The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
102. Tim Silver Hero Memulai Babak Kualifikasi Pertamanya di Ajang Dunia


__ADS_3

Pagi itu, Luca segera bergegas ke tempat pertandingan Lia. Walaupun pertandingannya dimulai pukul 9 tepat, Luca memutuskan untuk ke ruangan sebelum jam delapan agar dia dan rombongan bisa memperoleh tempat yang lebih nyaman untuk menyaksikan pertandingan yang penting itu.


Pukul 9 tepat, para peserta pertandingan sesi ke tujuh di grup C mulai berdatangan ke atas panggung.


“Duuuuung, tiut tit tit tiut tit tit, duuuuuung.”


Raungan musik dengan nada stagnan yang memberikan nuansa tegang mengantarkan langkah peserta ke tengah arena.


Terlihat di sana, rupanya para pemain yang mewakili Tim Silver Hero pada pertandingan babak pertama kali ini adalah kombinasi tim yang sama persis seperti terakhir kali mereka gunakan di pertandingan babak final tingkat nasional sebelumnya.


Merekalah Asario, Toni, Andra, Mark, dan Lia.


Selain Tim Silver Hero, ada juga 3 tim lainnya yang akan berpartisipasi pada pertandingan itu sebagai lawan mereka.


Salah satu di antaranya yang terlihat paling kuat adalah Tim Borjuin yang terdiri dari pemain-pemain yang tampak berasal dari genre game metarobot di mana mereka mengenakan semacam suit berupa robot untuk bertarung.


Ada pula tim yang tampak sama persis dengan versi lawas The Last Gardenia, yakni The Ninth Elvendia, di mana para pemainnya semuanya terdiri dari karakter-karakter bangsa elf. Hanya saja, penamaan kelas karakter mereka sedikit berbeda di mana ada karakter thief yang fungsinya sama persis dari gabungan assassin dan scout. Merekalah Tim Vdol.


Terakhir, sekaligus yang tampak terlemah di antara mereka adalah suatu karakter game nyeleneh asal Thailand. Ya, merekalah salah satu perwakilan Thailand yang memperoleh peringkat 1 di negara asal mereka, Tim Puririn, yang terdiri dari para pria cantik berkostum magical girl, kecuali satu orang dengan badan kekar, yang rupanya jenis kelaminnya adalah seorang wanita.


Para pemain, satu persatu pun mulai mengoneksikan diri mereka ke tubuh avatar mereka di dunia virtual.


Lalu kemudian, dengan dimulainya aba-aba pertandingan dari wasit pertandingan, pertandingan pun resmi dimulai.


Seperti biasa, semua pemain ditransfer ke tempat yang berbeda-beda secara acak.


Para pemain mulai saling berkomunikasi satu sama lain di antara sesama timnya.


Ada tim yang mengutamakan untuk berkumpul dengan anggota tim yang terdekat duluan seperti Tim Puririn.


Ada tim yang segera mengambil posisi tempat tinggi untuk mengintai pergerakan lawan lain seperti Andra dan dua archer dari Tim Vdol.


Ada tim yang segera memilih bersembunyi untuk merencanakan serangan dadakan seperti Mark dan dua anggota tim lainnya dari Tim Vdol yang berkelas thief.


Bahkan ada yang sangat percaya diri membiarkan dirinya pada posisi yang terbuka untuk memancing lawan menghampirinya duluan. Dia bukanlah Asario, melainkan seorang pemain dari Tim Borjuin yang rupanya adalah pimpinan tim mereka layaknya Asario.


Membuang keangkuhannya, Asario lebih mementingkan tim daripada hasrat individualnya ingin menonjol hebat agar diperhatikan oleh pencari bakat dari Akademi Pahlawan yang dulu pernah menolaknya mentah-mentah.

__ADS_1


Asario pun mulai memimpin untuk mengoordinir pergerakan timnya.


“Bagaimana, Andra? Kamu sudah di posisi?”


“Ya, aku baru saja di posisi, Senior. Aku akan segera mentracking jejak kedua archer dari Tim Vdol dan seorang penembak jitu dari Tim Borjuin itu begitu mereka melepaskan kekuatannya.”


Namun sesaat kemudian, nada suara Andra menjadi lebih berat,


“Tunggu, Senior. Kamu harus waspada. Mereka ada di dekat Senior.”


“Aku tahu, seorang thief pimpinan dari Vdol kan? Aku sudah menyadarinya. Sejak tadi dia bersembunyi di belakangku.”


Sesaat kemudian, Asario tampak baru sadar bahwa pemilihan redaksi kata Andra ada yang sedikit aneh. Dia pun lanjut berujar,


“Tunggu, mereka? Dia tidak sendiri?”


“Tidak, bukan thief itu yang kumaksud, Senior, tapi para robot itu. Mereka ada dua dan bergerak dengan cepat dari arah depan Senior!”


Tepat sesaat setelah Andra mengatakan hal itu, kedua pemain dari Tim Borjuin itu benar-benar muncul di hadapan Asario.


“Ya, mereka muncul sesuai ucapanmu. Ok, aku akan tangani mereka di sini. Kamu fokus saja pada tugasmu.”


Akan tetapi, bukan jawaban konfirmasi-lah yang diberikan oleh Andra, melainkan kepanikan lewat ucapannya.


“Hei, ada apa, Andra? Hei?”


Asario berupaya memastikan kondisi Andra, tetapi Andra justru tidak menjawab pertanyaan Asario itu, melainkan segera mengirimkan telepatinya kepada rekan timnya yang lain.


“Nona Lia, menghindar!”


Rupanya, Andra baru saja berhasil mentracking jejak salah satu archer dari Tim Vdol tersebut setelah melepaskan kekuatannya. Sayangnya, sasaran yang diincar oleh sang archer ternyata adalah rekan setimnya sendiri, Lia.


Walau demikian, kini Lia telah level-up, terima kasih berkat hadiah yang diberikan oleh Luca kepadanya sebelumnya sewaktu kencan mereka di Kerajaan Indiya.


Lia dengan sigap berbalik ke arah datangnya panah setelah dia merasakan impak melalui perubahan alur angin di sekitarnya, kemudian segera menembaki panah itu dengan pistol heroine tipe sihir miliknya sehingga panah justru meledak di udara.


Adalah langkah yang tepat dilakukan oleh Lia setelah melihat data pemain lawan sewaktu meeting bersama timnya sebelumnya.

__ADS_1


Panah sang elf bukanlah panah sembarangan.


Guncangan yang disebabkannya sangatlah dahsyat sehingga jika Lia memilih untuk menghindari serangan itu alih-alih menerimanya, itu hanya akan menggoyahkan keseimbangannya saja melalui tanah yang bergetar di sekitarnya akibat momentum serangan yang membuatnya tak akan luput lagi jika serangan panah yang kedua diluncurkan.


“Ck.” Terlihat sang archer sangat tidak senang bahwa serangan dadakan pertamanya itu gagal. Tetapi dia dengan cepat kembali ke kesadarannya lalu segera meninggalkan tempat itu duluan dengan skillnya sebelum para pemain dari tim lain berhasil menemukan jejaknya.


“Mark!” Andra yang lega Lia selamat lantas segera memanggil Mark untuk mengeksekusi tugasnya.


“Siap, serahkan padaku.”


Dengan santai, Mark melangkahi tiap dahan pohon dengan tanpa suara.


Sang archer terlihat sangat yakin bahwa pemain lawan akan gagal untuk mentracking jejaknya walaupun setelah dia melayangkan satu anak panahnya.


Itu berkat skill stealth dan langkah bayangan yang sangat diagung-agungkannya itu yang membuatnya bisa segera menjauh dari tempat dia meluncurkan anak panah pertamanya sejauh 30 meter.


Tetapi dia salah. Ada sang stalker… ehem… sang scout Andra yang sekali seseorang ditandai olehnya, orang itu takkan pernah bisa kabur lagi dari pengawasannya sehebat apapun skill yang orang itu punyai.


Hal itu karena Andra punya skill I’ll follow you until death yang walau namanya terkesan menjijikkan, tetapi kemampuannya tidak diragukan sangat berguna. Andra dapat melihat benang merah yang menghubungkan antara dirinya dengan lawan yang ditrackingnya selama orang yang ditracking tersebut masih belum gameover.


Dengan secepat kilat, tanpa sama sekali diduga-duga oleh sang archer yang telah menurunkan penjagaannya itu, Mark menebas leher sang archer tanpa belas kasihan sedikit pun. Korban pertama pun ditentukan.


Satu poin korban pertama jatuh di tangan Tim Silver Hero.


\=\=\=


Hasil pertandingan sementara ruang virtual C sesi ketujuh



Silver Hero, jumlah korban \= 1, jumlah pemain tersisa \= 5


Borjuin, jumlah korban \= 0, jumlah pemain tersisa \= 5


Puririn, jumlah korban \= 0, jumlah pemain tersisa \= 5


Vdol, jumlah korban \= 0, jumlah pemain tersisa \= 4

__ADS_1


\=\=\=



__ADS_2