The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
105. Resolusi Andra


__ADS_3

Empat pertarungan terjadi di tempat yang hampir saling berdekatan di area tengah.


Pertarungan pertama terjadi antara sang pimpinan Tim Borjuin melawan duo swordsmen-thief dari Tim Vdol. Sekitar dua puluh meter di selatan pertarungan pertama, ada pertarungan Lia melawan duo magical boy.


Kemudian beralih sekitar tiga ratus meter di barat pertarungan Lia, ada Asario yang fokus melawan duo robot di mana jauh tersembunyi di belakang mereka, ada thief pimpinan Vdol yang siap melakukan the last hit kapan saja.


Lalu beranjak sekitar dua ratus lima puluh meter lagi dari arah barat laut pertarungan Asario, ada pertandingan sang wanita perkasa Tim Puririn melawan penembak jitu dari Tim Borjuin. Di sana juga ada Andra yang masih mengaktifkan skill stealth-nya dan di belakang wanita perkasa itu juga masih ada satu lagi pemain dari Tim Puririn, seorang pria cantik yang berkostum magical girl.


Sang wanita perkasa meninju dengan liar ke arah sang penembak jitu. Sang penembak jitu berupaya menghindarinya sembari menembakkan peluru snipe-nya ke arah sang wanita perkasa. Tetapi betapa kagetnya dia, peluru snipe yang berkekuatan setara dengan artileri itu hanya menyentuh kulit sang wanita perkasa tanpa menggoresnya sedikit pun.


“Gulp.” Sang pemain wanita di dalam suit robot penembak jitu itu pun menelan ludahnya.


Pertarungan terus berlangsung hingga pada akhirnya stamina sang penembak jitu itu pun habis. Lalu dalam lima tinjuan kombo maut sang wanita perkasa, robot beserta pemain di dalamnya itu pun meledak dan berceceran ke mana-mana lalu sang penembak jitu pun gameover dalam pertandingan.


Sesaat setelah lawan K.O., tampak sang wanita perkasa menatap ke arah kosong. Tidak, itu adalah tempat di mana Andra mengaktifkan skill stealth-nya.


“Hah, aku ketahuan. Aku pun berakhir sudah. Sisanya kuserahkan pada kalian berdua, Nona Lia, Senior Asario.” Ucap Andra dengan pasrah.


“Tetapi setidaknya, aku harus menyumbangkan satu poin lagi buat timku.”


Seraya mengatakan itu, Andra pun mengaktifkan skill ranjau-nya.


“Tidak, Emitan!” Teriak sang wanita perkasa dengan penuh kekhawatiran.


Namun terlambat sudah, skill ranjau milik Andra telah terlanjur memerangkap sang pria cantik itu lalu mengeluarkan seluruh isi perutnya dalam sekali ledakan.


Sang pria cantik Puririn segera menyusul wanita penembak jitu Borjuin gameover dalam pertandingan.


“Kamu, kurang ajar! Apa yang sudah kamu lakukan pada Emitan sayangku?!”


Sejenak kemudian, Andra pun turut gameover dengan ikut menjadi korban tinjuan maut sang wanita perkasa dari Tim Puririn itu.


***


“Tampaknya, sudah saatnya aku mengakhiri pertempuran ini.” Ucap Asario dengan ekspresi mulai lelah.


Dia pun sekali lagi meningkatkan pace serangannya.


“Slash, slash, slash.”


Tebasan bertubi-tubi terus dilayangkannya pada sang robot pemegang pedang.

__ADS_1


Akan tetapi, bukan dia target incaran pertama sebenarnya dari Asario.


Begitu sang robot pemegang pedang lengah karena pace serangan Asario yang meningkat, Asario segera bergerak menuju sang robot penambak yang tampaknya juga sedang kehilangan fokusnya. Asario bermanuver, lalu dalam sekali tusukan dari arah belakang, sang robot penembak dari Tim Borjuin itu pun turut gugur dalam pertandingan.


“Sial!”


Sang robot pemegang pedang tidak dapat memanfaatkan kesempatan di kala senjata pedang Asario itu terkunci akibat menusuk tubuh rekannya untuk melakukan serangan penghabisan gratis akibat mayat rekannya sebelum menghilang dari arena itu otomatis menjadi tameng berlindung Asario.


Asario dengan cerdas bermanuver ke arah belakang dengan mempertimbangkan hal itu.


Kini tersisa satu musuh lagi di hadapannya karena tampak sama sekali tidak ada niat bagi sang thief pimpinan Vdol itu untuk keluar bertarung.


Asario pun memfokuskan pedangnya untuk sang robot pemegang pedang itu.


Namun kemudian,


“Buaaaaaaaak!”


Tinju yang sampai-sampai menghempaskan segala pohon dan bebatuan sekitar seketika diarahkan kepada Asario. Untungnya, Asario berhasil dengan cemerlang menghindari serangan itu.


“Hah.” Asario menghela nafasnya.


Belum selesai satu musuh, satu musuh lagi datang padanya. Dialah sang wanita perkasa dari Tim Puririn.


“Sial, bisa-bisa kalau aku tinggal lebih lama begini, tim kami akan kehabisan poin. Dan belum tentu tim kami akan bisa bertahan paling akhir dengan adanya monster dari Tim Borjuin itu. Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus bertindak.”


“Shak.”


“Trang.”


Pisau lempar beracun pun diarahkan kepada Asario, tetapi Asario mampu dengan sigap menangkisnya dengan pedang besar di tangannya.


Itu bukanlah pertarungan tiga arah, tetapi empat arah. Tidak, itu juga salah.


Entah mengapa tampak nuansa ketiga tim lainnya sepakat dalam diam untuk pertama-tama menyisihkan Asario dalam arena pertandingan itu. Tanpa Asario sadari, Asario telah menjadi musuh bersama bagi anggota ketiga tim lainnya.


Alasannya jelas bagi pemain Tim Borjuin dan Tim Vdol bahwa Asario adalah lawan terkuat di antara mereka sehingga harus disingkirkan duluan dari arena.


Namun, sang wanita perkasa dari Tim Puririn punya alasan lain. Itu karena pemain dari Tim Silver Hero di mana Asario berada-lah yang telah membuat kekasih tersayangnya, Emitan, gameover dari arena.


Asario suka dengan tantangan. Semakin kuat lawan, maka semakin adrenalinnya menggebu-gebu. Tetapi tidak untuk sekarang. Stamina-nya mulai berada di ambang batasnya.

__ADS_1


“Yo, elf sialan. Kukira kau akan bersembunyi saja sampai akhir seperti pengecut. Padahal itu akan lebih memudahkanku. Tak kusangka kau akan keluar di saat kritis, berupaya memberikan the last hit. Tetapi seperti memang yang diharapkan dari seorang pengecut.”


“Tutup mulutmu! Omaemo sindeiru.” Sang thief pun merespon ejekan Asario dengan tidak kalah tidak sopannya.


“Dan apa ini? Seorang wanita perkasa berbadan kekar dari Tim Puririn? Tidak kusangka, berbeda dengan image-mu, kau juga adalah seorang pengecut yang beraninya mengeroyok lawan untuk menang.”


“Tutup mulutmu! Aku tidak peduli dengan dua sampah lainnya. Yang jelas kau harus mati di tanganku. Hanya timmu-lah, hanya timmu-lah yang tidak bisa kumaafkan!”


Dengan teriakan amarah penuh emosi, kini sang wanita perkasa dari Tim Puririn-lah yang membalas provokasi dari Asario itu.


Lalu, pertarungan 3 lawan 1 antara Asario melawan kombinasi pemain dari ketiga tim pun dimulai.


***


Di sisi lain, Lia yang menyadari situasi sulit seniornya itu bertambah tidak tenang hatinya.


“Ini tidak boleh begini. Aku harus segera menyelesaikan pertarungan ini. Jika tidak, Senior bisa dalam bahaya, apalagi pertarungan di utara itu juga sudah hampir berakhir. Jika pimpinan Borjuin juga sampai ikut dalam pertarungan, maka kecil kemungkinan Senior bisa selamat. Setidaknya, aku harus mencegat semua yang ada di sini agar tidak mengganggu pertarungan Senior.”


Namun, itu tidaklah mudah bagi Lia perkara dua magical boy yang dihadapinya sangatlah licik dan memiliki banyak trik, terlebih mereka sangatlah lincah dalam menghindari serangan.


“Padahal, aku ingin menyembunyikan jurus ini sampai akhir sebagai kartu cadangan di pertarungan penentuan. Tetapi tampaknya harus kukeluarkan sekarang.”


Seraya mengatakan itu, kostum cleric Lia pun terlepas. Di dalamnya, tampak kostum merah baik atasan maupun bawahannya, tipikal petarung ala-ala silat kolosal telah menempel dengan sangat elegan di tubuh cleric itu. Itulah pakaian silat Evony, hadiah lainnya pemberian Luca kepada Lia.


“Nah, mari kita mulai lagi ronde keduanya.” Ujar Lia dengan semangat yang membara.


\=\=\=


Hasil pertandingan sementara ruang virtual C sesi ketujuh



Silver Hero, jumlah korban \= 4, jumlah pemain tersisa \= 2


Puririn, jumlah korban \= 3, jumlah pemain tersisa \= 3


Borjuin, jumlah korban \= 2, jumlah pemain tersisa \= 2


Vdol, jumlah korban \= 1, jumlah pemain tersisa \= 3


\=\=\=

__ADS_1



__ADS_2