
Keseruan pertandingan babak kualifikasi individu di 128 besar pun berlanjut.
Tepat setelah pertandingan Toni, Omiros, rider dari Tim Goliath, tampil dengan cemerlang di pertandingan sesi kesepuluh. Dengan cambuknya yang mampu membelah gunung tersebut, dia mampu mengalahkan dengan telak salah satu pemain yang berasal dari Tim Ghayal, India itu.
Lalu di pertandingan kedua belas, ada pemain favorit ke-16, Pei Yu dari Tim Ying Xiong, tim lainnya selain Pang Long yang berasal dari China.
Lawannya adalah pemain nomor dua dari Tim Exdeus, Seon Yujin.
Siapa yang sang sangka bahwa wanita yang bersenjatakan selendang itu bisa menangkap pemain Exdeus yang melayang tinggi di langit dengan selendangnya yang tiba-tiba saja memanjang secara tidak wajar lantas meremukkan pemain Exdeus itu dengan kain selendang itu pula hingga gameover di pertandingan.
Saking berkilaunya penampilan Pei Yu itu, Luca sampai turut membayangkan dirinya sendiri menggunakan teknik itu dengan selendang jiwa miliknya untuk mendukung teknik assassinasinya.
Sampai pada akhirnya dia tersadar ketika membayangkan dirinya bergerak kemayu dengan selendang di bahunya bahwa itu bukanlah teknik yang tepat bagi seorang pria sejati sepertinya.
Melanjutkan pertandingan selanjutnya, juga ada pertandingan sang pelempar pisau favorit ketujuh dan sang pengutuk darah favorit kesembilan. Namun Luca sendiri tidak terlalu tertarik dengan mereka.
Alasannya sederhana. Luca sama sekali tidak menyukai perkelahian pengecut yang hanya berani menyerang orang dengan serangan kejutan dari belakang padahal dirinya sendiri adalah seorang assassin yang seharusnya pekerjaannya selalu menuntutnya untuk melakukan itu.
Luca justru lebih tertarik dengan pertandingan pemain non-favorit dari Tim Metamorphosis di pertandingan ke-21 itu. Dialah pemain swordsman berbadan kekar dengan kulit merahnya.
Lawannya juga kebetulan adalah warrior pemain pedang sehingga pertandingan pun tampak seru untuk ditonton karena memperlihatkan semangat adu pedang yang membara.
Yah, walau hasil pertandingannya sudah bisa diduga dari awal, terima kasih berkat perbedaan kekuatan mereka yang cukup mencolok itu. Sang swordsman berkulit merah memenangkan pertandingan dengan mudah.
Selanjutnya di pertandingan ke-23, Luca menyaksikan pertarungan sang peraih favorit nomor enam. Dia adalah seorang mage overpower seperti Silua dari Tim Lost Child yang rupanya berasal dari jenis game yang sama dengan Tim Epic Fantasy, walaupun berbeda negara.
Berkat ledakan kekuatan sihirnya yang luar biasa yang sangat jauh dari bayangan seorang mage biasa, sang mage overpower itu dapat pula mengungguli pertandingan dengan mudah.
Setelahnya, ada pula pertarungan sang pemain robot sci-fi militer yang memperoleh posisi favorit ke-14. Namun, Luca juga kurang tertarik dengan pertarungan ini, walaupun sang favorit pada akhirnya dapat berhasil pula tembus ke babak selanjutnya.
Kemudian sebagai penutup pertandingan di pertandingan ke-32, ada Ecila, sang pemain unggulan dari Tim Lost Child sekaligus peraih gelar favorit nomor satu itu. Dengan kekuatan overpower twin dragon-nya, dia menutup kemenangan pertandingan hari itu dengan sangat megah.
Adapun di ruang virtual B, tampaknya pertandingan pun telah usai. Baik Asario maupun Glen, sama-sama bisa tembus ke putaran selanjutnya.
Dengan demikian, pertarungan hari itu berakhir dengan menyisakan 64 kontestan individu yang bertahan.
__ADS_1
***
Usai pertandingan, Leo secara kebetulan melihat Luca di depan. Malam itu usai pertandingan, para peserta diberikan keleluasaan sejenak untuk bertemu dengan anggota keluarga mereka untuk membangun kembali mental mereka yang mungkin saja sempat kendor perihal homesick.
Leo pun jadi berminat ingin menemui saudara neneknya itu dan segera menyapanya.
“Luca!” Teriak Leo seraya melambaikan tangannya.
“Ah, Kak Leo.” Luca pun balas melambaikan tangannya.
Namun di luar dugaan Leo, rupanya Luca tengah berbicara dengan peserta lain yang tidak lain adalah Lia, lawan selanjutnya di putaran babak kualifikasi individu itu.
Leo pun akhirnya menjadi canggung dan buru-buru mencari alasan agar bagaimana dia bisa segera pergi dari tempat itu.
Namun sebelum dia sempat memikirkan sesuatu, Lia-lah yang justru tiba-tiba menyapanya duluan.
“Ah, jadi ini Kak Leo yang sudah ikut merawatmu selama berada di tempat ini, Luca?”
“Iya, itu benar. Kak Leo bahkan sempat mengambil cuti keluar asrama sebentar hanya untuk menemani kami jalan-jalan. Kak Leo adalah orang yang baik, Lia.”
“Oh, iya, salam kenal juga.”
Leo melihat wanita itu tersenyum ramah padanya, tetapi entah mengapa sekujur bulu kuduknya merinding. Leo entah mengapa bisa merasakan aura cemburu yang sangat kuat dari wanita itu yang biasanya hanya ditujukan seorang wanita kepada seorang pelakor.
Tapi lambat-laun mereka berbincang-bincang, suasana pun mencair dan dengan cepat mereka akrab satu sama lain di bawah supervisi Luca.
Namun Leo segera kembali ke kesadarannya.
“Tidak. Aku tidak boleh seperti ini. Di antara anggota Tim Max Squeeze, sisa aku seorang saja yang berhasil melaju ke putaran selanjutnya. Dan wanita di hadapanku ini adalah lawan yang sebentar lagi harus aku kalahkan. Aku tidak boleh membangun sedikit pun perasaan yang sama sekali tidak penting.”
Namun, menanggapinya yang diam seolah tahu isi hatinya, Lia secara tiba-tiba berucap padanya, “Mari kita sama-sama berjuang di putaran selanjutnya dengan maksimal kemampuan kita secara jujur dan adil. Aku takkan sedikit pun memberikan Senior belas kasihan, lho.”
Mendengar pernyataan itu, Leo pun membalas dengan senyum yang penuh tekad.
“Itu benar. Tidak peduli siapapun lawannya di pertandingan babak kedua ini, akulah yang harus menang. Akulah yang akan memberikan si Goruth sialan itu pelajaran hingga babak belur dan kehilangan mukanya.”
__ADS_1
***
Kejadian setahun lalu.
Kala itu, Tim Max Squeeze gagal ke pertandingan tingkat internasional dengan pupus di delapan besar karena terhalang oleh Tim Lost Child.
Pasca pertandingan itu, satu-satunya wanita di Tim Max Squeeze itu secara tiba-tiba saja mengundurkan diri dari timnya.
“Lucy, apa maksudnya semua ini? Mengapa kamu tiba-tiba mengundurkan diri dari tim?”
“Lepaskan aku, Leo. Aku… aku… hiks… hiks… hanya beban buatmu. Kamu juga mengakui itu kan?!”
“Apa yang…”
“Kamu adalah pemain yang hebat dan sangat berbakat, tetapi karena tim kita terlalu lemah, kita jadinya kalah. Kami semua hanya menghambat langkah kesuksesanmu saja. Jadi mengapa kamu tidak pergi saja ke Tim Lost Child dan menjadi pemain juara bersama mereka?!”
“Apa yang kamu katakan Lucy, genre kita kan berbeda dengan mereka.”
“Sudahlah, lepaskan aku, Leo. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Terus terang, aku terbebani oleh bakatmu yang menyilaukan itu!”
Dan begitulah akhirnya Leo kehilangan salah satu anggota timnya yang bernama Lucy itu.
Kemudian setelah pada akhirnya Leo mulai menyelidiki penyebab Lucy bisa berpikiran demikian, ditemukannya-lah fakta menarik dari rekaman suara pertandingan pada saat mereka kalah di putaran delapan besar itu yang diperbesar volumenya oleh suatu program pembesar decibel suara tertentu.
“Sampah seperti kalian hanya membebani pemain berbakat seperti Leo untuk bersinar. Jadi bagaimana kalau pemain tidak berbakat sepertimu sebaiknya mengundurkan diri saja dan pergi bertani sana untuk mencari uang?”
Amarah Leo pun tersulut begitu mendengar rekaman suara itu.
Rupanya Lucy mengundurkan diri dari timnya karena termakan oleh provokasi pemain lawan dari Tim Lost Child itu. Amarahnya pun seketika terarah pada pemain yang mengatakan hal kejam itu kepada Lucy. Dan orang itulah Goruth, sang assassin berbakat dari Tim Lost Child.
“Maafkan aku, Luca. Tetapi akulah yang akan memenangkan pertandingan babak kedua itu dengan menyingkirkan pacarmu dari arena.” Ucap pemuda itu dengan penuh tekad.
Namun seketika, amarah yang tersulut itu berubah menjadi kesenduan. Leo dengan lirih pun lanjut berucap,
“Soalnya ini mungkin adalah kesempatan terakhirku mengikuti kompetisi ini.”
__ADS_1