
Aku awalnya sudah memiliki firasat yang tidak enak sejak sosok pemuda misterius itu berkata sesuatu padaku.
Begitu aku menghadiri acara penghargaan pemenang turnamen e-sport vrmmorpg profesional yang diadakan beberapa hari setelahnya, firasat burukku itu pun terbukti dengan pengumuman dari panitia turnamen.
“Berikut adalah list kandidat yang terpilih untuk memperebutkan 4 tempat sebagai wakil Indonesia dalam turnamen e-sport vrmmorpg di kancah internasional.”
Sistematika pertandingan rupanya telah berubah dan kali ini perwakilan dari tiap negara bukan diwakili oleh tim tertentu melainkan melalui mekanisme perwakilan individu, terlebih hanya 4 tempat yang tersedia.
\=\=\=
List kandidat perwakilan Indonesia
Malik (White Star) 310 poin
Luca (White Star) 300 poin
Asario (Silver Hero) 290 poin
Glen (Silver Hero) 280 poin
Brian (White Star) 270 poin
Didi (Lucifer) 260 poin
Krimson (Shadow Park) 250 poin
Lia (Silver Hero) 240 poin
Viandra (Joker Hitam) 230 poin
Hermanto (Clock Tower) 220 poin
Ferdi (Shadow Park) 210 poin
Krein (Shadow Park) 200 poin
Alvin (Lucifer) 190 poin
Medina (Silver Hero) 180 poin
Mark (Silver Hero) 170 poin
Andra (Silver Hero) 160 poin
Hari (Clock Tower) 150 poin
Danu (Clock Tower) 140 poin
Syef (Shadow Park) 130 poin
Areka (White Star) 120 poin
Alvian (Clock Tower) 110 poin
Alika (Clock Tower) 100 poin
Samadi (Lucifer) 90 poin
Iftar (Shadow Park) 80 poin
__ADS_1
Milka (Shadow Park) 70 poin
Toro (Clock Tower) 60 poin
Egi (White Star) 50 poin
Eren (Silver Hero) 40 poin
Tatang (Alpen Sky) 30 poin
Elkin (Alpen Sky) 20 poin
Roy (Missile) 10 poin
\=\=\=
Di luar dugaan, tiada perwakilan yang terpilih di Gold Tree padahal mereka mampu menembus ke babak delapan besar, sementara Tim Missile yang walaupun gagal menembus babak delapan besar tersebut, memiliki setidaknya satu perwakilan.
Yang lebih penting daripada itu, Kak Kania dan Kak Bento sebagai tim inti di tim justru tidak terpilih dan malah Senior Areka dan Egi yang ada di tim cadangan yang terpilih. Itu wajar karena selama pelaksanaan kompetisi delapan besar, Kak Kania dan Kak Bento tidak sekalipun pernah bermain. Karena hal itu pulalah tampak bahwa Senior Areka dan Egi sangat merasa bersalah pada kedua senior tersebut.
Di lain sisi, tampak Senior Asario sangat puas akan hal itu dan langsung mendatangiku seraya berkata kurang lebih ‘kita akhirnya punya kesempatan untuk bisa berduel secara resmi jadi mari manfaatkan kesempatan ini dengan sebaiknya’ atau semacamnya.
Yah, bukannya aku tidak mengerti akan perasaan Senior Asario itu. Tentu saja aku juga senang sejak aku sekali lagi berkesempatan menantang banyak lawan yang kuat.
Tetapi ibaratkan bahwa kamu sudah melihat minuman cola dingin tepat di depan mata kamu dan berpikir itu disajikan buat kamu, tetapi rupanya itu adalah hadiah yang disediakan oleh Tante Judith bagi siapa saja yang mau membantunya memasak, yah, rasa kekecewaan itu tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata.
Kamu masih harus berjuang untuk memperoleh apa yang sudah ada di hadapan mata kamu ketika kamu berpikir sedikit lagi itu ada di genggaman tangan.
Lalu kemudian, aturan pertandingannya cukup rumit yang pada intinya berupa duel one on one untuk memperebutkan poin di mana peserta yang kalah akan memberikan sejumlah tertentu poinnya kepada peserta yang mengalahkannya.
Mengapa aku menyebutnya sebagai rumit adalah karena sistem perpoinannya bikin geleng-geleng kepala.
Namun jika yang terjadi malah sebaliknya, maka peserta dengan peringkat lebih atas tersebut harus menyumbangkan poinnya kepada pihak pemenang sejumlah minimal 75 % dari selisih kedua poin peserta dengan catatan bahwa poin yang disumbangkan juga tidak melebihi 50 % dari poin totalnya saat itu.
Terlebih dengan jumlah peserta yang ganjil, maka pastinya akan ada peserta di tiap giliran yang akan tak memperoleh lawan bertanding.
Pemilihan lawan peserta pun dimulai setelah jeda istirahat sejenak. Siapa yang sangka bahwa penentuan kontestan 4 besar yang akan mewakili Indonesia dalam kompetisi e-sport vrmmorpg di tingkat internasional itu juga akan dilaksanakan pada hari yang sama setelah list kandidatnya diumumkan. Situasi yang tak terduga tiba-tiba saja terjadi.
Tetapi tentu saja aku sebagai player yang siaga, selalu siap kapanpun dan di manapun itu untuk disuruh bertanding.
Rupanya, penentuan lawan dilakukan melalui pemilihan langsung oleh peserta dengan peringkat yang lebih atas. Sayangnya, aku hanya menduduki peringkat kedua dalam list itu dan Kak Malik-lah sebagai peserta peringkat pertama yang melakukan pemilihan lawan di kesempatan pertama.
Namun, siapa yang menduga bahwa Kak Malik justru akan tertarik melawan peserta yang ada di peringkat ke-12 yakni Kak Krein. Apakah mungkin karena mereka sesama swordsman? Kalau demikian, bukankah Senior Asario adalah lawan yang lebih layak? Tetapi jika mengingat dari kepribadian Kak Malik, palingan dia hanya ingin mencari lawan yang baru saja yang belum pernah dia temui.
Tetapi kurasa keputusan Kak Malik itu kurang layak sebagai player jika dia mengincar kemenangan perihal untuk memperoleh skor yang maksimal, lawan dengan peringkat yang lebih tinggi jelas akan menyumbangkan poin yang lebih baik.
Dengan alasan itulah, akhirnya aku memilih Senior Asario sebagai lawanku di samping tampaknya Senior Asario sendiri sangat menginginkan pertarungan resmi terhadapku.
Lalu kemudian, karena Senior Asario telah memperoleh lawannya yakni aku, peserta selanjutnya yang memilih lawan adalah Kak Glen dan dia memilih Kak Brian sebagai lawannya karena tampaknya ingin membuktikan tentang siapa penyihir api terhebat di antara mereka berdua.
Lalu susunan pertandingan pertama pun ditentukan.
\=\=\=
Malik vs Krein
Luca vs Asario
Glen vs Brian
Didi vs Krimson
__ADS_1
Lia vs Alika
Viandra vs Ferdi
Hermanto vs Mark
Alvin vs Medina
Andra vs Hari
Danu vs Areka
Syef vs Alvian
Samadi vs Iftar
Milka vs Egi
Toro vs Eren
Tatang vs Roy
Elkin (free)
\=\=\=
Senior Asario langsung mengerahkan tebasan lintasan dimensi triplenya begitu menghadapiku. Akan tetapi, aku yang telah melihat data bagaimana Kak Malik menghindarinya, mampu melakukan gerakan yang sama dan dengan epik menghindari tiap tebasan aura hitam Senior Asario yang datang dari tiga arah itu.
Cukup sulit untuk menjaga jarak dari pemain pedang ahli seperti Senior Asario ditambah ukuran dagger dan pedang yang pada dasarnya berbeda memberikan kerugian buatku. Akan tetapi, hal itu segera dapat diatasi dengan paduan serangan tali penjerat dan kunaiku yang membuat Senior Asario kehilangan fokus lalu aku pun memanfaatkan kelengahannya itu untuk memperpendek jarak dalam waktu singkat lantas mengalahkannya melalui tebasan racun.
Aku belajar banyak dari Chika bahwa kekurangan utama bagi para swordsman yang terlalu mengandalkan auranya baik dalam menyerang maupun bertahan adalah kewaspadaannya terhadap racun.
Ya, racun yang sama seperti yang digunakan oleh Chika pada pertandingan amatir kami sebelumnya, bakteri histeria varian 707 dari melon neraka. Tentu bagi pemain kawakan seperti Senior Asario, racun seperti itu tidak seketika menghabisinya, tetapi itu telah sangat cukup untuk melengahkannya.
Sejak Senior Asario tidak mampu lagi melindungi tubuhnya dengan auranya, dia tentu saja menjadi sasaran yang empuk bagi assassin sepertiku.
“Kamu sialan! Dasar curang dengan menggunakan racun!”
Senior Asario tampaknya tidak puas dengan pertandingannya. Aku yang merasa bersalah pun berjanji kepadanya untuk lain kali bertarung dengannya secara jujur dan adil melalui pedang.
Tampaknya Senior Asario telah lupa siapa aku sebenarnya. Aku pada dasarnya adalah assassin yang pada dasarnya memang bertarung dengan kelicikan.
Tetapi pertandingan ini tentu saja akan menjadi pelajaran amat berharga buat Senior Asario sejak aku menunjukkan kepadanya kelemahan fatalnya yang aku amati belakangan ini.
Jadi dengan menekankan kepada poin itu, rasa bersalahku padanya yang salah paham menanggapi niat bertarungnya yang rupanya menginginkan pertarungan seorang ksatria agak sedikit berkurang.
\=\=\=
Calon peserta 4 besar sementara:
Luca (White Star) 349 poin
Malik (White Star) 330 poin
Brian (White Star) 305 poin
Krimson (Shadow Park) 300 poin
\=\=\=
__ADS_1