
Dua kobold zombie masing-masing dari samping kiri dan kanan, ditambah dua goblin zombie dari atas, serta dua manusia zombie dari arah depan serta-merta menyerbuku yang sedang memeluk Lia yang kala itu masih linglung pasca berpindah dimensi.
Aku segera mengaktifkan skill sembunyi untuk berpindah dengan cepat ke belakang, lalu di saat itu, sebagai satu-satunya orang menyadari hilangnya keberadaanku sesaat bersama Lia, Paman Heisel mensupport aku dengan menghalau serangan para zombie sementara aku memperbaiki posisiku untuk kembali siap menyerang.
Akan tetapi, Jamer yang melihat peluang bahwa Paman Heisel memperlihatkan punggungnya, seketika hendak menyerang Paman yang lengah begitu saja. Tetapi kita berbicara soal Paman Heisel di sini. Satu-satunya orang yang kuakui kehebatannya. Sosok guru yang mengajariku seni assassin.
Paman Heisel sama sekali tidak menurunkan penjagaannya. Paman Heisel membungkuk tajam menghindari tikaman dari Jamer lantas balik menerjang Jamer yang lengah karena merasa di atas angin. Paman Heisel menghalau kaki kiri Jamer sehingga kehilangan keseimbangannya lantas balik menusuknya melalui jantungnya.
Tetapi Jamer adalah zombie. Walaupun jantungnya ditusuk, dia tetap masih bisa bergerak.
Namun ini gawat. Paman Heisel terkunci oleh Jamer yang menarik tangan Paman kuat-kuat sementara beberapa zombie berupaya menyerangnya dari belakang.
Untungnya, ada orang lain lagi rupanya yang juga menyadari pertarungan kami. Dialah Kak Andra. Dia mengaktifkan debuff penganggu keseimbangan pada lawan sehingga Paman Heisel dan aku dapat memanfaatkan peluang itu untuk segera mengambil jarak.
“Nona! Sadarlah!” Kak Andra berteriak.
Mungkin yang dipanggilnya Nona adalah Lia yang masih dalam setengah kesadarannya di dalam pelukanku ini karena hanya ada dua wanita saat ini di party kami dan tidak ada peluang Kak Andra kenal dengan Kak Keporin. Tetapi mengapa Kak Andra memanggil Lia dengan begitu hormat? Bukankah Lia adalah juniornya?
Melalui teriakan Kak Andra, Lia pun tersadar. Akan tetapi, masalah lain datang. Cerberus berlari dengan sangat cepat hendak menerkam ke arah kami. Aku yakin bahwa dagger taring serigala perakku ini takkan mampu menahan tajamnya gigi Cerberus. Aku pun segera mengganti senjataku menjadi sabit bulan.
Aku menangkis serangan gigitan itu dengan sabit bulanku.
><
“Lia, berlindung ke belakang! Dukung aku dengan buff-mu!” Luca memberikan arahannya kepada Lia dan Lia pun mengeksekusinya.
Sementara itu di tempat yang sama, tim Areka dan Dimitri masih sibuk menghadapi troll raksasa berlevel 44, sedangkan Keporin dengan (dukungan?) Raia menghadapi troll raksasa berlevel 43. Karena pertarungan intens mereka itu, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa Luca dan Lia sempat hilang untuk beberapa sesaat karena terseret arus portal.
Di lain pihak, Heisel yang menotice kejadian itu, kini menjadi was-was dalam pertarungannya dan tidak dapat lagi memfokuskan perhatiannya seratus persen pada musuh yang ada di hadapannya itu.
Heisel tak ingin lagi kehilangan keponakannya yang berharga itu, sama seperti ketika Luca terseret arus portal di langit Kerajaan Symphonia.
Luca menyadari hal itu, lantas berteriak pada pamannya, “Paman! Portalnya sudah lenyap seutuhnya! Apa yang Paman khawatirkan tidak mungkin lagi terjadi! Jadi fokus dengan pertarungan Paman!”
Perkataan Luca pun segera menyadarkan Heisel bahwa tidak hanya dirinya yang menyayangi keponakannya, Luca juga sangat menyayangi dirinya. Oleh karena itu, dia takkan membiarkan keponakannya itu bersedih dengan dia terluka di medan pertempuran.
Heisel pun kembali memfokuskan perhatiannya pada musuh yang saat ini ada di hadapannya. Satu di dalam pikirannya, dia harus segera mengeliminasi target agar dapat segera memberikan support pada keponakannya itu.
Di sisi lain, Luca mengayun-ayunkan sabit bulannya dengan indah layaknya penari pengantar kematian. Dia menggores tiap-tiap bagian lemah kulit Cerberus sehingga sedikit demi sedikit, luka di tubuh Cerberus itu terakumulasi.
Cerberus yang marah lantas melayangkan serangan api, listrik, serta anginnya secara berturut kepada Luca. Akan tetapi,
Perlindungan baju serba bisa teraktifkan, keefektifan sihir api lawan menurun sebanyak 20 %, gelar anak penyayang pemain menyebabkan akurasi lawan menurun sebesar 50 %, vitality yang tinggi terima kasih atas kontribusi anggota party Heisel yang membagikan vitality-nya berkat gelar anak penyayang, ditambah luck yang tinggi dari pemain, peluang untuk serangan Cerberus sampai pada pemain adalah 0 %
Perlindungan baju serba bisa teraktifkan, keefektifan sihir petir lawan menurun sebanyak 20 %, … peluang untuk serangan Cerberus sampai pada pemain adalah 0 %
Perlindungan baju serba bisa teraktifkan, keefektifan sihir angin lawan menurun sebanyak 10 %, … peluang untuk serangan Cerberus sampai pada pemain adalah 0 %
__ADS_1
Rupanya, tak ada satupun dari serangan Cerberus itu yang mengenai Luca. Akibat efek baju serba bisa Luca pula yang mampu meningkatkan peluang lawan terkena stun pasca menyerang dengan sihir, untuk sejenak, Cerberus tidak dapat bergerak. Luca pun memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang lawan.
“Slash.”
Skill: tebasan kilat sabit diaktifkan, meningkatkan kekuatan serangan tebasan sejenak menjadi 8 kali lipat dengan mengorbankan 20 % mana
“Dung… dung… dung.” Suara gelindingan pun terdengar.
Rupanya, salah satu kepala pemilik serangan petir Cerberus telah copot dari tempatnya.
Cerberus dengan dua sisa kepalanya pun semakin meraung marah. Namun, amukannya itu bukannya menyerang Luca, malah menyerang membabi-buta menyebabkan kemusnahan sekutunya sendiri.
Cerberus berlari dengan marah menerjang ke arah Luca. Luca melompat menghindari serangan dengan bersalto berputar 360 derajat secara vertikal, menyelaraskan geraknya dengan lengkungan senjata sabit bulannya yang indah itu. Lalu,
“Praaaaaak!.”
Luca menusukkan senjata sabit bulannya tepat ke punggung Cerberus, lantas dengan kekuatan Cerberus sendiri yang berlari ke depan, celah goresan itu semakin memanjang ke belakang yang membuat Cerberus semakin kesakitan.
Area di belakang Luca seketika kosong. Mungkin karena insting, para monster zombie jadi takut turut terkena serangan Cerberus lantas menjauhinya.
Inilah dia juga salah satu kelemahan monster zombie dibandingkan undead. Walaupun monster zombie jauh lebih kuat daripada undead dengan beberapa persen kekuatan semasa hidupnya itu dipertahankan, namun berbarengan dengan itu, beberapa ingatan di masa lalu mereka pun turut dipertahankan sehingga insting bertahan hidup tak dapat luput dari monster zombie itu yang menjadi penyebab kecacatan utama mereka sebagai senjata.
Lalu kemudian, gerakan tak terduga pun dilakukan oleh salah satu anggota party Luca.
“Nona!” Andra seketika berteriak dengan panik.
“Puaaaak!”
Philtory yang sama sekali tidak menduga adanya seorang cleric yang mampu memberikan serangan mematikan, menurunkan penjagaannya, lantas,
“Aaaaaakh!”
Philtory pun tepat dipukul ke arah jantungnya dan dia kemudian memuntahkan darah. Seketika dalam satu pukulan itu, aliran mana Philtory menjadi kacau kemudian pusat mana di dalam dirinya sendiri itu pun meledak dan kehilangan kendalinya.
Philtory yang akhirnya kehilangan kendali mana, tak dapat lagi menstabilkan kekuatan necromancer-nya sehingga semua zombie pun kembali meleleh menjadi tanah. Atau setidaknya, itu yang dipikirkan oleh yang lain.
Sayangnya, masih ada empat monster yang mempertahankan bentuknya. Merekalah monster tingkat tinggi yang dibangkitkan oleh Philtory, duo raksasa troll, Cerberus, serta sang assassin berlevel 99, Jamer.
Dalam keadaan sekaratnya itu, Philtory malah tertawa terbahak-bahak dengan keras yang mengundang perhatian semua orang.
“Hahahahahahaha. Tidak lama lagi. Tidak lama lagi! Tuan Phineas akan datang dan menelan kalian semua dengan para mayat hidupnya. Bersenang-senanglah kalian semua para manusia hingga saat itu tiba. Nikmatilah dunia cermin yang penuh dengan kepalsuan ini selama kalian bisa!”
Dan dengan kalimat terakhirnya itu, Philtory pun tewas dalam satu tinjuan di tangan Lia tersebut.
Namun, belum sempat sempat pertarungan itu selesai karena walaupun Philtory tewas, keempat mayat hidup berlevel tinggi yang dibangkitkannya masih hidup, pemberitahuan sistem telah muncul pada Luca.
Selamat! Quest kenaikan level tingkat menengah bawah ‘membentuk party delapan orang dan membunuh sang necromancer Philtory’ telah terselesaikan dengan baik
__ADS_1
Kini Pemain ‘Luca’ telah terpromosikan ke level 11 dan dapat segera naik level sampai level 25 tanpa masalah
Sebagai hadiah promosi, sistem menghadiahkan kepada Luca skill ‘tebasan lintas dimensi’ dan poin spiritual sebesar 50 poin
Peringatan! Terjadi pembajakan sistem. 50 poin spiritual dipaksa terdistribusi sendiri
\===
Pengembangan Spiritual:
Tahap 1/5 (Pembukaan Indera)
Ranah mata: 10/10 (max)
Ranah telinga: 10/10 (max)
Ranah hidung: 6/10 --> 10/10 (max)
Ranah lidah: 2/10 --> 10/10 (max)
Ranah kulit: 2/10 --> 10/10 (max)
Poin spiritual: 50 --> 30
\===
Ranah pembukaan indera berevolusi menjadi ranah penyatuan aliran darah dan mana
\===
Pengembangan Spiritual:
Tahap 2/5 (penyatuan aliran darah dan mana)
Ranah kepala: 0/100 --> 6/100
Ranah tangan kanan: 0/100 --> 6/100
Ranah tangan kiri: 0/100 --> 6/100
Ranah kaki kanan: 0/100 --> 6/100
Ranah kaki kiri: 0/100 --> 6/100
Poin spiritual: 30 --> 0
\===
__ADS_1
Seketika, Luca kembali terdampar dalam kegelapan. Di sampingnya, juga ada Lia yang lagi-lagi terseret bersamanya. Lalu, sang naga hijau itu pun sekali lagi muncul di hadapan mereka.