
Satu hari menjelang hari turnamen,
“Egi, mau jalan sama-sama ke klub?”
“Ah, tunggu sebentar, Luca. Aku menyelesaikan ini dulu.”
Melihat Egi tidak biasanya antusias dengan sesuatu, Luca mengintip ke dalam kotak persegi panjang aneh yang sedang dipegang oleh Egi itu.
“Apa itu, Egi?”
“Ah, ini katanya game jadul di era 2000-an. Aku kebetulan mendapatkan barang antik ini dari kerabat. Walaupun jadul, tampaknya menarik juga. Ah, aku game over. Lagi-lagi NPC yang harus diselamatkan mati.”
Luca menatap dalam ke dalam karakter NPC yang tewas ditikam oleh laba-laba raksasa di dalam konsol game yang sedang dipegang oleh Egi itu.
“Tinggal tekan tombol restart, lalu game dimulai kembali. Kali ini aku harus menyelamatkan NPC-nya agar tidak tewas ditikam sama laba-laba.”
Entah mengapa melihat Egi bermain game, bukan wajah antusias yang ditunjukkan oleh Luca, melainkan rasa frustasi dan kesedihan.
“Tinggal tekan tombol restart, semuanya akan kembali seperti semula ya, Egi.”
“Iya… Hmm? Ada apa, Luca? Kamu menangis?”
“Ah, tidak. Mataku kelilipan. Ngomong-ngomong, bagaimana nasib NPC yang mati di dalam game itu ya Egi yang menghilang ketika direstart? Aku yakin dia pun hidup di dunia sana dengan sengsara.”
“Hah? Apa yang sedang kamu bicarakan, Luca?”
“Haha. Hanya omong kosong. Lagian, ini sudah waktunya. Ayo kita pergi saja ke klub, Egi.”
Berbeda dari yang diucapkannya, tampak bahwa Luca sama sekali tidak bercanda. Wajahnya dipenuhi oleh aura kesedihan.
Padahal ketika dia akhirnya bisa sedikit menerima bahwa dirinya sebenarnya hanyalah NPC pada game yang disebut The Last Gardenia, dia kembali harus menerima fakta bahwa lebih dari itu, dia juga sebenarnya hanyalah seorang doppelganger ke-29 yang berasal dari dunia cermin. Sama persis dengan karakter game yang tiba-tiba muncul kembali tanpa luka sedikit pun ketika suatu tombol restart game ditekan.
Sayangnya, takkan ada seorang pun yang akan mengerti perasaan Luca itu. Luca pun harus mengubur rasa sedihnya dalam-dalam.
***
“Akhirnya kalian datang juga. Cepat sini ikutan duduk.”
Sesampainya di ruangan klub, rupanya di situ, rekan-rekan setim Luca dan Egi telah menunggu mereka sejak dari tadi.
Namun ada keanehan, karena mereka juga bisa melihat Lia dan Andra di ruangan klub itu yang padahal bukanlah bagian dari anggotanya.
“Pelatih? Ini ada apa? Mengapa wanita ini juga ada di sini?”
__ADS_1
Egi-lah yang bertanya.
“Ah, mulai hari ini. Lia dan Andra akan ikut bergabung ke klub e-sport vrmmorpg kita.”
“Hah? Bagaimana itu bisa, Pelatih? Bukankah fasilitas klub terbatas sehingga kita hanya bisa menampung paling banyak 30 pemain?”
Namun, tampak sang pelatih telah enggan untuk menjawab pertanyaan Egi itu.
“Ya sudahlah. Apapun itu, ketambahan dua anggota lagi tidak akan terlalu bermasalah. Lagian keberadaan mereka akan sangat membantu kita.”
“Areka benar. Mari kita lanjutkan saja rapat kita.”
Melalui jalan tengah dari pendapat Areka dan Yudishar itu, Egi akhirnya menerima saja keputusan itu dan akhirnya rapat kembali dilanjutkan.
“Tetapi mengapa wanita itu yang memimpin rapatnya?”
“Egi?”
“Ya?”
“Wanita ini wanita itu… Apa maksudnya kalimat itu? Aku kan punya nama. L-I-A, Lia!”
Tiba-tiba, sesosok tatapan tajam dari Lia menghantam ke arah Egi yang membuat semua bulu kuduknya merinding.
“Oke. Mari kita sudahi candaannya. Seperti yang kalian tahu, mulai sekarang, aku adalah anggota dari klub e-sport vrmmorpg ini yang akan bertindak sebagai anggota taktis tim. Adapun, pada agenda kita kali ini, kita akan membahas soal lawan pertama kita di turnamen akhir tahun besok.”
“Hah!”
Semua anggota tim, tak dapat menahan rasa keterkejutan mereka ketika Lia membalik kertas di papan dan mendapati siapa lawan tanding mereka di putaran babak pertama itu.
Lawannya ternyata bukanlah tim sekolah biasa, melainkan tim yang memperoleh peringkat tiga pada turnamen akhir tahun di tahun yang lalu, SMA Sahabat Hutan, perwakilan pertama dari Pulau Kalimantan.
“Hahahahahaha. Lagi-lagi tampaknya kita akan segera tersisih di putaran pertama.” Belum apa-apa setelah mendengarkan siapa lawan mereka, Areka segera pesimis duluan.
Namun berbeda dengan Areka, tak tampak sedikit pun raut wajah putus asa di wajah Luca. Tanpa sengaja tatapan mata pemuda polos itu bertemu langsung dengan tatapan Lia. Melihat itu, Lia pun menyenyumi kekasihnya itu dengan perasaan bahagia.
“Tenang saja. Justru bisa dibilang bahwa ini adalah keberuntungan kita karena di antara tim peraih peringkat delapan besar tahun lalu, SMA Sahabat Hutan adalah tim yang terlemah dari segi murni kekuatan fisik. Mereka menang karena mengandalkan taktik. Dan dengan keberadaanku di sini, aku akan mengarahkan tim agar bisa menembus taktik brilian SMA Sahabat Hutan itu dengan taktik yang lebih brilian lagi.”
Semua wajah pun kembali memperoleh antusiasnya dengan ucapan Lia tersebut.
“Dengar semuanya. Tim SMA Sahabat Hutan adalah tim yang bertitik pusat pada seorang tamer yang memiliki delapan ekor beast sejenis hamster, empatnya bertipe kegelapan, dan empatnya lagi bertipe cahaya.”
Lia berbicara sambil memampangkan foto-foto beast itu bersama dengan tamer-nya.
__ADS_1
“Nah, keempat hamster hitam ini berperan dalam penyerangan. Kalian harus selalu bisa waspada terhadapnya karena tamer ini memiliki sejenis skill yang bisa menukar posisi salah satu beast hamster hitam ini dengan seorang assassin rekannya yang dengan lincah dan cekatan dapat segera mengiris lehermu bahkan tanpa kamu sadari.”
“Belum jelas apakah skill penukar posisi itu hanya bisa diterapkan untuk hamster hitam dan assassin itu saja, tetapi untuk sejauh ini, hanya mereka-lah yang terlihat menggunakannya. Namun, kita sebaiknya waspada akan segala kemungkinan.”
“Adapun untuk hamster putih, dua dari mereka akan terus saja memakan tanaman herbal tertentu yang entah mengapa akan terus memulihkan HP serta MP semua anggota party mereka sehingga mereka terkesan abadi untuk dikalahkan. Sementara dua beast putih yang tersisa, akan bertanggung jawab pada pertahanan, mendukung sang shielder mereka sekaligus sebagai penyerang jarak jauh.”
“Ada pula seorang cleric di antara mereka yang berfungsi untuk menjaga pertahanan belakang di samping juga memiliki serangan jarak jauh yang mematikan. Sisanya, mereka biasanya gonta-ganti antara menggunakan swordsman atau fighter mereka sebagai sub serangan.”
“Di grup cadangan, juga ada beberapa pemain yang wajib kita waspadai yang memiliki kelas fighter, cleric, archer, dan mage. Dua yang terakhir tampaknya hanya substitusi untuk mengikuti pertandingan individu. Sementara double fighter atau double cleric biasanya akan digunakan ketika mereka melawan lawan tangguh yang tidak biasa.”
“Namun, aku yakin mereka saat ini sama sekali tidak akan menganggap kita sebagai lawan yang tangguh tersebut sehingga mereka pasti hanya akan menggunakan strategi standar mereka itu. Ini tentunya bagus buat kita.”
“Lalu perihal alchemist dan scout akan juga mengikuti pertandingan individu di hari pertama, maka mari kita mengecualikan dulu Chika dan Diana dari pertandingan. Dan sebagai pemain yang aku rekomendasikan tampil di babak pertama, mereka adalah Senior Areka, Luca, Senior Yudishar, Egi, serta Senior Yurika.”
“Kemudian strateginya adalah…”
Demikianlah rencana disusun oleh Lia, sang strategist, dan tampak semua anggota tim menerimanya dengan antusias.
***
Pertemuan hari itu berjalan dengan lancar hingga tibalah hari H yang dinanti-nantikan, Selasa, 28 Desember 2083, hari pertama turnamen akhir tahun diadakan.
Namun, siapa yang akan menduga bahwa di hari yang penting itu, Luca akan mendapatkan kesialan.
Dengan sombongnya, sang guru BK melangkah ke dalam kelas yang masih ada Pak Susanto di sana sebagai wali kelasnya memberikan arahan.
“Kamu, ikut dengan aku ke ruangan BK.” Dengan tatapan yang kejam dan tajam, sang guru gila menunjuk ke arah Luca.
“Saya? Tapi saya harus segera pergi ke turnamen pasca arahan kelas, Bu.”
“Tidak ada yang namanya turnamen-turnamenan! Bagaimana bisa penyontek seperti kamu bisa ikut kegiatan seperti itu?! Lihat ini! Bagaimana bisa jawabanmu persis sama dengan Puput, peraih rangking satu di kelasmu itu, hah?!”
“Ibu, bukankah itu soal pilihan ganda? Wajar jika jawaban akan sama jika masing-masing siswa menjawab jawaban dengan tepat.”
“Jangan banyak bacot kamu, dasar miskin! Pokoknya, kamu harus mengulang soal ulangan harian ini di hadapanku sekarang!”
“Itu bisa saja, Bu. Tapi tidak bisa sekarang. Soalnya akan ada turnamen hari ini.”
“Murid miskin seperti kamu saja blagu berani menantang perintahku?!”
Pak Susanto yang kebetulan juga masih ada di kelas itu, hanya dapat tertunduk sembari memegang kepalanya yang kesakitan perihal perilaku sang guru BK yang semakin di luar kendali.
Luca menyesal. Andai saja dia seperti Lia dan Egi yang memilih untuk tidak masuk kelas sejak awal perihal telah mendapati perizinan resmi dari kepsek untuk mengikuti turnamen akhir tahun itu, dia pastinya tak mesti terjebak bersama sang guru gila itu.
__ADS_1
Terbersit penyesalan Luca kala itu karena telah menjadi anak yang teladan.