalimatnya itu, Glen segera memotong kembali,


“Yang jelas kalian berjuang sekuat tenaga sebagai gantinya. Bukan begitu, semuanya?” Glen menengahi suasana tegang itu dengan ucapannya yang dibarengi senyuman dan pembawaan yang santai agar rekan-rekannya itu tidak terlalu tegang.


“Apa itu tidak apa-apa bagimu, Glen? Kamu sudah dicadangkan sebelumnya. Kalau begini terus, skor individumu akan rendah sehingga walaupun tim kita berhasil memperoleh prestasi yang tinggi, kamu tetap tidak akan terpilih sebagai 32 pemain yang akan mengikuti turnamen individu.”


Medina mencoba memastikan sekali lagi isi hati Glen itu, akan tetapi Glen hanya kembali menjawab dengan senyuman lembut.


“Tidak masalah jika aku tidak terpilih. Yang terpenting sekarang adalah kemenangan tim. Kita tidak boleh lengah pada lawan yang ada di depan mata. Jangan sampai karena lengah sesaat, kita akan tersingkir dari arena padahal kita sudah berjuang sampai sejauh ini. Oleh karena itu, kita harus selalu memilih pemain yang paling cocok untuk pertandingan.”


Dengan demikian, tim yang akan bertarung di putaran babak kedua itu pun telah ditentukan.


“Oh iya, untuk strateginya, seperti biasa, Andra bertugas mencari posisi pemain lawan dengan memprioritaskan sang dukun. Setelah posisi sang dukun dikonfirmasi, Lia, Mark, dan Medina akan mengepungnya dan mencegahnya untuk melancarkan serangan lasernya yang sekuat tenaga surya itu sembari berupaya menghancurkannya. Selebihnya, biar aku yang tangani keempat warriornya.”


Asario tiba-tiba maju dengan strateginya.


“Senior! Tetapi bagaimana pun itu adalah strategi yang sangat ceroboh. Belajar dari pengalaman kemarin, bahkan jika itu Senior pun, dikepung oleh empat lawan sekaligus juga merupakan hal yang sulit. Aku juga akan membantu Senior di belakang, paling tidak dengan skill penyembuhanku, aku akan mendukung stamina Senior, sementara Senior Medina dan Mark yang akan mengalahkan sang dukun.”


“Jangan bodoh, Lia! Jika seperti itu, strateginya akan sia-sia saja. Posisi para warrior akan menyebar karena mereka juga akan berkonsentrasi menyerangmu jika kau ada di dekatku. Apalagi kau seorang cleric. Mereka pasti akan segera memprioritaskan untuk menyingkirkanmu duluan dari arena. Kalau begitu, skill-ku akan percuma saja jika diterapkan.”


“Tapi Senior…”


Asario pun melangkah. Dia lantas menepuk pundak Lia sembari berbisik di sampingnya.


“Jangan khawatir. Mereka tidak sehebat Babahentai atau para robot itu sehingga aku seorang diri akan cukup untuk mengalahkan mereka.”

__ADS_1


Muka Lia pun seketika memerah karena perasaan kesal yang kompleks. Dia lantas dengan kecepatan kilat segera mengumpat kepada seniornya itu, “Siapa yang mengkhawatirkan orang yang tanpa ekspresi seperti Senior!”


Asario hanya tertawa kecut menanggapi umpatan itu.


__ADS_2