The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
30. Akhir dari Duel


__ADS_3

“Jadi seperti itu dulu, Luca.  Karena hari mulai beranjak malam, kita sudahi dulu pertemuan kita.  Jangan lupa untuk datang ke klub besok ya.  Tetapi Yudishar, temanku inilah yang nantinya akan mengarahkanmu tentang apa-apa saja yang nantinya kamu perlu lakukan di klub karena secara teknis, aku bukan lagi anggota klub.”  Ujar Areka seraya menunjuk orang yang berada di sampingnya yang sejak daritadi bertindak sebagai wasit pertandingan.


Luca hanya mengangguk pada pernyataan Areka itu lantas Areka beserta Yudishar pun beranjak pamit dari hadapan Luca.  Raia yang melihat secara langsung kemenangan Luca dengan gemilang serta-merta berlari menghampiri bocah itu.  Nina mengikutinya dari belakang dengan ekspresi yang tampak rumit.


“Wah, tak kusangka kamu sehebat ini, Luca.”  Ujar Raia sembari memeluk Luca dengan antusias.


Melihat Nina tak ikut merespon apa-apa, Luca dan Raia pun secara bersamaan menatap ke arahnya.


Nina tampak memaksakan tawanya, lalu dia pun berujar, “Hehehehehehe.  Selamat, Luca.”  Ujar Nina dengan sedikit canggung.  Setelah jeda beberapa saat, dia melanjutkan ucapannya, “Maaf, aku harus ke toilet dulu.”  Nina pun turut meninggalkan Luca dan Raia di belakang.


Sementara itu di koridor sempit, tempat yang menghubungkan antara gelanggang olahraga dan ruangan klub e-sport, Yudishar berjalan bersama Areka dengan tampak sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu.


“Areka, benaran ini semua tidak apa-apa bagimu?  Sebagai sahabatmu, lebih dari siapapun aku tahu bahwa betapa kamu sangat mencintai klub e-sport kita ini.  Untuk meninggalkannya hanya demi taruhan, itu agak…”


Areka tertunduk diam dengan ekspresi rumit di wajahnya sewaktu mendengarkan ucapan Yudishar tersebut.  Namun sesaat kemudian, ekspresi itu seketika berubah menjadi penuh optimisme.


“Apa yang perlu kamu khawatirkan, Yudishar.  Bukankah pelaksanaan seleksi masuk klub e-sport sekolah tinggal kurang dari sebulan lagi?  Aku sisa mengikutinya untuk dapat bergabung kembali, bukan?  Lagian, masih ada lima tempat di tim inti yang kosong sejak para senior kita lulus.  Aku akan berjuang untuk memperoleh salah satunya.”


“Yah, kuharap semuanya akan berjalan mulus kalau begitu sesuai harapanmu, Areka.”  Ujar Yudishar dengan tampak khawatir.


“Lagipula sebenarnya kita yang lucky bisa menggaet pemuda berbakat seperti Luca ke dalam tim kita walau dengan sedikit trik yang licik.  Pokoknya, pada festival pertandingan olahraga tingkat SMA di season ini, aku tak mau lagi melihat tim kita menjadi tim menengah yang dipecundangi oleh 3 besar sekolah elit.  Bahkan tahun lalu, kita turut dipecundangi oleh SMA Andalusia sehingga turun di peringkat lima.”


“Pokoknya di season ini, sekolah kita harus juara.  Dan Luca akan segera menjadi pemain kunci yang akan mendukung keberhasilan rencana itu.  Jadi pastikan kamu menjaga dia baik-baik di klub.  Pastikan dia nyaman berada di klub hingga betah di sana dan melupakan niatnya lagi untuk keluar.  Lalu tugasku-lah untuk meyakinkan pelatih akan keputusan yang kuambil ini.”

__ADS_1


Tampak Areka begitu antusias sembari mengucapkannya.


Karena penasaran, Yudishar pun bertanya, “Apa sedari awal kamu bertemu Luca, kamu sudah menyadari bakatnya?”


“Itu juga yang ingin kutahu dari Senior.”  Namun seketika turut terdengar pula suara dari belakang mereka yang menyambung ucapan Yudishar itu.


Areka dan Yudishar kaget setengah mati karena tak menotice langkah kaki kedatangan orang itu.  Mereka pun serentak menoleh ke belakang.  Rupanya dia adalah Nina.


“Uwaaaaah!  Rupanya kamu.  Bikin kaget saja.”


Nina hanya terdiam saja menanggapi respon kaget dari Areka tersebut.


Areka pun menyadari tatapan intens yang ditujukan kepadanya, tidak hanya dari Nina, tetapi juga dari Yudishar, yang berharap pertanyaan mereka itu akan segera dijawab oleh Areka.


“Haaaaah.”  Areka pun menghela nafas panjang.


Mendengar jawaban Areka itu, Nina pun bernafas lega sembari tersenyum puas, “Jadi, Senior memang tidak bermaksud membuli Luca dengan memasukkannya ke klub Senior, kan?”  Nina bertanya mengonfirmasi.


Seketika mendengar ucapan Nina tersebut, tampang Areka pun memerah.  Dia pun berteriak, “Bicara konyol apa kamu ini?!  Apa aku ini terlihat seperti seseorang yang akan berbuat sesuatu setercela itu?!”  Areka berteriak kesal pada penilaian buruk Nina padanya, tetapi Nina dan juga termasuk Yudishar hanya menatap wajah tipikal villain Areka itu dalam diam seraya berujar dalam hati,


“Senior, kamu memang tampak seperti itu.”


“Areka, kamu memang tampak seperti itu.”

__ADS_1


Ekspresi Nina tampak berubah kelam.  Dia dengan pelan berujar kembali pada seniornya itu, “Luca selama ini telah tinggal di daerah peperangan dan dia telah mengalami banyak hal.  Oleh karena itu, aku dengan tulus berharap bahwa dia akan dapat merasakan kebahagiaan yang tak pernah dirasakannya di sana itu di tempat ini.  Di lingkungan yang damai ini.  Jadi Senior, aku berharap dengan tulus agar Senior dapat menjaga Luca baik-baik di klub Senior.”


“Hmm.  Jadi di sana dia memperoleh kemampuan bertarungnya yang overpower itu rupanya.”


Salah paham Nina tentang asal-usul sang NPC Luca dari dalam game pun tersalurkan ke Areka.


“Sudah kuduga bocah itu mempunyai pengalaman bertarung yang nyata.  Oke, aku mengerti.  Akan kupastikan bahwa Yudishar akan selalu menjaga Luca dengan baik di klub.”


“Eh, mengapa aku?”


“Ya, itu tentu saja.  Soalnya di atas kertas, aku bukan lagi anggota klub sekarang.  Jadi tugas menjaga Luca akan kuserahkan padamu sementara sampai aku bisa join lagi ke klub.”


Yudishar pun menerima permintaan Areka itu.  Walau terlihat dipaksa, Yudishar sebenarnya tulus ingin menjaga Luca sebab dia juga menyukai pembawaan lugu Luca dan tertarik ingin mengenal Luca lebih dalam.


Melihat semuanya baik-baik saja, Nina akhirnya tersenyum lega.


Ya, pada dasarnya Areka tidaklah membenci Nina, begitu pula sebaliknya, walaupun Nina selalu saja kesal pada keangkuhan seniornya itu.  Hanya saja, Areka sangat tidak suka melihat Nina mendedikasikan masa mudanya untuk mewujudkan mimpinya menjadi pemain e-sport.  Di satu sisi, Nina tidak suka pada sikap Areka yang mendikte urusan pribadinya itu.


“Terima kasih, Senior.”  Ujar Nina dengan tulus kepada Areka.


“Kalau kamu memang berterima kasih padaku, berhentilah bermimpi menjadi pemain e-sport.”


“Kalau itu tidak mungkin, Senior.”  Nina yang tadinya sudah berada pada mood yang baik, pada akhirnya meninggalkan Areka dengan jengkel.

__ADS_1


Malam pun tiba dan Luca akhirnya baru tiba di rumah.  Tetapi rupanya walaupun dia telah cukup telat tibanya, Nina belum juga sampai di rumahnya setelah tadi minta izin duluan kepada Luca untuk pergi ke suatu tempat dengan meninggalkan Raia untuk mengantarkannya sampai ke rumahnya.


Hanya ada Rowin dan Judith yang menunggu kepulangan Luca di sana dengan senyuman yang hangat serta makan malam yang telah tersaji.  Itupun pasca makan malam, Judith harus buru-buru lagi kembali ke kantornya.  Keluarga Nina benar-benar adalah keluarga yang sibuk.


__ADS_2