
Malam itu, aku, Kak Raia, dan Senior Areka berjalan keluar rumah sakit menuju salah satu warnet terdekat di sekitar situ setelah sebelumnya aku menghubungi Tante Judith dan Paman Rowin bahwa Nina masuk rumah sakit.
Aku bertanya-tanya kepada Senior Areka mengapa tempat untuk merawat orang sakit itu dinamakan rumah sakit karena tidak logis kan kita membawa orang untuk disembuhkan di tempat yang juga sakit. Seharusnya lebih tepat disebut rumah penyembuhan ketimbang rumah sakit. Tetapi sesuai dugaan, Senior Areka sama sekali tidak menjawab pertanyaanku, tetap dengan ekspresinya yang pemarahnya itu.
Namun beberapa saat kemudian, mungkin karena sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing di kantor, Baik Tante Judith maupun Paman Rowin mengonfirmasi bahwa akan terlambat sekitar satu atau dua jam.
Kulihat karena khawatir dengan Kak Nina, Senior Areka menghubungi Kak Shea yang kebetulan tinggal tidak jauh dari sini untuk menjaga Kak Nina sementara. Walaupun Kak Nina tampak enggan, tetapi berkat kekeraskepalaan Senior Areka, Kak Nina pun mengiyakan, walaupun sembari menghujat Senior Areka bahwa ini juga semua karena salahnya.
Aku pun tiba di warnet itu. Warnet ini bernama Warnet Lestari, mungkin sama halnya dengan Warnet Zion, warnet ini juga diambil dari nama pemiliknya.
Aku pun hendak membuka pintu warnet yang terlihat terbuat dari kaca itu. Namun, aku melihat tanda larangan terpampang di depan pintu.
...Harap jangan menggunakan tangan untuk membuka pintu demi mencegah penularan penyakit yang tidak diinginkan...
Aku pun terdiam di depan pintu karena tak tahu apa yang harus kulakukan. Akankah aku harus membuka pintu dengan menendangnya atau menyodoknya pakai kepala? Itu pun sulit karena gagang pintu harus terlebih dahulu diputar sebelum bisa dibuka.
“Hei, apa yang kamu lakukan? Bukankah kita hampir telat?!”
Senior Areka jadi memarahiku yang terdiam di depan pintu. Namun, sebelum aku memberitahukan alasan mengapa aku terdiam, tanpa basa-basi Senior Areka hanya melanggar tanda larangan di pintu tanpa terganggu sedikit pun dengan membuka pintu memutar gagangnya dengan tangan kirinya. Oh iya, Senior Areka itu apa yang kita sebut dengan istilah kidal.
Tapi tampak sang penjaga toko baik-baik saja dengan semua itu. Dia sama sekali tidak menegur Senior Areka. Atau barangkali sang penjaga toko ketakutan kali ya dengan mata tajam nak iblis pemarah Senior Areka? Atau barangkali juga, aku yang masih belum mengerti budaya di sini. Bisa jadi, tanda larangan adalah suatu isyarat untuk dilanggar.
Aku pun berjalan masuk ke dalam ruangan warnet. Berbeda dari Warnet Zion, warnet ini lebih terkesan retro karena masih terdapat beberapa komputer untuk bermain permainan RPG jadul yang selama ini hanya aku baca di literatur-literatur di perpustakaan Tante Judith.
Untunglah, di warnet ini juga tersedia vrmmorpg The Last Gardenia, walaupun tidak sebanyak di Warnet Zion. Hanya ada 4 set peralatannya di sini. Untunglah semuanya masih kosong sehingga masing-masing dari aku, Kak Raia, dan Senior Areka dapat mengisinya, itu pun masih tersisa satu slot yang kosong.
Namun, lagi-lagi aku dihadapkan pada pilihan yang sulit. Lagi-lagi ada tanda larangan.
__ADS_1
...Selama bermain, pastikan ruangan tertutup rapat agar tidak mengganggu pemain lain di sekitar oleh suara berisik Anda...
Kalau tanda peringatan harus dilanggar, apa itu berarti aku harus membiarkan pintu terbuka? Namun ketika aku melakukannya, lagi-lagi Senior Areka berteriak padaku, “Hei, apa yang kamu lakukan, Luca? Tutup pintunya sebelum main! Tidakkah kau baca petunjuknya?!”
Aku lagi-lagi kena marah Senior Areka. Rupanya pikiran itu salah. Orang di sini masih sama dengan di Gardenia, harus menaati tanda larangan. Lantas mengapa Senior Areka tadi melanggar tanda yang di depan pintu? Secara terang-terangan pula? Aku sama sekali tidak mengerti dan bukannya aku ingin repot-repot menanyakannya sekarang di suasana hati Senior Areka yang tampak buruk itu hari ini.
Apa mungkin Senior Areka marah padaku sebab akulah yang menyebabkannya saat ini membuang-buang waktunya di warnet? Seperti yang kukatakan pada Kak Raia dan Kak Nina barusan, mereka benar-benar tidak harus membantuku sebab aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri. Karena merasa tidak enak, aku pun mencoba bertanya kepada Senior Areka, “Senior…”
Namun belum sempat aku berucap, Senior Areka-lah yang berucap duluan, “Maaf, Luca. Tidak sepantasnya aku berteriak padamu barusan. Aku hanya banyak pikiran malam ini. Kita main game saja. Siapa tahu, itu bisa meredakan suasana buruk di hatiku.”
Mendengar ucapan itu, jauh di lubuk hatiku, aku pun merasa lega. Tanpa sadar, sudut bibirku tersungging karena saking senangnya aku bahwa Senior Areka tidak-lah marah padaku.
Senior Areka memang adalah seorang senior yang baik. Walaupun aku sendiri tidak mengerti apa yang sedang menjadi beban pikirannya. Jika ini berkaitan dengan Kak Nina, mengapa Senior sampai bersikeras melarang Kak Nina menggapai mimpinya. Aku yakin, semua ada penjelasannya. Jika mood-nya membaik, aku harus segera menanyakannya.
Karena apapun alasannya, tidak sepantasnya orang lain menghalang-halangi mimpi seseorang.
Dialah Nina, yang sewaktu SD dijuluki sebagai sang peri bersuara emas. Bagaimana tidak, suaranya benar-benar indah seakan berada di dimensi lain.
Aku pertama kali mengenalnya sewaktu aku menginjak SD kelas 3. Itu wajar saja karena dia memasuki sekolah yang sama denganku. Semula, aku tak terlalu tertarik padanya. Yah memang kuakui bahwa dia sedikit cantik sehingga terkadang tanpa sadar di jam pelajaran olahraga atau jadwal SKJ bersama di sekolah, aku tanpa sadar menatapnya lama seakan terhipnotis oleh kecantikannya.
Tetapi hanya sekadar sampai di situ saja. Tiada yang spesial dari dirinya selain kecantikan wajahnya itu. Itu pun jika dibandingkan dengan anak-anak lain, masih banyak anak perempuan lain yang lebih cantik darinya.
Semua pandanganku tentangnya berubah ketika Nina mengikuti lomba bernyanyi di sekolah dasar kami. Begitu aku mendengar suaranya, aku langsung terpana akannya. Belum pernah aku mendengarkan suara yang seindah dan semerdu itu. Suara yang ringan tetapi artistik dengan warna suara khasnya yang elegan. Bahkan penyanyi cilik yang ada kala itu, tak ada yang mampu menyaingi kemerduan suara Nina.
Nina bak lorerei di padang pasir tandus, tak sesuai dengan habitatnya.
Saat itulah muncul keegoisan di dalam diriku untuk melihat Nina bersinar di panggung yang lebih mewah lagi. Nina tidak pantas hanya berada di panggung sekecil lomba sekolah. Dia harus berdiri di panggung bernyanyi yang lebih besar lagi.
__ADS_1
Aku pun mencoba mendekatinya. Aku berkata padanya bahwa aku adalah salah satu penggemarnya yang mengagumi suaranya. Kulihat dia tersipu malu dengan mengatakan bahwa kita kan masih anak-anak, apa yang aku katakan mana mungkin aku pahami.
Tetapi Nina salah. Aku benar-benar menganggap Nina sangat berbakat di dunia tarik suara dan Nina harus bersinar di tempat itu. Setidaknya, itulah yang kuharapkan sebagai penggemarnya.
Karena sikapnya yang ramah dan supel, aku dapat dengan mudah berteman dengannya. Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk dapat saling dekat.
Sejak saat itu, Nina mengikuti berbagai kompetisi bernyanyi dan dia kerap kali memenangkannya. Tentu saja seperti itu, itu menunjukkan betapa berbakatnya dia. Aku pun jadi sangat menikmati perkembangannya yang sangat menyilaukan itu.
Namun menginjak SMP, aku terpaksa bersekolah di tempat yang jauh karena pindah tempat tinggal mengikuti tempat kerja Ayah.
Tetapi jarak bukanlah sesuatu yang dapat memisahkan pertemanan seseorang di zaman serba canggih ini. Aku dan Nina masih sering berkomunikasi, terutama memanfaatkan vrmmorpg, yang waktu itu masihlah The Eleventh Almondia yang terkenal.
Namun suatu hari, Nina mengajakku menyaksikan suatu pertandingan e-sport profesional tim tertentu yang katanya adalah debut pemain favoritnya.
Malik, orang itu, dialah yang menjadi awal Nina kegandrungan olahraga e-sport, demi mengejar orang itu.
“Senior Areka, mulai saat ini, aku akan juga serius berlatih sepertinya untuk menjadi pemain e-sport profesional yang berbakat agar aku bisa mengejarnya.” Itulah yang diucapkan Nina pasca menonton pertandingan e-sport dari pemain yang bernama Malik itu.
Siapa wanita bodoh yang akan membuang bakatnya demi mengejar seorang pria?! Benar-benar non-sense! Aku sama sekali tidak mengerti jalan pikiran wanita itu! Padahal betapa dia berbakat di bidang lain! Mengapa dia harus mengejar mimpi semu dan menyia-nyiakan bakat emasnya itu?!
Kalau begini, aku tak dapat lagi menyaksikan Nina yang kukagumi itu.
“Kudengar Senior sangat jago bermain e-sport kan? Tolong ajari aku ya, Senior.”
Dengan tampang manisnya itu, dia mengerdipkan matanya kepadaku, memohon padaku untuk diajarkan e-sport. Memangnya dengan berlatih, seekor gajah dapat berenang?! Seekor singa dapat terbang?! Jika tidak ada bakat, semuanya akan percuma!
Aku hanya berharap, Nina dapat kembali ke sosok yang aku cintai dulu. Dirinya yang bersinar di atas panggung dengan suara emasnya. Bukannya menjadi pecundang, berlatih untuk hal yang takkan pernah digapainya.
__ADS_1
Demi hal itu, akan kulakukan berbagai upaya untuk membuang mimpi konyolnya itu agar dirinya bisa kembali ke dirinya yang sebenarnya.