
Pada akhirnya, Tim Shadow Park kalah dari Tim Lost Child. Walaupun demikian, pastinya para penonton tidak akan pernah menyangkal kehebatan Kak Krimson lagi.
Melihat bagaimana Tim Lost Child dapat membersihkan semua tim lawan di babak pertama sebelumnya dengan mudah, menyapu bersih arena hanya dengan jurus salah satu member-nya yang sangat luar biasa, kali ini tim Kak Krimson dapat bertahan dari jurus itu.
Tidak hanya itu saja, Kak Krimson berhasil mengeliminasi dua pemain dari tim yang overpower itu sebelum pada akhirnya turut gameover dari pertandingan.
Pertandingan Tim Silver Hero sendiri di mana Lia berada secara beruntungnya juga diselenggarakan di ruangan virtual yang sama di sesi keenam belas alias sesi terakhir. Betul-betul ujung pukul ujung dengan pertandingan dari Tim Shadow Park.
Adapun pertandingan Tim Max Squeeze di mana Kak Leo berada diselenggarakan di ruangan virtual D di sesi kesembilan. Jadi mungkin, kami bisa menyelinap keluar untuk ke sana sekitar waktu penyelenggaraan pertandingan sesi ketujuh.
Meninggalkan Tim Shadow Park dan Lost Child, di luar dugaan kali ini, banyak tim yang menarik perhatianku.
Di pertandingan sesi kedua, rupanya aku menyaksikan kembali tim sang gladiator yang gagal aku saksikan kemarin karena rengekan Kak Nina yang ingin jalan-jalan. Tim itu sesuai dugaanku menjadi salah satu tim yang lolos dalam pertandingan babak pertama kemarin.
Tim itu dengan mudah pula memenangkan pertandingan babak kedua melalui kekuatan overpower sang pemain raksasa yang mengenakan helm besi yang menutupi seluruh kepalanya kecuali di bagian mulut itu.
Di pertandingan sesi ketiga, tidak kalah menarik pula. Di situ aku menyaksikan kembali aksi Tim Kuro, tim e-sport dari Jepang yang berbasiskan game ninja yang bisa sihir. Tidak, mereka menyebutnya sebagai jutsu.
Namun sayangnya, di luar dugaan, tim lawan lebih hebat.
__ADS_1
Padahal aku sempat mengira mereka akan segera menang begitu anggota tim terkuat di antara mereka berhasil mengeluarkan jutsu-nya yang berupa pemanggilan makhluk astral raksasa yang hampir mirip dengan boss monster yang sempat aku lawan dulu di quest pembasmian undead di desa pemula dulu tetapi dengan penampilan yang lebih mengancam yang tersusun dari kumpulan mana yang mereka istilahkan sebagai cakra itu.
Tetapi bagaikan lelucon, makhluk astral sekuat itu dengan mudah dibantai oleh tim yang berasal dari genre sihir tanpa pedang tersebut. Sungguh genre yang memang hanya berspesialisasi pada sihir memang beda. Tetapi sebagai catatan, itu bukanlah tim yang sama dengan yang aku saksikan kemarin, melainkan tim lain yang berasal dari negara yang sama. Berbeda dari tim dunia sihir tanpa pedang yang kemarin, tim kali ini benar-benar sangat berbakat.
Salah satu pemain dengan elegannya mengeluarkan sihir anginnya yang mengoyak dan memporak-porandakan tubuh sang makhluk astral. Lalu dalam sekejap, salah seorang pemain lainnya mengeluarkan jurus sihir berupa bola-bola listrik berkecapatan tinggi yang akhirnya membabat habis semua pemain dari Tim Kuro itu.
Tim dari genre game dunia sihir tanpa pedang tersebut memenangkan babak kedua sesi ketiga ini dengan sangat elegan.
Berlanjut ke sesi keempat, ada pertarungan antara tim dengan genre game jadul bernama PUBEG, sebuah game tembak-tembakan yang sedikit agak berbeda dengan genre game Tim Kak Leo, yang sempat populer selama kurang lebih 40 tahun di awal tahun 2000-an, melawan sebuah tim dari genre fantasi yang juga sedikit agak berbeda dari The Last Gardenia dilihat dari penampilan kostumnya.
Tim dari genre game PUBEG ini dengan mudah menekan lawannya melalui kekompakan mereka menembakkan peluru dari senjata secara bergiliran hampir tiada henti.
Mereka juga dengan mudah menghindari serangan lawan dengan kelincahan mereka. Alih-alih memiliki skill defensif, mereka dianugerahi dengan skill penghindaran yang luar biasa.
Beralih ke sesi kelima, ada pertandingan antara Tim Pang Long dari China yang aku saksikan kemarin yang rupanya akan melawan satu tim Jepang tersisa yang memiliki genre game berbeda dari Tim Kuro. Sama halnya dengan Amerika, Jepang juga rupanya mengutus dua tim dari genre game yang berbeda.
Genre game dari tim Jepang yang satunya ini rupanya juga agak mirip dengan genre game milik tim Kak Leo, namun tetap ada perbedaan di mana tampaknya pemain tidak hanya menggunakan senjata tembak dan snipe saja, tetapi juga pedang yang berupa perpanjangan dari sinar plasma dan ada juga yang menembak melalui senjata yang berupa kotak-kotak kubus.
Tim dari Jepang ini tampak berupaya mati-matian menembaki Tim Pang Long yang melayang di udara dengan mengendarai pedang besar mereka, sementara salah satu pemain yang menggunakan pedang plasma itu tampak tak bisa berbuat apa-apa karena pemain tim lawan berada di luar jangkauan serangnya.
__ADS_1
Sesaat kemudian, Tim Pang Long pun beraksi setelah mereka memastikan semua lokasi musuh mereka termasuk dua pemain sniper.
Tetapi kali ini bukan tinju tangan kosong yang mereka gunakan untuk mengalahkan lawan seperti pada babak pertama sebelumnya, melainkan sesuatu yang tampak menyerupai sihir.
Pedang-pedang kecil secara ajaib keluar dari pedang raksasa mereka mirip seperti bayi-bayi yang baru keluar dari rahim ibu mereka. Tidak, pedang-pedang itu adalah pedang dengan ukuran normal yang tampak kecil saja ketika berdampingan dengan sang pedang raksasa.
Pedang-pedang itu pun mengarah dengan cepat ke setiap pemain lawan untuk menargetkan mereka. Ketiga pemain yang tidak cukup sigap, dengan mudah tereliminasi dari arena melalui serangan beruntun ribuan pedang-pedang itu yang tampak tersummon dari pedang induk raksasa dengan tanpa akhir.
Dua pemain lainnya yang berhasil selamat dari momentum serangan pertama ribuan pedang, tampak berusaha kabur menghindari serangan selanjutnya. Akan tetapi, setiap serangan pedang begitu penuh dengan trik hingga pada akhirnya mereka pun tidak bisa mengikuti pace serangannya dan turut gameover di arena.
Kemenangan mutlak buat Tim Pang Long dari China di babak kedua sesi kelima itu.
Memasuki sesi keenam, aku lagi-lagi menyaksikan wajah pemain yang sudah kukenal. Mereka adalah tim dari game genre fantasi yang memiliki anggota manusia kobra dan lizardman itu. Rupanya tim itu dan tim gladiator-lah yang keluar secara bersamaan sebagai pemenang pada pertandingan babak pertama sesi ke delapan di ruang virtual C kemarin.
Lawan mereka juga berasal dari genre fantasi yang lagi-lagi sangat berbeda dari kostum genre fantasi The Last Gardenia.
Aku pun menyaksikan pertandingan mereka. Rupanya, tim sang manusia kobra dan lizardman jauh lebih kuat dari perkiraanku. Secara kasar, aku bisa menebak bahwa pada pertarungan kemarin, tim inilah dan bukan tim gladiator yang keluar sebagai peserta yang bertahan sampai akhir.
Sang manusia kobra tampak dengan lihai menggunakan trik ilusinya untuk memperdayai lawan sehingga gameover dengan justru membunuh dirinya sendiri. Adapun untuk lawan yang mentalnya lebih kuat, sang manusia kobra menggunakan sihir petrifikasi parsial lantas swordsmen dan assassin yang mengawalnya memberikan serangan terakhir penghabisan.
__ADS_1
Sang lizardman tidak kalah jauh hebatnya. Dua dari anggota tim lawan dia singkirkan dengan menarik mereka ke dalam lumpur bayangannya.
Di pertandingan babak kedua sesi keenam ini, tim sang manusia kobra dan lizardman memperoleh kemenangan dengan mudah.