
Lia dan timnya sekali lagi menang dalam pertandingan babak ketiga. Tentu saja, aku sebagai pacarnya, turut senang dengan prestasinya itu.
Tetapi perasaan aneh apa ini?
Entah mengapa ada sedikit rasa mengganjal di dalam dadaku. Suatu perasaan tidak senang atau marah? Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu. Dan entah mengapa, aku turut membayangkan sosokku ikut berada di antara para kerumunan peserta yang saling membenturkan semangatnya itu.
“Wow, ini luar biasa! Pertandingan 5 on 5 memang yang terbaik! Tidak butuh waktu lama bagi kita untuk menyaksikan adu gelud yang seru begitu pertandingan dimulai ketimbang peserta menyebar dulu satu-persatu di arena.”
Suara Kak Raia lantas membuyarkan lamunanku. Lalu, Kak Nina pun ikut berucap,
“Tapi yah, ini semain aneh saja. Bukankah pertandingan 5 on 5 adalah puncak keseruan pertandingan ketika mencapai babak 8 besar sampai final? Terus setelah ini apa? Apakah pertandingan 5 on 5 akan terus diadakan sampai final? Kalau kebanyakan kan, jadinya juga tidak seru.”
Kak Nina tampak cemberut sambil mengatakannya. Terlihat jelas rasa penasarannya tentang seperti apa jenis kompetisi pertandingan selanjutnya. Yah, aku juga sebenarnya turut penasaran. Tetapi mau bagaimana pun jenis pertandingannya, berbeda dengan Kak Nina, aku baru pertama kali menyaksikannya tahun ini, sehingga aku tidak bisa berkomentar banyak.
“Hahahahahaha. Peduli amat soal itu! Yang penting pertandingannya menyenangkan! Lagipula aku percaya pada panitia lombanya. Mereka selalu menyiapkan pertandingan yang mengejutkan tiap tahunnya, bukan? Percaya saja, tahun ini pun mereka pasti akan juga menyiapkan kejutan yang tidak akan kalah serunya.”
Dan begitulah jawaban Kak Raia dengan optimisnya.
Yah apapun itu jenis pertandingannya nanti, aku sebenarnya tidak terlalu peduli. Aku hanya… daripada menonton… aku ingin turut serta dalam pertandingan itu.
Eh?
Apa tadi yang baru saja kupikirkan?
Benar-benar aneh.
Melupakan soal pikiranku yang tidak jelas itu, kini giliran pertandingan sesi kelima berlangsung. Itu pertandingan Kak Leo beserta timnya.
...\=\=\= ...
...Tim Plump – Meksiko – Heavenly Sword...
...Vs...
...Tim Max Squeeze – Amerika Serikat – The Last Blood...
...\=\=\= ...
__ADS_1
Lawan mereka kali ini, tampaknya kurang lebih mirip dengan lawan mereka di babak kedua sebelumnya. Hanya saja, tampaknya genre game mereka memiliki konsep kultivasi pedang dan aura pedang.
Jelas tim ini lebih kuat dari lawan yang sebelumnya. Tim Max Squeeze jelas semakin berada pada posisi yang sulit, melihat berhadapan dengan tim lawan yang sebelumnya saja, mereka sudah kesulitan. Jika bukan karena kemampuan overpower Kak Leo seorang diri, Tim Max Squeeze pasti sudah akan tereleminasi duluan sejak babak sebelumnya.
Mampukah Kak Leo dan timnya sekali lagi menang dan melangkah ke babak selanjutnya? Aku begitu tidak sabar menanti-nantikan hasil pertandingannya. Dan jujur, aku sepenuh hati juga mendukung mereka kali ini.
Tetapi ketika pertandingan dimulai, perbedaan kekuatan lawan sudah langsung terlihat. Peluru-peluru Tim Max Squeeze sama sekali tidak mampu menembus satu pun pertahanan aura dari para anggota tim Plump.
Lantas dalam waktu sekejap, ketiga pemain Tim Max Squeeze telah tereliminasi begitu saja dari dalam arena, menyisakan Kak Leo beserta dengan seorang snipernya.
“Donovan, kamu baik-baik saja?!” Kudengar Kak Leo berteriak dari dalam layar kaca besar itu.
Seketika dua swordsman melompat ke arah di balik semak-semak pepohonan tinggi jauh di belakang. Kak Leo tampak menembakinya dengan pistolnya. Tetapi sekali lagi, itu tidak bekerja.
Tampaknya kedua swordsman berhasil mentracking jejak pemain yang dipanggil Kak Leo sebagai Donovan itu lalu berniat mengejarnya.
Ketiga swordsman lain lantas segera mendekati Kak Leo dan menyerangnya. Kak Leo masih mampu menghindar dengan baik, tetapi tampak dia mulai frustasi.
Tapi ini adalah hal yang baik.
Di lain sisi, tampak pemain lain dari Tim Max Squeeze yang dipanggil Donovan itu juga masih sementara berjuang menghindari kejaran dua musuh.
“Dor dor dor dor dor dor.”
Kak Leo pun mulai menembak dalam mode berserk-nya.
Tetapi apa ini?
Walau dalam mode berserk-nya, Kak Leo tetap saja gagal menembus pertahanan aura mereka.
Melihat hal itu, para tim musuh pun semakin menunjukkan kesombongan dengan menunjukkan tawa sinis yang begitu merendahkan.
“Dor dor dor dor dor dor.”
Tetapi Kak Leo tetap tidak menyerah walaupun sudah tahu serangannya akan gagal. Dia tetap menembaki tim lawan dengan penuh semangat.
“???”
__ADS_1
Tidak, tunggu.
Satu lawan yang ditembaki Kak Leo kali ini berhasil terluka.
“Dor dor dor dor dor dor dor dor dor dor dor dor dor dor dor dor dor dor.”
Kak Leo tidak menghentikan pace tembakannya pada pemain lawan yang telah berhasil dilukainya itu.
Dengan ritme tembakan yang tiga kali lipat lebih cepat dari sebelumnya, satu pemain lawan dari Tim Plump itu pun berhasil gugur dari arena.
Sekarang aku paham mengapa tembakan Kak Leo kali ini berhasil. Ada mana berelemen angin bercampur sedikit dengan elemen void yang melapisi sekujur peluru Kak Leo. Berkatnya, pertahanan aura berhasil ternetralkan oleh mana itu sehingga peluru dapat menembus masuk ke dalam pertahanan.
Setelah membuat satu pemain lawan gameover di arena, Kak Leo segera melarikan diri ke belakang. Ah, tampaknya Kak Leo perlu waktu lebih untuk mengisi ulang pelurunya.
Inilah kelemahan utama dari pemain bersenjatakan pistol. Dari jenis senjata tembak yang ada, pistol tangan adalah yang terlambat jeda tembaknya di samping juga cukup lama pengisian ulang pelurunya.
Tetapi tampaknya itu tidak masalah bagi Kak Leo yang memiliki skill rage of bullet. Satu-persatu pemain tersisa yang mengejarnya pun berhasil dikalahkannya dengan mudah melalui taktik gerilya.
Tampaknya Tim Plump mulai kehilangan ketenangannya perihal terbius oleh kemenangan sesaat di awal pertandingan sehingga ketika keadaan mulai tidak menguntungkan bagi mereka, mereka mulai panik sehingga banyak melakukan kesalahan.
Alhasil, kini jumlah pemain kembali seimbang, 2 vs 2.
Tampak di layar, Kak Leo berkomunikasi dengan rekan setimnya yang tersisa itu. Namun, bisa terlihat jelas di balik layar kaca bahwa skill rage of bullet Kak Leo telah berakhir.
Aku tidak punya informasi tentang berapa lama masa cooldown skill Kak Leo itu, tetapi biasanya semakin hebat efek suatu skill, maka akan semakin lama masa cooldown aktivasinya. Itu tentu saja wajar demi keseimbangan game.
Yang berarti, Kak Leo harus kembali menghadapi lawan yang tersisa kali ini seperti di awal. Pelurunya tidak akan mampu menembus pertahanan aura lawan. Kecil kemungkinan Kak Leo bisa memenangkan pertandingan ini.
Atau setidaknya itu yang kupikirkan.
Seorang pemain yang bernama Donovan itu tampak berperan sebagai umpan, sementara Kak Leo berperan sebagai pemburunya. Sungguh kebalikan peran yang dramatis karena sewajarnya penyerang jarak jauhlah yang memback-up pemain jarak dekatnya.
Tetapi melupakan strategi tidak terduga itu, peluru Kak Leo tetap berhasil menembus pertahanan aura milik pemain lawan.
Rupanya skill pelapisan mana angin bercampur void pada peluru adalah skill yang terpisah dari skill rage of bullet-nya. Dan tampaknya skill itu memiliki masa cooldown yang relatif singkat karena tampak Kak Leo terus bisa menggunakannya dengan santai.
Berkat perpaduan peran antara pemburu dan umpan yang baik, walau kali ini Kak Leo tidak dapat menembak pelurunya sekuat dan secepat sebelumnya, mereka tetap bisa mengeliminasi kedua lawan yang tersisa dan keluar sebagai pemenang di putaran babak ketiga ini.
__ADS_1