The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
167. Hari Menjelang Debut Sang Newbie


__ADS_3

Pagi itu karena suatu alasan, aku mengunjungi ruang klub sebelum hendak memasuki ke kelas.


Sesuai dugaan, ruangan yang gelap tanpa ada siapa-siapa di sana perihal waktu pagi adalah waktu belajar siswa sehingga masing-masing anggota klub akan masih sibuk dengan kelas mereka masing-masing.


Atau setidaknya itu yang kupikirkan,


Begitu aku menyalakan lampu ruangan, kulihatlah suatu sosok yang sedang terbungkuk di pojok ruangan.


“Aaaaaaakh!”


Aku bahkan sampai-sampai berteriak mengeluarkan suara yang aneh, berpikir bahwa itu adalah sejenis makhluk tak kasat mata yang sedang berniat menganggu umat manusia, namun ketika kumemperhatikan baik-baik ke arah sosok itu, rupanya itu Senior Areka.


“Luca, apa yang kamu lakukan di klub pagi-pagi begini?”


Tanya Senior itu padaku.


“Tidak, tidak, Senior. Justru akulah yang seharusnya bertanya, apa yang Senior lakukan di tempat gelap begini tanpa menyalakan lampu?”


Tampak Senior Areka enggan menjawab pertanyaanku dan malah memalingkan wajahnya.


Aku pun memperhatikan wajah itu. Ah, matanya memerah, tampaknya dia baru saja menangis.


Dengan hati-hati, aku pun duduk di sebelahnya sembari bertanya,


“Kalau Senior ada masalah, Senior bisa ceritakan padaku. Ada yang bilang, jika masalah diceritakan kepada orang lain, walau orang itu tidak bisa membantu sekalipun, perasaan kita setidaknya bisa sedikit lebih lega setelah mengeluarkan unek-unek kita.”


“Apa aku tampak seperti seorang Senior yang menyedihkan di matamu sampai-sampai harus menerima bantuan dari juniornya?”


Lalu seperti biasanya, Senior Areka dengan sifat tsunderenya itu tampak menolak tegas bantuanku.


Akan tetapi setelah mengenalnya selama dua bulan, aku sedikit bisa memahami karakternya itu. Aku pun memilih untuk tidak berkata apa-apa dan hanya menemaninya duduk di pojok ruangan itu.


Suasana hening terjadi dalam waktu yang lama.


Lalu sesuai dugaanku, Senior Areka pun mulai membuka mulutnya.


“Hei, Luca. Sebelum kedatanganmu di sekolah ini, aku adalah yang terhebat di sekolah ini. Tetapi itu saja. Ketika kami mengikuti turnamen di luar sekolah, aku seketika tersadar bahwa aku bukanlah siapa-siapa. Atlit-atlit di tiga sekolah elit sangat jauh dari jangkauanku, dan terlebih tahun lalu, bahkan SMA Andalusia pun turut mempecundangi dan menghina kami. Aku benar-benar lemah.”

__ADS_1


“Jadi begitu, Senior merasa depresi karena merasa lemah.”


“…”


Tampaknya perkataanku itu tepat pada sasarannya. Senior Areka pun terlihat enggan untuk mengatakan sesuatu.


“Kalau lemah, mengapa tidak terus berlatih saja? Takkan ada yang berubah dengan kita duduk diam. Dan walaupun itu juga tidak berhasil, maka sampai di situlah batas kemampuan kita. Buat apa bersedih karena itu? Di atas langit masih ada langit. Begitulah manusia yang pada prinsipnya lemah. Akan tetapi, bukankah perasaan lemah dan inferior itu pula yang menjadikan manusia layaknya manusia?”


“Kamu berbicara seperti itu seakan kamu pernah berada di posisi lemah saja.”


“Tentu saja pernahlah, Senior. Dibandingkan Paman Heisel dan Kak Keporin, aku tidaklah ada apa-apanya.”


“Itu, bukankah itu nama karakter game yang sudah membantu kita di quest ujian kenaikan level pertamamu dulu? Mengapa kamu berbicara seolah-olah mereka makhluk hidup?”


Aku mendesah sejenak. Namun, aku tidak kesal dengan perkataan Senior Areka itu yang tak menganggap baik Paman Heisel maupun Kak Keporin adalah manusia yang hidup sepertinya. Itu bisa dimaklumi. Bagi Senior Areka, keberadaan Gardenia hanyalah sebagai game tanpa menyadari sejatinya itu adalah dunia dari dimensi lain.


“Intinya, tidak usah depresi jika ada orang yang lebih kuat dari kita. Itu wajar. Kesal boleh, tetapi itu jangan sampai membuat kita merasa inferior. Justru, dengan masih banyaknya orang-orang yang jauh lebih kuat dari kita, kita akan lebih merasa tertantang untuk meningkatkan kemampuan kita dan menjadi lebih bersemangat dalam berlatih.”


Mendengar jawabanku itu, kulihat sudut mulut Senior Areka sedikit tersungging. Dia tersenyum. Syukurlah, kini ekspresinya menjadi jauh lebih baik.


Ujar sang senior dengan senyum lebar di wajahnya, tetapi bukannya senang, aku malah sedikit jijik perihal ini pertama kalinya aku melihat senior yang biasanya judes justru tersenyum lebar seperti itu. Tetapi tentu saja itu tidak kuungkapkan di hadapannya dan hanya balas tersenyum kepadanya. Bagaimanapun, Senior Areka tetaplah senior yang baik.


Hari demi hari, waktu pun semakin mendekati jadwal kompetisi.


Aku pun semakin menyibukkan diriku dengan rutinitas untuk berlatih agar menjadi semakin kuat.


Di siang harinya, aku berlatih tanding game dengan Pak Syarifuddin sekitar lima ronde.


Sore harinya, aku menyempatkan pula latihan fisik bersama Kak Silvia sampai malam hari.


Dan di malam harinya, atas kebaikan hati Kak Kaisar, aku bisa berlatih tanding bersama komandan pasukan utama kepercayaannya, Sir Hendric Albatarma di Gardenia, atau tepatnya di Istana Kekaisaran Lalania, ibokota kekaisaran, Allidra Ekin.


Tentu saja aku juga senantiasa stand by jikalau akan ada zombie yang menyerang. Namun, belakangan ini sejak mendekati lomba, tampak tak ada satu pun aktivitas aneh dari necromancer-necromancer jahat beserta para zombie-nya itu.


Itu adalah suatu kelegaan, tetapi dalam artian lain, itu justru membuatku semakin gugup tentang apa lagi yang akan mereka rencanakan, bagaikan suasana tenang yang terjadi sebelum tibanya badai.


Namun secara keseluruhan, bisa dikatakan bahwa semuanya berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Dan itu adalah sesuatu yang patut disyukuri.

__ADS_1


Akan tetapi, kejutan pun datang 2 hari sebelum kompetisi, tepatnya itu di hari sabtu sebelum tibanya masa libur akhir minggu.


“Halo teman-teman. Perkenalkan, saya murid baru di sekolah ini. Nama saya Lia Wijayakusuma. Salam kenal.”


Lia dan Kak Andra secara tiba-tiba pindah ke sekolah kami. Lia pindah ke kelasku, sementara Kak Andra pindah ke kelas Kak Raia dan Kak Nina.


Hari itu, semua mata tertuju padaku. Bagaimana tidak, Lia begitu menempel padaku sepanjang di sekolah. Tentu saja aku senang dengan sikapnya yang bermanja kepadaku itu. Sebagai seorang pacar, itu adalah hadiah yang terbesar. Hanya saja, aku tidak nyaman dengan tatapan anak-anak lain yang seakan akan melubangi kepalaku itu.


Waktu latihan terakhir di klub pun tiba sebelum kompetisi. Pak Pelatih sengaja meminta kami untuk beristirahat full selama hari minggu untuk melemaskan otot-otot kami agar kami dapat lebih maksimal pada kompetisi yang akan diselenggarakan mulai hari senin, dua hari mendatang itu.


Sama seperti yang lainnya, aku hari itu menuju ke klub hendak untuk berlatih. Tetapi yang sudah kuduga, tatapan mereka pun menjadi aneh padaku sejak mereka melihat Lia menempel padaku.


Aku tak masalah dengan semua itu. Tetapi di situlah, Kak Robby sampai mengatakan sesuatu yang di luar batas. Meski senior, dia seharusnya tidak berkata hal yang di luar batas seperti itu.


“Hei, Luca. Bukankah dia Lia dan Andra dari Tim Silver Hero SMA Yayasan Eden?”


“Iya, itu benar, Kak. Lia dan Kak Andra baru saja pindah ke SMA Pelita Harapan pagi tadi.”


“Apa ini baik-baik saja? Mengapa mereka tiba-tiba saja pindah di waktu-waktu mendekati UTS seperti ini? Apa jangan-jangan SMA Yayasan Eden hendak memata-matai kami?”


“Hentikan! Itu tidak sopan, Kak!” Karena termakan oleh amarah, aku pun berteriak kasar di hadapan Kak Robby.


Yah, walaupun itu semua juga salahnya karena berkata-kata jahat seperti itu. Mana mungkin Lia orang yang seperti itu?! Aku benar-benar kesal padanya. Namun, karena tindakanku itu, suasana klub pun seketika menjadi canggung. Terus terang, ini tidak baik di kala kompetisi telah ada di depan mata.


Syukurlah, Lia dengan sikapnya yang lembut dan bijak dengan bantuan Kak Yurika mampu mengatasi itu semua dan seketika mencairkan suasana.


Lalu event tak terduga pun terjadi. Memanfaatkan keberadaan dua pemain pro yang telah menginjakkan kakinya di kompetisi e-sport vrmmorpg tingkat dunia dan bahkan berhasil menjuarai juara lima kompetisi tim di sana, para anggota klub satu-persatu mengajukan request latih tanding.


Lia dan Kak Andra pun menerimanya dengan sukacita.


Tetapi tentu saja, tak ada satu pun dari anggota klub yang dapat mengalahkan mereka. Itulah kesenjangan kami saat ini terhadap pemain pro yang telah melebarkan sayapnya ke tingkat dunia.


Di antara para anggota klub, seperti biasa, Senior Areka, Kak Inggar, dan Egi-lah yang paling bersemangat di antara mereka. Berbeda dengan Kak Inggar dan Egi yang berfokus pada Kak Andra, Senior Areka memahami benar bahwa di antara keduanya, Lia-lah yang terhebat sehingga Senior Areka lebih memilih untuk hendak menantang Lia.


Namun demikian, sang cleric Lia mampu dengan mudah menembus pertahanan perisai Senior Areka hanya dengan menggunakan jurus standarnya saja. Dan itu membuat Senior Areka tampak sangat tertekan, terlebih usia Lia sejatinya dua tahun lebih muda darinya.


Tetapi kuyakin bahwa Senior Areka adalah atlit yang kuat. Hal ini tidak akan menjadi hal yang akan mematahkan semangatnya. Justru, hal ini akan semakin memacunya untuk berkembang ke tingkatan yang lebih tinggi lagi.

__ADS_1


__ADS_2