
Belati elemental cahaya.
Dengan kekuatannya yang mampu menetralisir unsur kegelapan itu, Luca menusuk-nusuk area bawah sang monster sembari menghindari ayunan kapak yang lincahnya.
Setiap tusukan, setumpuk energi kegelapan berhasil dikuras. Namun, tetap saja energi kegelapan itu sangatlah besar sehingga pengurangan yang hanya secuil takkan memberikan efek apapun. Luca bagaikan menguras air danau dengan segelas cangkir.
Ketika Luca fokus pada serangannya, sang monster Dojoron pun menjalankan tipu muslihatnya. Dia berpura-pura akan mengayunkan kapaknya ke samping, tetapi ketika Luca tengah menghindarinya, kapak itu telah melayang ke arah depan tubuh sang monster di mana Luca akan mendarat.
Namun Luca berhasil selamat dari gameover. Mungkin karena pengaruh luck-nya yang tinggi juga. Luca sempat kehilangan timing sekian milisekon dalam mengaktifkan skill stealth-nya, tetapi Aura segera melindungi Luca dengan perisai emas-nya.
Perisai itu pecah dengan mudah, tetapi jeda waktunya menahan kapak Dojoron telah memberikan cukup waktu bagi Luca mengaktifkan skill stealth lantas membuka jarak sejauh 3 meter dari sang monster.
Dojoron mengamuk dengan marah. Ketimbang memilih untuk mengejar Luca, dia menghentak-hentakkan kapaknya ke sekeliling sehingga meruntuhkan puing-puing di sekitarnya.
Proses evakuasi masih berlangsung sehingga masih ada beberapa NPC yang berada di tempat kejadian yang bisa saja menjadi korban nyasar dari puing-puing tersebut.
Luca tak punya pilihan lain selain kembali mendekat, menghalau sang monster.
Dojoron pun menyunggingkan bibirnya yang menyerupai mulut sapi itu tampak tersenyum puas. Dia tahu benar bahwa pejuang di hadapannya itu takkan mampu meninggalkan para sandera di belakang. Oleh karena itu, ketimbang bersusah payah mengejarnya, Dojoron lebih memilih untuk memancing Luca sendiri ke tempatnya.
Sang monster itu benar-benar sangat licik. Dia tampaknya dapat mempertahankan sedikit kesadarannya walau tengah dalam pengaruh mode berserk energi kegelapan. Sungguh sesuai yang ditakutkan dari ras orc.
Dojoron sengaja memakai strategi licik itu demi menutupi kelemahannya karena walaupun gerakannya lincah, larinya lambat sehingga tidak akan efisien baginya untuk mengejar lawan yang berlari.
Serangan Luca pun berlanjut. Tanah-tanah yang bergetar akibat hantaman kapak dari Dojoron tidak membuat Luca kehilangan fokusnya. Dia tetap fokus pada keseimbangannya agar dapat memanfaatkan dengan baik senjata terkuat dari seorang assassin, yakni agility-nya.
Tetapi secara tiba-tiba, sang monster menggunakan ultimate skill-nya, raungan amarah, di mana seharusnya monster akan meraung lantas menurunkan agility dan evade player di ranah serangnya lantas menutupnya dengan serangan tebasan kapak terkuat pada musuhnya yang telah kehilangan sebagian agility dan evade-nya itu.
Akan tetapi,
Efek gelar anak baik hati digabungkan dengan gelar sang wanderer sejati diaktifkan, musuh gagal mengaktifkan serangannya
Seketika justru hanya busa dari air liurnya sendiri yang keluar dari mulut sang monster yang tanpa suara disertai kapaknya yang retak.
Sang monster bertambah marah dan dia pun mulai mengamuk secara membabi buta sejak kehilangan kapak kesayangannya itu. Tetapi walau hanya dengan tinjunya saja, Dojoron tetaplah bukan lawan yang bisa dihadapi oleh Luca. Luca hanya bisa mengganggu sang monster sembari menghindari serangannya.
Luca memang takkan pernah mampu mengalahkan sang monster dengan kemampuannya yang sekarang. Namun, Luca percaya diri dalam hal menghambat dan membuat kesal lawan.
Pertarungan yang statis pun terjadi cukup lama selama beberapa saat di mana setiap Luca lengah, Aura akan segera mensupportnya dengan perisai emasnya.
Tetapi situasi ini cukup gawat, Luca baru berlevel 21. Dia telah naik satu level tadi tanpa terasa setelah mengassasinasi beberapa bandit dan bertarung selama hampir dua jam melawan Dojoron. Tetapi stamina veteran pemula tidaklah sebaik veteran tingkat tinggi.
__ADS_1
SP-nya mulai berada di angka merah. Jika ini berlanjut sampai SP-nya di angka 0, Luca takkan mampu lagi menggerakkan badannya yang berarti gameover seketika dengan adanya monster ganas di hadapannya itu tanpa ada yang bisa membawanya melarikan diri karena Aura masihlah kecil untuk dijadikan tumpangan. Namun demikian, bantuan belum juga kunjung datang.
Alasannya sederhana, keserakahan bercampur ketakutan dari para NPC bangsawan kekaisaran.
Informasi ini sejak sekitar 2 jam lalu telah sampai di telinga kekaisaran, sekitar 5 menit setelah serangan Dojoron diluncurkan. Putri Cecil beserta para knight-nya dari pasukan kekaisaran Black Orchid di bawah komando Komandan Knight Kekaisaran Hendric, telah sejak dari tadi ingin meluncurkan serangannya. Akan tetapi, dia dicegat oleh ratu beserta kedua kakak tiri laki-laki-nya.
Alasannya bukanlah sesuatu yang mengharukan seperti mereka tidak ingin adik tirinya itu atau anak tirinya itu terluka, melainkan alasan politik kekuasaan sepele padahal banyak nyawa rakyat yang saat ini dipertaruhkan.
Mereka semua mengakui kehebatan pasukan kekaisaran Black Orchid di bawah naungan nama sang putri, anak langsung dari almarhumah permaisuri. Oleh karena itu, mereka menggunakan segala macam alasan untuk menghalangi agar jangan sampai sang putri mengukir prestasinya melalui kejadian tersebut sehingga bisa mengklaim sebagai pewaris tahta. Apalagi, di situasi panas kekaisaran yang sampai saat ini belum memiliki putra atau putri mahkota.
Para ksatria masih muda sehingga masih butuh banyak latihan-lah, aset kekaisaran yang penting untuk menghadapi kemungkinan perang dengan persatuan Kerajaan Symphonia dan Melodia-lah, sampai alasan kekanak-kanakan seperti ksatria di bawah naungan sang putri tidak sepantasnya berada di medan perang untuk menjaga martabat bunga kekaisaran.
Namun, bukannya mereka berani turun dengan tangan mereka sendiri perihal mereka sadar betul bahwa para ksatria-nya hanya akan menambah korban keganasan sang monster perihal kemampuan para ksatria-nya itu yang semua ampas.
Itulah sebabnya, ratu beserta kedua anak laki-lakinya berusaha keras menghambat Putri Cecil beserta para knight Black Orchid-nya sembari memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menyewa para player tingkat tinggi untuk menjalankan misi di bawah nama mereka.
Sayangnya selama dua jam, belum ada satu pun player yang menanggapi misi yang mereka ajukan itu.
Alasannya juga sederhana, ketakutan akan kutukan kegelapan yang menyertai kematian mereka.
Pada keadaan normal, player yang gameover hanya akan turun satu level dan dipenalti tidak bisa login game selama 24 jam saja. Namun, angka ini biasanya akan meningkat dengan adanya yang namanya status kutukan iblis atau kutukan kematian.
Rumornya sudah tidak asing lagi sejak dimulainya vrmmorpg The Tenth Alcasria, tiga series sebelum The Last Gardenia di mana ada pemain yang turun sampai 17 level karena kutukan iblis serta 7 untuk kutukan kematian. Ada juga kasus di mana player tidak bisa login selama 3 bulan karena kutukan kematian serta 1 bulan untuk kutukan iblis.
Plot twist sebenarnya, rumor ini merebak lebih parah karena bercampur sedikit dengan rumor nasib malang yang dialami oleh Bourbon pasca menyerang Luca. Tentunya rumor yang bagian ini keliru di mana kita semua sudah tahu apa kebenarannya.
Makanya, sebagian besar pemain akan menghindari pertarungan yang melibatkan kutukan iblis maupun kematian jika mereka tidak yakin akan menang. Sebab penurunan level akan berpengaruh pada fame mereka yang berdampak pada nilai mereka secara komersial di industri par-game-an yang akan sebanding dengan ramahnya perlakuan pemerintah pada mereka atau organisasi mereka.
Itulah sebabnya, tak ada satu pun sampai saat ini baik NPC maupun player yang datang untuk membantu Luca.
Dan kini, dalam kondisinya yang sudah sangat kelelahan itu, Luca harus menghadapi sang monster seorang diri. Tidak, tepatnya berdua jika dihitung dengan pet-nya, Aura.
Tetapi untunglah, cahaya harapan pun tiba di menit-menit akhir di mana hampir saja waktu larangan bermain game anak di bawah umur itu tiba. Jika itu terjadi, Luca pasti akan sangat menyesal pada semua NPC yang tidak bisa dilindunginya sampai akhir.
Panah berkecapatan super seketika mendarat tepat di tubuh Dojoron lantas membakar sebagian kulitnya yang keras itu.
“Kamu di sana, menjauh dari monster itu!” Sebuah suara wanita pun terdengar di telinga Luca lantas dia segera menuruti perintah itu.
Dalam sekejap, petir yang tidak bisa dibayangkan kekuatannya menyambar Dojoron dan monster itu pun seketika musnah.
Luca pun menatap ke arah sumber serangan. Dilihatnya-lah dua wanita sedang berdiri di sana.
__ADS_1
Satunya berpakaian one piece yang terlihat lembut nak sutra berwarna hijau dengan busur besar di tangannya serta telinganya yang terlihat lebih panjang dari telinga orang normal.
Sementara yang satu mengenakan pakaian bernuansa sci-fi berpadukan warna ungu dan putih pada kostum pakaiannya di mana dia mengenakan baret serta kacamata tiga dimensi berwarna ungu. Semuanya berwarna ungu dan putih, kecuali untuk sepatu dan stocking-nya yang berwarna hitam.
Kedua wanita itu terlihat cantik di mata Luca. Yang pertama dengan kecantikan alami kulit putih nan lembut serta pembawaannya yang sayu. Sementara yang terakhir dengan kulit sedikit kecoklatan, tetapi dengan bibirnya yang terlihat montok sehingga nampak seksi.
Kedua player wanita itu pun berjalan menghampiri Luca seraya wanita yang terakhir tadi bertanya padanya, “Kamu juga seorang player?” Dia bertanya di kala telah jelas terlihat di papan status game Luca.
“Iya.” Luca hanya menjawab singkat dengan sedikit anggukan kepala.
Wanita itu pun tersenyum nakal pada Luca sementara wanita yang pertama tadi dengan telinga yang panjang itu hanya tertunduk dengan muka yang memerah, nampak malu-malu menatap wajah Luca secara langsung.
Luca pun menatap lebih jelas ke jendela status mereka.
\=\=\=
Nama: S07 (Lv 105)
Race: Manusia
Umur: 18 tahun
Jenis kelamin: perempuan
Pekerjaan: archer
\=\=\=
\=\=\=
Nama: VIRUSLADY (Lv 102)
Race: Manusia
Umur: 18 tahun
Jenis kelamin: perempuan
Pekerjaan: mage
\=\=\=
__ADS_1
Luca pun tersentak kaget. Baru saja dia bertemu dengan Phineas yang berlevel absurd untuk seorang manusia, pertemuannya dengan player S07 dan Virus Lady menambah jumlah keabsurdan itu menjadi 3 orang. Dan Luca yakin ingat dengan baik dengan ingatannya yang cemerlang itu bahwa kedua player inilah yang sebelumnya memperoleh peringkat 2 dan 3 dalam rangking game bulan ini.